Menggugat Komitmen Pemerintah Berantas Hoaks



Mercusuarumat.com. Penyebaran berita bohong atau hoaks adalah tercela dalam pandangan Islam, pun melanggar konstitusi yang telah disepakati oleh negara.

Hoaks adalah musuh bersama. Siapa saja yang mentolelir penyebaran hoaks ia harus diadili. Pemerintahan dalam hal ini sudah lama mengkampanyekan "Perang Melawan Hoaks" dengan hastag terkenal #TurnBackHoax. Bahkan dikeluarkan UU khusus untuk berantas kejahatan ini, yakni UU ITE, terkhusus Pasal 28,  Namun sayang, komitmen pemerintah dalam memberantas hoaks perlu digugat bersama.

Mengapa? Pemerintahan dinilai berat sebelah dan tebang pilih dalam memberantas hoaks. Lihat bagaimana jika yang menyebarkan hoaks adalah dari kubu kontra pemerintah! Dipastikan secara cepat penyebarnya ditangkap dan diadili. Sebagaimana yang dialami emak-emak muslimah inisial Rin (37), yang diadili karena menyebar foto editan PDIP tak perlu suara umat muslim. Ia dihukum pidana 6 bulan penjara subsider denda 1 juta rupiah atau pengganti satu bulan kurungan. Begitu juga yang dialami Jonru , Buni Yani, Alfian Tanjung, Asma Dewi bahkan Achmad Dani.

Mari lihat jika penyebar hoaks dari kubu pro pemerintah. Seakan-akan pemerintah mengulur-ngulur penangkapan bahkan dengan mudahnya terlepas dari jeratan hukum. Misalkan, hoaks jahat bin biadab yang dikampanyekannya oleh Pimpinan GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Sampai saat ini ia belum juga diadili, padahal dengan terang-terangan ia menyebar berita bohong bahkan mendikte anggotanya untuk menyebarkan hoaks. Hoaks yang ia kampanyekan adalah mengatakan bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhiid adalah bendera HTI. Padahal dengan sangat jelas dalam hadits, bendera yang disebutkan oleh Yaqut adalah bendera kaum muslimin. Sebagaimana penjelasan hadits yang diturunkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, Al-Rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan al-Liwa’ beliau berwarna putih (HR. Al-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Thabarani dan Abu Ya’la). Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah pada hari Fathu Makkah dan al-Liwa’ beliau berwarna putih (HR. Al-Tirmidzi, Al-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Begitupun dengan Permadi Arya atau sering disebut Abu Janda. Ia seringkali mengkampanyekan pemberantasan hoaks namun di sisi lain iapun sering dianggap penyebar hoaks, namun sayangnya sampai sekarang Abu Janda bebas berkeliaran. Padahal banyak pihak yang melaporkan ia ke polisi terkait penyebaran hoaks.

Salah satunya, hoaks utang luar negeri Indonesia. Dalam penyebaran video hoaksnya, Abu Janda memanipulasi utang luar negeri Indonesia, dengan terang-terangan ia mendeskreditkan pemerintah SBY dengan menyebut SBY Raja Utang. Dalam vlognya ia mengagung-agungkan pemerintah Jokowi dan Megawati, ia memasukan data dan fakta mengenai jumlah utang luar negeri pada masa Jokowi dan Megawati, namun memasukan data hoaks mengenai jumlah utang luar negeri pada masa SBY, Hingga akhirnya ia dilaporkan oleh Wasekjen Partai Demokrat, Rachland Nashidik. Namun, sampai sekarang ia tak dipenjara.

Penegakan hukum negeri ini telah dikenal cacat dari dulu. Era Jokowi makin mencoreng penegakan keadilan negeri ini. Salah satunya UU ITE ini. Penanganan hoaks begitu cepat bagi mereka kontra Jokowi dan terkesan lambat bagi pro Jokowi.

Masih mau memilih pemimpin zalim ini?
Dan, masih percaya dengan hukum cacat, demokrasi? [IW]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget