Ulama dan Nasehat



Moeflich H. Hart

Mercusuarumat.com. Masya Allaaah .... saya benar-benar tidak menyangka, status saya tentang menyelamatkan ulama, menyelamatkan Kyai Ma'ruf luar biasa viralnya. Sampai detik ini, tak henti-hentinya yang melaporkan dia menerima share WA individu maupun grup, entah berapa ratus grup WA yang telah membagikan tulisn itu terutama lagi setelah diulas oleh sebuah tulisan menjadi "Dua Profesor UIN Ingin Menyelamatkan KH. Maruf Amin." Semakin memviral lagi karena judulnya yang barangkali provokatif.

Saya jadi berpikir, mengapa bisa seperti itu?? Jujur, tulisan itu benar-benar curahan isi hati saya tentang ulama yang dimanfaatkan partai politik khususnya Kyai Ma'ruf, ulama yang dihormati. Tak ada yg lain selain itu. Pengahayatan saya tentang sosok ulama terlalu dalam barangkali, terutama ulama yang saya pandang ulama lurus.

Masalahnya adalah tulisan itu dibaca secara politik dan itu pasti, karena memang sekarang sedang musim kampanye. Lha, tulisan itu memang lahir dari situasi politik. Kalau KHMA tidak menjadi cawapres, jelas tulisan itu tak akan ada.

Itulah makanya selain viral luar biasa, yang mendukung KHMA pasti tidak menerima. Seperti pikiran orang yang menghayati dan meyakini politik itu bagian dari Islam, tak akan diterima oleh mereka yang berpikiran Islam itu harus dipisahkan dari politik, jangan dicampurkan. Masalahnya, sebenarnya itu saja.

Secara politik, dalam kontestasi pilpres sekarang, makanya ada pihak-pihak yang melihat tulisan saya itu merugikan mereka karena potensial menurunkan perolehan suara pemilu. Saat menulis, itu tak terpikirkan oleh saya, karena fokus penghayatan saya pada sosok kharisma seorang ulama terhormat dan bagaimana harusnya seorang dalam pengetahuan saya. Dan apa sih pengaruh tulisan saya yang awam ini? Perasaan biasa-biasa aja.

Ternyata viral sekali dan saya harus menerima panggilan lagi dari atasan saya di kampus UIN Bandung untuk klarifikasi dan membuat pernyataan tentang tulisan itu, lalu saya tanda tangani. Isinya: tentang gelar Prof bahwa bukan saya yang menulisnya, tentang maksud tulisan itu dan pendapat saya untuk menyelamatkan ulama dengan tidak memilihnya. Saya merasa dan yakin tidak ada yang salah dengan isi tulisan itu. Untuk membantu atasan saya yang kena teguran, saya tangani pernyataan itu. Gak ada masalah.

Selain banyak sekali yang suka karena sepikiran dengan saya, tentu saja banyak juga
yang tidak suka. Wajar bila melihatnya secara kontestasi politik pilpres 2019. Persoalannya, apakah saya punya pandangan dan pikiran tidak boleh disuarakan? Ini kan persoalan kebebasan berbicara hak azasi dan hak warga negara.

Diantara yang tak suka itu ada yang kawan saya mengomentari bahwa tulisan saya itu diuraikan dengan tak ada rasa hormat sama sekali terhadap seorang ulama senior yang dihormati. Mungkin karena bahasanya tegas dan apa adanya yang umumnya orang tak berani menulis seperti itu. Terhadap komentar itu saya jawab demikian:

"Kecintaan dalam bentuk peringatan dan kritik itu lebih jujur dan sejati, apalagi pada seorang ulama, ketimbang kecintaan hanya mendukung yang membuatnya harusnya diingatkan malah tdk ada yang mengingatkannya.

Kyai Maruf itu ulama tapi beliau juga manusia. Selama berstatus manusia pasti terkena khilaf dan lupa, maka saling mengingatkan adalah keniscayaan, demikian juga dengan saya dan semua orang. Semua orang butuh nasihat, teguran dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran.

Saya tak kenal dekat dengan Kyai Maruf maka saya relatif lebih bebas mengutarakan isi hati. Buat orang-orang sekeliling beliau dimana rasa hormat lebih menonjol, akan segan dan sungkan memberikan masukan apalagi kritik, bayangan tidak sopan dan kurang hormat jadi halangan, padahal bisa jadi nasehat, masukan dan kritik sangat dibutuhkannya karena sekali lagi, ulama juga manusia. Pujian-pujian dan hormat berlebihan pada beliau hanya akan melenakannya.

Khalifah yang terkenal ketakwaannya dan keadilannya, Umar bin Abdul Aziz, pernah menangis berurai air mata ketika ada seorang ulama yang menasehatinya tentang ancaman api neraka yang panas membakar bila ia memerintah tidak adil. Dalam pengetahuan saya tentang ulama yang benar, mestinya seperti itu.

Ulama fuqaha besar, Nu'man bin Tqsbit alias Imam Abu Hanifah pernah tersentuh menangis dan berterima kasih oleh nasihat seorang anak kecil yang mengingatkannya agar ia tidak terbuai oleh pujian yang melenakan karena digelari Al-Imam Al-Azham (Imam Agung).

Bahkan sufi agung, Yazid Al-Busthami, diceritakan pernah menyesal dan meminta maaf pada seekor anjing ketika memandang anjing itu dengan pandangan najis sehingga ia mengangkat jubahnya takut terkena najisnya. Konon anjing itu, yang atas izin Allah bisa bicara, ia berbicara: "Wahai Aba Yazid ulama yang terhormat, najis fiqhku bisa dibersihkan hanya membasuh dengan tanah bila menyentuh pakaianmu, tapi najis hatimu karena kesombonganmu memandang aku rendah karena najisku, padahal aku pasrah kepada Allah, adalah dosa tak terampuni hingga hari kiamat." Abu Yazid menangis menyesal, meminta maaf dan mengajaknya bersahabat tapi ditolak oleh anjing itu. Abu Yazid pun memohon ampun kepada Allah telah ditegur keras melalui seeokor anjing tentang kekotoran hatinya.

Itulah contoh ulama-ulama besar pun masih butuh nasehat, peringatan, teguran dan kritik karena mereka juga manusia. Ulama di zaman modern lebih butuh lagi karena godaan syahwat dunia sekarang lebih banyak dan lebih kuat.

Dan ulama yang lurus dan khatismatik harus diselamatkan dari godaan politik praktis, dari keterperosokan dunia, karena mereka adalah pembimbing umat, karena mereka adalah cahaya dalam kegelapan yang apinya tak boleh mati, karena tugas mereka adalah memberikan nasehat kepada manusia. Oleh siapa lagi umat dibimbing dan kepada siapa lagi kita meminta nasehat selain kepada ulama. Wallahu a'lam bish-shawab.***

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget