Mengapa Pembakaran Bendera Tauhiid Anda Bela? Lebih Baik Mohon Maaf Kepada Umat Sekarang Juga!



Mercusuarumat.com. Saya masih belum habis pikir, melihat sebagian kaum muslim mengiakan pembakaran panji tauhiid. Pun tak terbayang, pelaku pembakaran dibela mati-matian. Bahkan menghujat kaum muslim lainnya yang justru mengutuk insiden pembakaran tersebut.

Jika kita membaca sejarah peradaban umat muslim. Panji tauhiid sangatlah dimuliakan dan dijaga dengan baik. Lihat bagaimana sahabat nabi, Ja'far Bin Abi Thalib yang diamanahi mengusung bendera tauhiid pada perang muktah. Beliau berjihad tak kenal takut karena kecintaannya terhadap Allah. Hingga musuh menebas tangan kanannya. Setelah tangan kanannya terpotong. Bendera tauhiid diusung dengan tangan kiri. Lalu, tangan kirinya tertebas pula. Ia amankan benderanya dengan diapit oleh dadanya. Hingga akhirnya ia syahid di jalan Allah. Kecintaan terhadap bandera tauhiid menjadikan sahabat Ja'far Bin Abi Thalib rela mempertaruhkan nyawanya. Beliau tak rela Bendera tauhiid terinjak-injak oleh musuh-musuh Islam.

Sungguh luar biasa teladan mulia sahabat nabi dalam mengekspresikan kecintaannya terhadap Bendera tauhiid. Bendera tauhiid, Bendera Rasulullah bertulisan laa illAha Ilallahu. Ada yang berwarna hitam dan putih. Arroya dan alliwa. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw:

Al-Rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan al-Liwa’ beliau berwarna putih; tertulis di situ la ilaha illa Allah Muhammad RasululLah (HR. Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Akhlaq an-Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Tidakkah lupa, bumi pertiwi merdeka karena perjuangan ulama dan santri. Kala itu nusantara belum berbentuk Indonesia. Belum kenal Pancasila, Bhineka tunggal ika, apalagi bendera merah putih. Hanya takbir dan tahlil yang menjadi penyemangat perjuangan mereka. Laa illAllah IllAllahu adalah seruan mereka. Hingga saat ini. Umat muslim lah yang paling mencintai negeri ini.

Sayangnya kalimat Laa illAllah IllAllahu ternodai oleh segelintir oknum Banser ketika hari santri.

Tentu tidak bijaksana jika jika umat muslim menyalahkan sepenuhnya Banser. Banser hanyalah korban. Korban perang pemikiran yang didengungkan Amerika, pemikiran liberal. Faham kebebasan telah sukses racuni akal kaum muslim Indonesia. Sebab ajaran liberal, sebagian kaum muslim terbawa pada skenario busuk kaum penjajah. Penjajahan gaya baru, neo-imperialisme dan neo-liberalisme berhasil mengadu domba sesama umat beragama. Akibatnya, fanatisme golongan makin mencuat kepermukaan. Nasionalisme salah satu buktinya.

Kaum muslim terninabobokan dengan titah mereka. Endingnya peristiwa pembakaran panji tauhiid muncul ke permukaan. Seakan-akan siapa kibarkan panji tauhiid dianggap tidak NKRI. Kain hitam bertulisan tauhiid, laa illAha Ilallahu dianggap produk arab yang bertentangan dengan budaya nusantara.

Fanatisme golongan sebabkan konflik horizontal di masyarakat. Mengagungkan bangsanya dan anggap bangsa lain bukan golongannya. Membakar bendera hitam bertuliskan tauhiid karena dianggap bukan simbol bangsanya.
Bukankah Bendera ini adalah Bendera mulia yang diusung Ja'far Bin Abi Thalib hingga akhirnya meninggal dunia.Bendera umat muslim bertulisan tauhiid yang menginspirasi pahlawan bangsi ini.

Wahai saudaraku sebangsa dan setanah air. Tak habis pikir mengapa Anda bela-belaan mendukung pembakaran Bendera ini. Lebih baik meminta maaf kepada seluruh umat muslim di seluruh dunia, bertaubat dan ikut berdakwah bersama melawan penjajah Amerika!

Tolong jawab, mengapa Pembakaran bendera tauhiid Anda bela? [IW]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget