November 2018



Andai dukung Jokowi
Semua kan trasa mudah
Urus sana urus sini
Skali bilang langsung sudah

Andai dukung Jokowi
HTI tak akan dianggap ormas terlarang
Jangankan dicap terlarang
Berani senggol HTI
Jabatan melayang

Andai dukung Jokowi
Ust Abdul Shomad tak akan dipersekusi
Justru difasilitasi
Dakwah dalam dan luar negeri

Andai dukung Jokowi
Ust Tengku Zulkarnain tak akan diintimidasi
Saat dakwah di pelosok negeri
Yang ada justru dikasih karpet merah yang bersih

Andai dukung Jokowi
Habib Rizieq aman di dalam negeri
FPI jelas akan diayomi
Kadernya dapat harta gono gini

Andai dukung Jokowi
Aksi Bela Tauhid tak kan brani ada yang halangi
Perusahaan Organda Angkutan Umum tak berani batalkan janji
Begitupun polisi, kasih izin acara dengan senang hati

Andai dukung Jokowi
Sebar Hoak tak kan ditindak polisi
Sebar difitnah apalagi
Ujaran kebencian pun tak kan dikriminalisasi

Andai dukung Jokowi
Buat acara pasti didatangi
Punya pondok pesantren? Pasti disubsidi
Punya sekolah? Bakal dihadiahi
Punya ormas? Dikasihi dan dilindungi

Apalagi yang kurang?
Pokoknya andai dukung Jokowi
Semua benar, aman, terkendali
Kontra Jokowi?
Siap-siap dicap radikal, anti NKRI
Harus rela dilabeli anti Pancasila
Harus sabar dituduh pemecah belah

Percuma Anda jelaskan "Saya cinta Indonesia", " Saya tidak Anti Pancasila ", "Saya tidak Anti Keberagaman", "Saya tidak Intoleransi".
Percuma...
Semua percuma.

Karena jika Anda kontra Jokowi
Siap-siap anda disebut Anti NKRI!
[IW]



Mercusuarumat.com. Palu. Ratusan umat muslim di Palu, kembali mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat  (DPRD) Provinsi Sulawesi Tengah, Jalan Samratulangi, Besusu, Kecamatan Palu Timur, Jumat (30/11/2018) siang.

Kedatagan ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pencinta Bendera Tauhid itu sebagai bentuk protes terhadap upaya kriminalisasi bendera yang terjadi di di Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi belum lama ini.

Menurut Koordinator Aksi, Siddiq Robbani mengatakan, saat ini bendera tauhid dilecehkan seakan ia pemantik adanya perpecahan, sebagaimana kasus yang mereka temukan di Desa Rogo.
Dimana pemasangan bendera tauhid oleh warga ditunding meresahkan oleh oknum, padahal menurut pengakuan Sekdes Rogo saat itu, pemasangan bendera justru atas inisiatif warga sendiri.

"Hal itu menunjukkan kebencian kaum kafir dan munafik terhadap bendera Tauhid. Maka aksi seperti ini terus kita lakukansebagai bentuk pembelaan terhadap bendera tauhid," katanya.

Untuk itu Siddiq mengajak seluruh umat Islam di Palu untuk bergabung melakukan aksi bela Tauhid sekaligus dukungan untuk aksi 212 sebagai momen persatuan umat.

"Setiap muslim yang lurus aqidahnya dan kokoh keimanannya akan selalu bangga melihat ia berkibar (bendera tauhid red)," katanya.

Rencananya, aksi akan berlangsung hingga pukul 15.00. (*)

Sumber: TRIBUNPALU.COM



Mercusuarumat.com. Ahad 18/11/18
Remaja Soleh Bandung mengadakan talkshow inspiratif #2 dengan mengangkat tema “Menyikapi Hari Aids Dalam Pandangan Remaja Muslim” hadir sebagai pembicara Fauzi Ihsan Jabir S.Tr. Sos (Lembaga Family & Generation Care) & Dr. Mu‘adz Atim S.Ked (Praktisi Kesehatan & Koordinator Wilayah Helps Jabar-Banten) dan dipandu oleh kang Zulham selaku penanggung jawab acara Forum Diskusi Remaja (FDR) yang diadakan oleh komunitas Remaja Soleh Bandung ini.

Acara ini dihadiri oleh remaja ikhwan & akhwat dari berbagai sekolah di kota bandung, Acara dimulai dengan Master Of Ceremony Oleh Alvian (Siswa SMA di Pesantren Baiturrahman) & pembukaan tilawah Al-quran yang cukup merdu dibacakan oleh Ivan (Santri Pesantren Modern Baiturrahman Nagrog Ujungberung Bandung)



Di awal diskusi, host bertanya kepada kang Fauzi ihsan Jabir, apa sih lembaga Family & Generation Care itu? Lembaga Family & Generation Care adalah lembaga khusus yang bergerak dan fokus dalam mengatasi permasalahan generasi, hadirnya lembaga family & generation care adalah untuk menangkal virus-virus yang bisa menyerang generasi remaja muslim khususnya seperti virus liberalisme, hedonisme, seks bebas, dan kenakalan-kenakalan remaja lainnya.



kang Fauzi juga memaparkan fakta-fakta kerusakan remaja di kota bandung khususnya, dan penyakit aids adalah virus yang serius yang bisa menular kepada generasi remaja, bisa lewat jarum suntik atau seks bebas.
Kang fauzi juga menyampaikan, remaja atau pemuda muslim harus mengikuti pembinaan agama, untuk menangkal virus-virus jahat tersebut, remaja muslim harus menyalurkan hobinya & waktu luang nya kepada hal-hal yang bermanfaat terutama untuk serius mengkaji islam, karena hanya dengan pondasi agama lah remaja-remaja muslim bisa terselamatkan dari virus-virus yang dimaksud diatas tadi.

Dr Mu’adz Atim mengatakan penyakit aids ini adalah penyakit serius yang bisa menularkan dari penderita lewat hubungan seks bebas, narkoba suntik, & ASI (Air Susu Ibu). Sampai saat ini HIV aids tidak ada obatnya, virus HIV tidak bisa dihilangkan atau diobati tetapi hanya bisa di per lambat perkembangannya.

Dari pemaparan kedua pe materi diatas tadi, banyak peserta siswa SMP & SMA bertanya seperti bagaimana caranya melenyapkan aids, bagaimana agar remaja jauh dari aids, apakah orang yang punya penyakit aids harus dijauhi, tercatat ada 10 pertanyaan yang disampaikan oleh remaja kepada pe materi.

Kang Zulham selaku penanggung jawab komunitas remaja soleh bandung menyampaikan, setelah acara talk show inspiratif pada bulan oktober lalu dengan mengangkat tema “Remaja Di rindu Surga” di bulan november ini kita angkat tema tentang hari aids dalam pandangan remaja muslim, agar para remaja muslim bisa mengerti apa itu aids, apakah aids bisa menular, Bagaimana cara memerangi aids sampai ke akarnya.

Kami Remaja Soleh Bandung akan rutin mengadakan diskusi-diskusi aktual mengenai dakwah kepada remaja, harapannya dengan komunitas ini para remaja-remaja muslim di kota bandung yang belum berhijrah bisa segera berhijrah mengambil jalan dakwah yang telah dicontoh kan oleh para pemuda-pemuda hijrah di kota bandung dan tentunya mengikuti jalan dakwah sahabat muda nabi ﷺ seperti ali bin abi thalib, mush’ab bin umair, abdullah bin umar dan sahabat-sahabat rasul lainnya di kalangan remaja yang gigih mendakwahkan islam sampai islam dimenangkan.

Semoga komunitas remaja soleh Bandung ini menjadi wasilah hijrah nya para remaja Muslim yang masih suka Gaul bebas, main bebas tanpa aturan agar menjadi remaja muslim yang islamis, taat, pejuang dakwah & istiqomah dalam kebaikan.
(DK)



Mercusuarumat.com. Sekelompok orang yang menamakan diri Gerakan Jaga Indonesia berencana menggagalkan Reuni Akbar 212 yang akan digelar pada Minggu, 2 Desember mendatang.

Bahkan mereka berniat akan melakukan aksi sweeping terhadap bendera bertuliskan kalimat tauhid, karena menurut mereka, bendera tersebut adalah bendera Hizbut Tahrir, organisasi yang sudah dilarang keberadaannya di Indonesia.

Menanggapi rencana sweeping tersebut, Ketua Media Center Reuni Akbar 212, Habib Novel Chaidir Hasan Bamukmin mengatakan, aksi sweeping terhadap bendera tauhid sama saja merusak nilai Pancasila.
“Mereka mensweping bendera tauhid sama juga mereka merusak Pancasila,” kata Novel saat dikonfirmasi, Rabu (28/11/18).

Menurut Novel, dalam Pancasila, yakni sila pertama, berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal itu selaras dengan kalimat tauhid yang dimiliki umat Islam.

Selain itu, lanjut dia, berdasarkan hasil musyawarah antar ormas Islam yang dimediasi oleh Menkopolhukam, disepakati bahwa bendera yang dibakar pada hari santri adalah bendera kalimat tauhid.

“Dan ini adalah kesepakatan. Apabila mereka mau sweeping bendera kalimat tauhid, agar aparat menangkap perusuh ini,” tegas Novel.

Senada dengan Novel, Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif, meminta aparat kepolisian menindak tegas siapapun yang mencoba menggagalkan Reuni Akbar 212. “Polisi mesti usut dan tangkap,” kata Slamet.[far]

Sumber: telusur. co.id



Mercusuarumat.com. Anda pernah melihat foto seekor citah yang diminta berlomba lari dengan kawanan anjing di suatu arena? Apa yang dilakukan citah? Ia tak beranjak melangkah melewati garis start, kawanan anjing berlari berhamburan menuju garis finish.

Anda terbayang apa yang saya jelaskan? Oke kalau terbayang. Bayangkan bagaimana seekor citah "menunjukkan" kemenangannya! Semua orang tahu jika citah dilomba larikan dengan anjing yang menang adalah citah. Tanpa dilombakan pun jelas citah dan anjing beda kelas. Cetah dalam fenomena di atas "sadar" jika ia melakukan hal "bodoh" dengan meladeni anjing untuk lomba lari sama halnya ia meluluhlantahkan kewibawaannya sebagai pemenang. Anda faham?

Bela Tauhid VS Bela Zalim

Umat Islam adalah umat pemenang. Allah Swt yang jelaskan di dalam quran surat Ali Imron ayat 110, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia". Sejatinya umat Islam yakin bagaimanapun siasat busuk kaum munafiqun, umat islam di atas mereka. Selama umat islam membela tauhid maka umat Islam akan menang, sebagaimana Firman-Nya dalam quran surat An-Nuur: 55, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Bela Tauhid 212 Meneguhkan Kememangan

Perang khondaq melawan pasukan gabungan kafir quraisy beserta sekutunya adalah pelajaran berharga bagi umat Islam tentang bagaimana ikhtiar mewujudkan kemenangan. Secara fisik umat islam kala itu kalah jumlah, 3.000 banding 10.000. Namun Rasulullah menanamkan mental pemenang pada tiap qalbu kaum muslimin. Rasulullah telah dijanjikan oleh Allah Swt akan meraih kemenangan, namun Rasulullah tidak tinggal diam, Beliau memaksimalkan ikhtiar meneguhkan kemenangan.

Begitupun Aksi Bela Tauhid 212, kaum munafiqun tak rela umat islam bersatu. Mereka bersekutu kuasai semua lini, mulai dari media, pihak keamanan, tokoh hingga penguasa. Jumlah mereka banyak. Namun ingat! Umat islam yang bepegang teguh pada tali Allah tidak akan pernah gentar, karena mereka yakin mereka adalah umat pemenang.

Jelas Kita Beda Kelas!

Segala upaya penghadangan Aksi Bela Tauhid 212 dilakukan oleh kaum munafiqun tak buat umat Islam kendor untuk bersatu. Mereka tetap sabar dikala intimidasi dan persekusi terjadi. Mereka tetap ikhlas berjuang walau keluarkan uang yang banyak. Mereka tetap bertahan dikala masyarakat mengucilkannya. Mereka tetap berjuang disaat akal sehat penguasa tak lagi dipakai. Mereka tetap melangkah dikala media mencitra burukkan mereka. Anti pancasilalah, anti keberagamanlah. Anti Indonesialah, dukung radikalismelah, dukung terorismelah, bela ISISlah, hancurkan Indonesialah, berontak penguasalah, tidak taat pemimpinlah, dan segala narasi buruk lainnya terhadap mereka.

Tapi umat tak lawan mereka dengan hal yang sama. Karena umat tahu, "Jelas Kita Beda Kelas!" Kaum munafiqun lakukan persekusi, umat tak lawan dengan itu. Mereka sebar hoaks, umat tak lawan dengan itu. Mereka fitnah sana-sini, umat tak lawan dengan itu. Mereka intimidasi, umat tak lawan dengan itu. Mereka diktator otoriter, umat tak lawan dengan itu. Karena umat tahu bahwa "Jelas Kita Beda Kelas!".

Kita Lawan Dengan Dakwah

Senjata utama umat dalam melawan kezaliman kaum munafiqun adalah dakwah. Dakwah merubah pemikiran dan perasaan umat untuk kembali tertambat hatinya dengan Islam. Meyakinkan umat bahwa islam adalah satu-satunya solusi agar umat ini sejahtera, solusi agar umat ini kaya, solusi agar umat ini damai sentosa. Ingatlah sahabat, Firman Allah Swt dalam quran surat An-Nuur: 55: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Dan Firman Allah Swt dalam quran surat Ali Imron ayat 110, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
Wallahu'alam
[IW]




AKU SEBENARNYA TELAH DIMAKAN, KETIKA BANTENG PUTIH ITU DIMAKAN

Oleh : KH Hafidz Abdurrahman, MA

Ini adalah tamsil yang menarik. Tamsil ini dalam bahasa Arab, berbunyi:

أكلت يوم أكل الثور اﻷبيض

"Aku sebenarnya telah dimakan [singa itu], ketika banteng putih itu dimakan."

Alkisah, ada tiga banteng; putih, merah dan hitam. Ketiga banteng ini berhadapan dengan seekor singa yang hendak memangsanya. Namun, karena ketiganya bersatu padu, singa itu pun tak bisa memangsa mereka, baik yang putih, merah maupun hitam.

Singa pun tak kehilangan cara. Untuk memangsa ketiganya tidak bisa sekaligus, harus satu-satu. Caranya, dia harus pisahkan ketiganya, dengan bujuk rayu dan muslihat. Singa mulai menjadikan banteng putih sebagai target mangsa. Maka, ia datang kepada kedua banteng yang lain, merah dan hitam. Dia katakan kepada mereka, "Saya akan makan banteng putih, jadi kalau kalian tidak ingin aku mangsa, lebih baik kalian diam saja, tidak perlu membantunya. Kalian akan aku biarkan, dan aman." Kata singa. Kedua banteng itu pun setuju. Mereka diam saja, saat banteng putih dimangsa singa, tak ada kepedulian sedikit pun, karena yang dimangsa bukan mereka.

Singa itu memangsa banteng putih dengan lahap, tanpa kesulitan berarti, sementara kedua banteng yang lainnya menyaksikan temannya dimangsa, tanpa sedikit pun empati. Mereka salah, dianggap singa itu tak akan memangsa mereka. Maka, setelah hari berganti, giliran mereka yang dimangsa. Tetapi, jika sekaligus, maka singa itu pun tak akan bisa menundukkan mereka. Caranya, sebagaimana cara yang dilakukan singa itu memangsa banteng putih.

Singa datang kepada banteng hitam, "Saya akan mangsa benteng merah, kamu diam saja, tidak perlu membantunya. Kamu tidak akan aku mangsa, tenang saja, dan diam. Kamu aman." Singa itu pun memangsa banteng merah itu dengan lahapnya, tanpa perlawanan berarti, di depan mata banteng hitam. Banteng hitam itu pun hanya melihat dan menyaksikan temannya, banteng merah dimangsa singa, tanpa empati. Seolah itu tidak akan menimpa dirinya. Tapi, dia salah.

Setelah hari berganti, banteng hitam itu tinggal sendiri. Saat tinggal sendiri, singa itu pun memangsanya dengan mudah, sebagaimana kedua temannya yang telah dimangsa singa itu terlebih dahulu. Saat banteng hitam itu menjelang ajalnya, dia mengatakan, "Aku sesungguhnya telah dimakan [singa itu], ketika banteng putih itu dimakan." Artinya, ketika mereka membiarkan seekor banteng putih dimangsa singa, dan tidak dilawan, akhirnya kekuatan banteng-banteng tadi berkurang, karena tinggal dua ekor, hingga seekor, saat itulah singa dengan mudah melakukan aksinya.

Begitulah, tamsil yang indah, menggambarkan betapa persatuan umat Islam itu penting. Tak hanya penting, tetapi juga wajib. Cara kaum Kafir untuk menghancurkan kekuatan Islam adalah dengan mengadudomba kaum Muslim. Diciptakanlah, "Islam Radikal" vs "Islam Moderat", "Islam Arab" vs "Islam Nusantara". Semuanya ini tujuannya satu, menghancurkan kekuatan umat Islam, dan memangsa kaum Muslim.

Bodohnya, ada orang Islam, organisasi Islam, bangga karena tidak dicap kaum Kafir sebagai "Islam Radikal", dan senang dengan cap, "Islam Moderat", padahal mereka akan dimakan juga, kelak setelah "Islam Radikal" dijadikan mangsa. Sebab, musuh kaum Kafir, seperti kata Samuel Huntington, bukanlah "Islam Radikal," atau "Islam Fundamentalis", tetapi Islam itu sendiri. Dikotomi itu hanya cara yang dilakukan "singa" Kafir untuk memangsa kaum Muslim, dan menghancurkan Islam.

Maka, ketika kaum Kafir melakukan permusuhan bahkan pembubaran terhadap kelompok atau ormas Islam, sekarang diikuti dengan perang terhadap Perda Syariah, targetnya bukan hanya kelompok atau organisasi itu, tetapi menghancurkan Islam dan umatnya.

Waspadalah!

Makkah,
Selasa, 27 Nopember 2018



Mercusuarumat.com. sebagaimana lazim diketahui, tiap 25 November masyarakat Indonesia selalu peringati Hari Guru. Tahukan sahabat, bagaimana hebatnya dunia pendidikan, wabil khusus guru pada era khilafah?

Perbandingan gaji guru zaman now dan masa khilafah.

Guru honorer di Indonesia, khususnya di daerah hanya menerima gaji rata-rata Rp 500 ribu per bulan (Liputan6.com), sedangkan di era khilafah standar gaji guru yang mengajar anak-anak pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sebesar 15 Dinar (1 dinar = 4,25 Gram Emas) atau setara 5.700.000,- rupiah dan diikuti oleh para khalifah berikutnya (news.visimuslim.org)

Mahalnya Biaya Pendidikan di Perguruan Tinggi Indonesia, sebaliknya di masa Khilafah, GRATIS!

Berdasarkan data UKT tahun 2013 dan 20­14, sebanyak 50 persen mahasiswa di PTN berbadan hukum membayar uang ku­liah di atas Rp 4 juta - Rp 10 juta per semes­ter. Bahkan ada yang membayar Rp 47,5 juta per semester (koran Kompas, 4 Fe­bruari 2016), adapun ketika dunia dipimpin oleh Khalifah, Para khalifah memberikan penghargaan sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya.


Seberapa Besar Penghargaan Karya Ilmuan Indonesia?

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Umar Anggara Jenie Apt. M.Sc berpendapat, penghargaan terhadap insan peneliti atau pengembang riset di Indonesia masih dirasa kurang. Hal tersebut bisa terlihat dari banyaknya ilmuwan asal Indonesia yang justru mendarmabaktikan karyanya di luar negeri karena merasa lebih mendapatkan dukungan dibandingkan di negaranya sendiri (lipi.go.id, 12/12/2009), berbeda dengan Islam, Islam sangat menghargai karya, sebagaimana Para khalifah memberikan penghargaan sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya.

Para Ilmuwan di Masa Khalifah yang Berpengaruh

Banyak sekali imuan yang berpengaruh era khilafah, diantaranya:
Al Khawarizmi orang pertama yang menyusun al Jabar.
Jabir bin Hayan ahli Kimia yang terkenal.
“Saya temukan” (Eureka..!) kata Al Biruni orang yang meletakkan sebuah teori sederhana guna mengetahui volume dari lingkungan geologis.
Khalifah al Makmun mendirikan observatorium untuk para astronomnya Muhammad, Ahmad dan Hasan Bin Musa (Banu Musa asy Syakir).
Avicena (Ibnu Sina 980 - 1037) dan Algazel (Al Ghazali 1053 – 1111) sudah memikirkan hitung diferensial, 700 tahun sebelum orang Inggris Newton dan orang Jerman Leibniz.

Lihat bagiamana kewibawaan umat islam tempo khilafah
Ini petikan surat George II [Raja Inggeris, Swedia dan Norwegia] kepada Khalifah Hisyam III


Dari George II,
Raja Inggeris, Swedia dan Norwegia,
Kepada Khalifah - Penguasa kaum Muslimin - di Kerajaan Andalusia,
Yang Mulia, Hisyam III,


Yang Mulia..

Setelah salam hormat dan takdzim, kami beritahukan kepada yang Mulia, bahwa kami telah mendengar tentang kemajuan yang luar biasa, dimana berbagai sekolah sains dan industri bisa menikmatinya di negeri yang Mulia, yang metropolit itu.

Kami mengharapkan anak-anak kami bisa menimba keagungan yang ideal ini agar kelak menjadi cikal bakal kebaikan untuk mewarisi peninggalan yang Mulia guna menebar cahaya ilmu di negeri kami, yang masih diliputi kebodohan dari berbagai penjuru.

Kami telah memutuskan puteri saudara kandung kami, Dubant, untuk memimpin delegasi dari puteri-puteri pemuka Inggeris agar bisa memetik kemuliaan … agar kelak beliau bisa ditempatkan bersama teman-teman puterinya dalam naungan kebesaran yang Mulia.

Puteri kecil kami, juga telah dibekali dengan hadiah kehormatan untuk menghormati kedudukan yang Mulia nan agung..

Hamba mengharapkan kemuliaan yang Mulia dengan berkenan menerimanya, dengan penuh hormat dan penuh cinta yang tulus.

Tertanda,
Pelayan yang Mulia nan taat,
George II


Luar biasa bukan kehebatan dunia pendidikan Era Khilafah?
Yuk rapatkan barisan perjuangan islam demi tegakkan khilafah!

Wallahu'alam
[IW]
Sumber:
Untold History, Hafidz Abdurahman
Liputan6.com
News.visimuslim.org
Lipi.go.id
Koran kompas



Mercusuarumat.com. Sirah Nabawi menjelaskan kondisi dunia sebelum diutus Nabi صلى الله عليه وسلم, ternyata penuh dengan kerusakan berupa dominasi kezhaliman dan kesesatan.

Pertama, kezhaliman politik berupa monopoli kekuasaan di tangan elit tertentu, hal ini nampak pada negara Romawi, Persia, serta negara satelit keduanya: Ghassanid, Lakhmid, Tadmur dll.

Kedua, kezhaliman sosial berupa dominasi kelas sosial, semisal Romawi Barat masyarakatnya terbagi dua: majikan & budak atau bangsawan & rakyat jelata. Diskriminasi hukum juga terjadi, disana ada dua undang-undang yg berlaku: UU Romawi untuk bangsawan dan UU Pretorian untuk wilayah kolonial dan rakyat jelata. Sedangkan negara Persia berdasar paganisme. Arab pada masa itu tidak punya UU dan Syariat, namun memiliki sekumpulan tradisi yg berbeda antar kabilah berdasar fanatisme jahiliyah.

Ketiga, kezhaliman ekonomi berupa ketidakadilan distribusi kekayaan di hampir seluruh negara dan masyarakat, sehingga terbentuk jurang antara golongan kaya raya dan golongan sangat miskin. Kekuasaan hanya milik orang kaya yg digunakan demi memuaskan keserakahan, karena itulah utang riba berlipat-lipat merajalela menjadi tradisi ekonomi kala itu.

Keempat, kesesatan keyakinan, semisal orang Romawi Nasrani mempercayai trinitas, menganggap Isa عليه السلام sebagai putra Allah yg memiliki sifat ketuhanan sekaligus kemanusiaan. Orang Persia kala itu mempercayai dua Tuhan: Tuhan Kebaikan & Tuhan Kegelapan. Sedang orang Arab mempercayai Allah سبحانه وتعالى sebagai Pencipta, tetapi menyekutukan-Nya dengan berhala yg dianggap bisa mendekatkan pada-Nya.

Kelima, kesesatan berpikir, berupa akal yg terbelenggu kegelapan yg tidak mampu memahami bahwa batu berhala tidak mungkin mendekatkan pada-Nya, bahkan sampai pada pola pikir yg terbalik, ketika menganggap kejahatan sebagai cara menjaga hak hidup yg lumrah, ‘siapa yg tidak menebas dgn pedangnya maka dia ditebas orang, siapa yg tidak zhalim pada yg lain maka dia akan dizhalimi’ begitu prinsip kala itu. Karena itu, kekuasaan dimonopoli kelas bangsawan, dengan menyebarkan kebodohan dan memanfaatkan takhayul.

Keenam, kesesatan jiwa, dimana masyarakat dibangun bukan karena persaudaraan, namun dibangun dengan pemaksaan dan eksploitasi; yg kuat menekan yg lemah sehingga menimbulkan rasa dendam dalam jiwa; sedang eksploitasi melahirkan egoisme serta meremehkan selainnya. Hal tersebut nampak pada masyarakat Persia dan Romawi. Kala itu, orang yg berutang ke bangsawan Romawi, bisa dituntut melunasi dengan tubuhnya. Adapun di jazirah Arab, memang tidak setega Romawi, karena masih terdapat sedikit nilai etika, akan tetapi eksploitasi memiliki bentuk yg berbeda, semisal ketika seseorang kesulitan bayar utang, maka akan diberi tempo asalkan ribanya berlipat ganda.

Berdasarkan berbagai kondisi yang rusak, penuh kezhaliman dan kesesatan tersebut, secara naluri manusia pasti sangat mengharapkan penyelamat. Penyelamat yg diutus tentu selain membawa cahaya juga wajib memiliki kekuatan, sebab kegelapan dunia sebelum Islam datang telah dipelihara kekuatan zhalim. Untuk melenyapkan kekuatan zhalim dibutuhkan kekuatan juga sehingga cahaya bisa tersebar tiada yg menghalangi. Karena itulah, Muhammad Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai pendiri Daulah Islam, membawa kekuatan sehingga bisa melenyapkan kekuatan zhalim, menghapus mimpi buruk yg diderita manusia, serta menyingkirkan penghalang sehingga cahaya Islam mampu selamatkan manusia dari kegelapan. (Prof. Rawwas Qal'ahji, Qira'ah Siyasiyyah Li as-Sirah an-Nabawiyyah, h. 11-13)

Yan S. Prasetiadi
Kajian Sirah Nabawi, Ma'had Darul Ulum
Purwakarta 24/11/2018


Oleh: Gus Uwik

Mercusuarumat.com. Banyak yang gagal paham dengan Khilafah. Khususnya kaum liberal dan yang membenci Islam. Mereka membuat narasi kebencian, ketika nanti Khilafah tegak berdiri maka akan menjadi monster menakutkan bagi warga non Islam. Tidak ada toleransi sama sekali. Mereka akan menjadi warga yang di paksa pindah agama, di paksa melaksanakan peribadatan Islam, Non Islam tidak bebas menjalankan ibadahnya, syariat Islam menimbulkan perpecahan, rasa tidak aman bahkan sampai hal menggelikan yakni di paksa untuk sunnat serta pernyataan sumir lainnya. Dengan narasi ini, wajar jika umat non Islam menjadi takut ketika mendengar syariat Islam apalagi sistem Khilafah. Bukan hanya umat non Islam, umat Islam sendiripun pasti akan ketakutan. Namun, sekali lagi itu semua adalah narasi kebencian yang dibangun dan disebarkan oleh orang liberal pembenci Islam. Jadi, bagaimana sebenarnya Khilafah memberikan perlindungan kepada warga non Islam?

Sungguh, narasi kebencian di atas sangat jauh berbeda dengan realitas dan fakta yang ada. Bagaimana mungkin, syariat Islam yang berasal dari Sang Pencipta alam semesta ini berlaku tidak adil dan diskriminatif. Hingga sampai kemasalah keyakinan setiap individu masyarakat. Jika demikian adanya maka akan bertentangan dengan sifat Allah yang Maha Adil dan Maha Kasih Sayang kepada semua makhluknya. Oleh karenanya, yang ada adalah ketidakpahaman dan ketidaktahuan sebagian orang tentang keadilan syariat Islam. Mereka, dengan keterbatasan yang ada belum bisa menjangkau atau tidak mau mendalami realitas yang terjadi ketika kekhilafan tegak.

Realitas dan fakta bagaimana Khilafah memberikan jaminan perlindungan kepada warna non Islam nampak jelas tergambar dalam seluruh riwayat dan cerita yang bisa dipertanggungjawabkan keontetikannya. Dalam buku Syakhsiyatu Umar wa Aruhu (dalam edisi Indonesia berjudul The Great Leader of Umar bin Al Khathab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua), Dr Ali Muhammad Ash Shalabi menulis bahwa dulu Khalifah Umar pernah memiliki seorang budak laki-laki yang beragama Nasrani. Namanya Asyiq. Asyiq bercerita, Saya adalah orang seorang budak beragama Nasrani milik Umar. Umar mengatakan kepada saya; “Masuk Islam lah kamu agar kami dapat menugaskan kamu untuk menangani beberapa urusan kaum muslimin. Sebab kami tidak pantas menugaskan untuk mengurusi urusan kami dengan orang yang bukan dari golongan kami.” Akan tetapi saya menolak tawaran Umar. Lalu Umar membacakan firman Allah, “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam.” Tatkala Umar akan meninggal, Dia memerdekakan saya dan berkata; “Pergilah kamu ke mana saja kamu inginkan!”

Para penganut ahli kitab juga bebas menjalankan syiar-syiar agama dan upacara-upacara keagamaan mereka di tempat-tempat ibadah dan rumah-rumah mereka. Tidak ada seorangpun yang berani melarang mereka untuk melakukan aktivitas tersebut. Sebab syariat Islam menjamin kebebasan keyakinan mereka.

Ath Thabari merawikan bahwa Umar pernah menulis sebuah perjanjian dengan penduduk Alia (Qudus). Dalam surat perjanjian tersebut Umar menjelaskan tentang pemberian jaminan keamanan bagi penduduk Alia baik terhadap diri, harta, salib dan gereja-gereja mereka.

Gubernur Umar di Mesir, Amr Bin al-Ash, pernah menulis surat perjanjian yang ditujukan kepada penduduk Mesir. Surat perjanjian itu berbunyi; “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah apa yang diberikan oleh Amr Bin Al-Ash kepada penduduk Mesir berupa jaminan keamanan atas diri, agama, harta benda, gereja-gereja, salib, darat dan laut mereka.”

Para ulama Fiqih telah sepakat bahwa Ahlu Dzimmah berhak menjalankan syiar-syiar agama mereka. Mereka tidak dilarang untuk menjalankan aktivitas tersebut selama mereka tidak menampakkan secara terang-terangan. Bila Mereka ingin menjalankan syiar-syiar agama mereka secara terang-terangan seperti mengeluarkan tanda salib mereka, maka para ulama Fiqih melarang mereka melakukan hal tersebut di daerah-daerah Islam dan tidak melarang mereka untuk melakukannya di daerah dan perkampungan mereka.

Tentang jaminan Islam terhadap kebebasan menganut suatu agama Syeikh Imam Al Ghozali mengatakan: “Kebebasan beragama yang di jamin Islam bagi manusia belum diketahui ada tandingannya di lima benua yang ada di muka bumi ini. Belum pernah ada sebuah agama yang mendominasi sebuah kekuasaan lalu pemerintahannya memberikan kepada penganut agama yang berbeda dengan agama resmi negara segala faktor yang membuat agama itu tetap eksis dan berkembang seperti apa yang telah dilakukan oleh Islam [Daulah Khilafah – red].”

Khalifah Umar telah berupaya sungguh-sungguh untuk melaksanakan prinsip kebebasan beragama di tengah-tengah masyarakat. Ia telah mengedarkan kebijakan politik dalam pemerintahannya dalam hal menghadapi penganut agama Nasrani dan Yahudi. Khalifah Umar mengatakan; “Kami telah memberi mereka sebuah kontrak perjanjian di mana Kami akan membebaskan mereka beribadah di gereja-gereja mereka. Di sana mereka bebas melakukan apa saja dan Kami tidak akan membebani mereka dengan apa yang tidak sanggup mereka lakukan. Bila musuh mereka hendak menyerang mereka maka kami akan berperang menghadapi musuh mereka itu. Kami juga akan membebaskan mereka untuk memperlakukan hukum-hukum agama mereka kecuali bila mereka rela berhukum dengan hukum hukum kami. Maka kami akan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukum-hukum kami. Bila mereka tidak berada di hadapan kami maka kami tidak akan membicarakan aib-aib mereka.”

Dalam data sejarah disebutkan bahwa Umar adalah khalifah yang sangat perhatian terhadap Ahlu Dzimmah. Khalifah Umar membebaskan mereka dari kewajiban bayar pajak ketika mereka tidak mampu untuk membayarnya. Dalam kitab Al Amwal, Abu Ubaid mengatakan; “Suatu hari, Khalifah Umar melintas di sebuah pintu gerbang rumah suatu kaum. Di situ terdapat seorang laki-laki tua yang buta sedang mengemis. Umar menepuk pundak laki-laki tua itu dan bertanya; “Dari golongan Ahli Kitab mana anda berasal?” Laki-laki tua itu menjawab; “Aku adalah seorang Yahudi. Mengapa Anda mengemis?” tanya Umar. “Aku mencari uang untuk bayar pajak dan untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari,” jawab laki-laki tua itu. Setelah itu Khalifah Umar menggandeng tangan dan membawa laki-laki tua itu kerumahnya. Umar memberikan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan si laki-laki tua tersebut kemudian Umar menyuruh si laki-laki tua itu untuk menemui petugas Baitul Mal.

Kepada petugas Baitul Mal, Khalifah Umar mengatakan; “Perhatikanlah kebutuhan orang ini dan orang-orang yang seperti dia! Demi Allah, kita tidak pantas memakan hartanya (dari hasil pembayaran pajak) ketika dia masih muda, lalu kita menelantarkan dia ketika dia ya sudah lanjut usia.” Setelah itu Khalifah Umar membebaskan si laki-laki tua itu dan orang-orang yang seperti dia dari kewajiban membayar pajak. Umar juga menulis surat yang ditujukan kepada para pembantunya dalam rangka untuk memperlakukan ketentuan ini secara umum.

Kebijakan-kebijakan Khalifah Umar ini mencerminkan tentang keadilan Islam dan kesungguhan Khalifah Umar membangun Khilafah di atas prinsip keadilan dan prinsip kasih sayang terhadap rakyatnya. Kendati mereka non muslim, pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin kebebasan beragama dan toleransi benar-benar menjadi soko guru, mendapat jaminan dari negara dan terpelihara dengan hukum-hukum perundang-perundangan Islami. Wallahua’lam bi al-Showab.

Referensi:
Nidzam Al Hukm fi Asy Syari’ah as wa At-Tarikh al-Islami, 1/58,
Tarikh Ath Thobari, 4/158,
Al Bidayah wa An-Nihayah, 7/98,
As-Sulthah At-Tanfidziyah, 2/725,
Huquq al-Insan Baina Ta'alim Al Islam wa I’lan Al Umam Al Muttahidah, halaman 111,
Nizam Al hukum fi ‘Ahd al-Khulafa Ar-Rasyidin, halaman 117,
Abu ubaid, Al Amwal, halaman 157 dan Ibnu Al Qayyim, Al Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, 1/38
Az-Zaila’I, Nashb Ar Rayah, 7/453



Mercusuarumat.com. Umat muslim adalah umat terbaik, sebagaimana Firman Allah Swt dalam quran surat Ali Imron ayat 110, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
Sebagai umat paling baik yang Allah Swt ciptakan sudah sewajarnya umat ini sejahtera, damai sentosa, bebas dari kemiskinan, terhindar dari kebodohan dan segala jenis kerendahan martabat lainnya.

Namun, faktanya umat ini justru tertinggal. Kemiskinan merajalela di mayoritas negeri islam. Contoh nyata, lihat saja Pakistan, Sudan, Mesir, Bangladesh, Afganistan, Albania, Aljazair, Maroko, Mauritania, Chad, Azerbaijan, Sierra Leone, dlsb. Indonesia, sebagai negeri mayoritas muslim berdasarkan laporan Bank Dunia, terdapat 70-an juta penduduk miskin pada tahun 2017. Dari sisi ilmu pengetahuan, minat baca Indonesia sangat rendah, terbukti dari laporan hasil survei tentang literasi yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahun 2016 di New Britain, Conn, Amerika Serikat, menempatkan Indonesia dalam posisi yang memprihatinkan, yaitu urutan ke-60 dari 61 negara. Sementara itu, hasil survei Progamme for International Student Assessment (PISA) 2015 yang diumumkan pada awal Desember 2016 menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Indonesia berada di urutan ke-64 dari 72 negara. Selama kurun waktu 2012--2015, skor PISA untuk membaca hanya naik 1 poin dari 396 menjadi 397.

Apa yang salah? Ada dua peluang, pertama, Firman Allah Swt quran surat Ali Imron ayat 110 yang keliru, kedua umat Islamnya sendiri yang salah.
Jelas, Firman Allah Swt tak kan pernah keliru. Yang salah adalah umatnya!
Maka, sampai detik ini, kita (umat islam) belum layak menang, belum layak sejahtera, belum layak damai sentosa, karena ada yang salah dalam menjalankan kehidupannya.

Allah Swt, Rabb kita menobatkan kita sebagai umat terbaik karena Islam adalah agama satu-satunya yang diridhoi oleh-Nya dan hanya Islam yang akan menghantarkan pada kebahagian di dunia dan di akhirat, sebagaimana Firman Allah Swt quran surat An-Nuur: 55, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Mari simak potongan ayat "Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku", jelas syarat agar kita sebagai umat terbaik adalah tidak mempersekutukan Allah Swt dengan sesuatu apapun, termasuk dalam mengambil pedoman hukum.

Dalam Islam kedaulatan hanya milik Allah Swt, sebagaimana Firman Allah Swt dalam quran surat al-Mâ`idah ayat 50, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Inilah tugas kita bersama, mengembalikan pengambilan hukum selain Allah kepada Allah semata. Sebagaimana Firman Allah Swt quran surat Ali Imron ayat 110, "menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” tugas kita bersama untuk menyeru umat manusia kembali ke islam dalam segala aspek kehidupan. Berpolitik, bernegara, menjalankan roda perekonomian, pergaulan, pendidikan dlsb. Wallahu'alam [IW]



Mercusuarumat.com. Siapa tak kenal HTI? Namanya kian hari kian terdengar oleh umat.
Bagi Anda yang punya kenalan anggota atau simpatisan HTI, pasti sudah tahu bagaimana kepribadian orang-orang HTI.
Saya sendiri punya sahabat orang HTI, luar biasa prestasi akademiknya. Rajin sekali menulis karya ilmiah, ia mahasiswa pasca sarjana di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Teman lainnya, usaha dagangnya mantap luar biasa. Usianya masih muda tapi laba bersihnya bisa 3 juta perbulan.
Ini hanya segelintir contoh bagaimana kepribadian orang-orang HTI yang sungguh luar biasa.

Tak heran, HTI mendidik kadernya dengan syariat Islam. HTI ingin pengemban dakwah punya kepribadian islam, dimana pemikiran dan perasaan sesuai dengan syariat Islam.
Ini menakjubkan, HTI salah satu organisasi masa yang berkontribusi membangun mental spiritual generasi muda Indonesia.

Perlu diketahui, bahwasannya pembangunan Indonesia dibagi menjadi dua. Satu sisi pemerintah telah berusaha membangunnya, yakni pembangunan fisik. Seperti halnya pembangunan jembatan, jalan, pelabuhan dlsb. Namun di satu sisi pemerintah dinilai lalai dalam upaya pembangunan mental spiritual anak bangsa.

Pornoaksi dan pornografi merajalela dimana-mana, dengan mudah pemuda-pemudi akses situs porno. Miras terjual mudah di pasaran, alat kontrasepsi dijual murah. Seks bebas dibiarkan begitu saja. Di sisi inilah pemerintah lalai!

Pembangunan mental spiritual begitu hebat dilakukan oleh HTI. Sampai detik ini tak diketahui catatan hitam orang-orang HTI melakukan kriminalitas. Sampai sekarang, belum pernah HTI melakukan kegiatan berujung kerusuhan. Sampai hari ini tak diketahui ada kabar Aparatur Sipil Negara yang mengaji di HTI melakukan korupsi. Sampai sekarang, belum pernah didapati siswa sekolah atau mahasiswa kader HTI yang melakukan tawuran.

Sungguh luar biasa, inilah kontribusi HTI bagi bangsa ini. Kontribusi dalam pembangunan mental spiritual anak Indonesia dan sisi pembangunan inilah yang sampai sekarang lalai diperhatikan oleh pemerintahan!
Sebenarnya banyak sekali peran HTI dalam sejarah negeri ini, HTI lah yang vokal menolak kenaikan bahan bakar minyak, HTI lah yang dengan terang-terangan bersikukuh menentang pelepasan Papua, HTI lah yang dengan konsisten menolak pemimpin zalim, HTI lah yang mengedukasi umat agar kembali kepada syariat islam. Wallahu'alam

[IW]



Mercusuarumat.com. Baiq Nuril, sebagaimana orang mengetahuinya adalah korban ketidakadilan hukum di Indonesia. Ia sudah jatuh tertimpa tangga, sebagai korban pelecehan seksual secara verbal oleh atasannya. Iapun harus rela ditetapkan sebagai terpidana atas dasar Pasal 27 Ayat (1) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Penulis menilai UU ITE merupakan proyek membungkam rasa kritis rakyat. UU ini sejak dibidani hingga kini tuai banyak kecaman sebab berat sebelahnya dalam putuskan perkara. Ia tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Ia sangar kepada kontra penguasa tapi manis pada pendukung pemerintah. Ia kasar pada orang tak punya namun lembut pada orang kaya. Ia babat mereka yang pro Islam tapi rangkul mereka yang pro penjajah Amerika.

Lihat bagaimana UU ITE ini berangus suara kritis rakyat terhadap penguasa. Apa yang dialami Ust Alifian Tanjung, Ahmad Dhani, Jonru, Buni Yani, Asma Dewi adalah sedikit fakta pihak kontra penguasa yang jadi korban peraturan karet ini. UU ini pun dinilai hanya kedok semata untuk berangus Islam. Seperti yang dialami Buni Yani, Ia dinyatakan bersalah karena sebar video pernyataan Ahok yang nistakan agama. Lewat UU ini pulalah banyak website berkonten Islam yang ditutup oleh Kemkominfo.

Lain hal bagi mereka pihak pro penguasa. Tak perlu khawatir, sekalipun sebar hoaks bahkan fitnah keji berbau propokatif dijamin tak akan kenal aturan ini. Bukan opini semata, ini adalah fakta, Menkopolhukam, Wiranto sudah sering sebar hoaks dengan mengatakan bahwa ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terlarang, jelas langgar UU ini namun sampai saat ini tak ada tindakan hukum baginya.
Wiranto dengan jelas telah sebar berita bohong, bahwasannya HTI sampai detik ini bukan organisasi terlarang, hanya Badan Hukum Perkumpulannya saja yang dicabut.
Lain Wiranto, lain Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Gus Yaqut. Ia dengan terang-terangan mempropokasi anggotanya guna bakar bendera tauhid. Dengan anggapan bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera HTI. Padahal Majelis Ulama Indonesia Pusat sendiri telah mengatakan bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhid bukan bendera HTI, tapi bendera milik umat muslim.
Fakta lainnya, Ali Ngabalin, Staf Ahli Presiden bersikukuh mengatakan bahwa gerakan 2019 Ganti Presiden adalah bentuk makar. Sebagai bagian dari pemerintah Ia tak segan sebar berita bohong. Padahal, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sendiri telah menjelaskan bahwa gerakan 2019 Ganti Presiden bukan termasuk makar. Prof. Mahfud MD juga Prof. Rocky Gerung mengiakan apa yang dikemukakan oleh KPU.
Contoh terakhir, Permadi Arya alias Abu Janda, sama halnya dengan Gus Yaqut, Ia pun menebar teror dengan mengatakan bendera tauhid adalah bendera teroris, namun hingga saat ini belum ada kabar apa Ia dijadikan terpidana tidaknya.

Telah jelas sekali bagaimana arah proyek UU ITE, Ia hanyalah alat membungkam rasa kritik rakyat terhadap penguasa. Penguasa enggan kekuasaannya hancur. Penguasa tak ingin hukum Islam bertahta. Penguasa babat habis lawan politiknya dengan dalih langgar UU ITE.
Luar biasa bin ajaib, Alih-alih berantas hoaks justru keadilan yang dibungkam oleh mereka. [IW]



Oleh,
Chandra Purna Irawan, S.H.,M.H.
(Ketua eksekutif nasional BHP KSHUMI dan Sekjen LBH Pelita Umat).

Ada yang pernah menyatakan kepada saya, "jika ingin menerapkan hukum Islam, pergi ke timur tengah saja. Ini Indonesia, tidak boleh ada pemikiran atau ideologi transnasional yang eksis".

Begitu juga akhir akhir ini ada salah satu partai yang menyatakan bahwa "menolak Perda agama agar Indonesia tak seperti Suriah".

Menanggapi hal tersebut bahwa hukum yang berlaku di negara kita tidak lepas dari pengaruh dari luar, misalnya terdapat pengaruh dari hukum Belanda, Perancis dan Romawi. Jika ingin konsisten, tentu saja harus ditolak.

Kok bisa hukum Romawi berlaku di Indonesia? Karena Indonesia dijajah Belanda. Sementara sistem hukum di Negeri Belanda didasarkan pada sistem hukum perdata Perancis dan dipengaruhi oleh Hukum Romawi. KUHP yang berlaku di negeri Belanda sendiri merupakan turunan dari code penal perancis. Code penal menjadi inspirasi pembentukan peraturan pidana di Belanda. Hal ini dikarenakan Belanda berdasarkan perjalanan sejarah merupakan wilayah yang berada dalam kekuasaan kekaisaran perancis.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, dan Peraturan Kepailitan. Sistematika yang dipakai merupakan adopsi dari hukum Napoleon.

Perancis adalah negara yang melakukan kodifikasi terhadap hukum Romawi. Kaisar Napoleon pada tahun 1800 an membentuk suatu panitia yaitu Portalis, Trochet, Bigot de Preameneu dan Malleville yang ditugaskan untuk membuat rancangan kodifikasi. Sumber bahan kodifikasi adalah hukum Romawi.

Dalam menerapkan hukum Romawi yang terkodifikasi, Prancis tidak hanya memakai satu hukum tetapi juga menggunakan kebiasaan lokal atau yang lebih dikenal dengan istilah customary Law (hukum kebiasaan). Sehingga menyebabkan terjadinya dualisme sumber hukum yang harus ditaati oleh penduduk Prancis ketika itu. Walaupun dua hukum yang diterapkan, namun sistem hukum Romawi memiliki kultur yang kuat untuk diterapkan.

Hukum Romawi telah berlangsung selama ribuan tahun - dari Leges Duodecim Tabularum tahun 439 SM hingga Corpus Juris Civilis (528–35 AD) yang diperintahkan oleh Kaisar Yustinianus I. Undang-undang Yustinianus berlaku di Romawi Timur (331–1453), dan juga menjadi dasar hukum di Eropa.

Hukum Romawi yang dikenal juga dengan istilah Civil Law atau Hukum Sipil. Hukum sipil dapat didefinisikan sebagai suatu tradisi hukum yang berasal dari Hukum Roma yang terkodifikasi dalam corpus juris civilis Justinian dan tersebar ke seluruh benua Eropa dan seluruh dunia.

Olehkarena itu jika ada yg menyatakan "jika ingin hukum Islam, tinggal saja di Arab". Pernyataan ini tidak adil, pernahkan mereka menyatakan hal yg serupa terhadap Hukum Warisan Belanda dan hukum Romawi ?!

Wallahu alam bishawab

Semarang, 18 November 2018



Mercusuarumat.com. Baiq Nuril, namanya kini dikenal banyak orang karena ketidakadilan yang menimpa dirinya. Mantan Guru Honorer SMAN 7 Mataram ini bila dipribahasakan, "Sudah jatuh tertimpa tangga". Ia korban pelecehan seksual secara verbal oleh kepala sekolah tempat ia bekerja, ia jugalah yang dinilai bersalah oleh Mahkamah Agung dan dikenakan hukuman 6 bulan penjara dan denda 500 juta rupiah atas tindakannya melanggar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 27 ayat 1.

Secara kronologi dalam keterangannya di media masa, Ia menceritakan bahwa dirinya sering ditelpon oleh kepala sekolah tempat ia mengajar yang isinya menceritakan kisah cinta kepala sekolah, hingga menyerempet pada pelecehan seksual secara verbal terhadap dirinya. Lalu Ia rekam percapakannya dengan tujuan sebagai alat bukti. Hanya saja ia menceritakan hal ini pada rekan kerja sesama guru, imam. Hal tak disangka, Imam menyebarluaskan rekamamnya ke Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Mataram. Singkat cerita, kepala sekolah melaporkan Baiq Nuril ke polisi yang berujung penetapan ia sebagai tersangka.

Tentu, sebagai insan manusia yang berakal, ketidakadilan yang menimpa Baiq Nuril adalah kezaliman yang tak boleh dibiarkan. Banyak masyarakat Indonesia menilai putusan Mahkamah Agung tidak adil, sebagaimana yang dikemukakan oleh mantan Ketua Mahmakah Konstitusi, Prof. Mahfud MD dalam cuitan twitternya, Ahad, (18/11), "Dalam kasus Bu Nuril, pengadilan hanya menegakkan hukum (formal) tidak menegakkan keadikan (substansial)."

Kezaliman dan keadilan bak dua mata uang tak terpisahkan. Saat satu sisi mata uang keadilan terbuka dipastikan satu sisi mata uang kezalimam tertutup. Kezaliman dan keadilan adalah dampak atas sistem hukum yang dijalankan. Kacamata sistem hukum yang dijalankanlah yang menilai apakah produk hukum ini adil atau zalim.

Misal, dalam sistem hukum ekonomi liberal, dikatakan adil saat Sumber Daya Alam (SDA) diserahkan kepada swasta tanpa campur tangan pemerintah. Implikasinya, siapapun dapat mengolah SDA asalkan mempunyai modal besar untuk menjalankannya.
Selanjutnya, dalam sistem hukum pidana demokrasi, dikatakan adil tersangka pencurian di hukum penjara selama lima tahun. Intinya, adil dan zalim nilainya teegantung pada sistem hukum yang dijalankan oleh negara.

Indonesia sebagai negara hukum sejak dari dulu menerapkan sistem hukum demokrasi warisan Yunani Kuno. Sebagaimana yang dijelaskan Dhani Kurniawan dalam jurnalnya yang berjudul,
Demokrasi Indonesia dalam Lintasan Sejarah
Yang Nyata dan Yang Seharusnya, "Demokrasi merupakan konsep pemerintahan yang bermula dari konsep yang dijalankan di polis Athena pada masa Yunani kuno". Sejak negeri ini merdeka, demokrasi sering berganti bentuk, mulai dari demokrasi terpimpin, demokrasi parlementer hingga demokrasi pancasila, yang pada intinya adalah demokrasi semata.

Ajaran demokrasi secara fakta memberikan kekuasan bagi manusia (rakyat) untuk membuat hukum sekaligus memberikan kehendak bagi rakyat untuk menentukan wakil pemegang kuasa. Aristoteles menyebutkan demokrasi ialah suatu kebebasan atau prinsip demokrasi ialah kebebasan, karena hanya melalui kebebasanlah setiap warga negara bisa saling berbagi kekuasaan didalam negaranya.

Manusia sebagai pembuat hukum memiliki sifat lemah juga ilmu terbatas, sebagaimana Firman Allah Swt,  “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah'” (An Nisa: 2). Manusia pula memiliki ilmu yang terbatas, sebagaimana Firman Allah Swt, “… dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (Qs. Yusuf: 76)

Dampaknya, dalam demokrasi produk hukum yang dihasilkan dipastikan tidak akan menemukan diksi adil. Mengapa? Karena Si Pembuat hukum kodratnya lemah dan ilmunya terbatas. Maka wajar, kezaliman kan selalu merajalela di Indonesia, toh pembuat hukum, pelaksana hukum semua yang terlibat dalam sistem hukum demokrasi sifatnya lemah dan ilmunya terbatas.

Lantas bagaimana agar keadilan terwujud dan kezaliman hilang tak tersisa?
Jawabannya sistem hukum yang dijalankan harus bersandar pada Ia yang maha kuat, Ia yang maha mengetahui, Ia yang maha sempurna. Tiada lain Ialah Allah Swt, sebagaimana Firman-Nya,
“Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah? ” [al-Baqarah/2:140]. Juga Firman Allah Swt dalam Quran Surat al-Mâ`idah ayat 50, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Sudah saatnya, umat muslim Indonesia bersatu bersama perjuangankan hukum Allah, kolaborasi junjung tinggi kalimat tauhid, Laa Illaha IllAllahu muhammadarosulullah. [IW]



Mercusuarumat.com. Aksi Bela Islam 212, dua tahun silam tertanda umat inginkan bersatu. Betapa tidak, organisasi berbeda, jenis pekerjaan berbeda, usia berbeda, suku berbeda tumpah ruah bersatu capai tujuh juta orang. Luar biasakan?

Kerinduan ini makin memuncak tatkala politik adu domba terus ada. Umat makin cerdas dan terbuka, Ia tahu musuh-musuh inginkan umat pecah belah. Seperti halnya Aksi Bela Tauhid 212 yang insyaAllah akan terselenggara dua pekan lagi.

Sebagai penyelenggara, Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) telah melakukan serangkaian rencana persiapkan itu semua. Sebagaimana yang disampaikan oleh Novel Bakukmim selaku Juru Bicara PA 212. Ia perkirakan jutaan Bendera Tauhid akan berkibar selama acara.

Tentu, seperti yang penulis utarakan di awal. Penulis menilai, hanya musuh-musuh umat yang tak rela umat muslim bersatu.
Sebagaimana syetan, memecahbelah keluarga muslim. Mereka hasut kedua pasangan suami istri agar bercerai. Tujuannya agar hancur rumah tangganya.

Lebih jauh, lihat Indonesia. Lebih jauh lagi lihat negeri-negeri Islam. Terpecah belah ulah penjajah. Belanda, Italia, Amerika, Inggris, Portugal dsb kala itu membagi-bagi negeri-negeri Islam menjadi banyak seperti ini.

Akhirnya, kekuatan umat muslim lemah. Tidak terhimpun rapi dalam satu komando. Bak sapu lidi akan terasa manfaat jika sapu lidi terikat kuat menjadi sebuah sapu lidi yang satu.

Inilah Indonesia, momen Bela Tauhid 212 adalah momem kita bersama. Momen umat muslim seluruh dunia. Mulai dari Indonesia lah potensi persatuan umat akan segera terwujud nyata.
Persatuan umat dalam kalimat tauhid akan segera terrealisasi. Tidak lama lagi. InsyaAllah. [IW]



Mercusuarumat.com. setiap yang langka adalah berharga. Setiap yang susah ditemui pastilah unik. Inilah Bela Tauhid 212. Hanya sekali dalam setahun.

Sebagaimana pernyataan Juru Bicara Persaudaraan Alumni 212 (Jubir PA 212), Novel Bamukmin, Bela Tauhid 212 tahun ini akan dilaksanakan dengan perkiraan dihadiri oleh jutaan jamaah. Ia pun optimis jutaan Bendera Tauhid akan berkibar sepanjang acara.

Tak ingin menyesal, umat muslim patut hadir di acara ini. Bak sebuah drama, umat muslim Indonesia adalah tokoh utama dalam drama ini. Siapa lagi yang akan sukseskan agenda akbar umat tahun ini jika bukan oleh kita?

Bawa bendera tauhid sebanyak-banyaknya. Bagikan cuma-cuma. Buktikan pada penguasa, bahwa bendera tauhid adalah milik umat. Bukan milik golongan tertentu saja.
Pastikanlah Bela Tauhid 212 adalah ajang kita untuk kuatkan persatuan, sarana kita sampaikan aspirasi umat. Sampaikan solusi islam untuk Indonesia jaya.

Percaya atau tidak, sedikit atau banyak perjuangan kita akan tercatat abadi dalam lembar sejarah kebangkitan umat negeri ini.

Perlu bukti? Coba amati, dulu bendera tauhid asing terdengar, bahkan stigma negatif acap kali menghantuinya. Kini siapapun gembira kibarkan bendera tauhid.
Dulu, keinginan penerapkan syariat islam dalam bernegara hanya diusung oleh sebagian kecil umat muslim, kini tak malu ulama-ulama nusantara lontarkan solusi syariat islam bagi negeri Indonesia.
Lihat bagaimana Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, Grace Natalie, sangat ketakutakan saat Peraturan Daerah (Perda) syariah makin mencuat ke permukaan. Hingga akhirnya ia tersudutkan hingga menolak dengan lantang Perda syariah. Bahkan sekarang ia akan dilaporkan ke polisi.

Maka, ayo jangan sampai tak hadir dalam Bela Tauhid 212. Jadilah pelaku sejarah kebangkitan umat muslim Indonesia! [IW]




Mercusuarumat.com. Jakarta.Persaudaraan Alumni (PA) 212 akan menggelar reuni Aksi 212. Jubir PA 212 Novel Bamukmin mengatakan pihaknya akan mengibarkan 1 juta bendera tauhid dalam acara reuni tersebut.

"Tahun ini akan kita kibarkan 1 juta bendera tauhid warna-warni. Ini bentuk keberagaman kita," kata Novel di Hotel Whiz, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (16/11/2018).

Hal itu disampaikan dalam diskusi bertema 'Reuni Akbar Alumni 212. Melacak Motif, Menimbang Implikasi Sosial Politik'. Dia menegaskan agenda reuni tersebut akan rutin digelar setiap tahun siapa pun presiden yang memimpin.

"Acara ini akan berlangsung setiap tahun siapa pun pemerintahnya kita akan gelar. Ini silahturahmi akbar antara ulama, tokoh aktivis yang peduli agama dan berjuang untuk agama," ujar dia.

"Tahun ini umat Islam sempat tersudut. Itu tujuan kami," sambungnya.

Novel pun kemudian menjelaskan asal mula Aksi 212 itu dilaksanakan pada 2016. Dia menyebut aksi itu digelar semata hanya untuk menuntut keadilan dari kasus penistaan agama yang dilakukan oleh mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan melawan kelompok pendukung penista agama.

"Gerakan ini menjadi wadah untuk mengontrol negara dan di era Jokowi ini sangat parah dan penista agama didukung sampai jungkir balik. Kita wajib kritisi itu, kita lawan," tambahnya.

Sebelumnya, Ketua Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Slamet Ma'arif mengatakan reuni Aksi 212 sedang dipersiapkan. Slamet menjabarkan Aksi 212 bulan depan tidak jauh berbeda dengan aksi pada 2016.

Dia mengatakan sudah ada beberapa peserta aksi yang menyewa gerbong kereta sampai memesan tiket pesawat.

"Tidak beda jauh dengan 212 tahun 2016 dari berbagai provinsi sudah siap. Sudah ada yang sewa beberapa gerbong kereta. Sudah beli tiket pesawat, insyaallah kita silaturahim lagi, kita akan tausiah, zikir, sekaligus memperingati Maulid Nabi di hari Ahad, bulan Desember tanggal 2," kata Slamet di Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta Pusat, Jumat (9/11).

Sumber: Detik.com



Oleh : Nasrudin Joha

Tidak usah berkeluh kesah, mengumbar fitnah, membuat sederet pertanyaan dan meminta alasan, menghimbau hingga 'memaksa' agar kami urung mengadakan reuni 212. Semakin dilarang, semakin menantang. Semakin dicibir, semakin menjadi buah bibir. Semakin ditekan, insyaAllah reuni 212 justru akan menunjukan peran sentralnya sebagai bandul politik ekstra parlemen yang menjadi gerbong penyambung aspirasi umat.

Anda, yang mengaku alumni atau yang benar-benar alumni. Yang masih murni, atau bergeser 'nyebong' ke kubu mukidi. Tidak perlu turut campur, tidak perlu sok memiliki andil, apalagi repot-repot berusaha 'menggagalkan' persatuan umat. Ingatlah ! Petuahmu tak diindahkan, fatwamu tak memiliki daya ikat. Setelah segala keculasan dan pengkhianatan, lantas Anda masih memiliki muka untuk mengatur agenda ?

Silahkan Anda, menbuat agenda sendiri. Dari tudingan budeg, buta, al makiyun, capresuna capresikum, mukidi nyantri, serta sederet daftar kebohongan lain yang akan segera diedarkan. Tidak perlu ikut campur urusan kami, biarlah kita berpisah dengan agenda masing-masing.

Silahkan berhimpun dengan agenda kekuasaan, sementara kami akan fokus dengan agenda umat, agenda pembelaan pada akidah Islam, agenda pembelaan umum terhadap kemuliaan kalimat tauhid -setelah sebelumnya dilecehkan oleh Banser dan para penguasa zalim- saat kasus pembakaran bendera tauhid di Garut.

Banser, telah melecehkan lafadz tauhid berdalih bendera ormas. Penguasa, melecehkan kalimat tauhid berdalih mengganggu rapat umum yang tidak dilarang. Lantas, setelah semua pelecehan itu kalian anggap semua urusan selesai ? Kalian kumpulkan ormas dan tokoh, setelah itu kalian membuat komitmen sepihak dan kami dipaksa untuk tunduk pada kesepakatan terlarang itu ?

Kami akan bergerak, berkumpul, meninggikan kalimat tauhid, dan memberikan pembelaan umum terhadapnya. Kami akan tunjukkan, persatuan kami tak dapat dipecah dengan culasnya kekuasaan zalim. Kami telah terbiasa dengan penindasan, dan kami akan semakin kokoh dengan berbagai ujian dan kesulitan.

Kami ingin reuni, kami ingin melepas rindu sesama pejuang Islam, kami ingin meninggikan kalimat tauhid, kami ingin kabarkan kezaliman para penguasa, kami ingin satukan tekad untuk membela kelimat tauhid, lantas kalian mau apa ? Kalian bisa memangkas bunga, tapi kalian tak akan mampu menghalangi musim semi.

Kalian mengira, tekanan dan kezaliman akan menghentikan perjuangan. Kalian mengira, kesulitan akan berujung keputus-asaan. Keliru Bung ! Kami, telah mengambil pelajaran penting dari aksi bela Islam 212. Pelajaran penting itu adalah 'tidak ada yang mampu menghambat kemenangan yang ditolong oleh Allah SWT'.

Jadi terus saja berbuat makar, silahkan buat skenario yang lebih keras untuk menghalangi persatuan umat Islam. Kami, hanyalah aktor biasa yang sedang menjalankan skenario Allah SWT. Kami pastikan, kami iman kepada Allah swt, yakin atas pertolongan-Nya, dan kami kabarkan : KAMI PASTI MENANG, KALIAN PASTI KALAH !

Lihatlah, perhatikanlah ! Skenario itu sedang berjalan dan terus menuju puncak kemenangan. Berat sekali ikhtiar kalian, jika harus mengontrol ratusan juta orang yang memiliki visi membela kalimat tauhid. Kalian, akan berhadapan dengan jutaan orang yang siap disebut 'syahid' karena membela Lafadz tauhid.

Kami umat Islam telah melihat dunia sebagai senda gurau belaka. Kami telah meyakini, bahwa surga adalah tempat terbaik untuk kembali dan kekal didalamnya. Kehidupan itu, kekalnya surga, yang telah membimbing mata dan hati kami terpaut pada akherat, dan terbiasa mengesampingkan pedihnya dunia.

Sekali lagi, kami mau reuni 212. Kalian mau apa ?



Mercusuarumat.com. Karanganyar. Secara umum tak beda dengan desa lainnya jika kita memasuki wilayahnya. Namun ada hal manarik jika dicermati, hampir di setiap rumah penduduknya terpasang bedera tauhid.

Desa Sugihwaras begitulah orang menyebutnya. Wilayah tersebut masuk dalam Kelurahan Wonorejo Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

Jika kita menyusuri desa tersebut tampak bendera tauhid di kanan-kiri jalan berkibar-kibar. Baik yang berwarna hitam ataupun putih.



Adalah Wiranto yang menjadi inisiator dalam pemasangan bendera tauhid tersebut. Alasan dari pemasangan tersebut tak lain adalah adanya rasa kecewa saat melihat bendera tauhid dibakar beberapa waktu yang silam.

“Bendera tauhid harusnya dimuliakan mengapa harus dibakar? jujur saya sedih dan kecewa mendengar kabar terebut.” tuturnya.

Bersama warga setempat kemudian ia mulai membuat bendera-bendera kecil yang dan mencari bambu sebagai tiangnya. Dari satu bendera ke satu rumah hingga saat ini mencapai 100 bendera.
Dari pemasangan tersebut sampai saat ini tidak ada penolakan dari warga. Malah banyak diantaranya yang memberikan dukungan.

Terkait dana pembuatan bendera dan bambu Wiranto menyebut bahwa hasil sumbangan dari beberapa warga.

“Kami gotong royong dalam pemasangan bendera tersebut begitupula masalah pembiayaan.” Ujarnya, Rabu, (15/11).

Ia beharap dengan pemasangan ini semoga masyarakat semakin mencintai kalimat tauhid dan paham bahwa Islam adalah agama rahmat bagi alam semesta. [RN]

Sumber: Panjimas.com



Mercusuarumat.com. Dua pekan lagi Irfan bertemu dengan Desember. Perasaannya memuncak mendapati tanggal dua. Dua tahun silam, peristiwa mahakarya yang pernah diikutinya, buat Ia makin gembira beranjak di tanggal dua.

Ya, Dua Desember 2018 bagi Irfan adalah hari yang ditunggu. Masih ingat dalam benaknya saat Dua Desember 2016, diperkirakan Tujuh Juta Umat Indonesia memadati Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Bagaimana Ia lupa, kala itu hujan membasahi bajunya. "Sami Allahuliman Hamidah", ucap Imam Jum'at.

Air mata bercampur air hujan buat suasana makin haru. Irfan dan Tujuh Juta Umat Indonesia lainnya berkumpul atas ikatan laa ilaha illAllah. Tidak ada dorongan selain dorongan spiritual.
Pengusaha tak ragu bagikan makanan gratis. Kala itu Irfan bercerita. Pekerja, guru, dosen dsb rela izin tak masuk kantor.

Irfan dan Tujuh Juta Umat Indonesia bersatu padu meninggikan kalimat tauhid, mengetuk pintu langit dengan kumandang takbir. Allahu Akbar! Demi satu misi tegakkan keadilan. Tegakkan Islam. Tuntaskan kezaliman. Singkirkan keegoan. Rapatkan barisan ukhuwah. Hukum penista islam.

Kini beredar luas di media sosial. Bela Tauhid 212. Siapa tak gembira menyambut momen persatuan umat muslim Indonesia?
Dorongan spiritual sudah pasti jadi penggerak utama umat muslim Indonesia. Apalagi kini, umat muslim Indonesia makin rindu syariat Islam diterapkan. Ustadz Abdul Shomad, ulama karismatik yang dicintai umat sangat getol suarakan Perda Syariah. Acara Islami menjamur di bumi pertiwi. Terakhir "Hijrah Fest" yang di komandoi Mas Ari Untung. Menyendot perhatian artis nusantara. Diksi hijrah makin digemari oleh pemuda muslim. Lewat Ust Hanan Ataki, Komunitas Pemuda Hijrah makin banyak di seantero Indonesia. Bukan hanya itu, simbol Islam Bendera Rasulullah, Arroya dan Alliwa bukan lagi hal tabu bagi umat mayoritas negeri ini. Semua ini hanyalah sedikit tanda diantara banyaknya tanda umat muslim Indonesia rindu syariat Islam.

Tak hanya kerinduan akan penarapan syariat Islam. Momen Bela Tauhid 212 jadi ajang pererat ukhuwah islamiah umat muslim Indonesia. Muslim yang hanif pasti rindu persatuan umat. Muslim yang ikhlas pasti tak rela pecah belah. Pastinya penghianat bangsa inginkan umat kacau balau. Mereka adu domba antar umat beragama juga sesama umat beragama.
Lihat bagaimana aksi pembakaran bendera tauhid. Sangat kentara upaya adu domba antar umat islam. Tak ingin adu domba makin parah? Sambut gembira Bela Tauhid 212!

Setidaknya dua alasan inilah jadikan irfan dan tentunya jutaan umat muslim Indonesia gembira menyambut Bela Tauhid 212! [IW]



Oleh : Nazril Firaz Al-Farizi

Mercusuarumat.com. Judul di atas sama sekali tidak bersangkutan dengan nama sebuah komunitas dakwah, karena kami menghindari prilaku ujub (bangga diri) terhadap sebuah wadah atau amalan yang diperbuat. Cukup hanya mencari ridho Allah ta'ala.

Kami maksudkan judul di atas kepada seluruh kaum muslim yang hidup di zaman now, hidup di era ke-4, hidup di fase Mulkan Jabriyan, hidup di bawah kepemimpinan diktator, hidup di bawah peraturan sistem kufur yang sudah berdiri sejak lebih dari 90 tahun. Dimana judul diatas "The Great Muslim Generation" sudah Allah sebutkan di dalam firman-Nya :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [QS. Ali Imron: 110]

Dan diperkuat oleh sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam :

إِنَّكُمْ تُتِمُّونَ سَبْعِينَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ

"Kalian menyempurnakan 70 umat. Kalian umat terbaik dan yang paling mulia di hadapan Allah." [HR. Ahmad no. 11587, Tirmidzi no. 3271 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth]

Kalian atau kamu disana hanya tertuju kepada kita kaum muslim sebagai umat yang terbaik meski kita lihat kondisi saat ini menunjukan kebalikan dari apa yang Allah dan Rasul katakan, dikarenakan perbuatan kaum muslim sendiri, yaitu tidak kaffah dalam melaksanakan amar makruf dan nahi munkar, tetapi hanya di dalam perkara-perkara yang bersifat ritual semata, ibadah mahdah semata dalam beramar makruf nahi munkar. Selebihnya kembali kepada konsep-konsep kafir Barat yang dijadikan standar benar-salah.

Tetapi perkara amar makruf nahi munkar ini sudah berkembang tidak hanya dilakukan oleh masing-masing individu atau masing-masing kelompok dalam aksi-aksinya yang tunggal, tetapi alhamdulillah dengan rahmat Allah ta'ala sejak akhir 2016 terjadi sebuah peristiwa dimana melakukan amar makruf nahi munkar ini mulai dilakukan kaum muslim secara serentak, kompak, bersatu dari berbagai kalangan dan organisasi Islam menjadi satu kekuatan besar dan dahsyat yang menggetarkan rezim dzalim durjana di Aksi 411 dengan jumlah massa sekitar lebih dari 2 juta orang dan aksi yang lebih fenomenal adalah Aksi 212 dengan jumlah massa sekitar lebih dari 7 juta orang.

Kedua aksi besar itu merupakan aksi yang tidak pernah terjadi sebelumnya di Indonesia, bahkan dunia. Dari jumlah massa pun tidak pernah ada aksi yang mencapai 7 juta orang berkumpul melakukan amar makruf nahi munkar berbarengan. Bahkan jika berbicara jumlah, Media Center Haji (MCH) menerima rilis dari Pemerintah Saudi melalui Pusat Komunikasi Internasional soal data penyelenggaraan Haji 2018. Isinya, total jemaah haji dari seluruh dunia yang datang ke Tanah Suci tercatat 2.371.675 orang. Angka itu terdiri dari 612.953 jemaah Saudi dan 1.758.711 jemaah non-Saudi. Untuk kategori jenis kelamin, terdiri dari 1.327.127 jemaah laki-laki dan 1.044.548 jemaah perempuan.

Jumlah jemaah haji saja yang datang menyelenggarakan ibadah haji tiap tahun pun hanya kisaran di angka 2,3 juta orang dari seluruh dunia, tetapi di Indonesia pernah ada aksi yang diisi oleh persatuan kaum muslim dari berbagai kalangan dan organisasi hingga mencapai lebih dari 7 juta orang.

Jika kita berbicara soal masyarakat, maka tidak hanya saja sekedar kumpulan individu semata, tetapi di masyarakat terdapat perasaan, pemikiran dan peraturan. Maka ketika kita melihat kaum muslim hingga bisa menyatu dan melakukan aksi 411 dan 212 dengan jumlah massa yang begitu besar, ditambah masih hangat dalam ingatan kita, di sepanjang akhir Oktober hingga awal November pun kaum muslim telah menyatu dan bangkit melakukan aksi bela kalimat tauhid. Semua itu adalah dorongan perasaannya yang memang masih Islam, meski dari segi pemikirannya masih belum semua sama.

Kaum muslim masih memiliki perasaan Islam dan itu akan muncul ketika Allah, Rasul dan Islam itu sendiri dihinakan, diinjak-injak, dilecehkan, dsbnya oleh kaum munafik, fasik, dzalim dan kafir. Bahkan seorang preman terminal, pengamen jalanan, seorang jawara yang anggaplah jauh kepada Allah, mereka pun akan bereaksi dengan perasaannya ketika Allah, Rasul dan Islam dilecehkan.

Hingga saat ini alhamdulillah dengan rahmat Allah, kaum muslim khususnya di Indonesia tetap masih menjaga dan mempertahankan kesatuan ini, termasuk selalu kompak bersama dalam menggelar aksi-aksi besar baik di ibukota maupun di berbagai kota-kabupaten lainnya di seluruh Indonesia.

Dan momen yang masih dipertahankan adalah momen 212 yang tidak hanya diselenggarakan di 2016 saja, tetapi di 2017 dengan reuni akbar, dan rencana akan digelar kembali pada 2 Desember 2018 nanti sebagai reuni akbar jilid 2.

Saat ini kaum muslim sedang bergerak mengarah menuju kepada The Great Muslim Generation dengan tidak hanya satu perasaan dalam melakukan aksi-aksi kolosal, tetapi akan terus berkembang menjadi satu pemikiran dimana hal itu akan terbentuk ketika kaum muslim yang tergabung dalam aksi ini menyadari segala kerusakan yang terjadi seperti apa dan menyadari solusi tuntas yang hakiki pun seperti apa.

Kesatuan pemikiran yang ada di kesatuan kaum muslim yang konsisten melakukan aksi-aksi besar sebagai bentuk amar makruf nahi munkar untuk menuju menjadi umat yang terbaik (khairu ummah) akan tertuju menginginkan perubahan, karena pada fitrahnya manusia akan selalu menginginkan perubahan kepada yang lebih baik.

Perubahan yang sudah menjadi satu pemikiran ini adalah perubahan mendasar yang merupakan kebalikan dari peristiwa 3 Maret 1924, yaitu perubahan total menuntut pergantian sistem Kapitalisme Demokrasi kepada Syariah dan Khilafah. Perubahan ini akan terjadi secara alami atas kesadaran utuh dan penuh dari kaum muslim itu sendiri setelah tertidur panjang hampir 1 abad lamanya.

Oleh karena itu momen 212 adalah momen kolosal dimana umat Islam membentuk sejarah baru untuk bersatu menjadi kekuatan yang besar dan dahsyat yang menjadi pertanda bahwa perubahan besar akan terjadi dan ketika itulah fase ke-5 akan masuk menggantikan fase ke-4.

Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw., Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin?” Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khutbah Nabi saw.” Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapuskanya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masaitu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menhapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian datanglah masa Khilafah ‘ala minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam.” [HR. Ahmad no.17680; juga musnad al-Bazzar no. 2796]

Mari satukan perasaan, kemudian berusaha untuk satukan pemikiran umat agar akhirnya umat menginginkan satu peraturan sebagai bentuk perwujudan secara kaffah atas kalimat tauhid yang tertanam dalam diri umat yang selalu dikibarkan pada bendera Al-Liwa dan Ar-Rayah. Momen 212 adalah momen umat menuju The Great Muslim Generation, menjadi Umat Terbaik. Allahu Akbar !!!

Wallahu alam bishowab.
Nazril Firaz Al-Farizi



Oleh: KH Hafidz Abdurahman

Mush’ab bin ‘Umair adalah pemuda Makkah, yang lahir dan dibesarkan dari keluarga kaya raya. Orang tuanya memberinya pakaian terbaik dan indah. Dia juga pemuda Makkah yang aromanya wangi semerbak. Namun, ketika masuk Islam, semuanya itu dia tanggalkan. Saat masih di Makkah, dia mengalami penyiksaan, dan berbagai ujian yang membuat kulitnya berubah, dan wajahnya terluka.

Ketika dua belas penduduk Madinah, yang telah membai’at Nabi saw. dalam Bai’at ‘Aqabah I, kembali ke Madinah. Mush’ablah yang diutus oleh Nabi saw. untuk menyiapkan penduduk di sana. Mush’ab bin ‘Umair adalah pemuda yang wajahnya ganteng, mirip dengan Rasulullah saw. Selain kemiripannya, Mush’ab juga merupakan sahabat yang pertama kali masuk Islam, dan telah teruji. Sebelum hijrah ke Madinah, dia juga pernah ikut hijrah ke Habasyah, tetapi kemudian kembali ke Makkah.

Kecerdasan dan kepiawaiannya dalam berdakwah telah teruji, saat berhasil mengislamkan Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz, yang tak lain adalah pemuka dan kepala suku Bani Asyhal. Selain penguasaannya dalam qira’at al-Qur’an, kefaqihannya juga bisa diandalkan oleh Nabi saw. Itulah, mengapa dia diberi gelar Muqri’ al-Madinah. Setelah kedua tokoh sentral ini masuk Islam, maka Mush’ab bin ‘Umairlah yang pertama kalinya menyelenggarakan shalat Jum’at di Madinah, sebelum hijrah Nabi saw. [Ibn Atsir, Usdu al-Ghabah, Juz IV/134]

Mush’ab bin ‘Umair, ketika diutus Nabi saw. ke Madinah tak hanya berpikir sekedar membacakan dan mengajarkan al-Qur’an, tetapi Mush’ab memahami misi yang diembannya dari Nabi saw. yaitu menyiapkan penduduk Madinah, sebelum hijrah Nabi saw. agar benar-benar menjadi Ahl an-Nushrah bagi dakwah Islam. Misi ini membutuhkan kecerdasan, kepiawaian dan leadership yang luar biasa dari seoran pengemban dakwah.

Lihatlah, apa yang dilakukan oleh Mush’ab bin ‘Umair, setelah mengislamkan tokoh sentral di sana, Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz. Mush’ab bin ‘Umair segera mengintensifkan proses internalisasi keislaman mereka dengan mengumpulkan mereka yang telah masuk Islam, khususnya bagi kaum lelaki, untuk mengadakan perhimpunan di hari Jum’at. Maka, shalat Jum’at untuk pertama kalinya, sebelum Nabi saw. hijrah ke sana, diselenggarakan di Madinah. Hampir setahun proses ini dilakukan, selain menjadi sarana edukasi, melalui khutbah Jum’at, proses konsolidasi pun bisa dilakukan dengan efektif.

Langkah Mush’ab ini telah disampaikan kepada Rasulullah saw. Rasul pun mengizinkan apa yang dilakukannya. Selain pertemuan mingguan secara intensif melalui shalat Jum’at, maka shalat Rawatib berjamaah juga dilakukan. Saat itu, Masjid Nabawi belum lagi berdiri, begitu juga Masjid Quba’, karena semuanya ini berdiri ketika Nabi di Madinah. Namun, itu tidak menghalangi mereka melakukan ibadah secara rutin berjamaah. Termasuk shalat jama’ah dan Jum’at.

Mush’ab benar-benar totalitas. Mengerahkan seluruh pikiran, tenaga, waktu dan seluruh kemampuannya untuk menyiapkan penduduk Madinah, pasca Bai’at ‘Aqabah I hingga terjadinya Bai’at ‘Aqabah II. Totalitas Mush’ab itu diakui oleh para sahabat Nabi saw. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dituturkan, penuturan Khabab bin al-Art, “Kami telah hijrah bersama Rasulullah saw. mengharapkan keridhaan Allah. Pahala kami pun ditetapkan di sisi Allah. Di antara kami ada yang pergi, tak mengambil sedikit pahalanya. Mereka, antara lain, adalah Mush’ab bin ‘Umair. Dia telah gugur saat Perang Uhud, dengan menggenggam Liwa’.” [Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadits no. 3897, hal. 740]

Totalitas Mush’ab tampak, ketika seluruh kenikmatan dunia dia tinggalkan. Harta, kedudukan dan kenikmatan materi, semua dia tinggalkan. Dia lebih memilih apa yang ada di sisi Allah. Dalam riwayat Imam Ahmad, ada testimoni yang diriwayatkan dari Abi Qatadah dan Abi Dahma’ radhiya-Llahu ‘anhuma, bahwa Nabi saw. sampai mengatakan, “Engkau benar-benar tidak meninggalkan apapun, karena mengutamakan Allah ‘Azza wa Jalla. Allah pun tidak akan menggantimu, kecuali dengan yang lebih baik untukmu dari-Nya.” [Ahmad, Musnad Ahmad, hadits no 23074]

Selama di Madinah, Mush’ab bin ‘Umair tinggal di rumah As’ad bin Zurarah. Karena totalitasnya yang luar biasa itulah, maka dalam waktu satu tahun, penduduk Madinah, hampir semuanya telah memeluk Islam. Tak tersisa satu pun rumah kaum Anshar, kecuali di sana kaum pria maupun wanitanya telah menjadi Muslim. Kecuali di rumah Bani Umayyah bin Zaid, Khathmah dan Wa’il. Di rumah mereka ada seorang pria, bernama Qais bin al-Aslat, seorang penyair, yang mereka taati. Dialah satu-satunya yang menghalangi mereka memeluk Islam, hingga saat Perang Khandak, tahun 5 H.

Begitu juga di kalangan Bani Abdul Asyhal, nyaris tak tersisa, kecuali semuanya telah memeluk Islam. Hanya seorang yang tetap belum mau masuk Islam, dia adalah al-Ushairam. Dia terlambat masuk Islam. Baru saat Perang Uhud dia masuk Islam, tetapi orang ini begitu masuk Islam, belum sempat mandi, shalat dua rakaat, langsung ikut perang, hingga akhirnya syahid di Uhud. Sampai Nabi saw. menyatakan, “Dia telah melakukan amal yang sedikit, tetapi pahalanya luar biasa.” [al-Mubarakfuri, ar-Rahiq al-Makhtum, hal. 146]

Begitulah. Setelah perkembangan yang luar biasa di Madinah, dimana penduduk Madinah telah memeluk Islam dengan jiwa dan raganya. Mereka juga siap memberikan pengorbanan terbaik untuk agamanya, apapun taruhannya, maka saat itu Mush’ab kembali ke Makkah untuk menemui Rasulullah saw. Peristiwa ini terjadi tahun ke-13 kenabian. Mush’ab ingin menyampaikan kepada Nabi saw. kabar gembira ini, termasuk dukungan, perlindungan dan kekuasaan untuk dakwah ini. Mush’ab berangkat ke Makkah terlebih dahulu, sebelum rombongan kaum Anshar berangkat ke Makkah di musim haji, tahun yang sama.

Kesuksesan Mush’ab bin ‘Umair menyiapkan suana nushrah di Madinah ini tidak lepas dari kecerdasan, kepiawaian, ketekunan, leadership, pengorbanan dan totalitasnya untuk dakwah yang luar biasa. Tentu keikhlasannya, semata untuk Allah, tanpa memikirkan sedikitpun dunia. Bahkan, setelah semuanya ini, kelak Mush’ab akan mendapatkan apa? Semua tidak pernah dipikirkannya. Begitulah Mush’ab, sahabat yang luar biasa ini.

Sebagaimana ungkapan Nabi saw, “Engkau benar-benar tidak meninggalkan apapun, karena mengutamakan Allah ‘Azza wa Jalla. Allah pun tidak akan menggantimu, kecuali dengan yang lebih baik untukmu dari-Nya.” [Ahmad, Musnad Ahmad, hadits no 23074]. Iya, izin, pertolongan dan taufik-Nya diberikan oleh Allah kepada orang-orang seperti Mush’ab bin ‘Umair. Melalui tangannyalah, Allah memberikan nushrah-Nya kepada Nabi-Nya.

===============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.



(Tanggapan atas Pernyataan Agus Maftuh Abegabriel)

Oleh Yuana Ryan Tresna
Pengasuh Majelis Kajian Hadits Khadimussunnah Bandung

Dalam pengamatan penulis, Agus Maftuh Abegabriel (AMA) pertama kali menulis topik tentang kritik otentisitas dan validitas hadits tentang khilafah pada 27 Oktober 2017 di Harian Jawa Pos dengan tajuk “Teologi Kekuasaan”. Akhir-akhir ini kembali tersiar video wawancara AMA yang salah satu kontennya adalah kritik terhadap hadits tersebut. (Lihat: https://20.detik.com/embed/181110044?fbclid=IwAR0DHU7RbNqdLbkCg0pDVAntNkFxCkxCQP_weRToXYXkcaK2N-G53zDDgd0). Pertanyaannya adalah benarkah hadits tentang kembalinya khilafah statusnya dha’if? Sebenarnya pendahulu kami telah menulis bantahan terkait topik ini. Namun tak salah penulis memberikan tanggapan secara lebih fokus dan jelas pada aspek kritik sanad hadits.

AMA mengatakan bahwa hadits tentang akan datangnya khilafah dari segi kritik sanad dan matan gugur. Tuduhan pada aspek kritik matan sangatlah lemah dan sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan. Adapun terkait kritik sanad, ini juga sangat tergesa-gesa, dan membuktikan yang bersangkutan awam terhadap ilmu hadits, khususnya ilmu al-jarh wa al-ta’dil. Masih menurut AMA, bahwa hadits yang dijadikan landasan utama oleh pendiri HT itu jika dilakukan penelaahan akan tampak jelas bahwa dalam perspektif kritik sanad hadits tersebut ternyata ada seorang rawi bernama Habib bin salim al-Anshari yang dipertanyatakan dan tidak tsiqah (terpercaya). Alasannya adalah karena Habib bin Salim mendapatkan penilaian yang negatif (al-jarh) dari Imam Bukhari yang menilainya “fihi nazhar”, dan juga komentar yang senada dari Ibn Adi. Lalu, dia menyimpulkan, dengan demikian hadits tentang kekuasaan khilafah Islamiyyah tersebut dari segi kritik sanad sudah gugur.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Tahdzib al-Tahdzib berkata, “Abu Hatim berkata tsiqah, al-Bukhari berkata fihi nazhar, Ibnu Adi berkata laisa fi mutun ahaditsihi hadits[un] munkar bal qad idhtharaba fi asanidi ma ruwiya ‘anhu (pada matan-matan haditnya tidak ada hadits munkar, tapi telah terjadi idhthirab pada sanad-sanad (hadits) yang diriwayatkan darinya).” Kemudian al-Hafizh berkata, “saya nyatakan, bahwa al-Ajiri berkata dari Abu Dawud bahwa ia tsiqah, dan Ibn Hibban menyebutkan dalam (kitab) al-Tsiqqat.” Adapun dalam kitab yang lebih kecil, Taqrib al-Tahdzib Ibnu Hajar berkata, “la ba’sa bihi.“

Tampak jelas bahwa rawi Habib bin Salim ditsiqahkan oleh sebagian ulama jarh wa ta’dil dan dikatakan jarh oleh sebagian lainnya. Jadi para ulama tidak satu suara ketika menilai rawi bernama Habib bin Salim. Seharusnya adil dan objektif meneliti setiap ungkapan tersebut.

Lalu benarkah rawi yang dinilai "fihi nazhar" oleh Imam al-Bukhari sudah pasti dha’if? Memang pada keumumannya, "fihi nazhar" itu berkaitan dengan penilaian jarh dari Imam al-Bukhari. Pada umumnya jarh ringan. Tapi tidak sesederhana itu. Tidak bisa memutlakan kedha’ifan hadits yang terdapat rawi yang dinilai "fihi nazhar".

Ungkapan "fihi nazhar" tergantung qarinah-qarinahnya (indikasi-indikasinya). Qarinah ini perlu diteliti dan dikaji. Sayangnya sebagian pihak tergesa-gesa memutlakan kedha’ifan hadits yang di dalamnya ada rawi yang dinilai "fihi nazhar" oleh Imam al-Bukhari tanpa memperhatikan qarinah-qarinahnya. Termasuk penilaian para ulama jarh wa ta’dil lainnya ketika menilai rawi yang dikomentari "fihi nazhar".

"Fihi nazhar" seperti ungkapan hipotesis dari seorang peneliti, bahwa rawi ini perlu diperhatikan atau diteliti lebih lanjut. Tetapi yang jelas, Imam al-Bukhari tidak sedang menunjukkan ta’dil dengan ungkapan tersebut, melainkan jarh ringan yang masih membuka ruang interpretasi para nuqqad (kritikus hadits). Termasuk potensi jarh syadid (penilaian negatif yang parah) bahkan ta’dil, ketika pada tempat lain Imam al-Bukhari menerimanya.

Bahkan ada yang mengajukan pendapat bahwa ungkapan "fihi nazhar" bermakna pertengahan, dengan alasan ungkapan al-Hafizh Ibnu Hajar saat membahas Abu Balj di kitab Badzlu al-Ma'un fi Fadhli al-Tha'un hlm. 117:

وقال البخاري فيه نظر وهذه عبارته فيمن يكون وسطا

Menurut sebagian kalangan, penilaian imam al-Bukhari "fihi nazhar" untuk Abu Balj bukan jarh yang sifatnya menjatuhkan. Namun bermakna bahwa Imam al-Bukhari memiliki sedikit keraguan terhadapnya. Bisa jadi Imam al-Bukhari menilai Abu Balj shaduq, namun ada sedikit keraguan terhadapnya.

Buktinya, Imam al-Bukhari berhujjah dengan keterangan Abu Balj saat membahas rawi lain. Dalam biografi Muhammad bin Hatib al-Qurasyi di Tarikh al-Kabir (1/18), Imam al-Bukhari berhujjah dengan ini:

...حَدَّثَنَا أَبُو بلج قَالَ لنا مُحَمَّد بْن حاطب ولدت فِي الهجرة الأولى بالحبشة.

Hanya saja, saya sedikit keberatan ketika dikatakan bahwa asal dari istilah "fihi nazhar" itu adalah pertengahan jarh dan ta’dil. Dengan alasan: (1) Itu sangat kasuistik tergantung rawi yang ditelitinya; (2) makna pertengahan adalah interpretasi al-Hafizh Ibnu Hajar pada kasus tertentu. Adapun interpretasi ulama lainnya berbeda; (3) adanya penjelasan langsung dari Imam al-Bukhari tentang "fihi nazhar".

Berikut ini adalah penjelasan Imam al-Bukhari terhadap istilah "fihi nazhar":

1. Dalam kitab Tahdzib al-Kamal (hlm. 544), al-Mizzi menyebutkan:

قال الحافظ أبو محمد عبد الله ابن أحمد بن سعيد بن يربوع الإشبيلي: قال البخاري في التاريخ : كل من لم أبين فيه جرحة فهو على الاحتمال، وإذا قلت فيه نظر فلا يحتمل.

Secara jelas Imam al-Bukhari menyebutkan sendiri dengan indikasi jarh (لا يحتمل).

2. Imam al-Bukhari menyebutkan dalam biografi Suwaid bin Abdul Aziz bin Numair al-Sulamiy Abi Muhammad al-Dimasqi (al-Dhu'afa al-Shaghir, hlm. 57; lihat Tahdzib al-Tahdzib, 4/242):

فيه نظر لا يحتمل

Imam al-Bukhari menyebutkan sendiri dengan indikasi jarh (لا يحتمل) sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.

3. Al-Khathib al-Baghdadi (Tarikh Baghdad, 2/25; lihat Taghliq al-Ta'liq, 2/10; dan al-Hady, 481) dengan sanad kepada Abu Ja'far Muhammad bin Abi Hatim, bahwasannya dia berkata: Muhammad bin Ismail (al-Bukhari) ditanya tentang informasi suatu hadits, maka al-Bukhari berkata:

يا أبا فلان! تراني أدلس وقد تركت عشرة آلاف حديث لرجل فيه نظر، وتركت مثلها أو أكثر منها لغيره لي فيه نظر.

Secara jelas, hal ini menunjukkan bahwa beliau meninggalkan hadits yang di dalamnya ada rawi yang dinilai "fihi nazhar".

Dengan demikian, dugaan awal atau hipotesis dari ungkapan "fihi nazhar" adalah cela ringan. "Fihi nazhar" ini masih membuka ruang penelitian. Imam al-Bukhari sendiri adakalanya menolak dan adakalanya menerima rawi yang dinilai "fihi nazhar". Demikian juga dengan penilaian para ulama hadits lainnya, seperti Yahya bin Ma'in, Abu Hatim, Ibnu Adi, dll., berbeda-beda tergantung rawi yang ditelitinya.

Ringkasnya, "fihi nazhar" memberikan peluang kesimpulan mulai dari kadzdzab hingga tsiqah. Sebuah rentang peluang yang sangat lebar.

Istilah yang tercakup dalam bahasan فيه نظر diantaranya adalah:

في حديثه نظر، في إسناده نظر، منكر الحديث فيه نظر، فيه بعض نظر، في صحته نظر، إسناده فيه نظر، في إسناده نظر فيما يرويه، في يعض حديثه نظر، في حفظه نظر، الخ...

Para muhaddits (ahli hadits) dan para nuqqad telah meneliti persoalan ini. Mereka tidak satu suara dalam menilai rawi yang disebutkan "fihi nazhar" atau istilah yang semisalnya oleh Imam al-Bukhari.

Paling tidak ada 80 rawi yang dinilai "fihi nazhar" oleh Imam al-Bukhari. Ini baru yang "fihi nazhar". Belum lagi yang dinilai "fi isnadihi nazhar, fi haditsihi nazhar, fihi ba'dhu nazhar, dll". Untuk contoh, dalam hadits bisyarah nabawiyah "khilafah 'ala minhaj al-nubuwah", yakni rawi bernama Habib bin Salim, Maula Nu'man bin Basyir. Dalam al-Tarikh al-Kabir (al-Bukhari, 2/2606), al-Dhu'afa' al-Kabir (al-Uqaili, 2/66) dan al-Kamil fi Dhu'afa al-Rijal (Ibnu Adi, 2/405), Imam al-Bukhari menilainya "fihi nazhar".

Imam Ibnu Adi menilai Habib bin Salim munkar dan idhthirab dalam sanad, tetapi Imam Ibu Hatim, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban menilainya tsiqah. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menilai "la ba'sa bihi". (Lihat al-Jarh wa Ta’dil, 3/102; al-Tsiqat, 4/138; al-Kamil, 2/405; al-Taqrib, 1/151). Imam Muslim menggunakan dalam hadits cabang sebagai mutaba'ah. Imam Ahmad dan al-Darimi meriwayatkannya.

Informasi tambahan yang cukup berharga adalah bahwa meski Habib bin Salim dinilai "fihi nazhar", namun Imam al-Bukhari menilai shahih riwayat Habib bin Salim di 'Ilal al-Tirmidzi no. 152,

حَدَّثَنا قتيبة ، حَدَّثَنا أبو عوانة عن إبراهيم بن محمد بن المنتشر ، عَن أَبِيه عن حبيب بن سالم عن النعمان بن بشير أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في العيدين والجمعة ب {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} و {هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ} وربما اجتمعا في يوم فيقرأ بهما

سَألْتُ مُحَمدًا عن هذا الحديث ، فقال : هو حديث صحيح وكان ابن عيينة يروي هذا الحديث عن إبراهيم بن محمد بن المنتشر فيضطرب في روايته قال مرة حبيب بن سالم ، عَن أَبِيه عن النعمان بن بشير وهو وهم والصحيح حبيب بن سالم عن النعمان بن بشير

Indikasi lainnya, meski Habib bin Salim dinilai "fihi nazhar", tapi imam al-Bukhari berhujjah dengan perkataan Habib bin Salim dalam biografi Yazid bin Nu'man bin Basyir (Tarikh al-Kabir, 8/365), al-Bukhari berhujjah dengan perkataan Habib bin Salim:

قَالَ حبيب بْن سالم يزيد بن أصحاب عُمَر بْن عَبْد العزيز

Demikian juga kalau memperhatikan penilaian para imam nuqqad mutaqaddimin, semisal Imam Yahya bin Ma'in, Abu Hatim al-Razi dan Ibnu Adi, ketiganya selalu berbeda dalam menilai rawi yang disebutkan "fihi nazhar". Mulai dari kadzdzab, munkar, syaikh, shalih, la ba'sa bihi, hingga tsiqah. Jadi sekali lagi, jangan tergesa-gesa.

Pembahasan ini juga dibahas dalam kitab Muthalahat al-Jarh wa al-Ta’dil wa Tathawwuruha al-Tarikhiy fi al-Turats al-Mathbu' li al-Imam al-Bukhari ma'a Dirasah Musthalahiyyah li Qaul al-Bukhari (Fihi Nazhar), hlm. 621-644.

Catatan lainnya, bahwa manhaj yang dipegang oleh para ahli hadits dan fuqaha adalah bahwa penilaian dha’if dan shahih suatu hadits tidak selalu disepakati semua ahli hadits dan bersifat mutlak. Bagi fuqaha, penilaian shahih menurut sebagian ahli hadits sudah cukup dapat dijadikan sebagai hujjah. Bagi para pengkaji, ini (jarh dan ta’dil) salah satu medan penelitian yang sangat penting. Kita bisa meneliti, membandingkan dan mengambil suatu kesimpulan.

Dalam menilai rawi Habib bin Salim misalnya, para ulama tidak satu suara. Tetapi sebagian besar menerimanya. Bahkan para ulama hadits telah menerima hadits yang diriwayatkan oleh Habib bin Salim, termasuk hadits bisyarah nabawiyah sebagaimana disebutkan di atas.

Sebagaimana telah disinggung, bahwa Habib bin Salim al-Anshari adalah salah satu rijal dalam shahih Muslim. Imam Muslim (II/598) meriwayatkan hadits tentang bacaan pada shalat ‘Ied dan jum’ah dari al-Nu’man bin Basyir, melalui sanad Yahya bin Yahya, Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ishaq, dari Jarir, berkata Yahya telah memberitahu kami Jarir, dari Ibrahim bin Muhamad bin al-Muntasyir dari bapaknya dari Habib bin Muslim Maula al-Nu’man bin Basyir dari al-Nu’man bin Basyir. Artinya, menurut Imam Muslim, Habib bin Salim al-Anshari memenuhi syarat yang telah beliau tetapkan dalam muqaddimah kitab shahihnya. Maka bisa dimengerti mengapa Ibnu Hajar dalam Taqrib al-Tahdzib menyatakan la ba’sa bihi.

Imam al-Tirmidzi (IV/54) mengomentari tentang hadits seorang laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan budak istrinya. Beliau berkata hadits al-Nu’man di dalam isnadnya terjadi idhthirab. Beliau juga berkata, “saya mendengar Muhammad (maksudnya al-Bukhari) berkata bahwa Qatadah tidak mendengar dari Habib bin Salim hadits ini, tapi dia meriwayatkan dari Khalid bin Urfuthah”. Dalam kitab Aun al-Ma’bud disebutkan bahwa al-Tirmidzi berkata, “saya bertanya pada Muhammad bin Isma’il (maksudnya al-Bukhari) tentang Khalid bin Urfuthah maka beliau berkata: saya menahan diri terhadap hadits ini.” Penjelasan al-Tirmidzi ini bisa kita gunakan untuk memahami arah ungkapan Imam al-Bukhari diatas.

Terkait pernyataan Imam Ibnu Adi, dalam kitab al-Kamil fi Dhua’afa al-Rijal, Ibnu Adi berkata: “…dan untuk Habib bin Salim hadits-hadits yang diimla’kan untuknya telah berbeda-beda sanadnya, meski pada matan-matan haditsnya bukan hadits munkar tapi terjadi idhthirab sanad-sanadnya apa yang diriwayatkan darinya Habib bin Abi Tsabit…“. Itulah ungkapan Ibnu Adi tentang Habib bin Salim. Dengan demikian tidak ada alasan yang kuat untuk mendha’ifkan Habib bin Salim Al-Anshari. Adapun indikasi idhthirab yang disampaikan oleh beliau juga bisa dijelaskan dari pernyataan al-Tirmidzi di atas.

Adapun rawi lainnya, seperti Ibrahim bin Dawud al-Wasithi ditsiqahkan oleh Abu Dawud al-Thayalisi dan Ibnu Hibban, dan rawi sisanya adalah para rawi yang tsiqah.

Dengan demikian adalah tidak benar bahwa hadits bisyarah nabawiyyah akan datangnya khilafah itu dha’if hanya karena sorotan pada rawi bernama Habib bin Salim. Para ulama justru telah menerima periwayatan Habib bin Salim. Adapun ungkapan “fihi nazhar” dari imam al-Bukhari dan “idhthirab” dari Ibnu Adi sudah terjawab dalam penjelasan sebelumnya.

Adalah juga tidak benar bahwa hadits bisyarah nabawiyyah akan datangnya khilafah hanya didasarkan pada hadits riwayat Imam Ahmad. Masih banyak hadits-hadits lain yang secara makna sejalan dengan hadits diatas. Misalnya hadits riwayat Muslim, Ahmad dan Ibnu Hibban tentang khalifah di akhir zaman yang akan ‘menumpahkan’ harta yang tidak terhitung jumlahnya. Selain itu masih banyak hadits-hadits yang lain, misalnya hadits tentang akan datangnya khilafah di Baitul Maqdis (HR. Abu Dawud, Ahmad, al-Thabarani, dan al-Baihaqi).

Jadi merupakan suatu kesalahan yang fatal kalau menganggap bahwa perjuangan untuk menerapkan hukum Islam melalui khilafah hanya didasarkan pada hadits dha’if. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam ahmad tentang akan datangnya khilafah adalah shahih atau minimal hasan. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib al-Arna’uth dalam Musnad Ahmad bi Hukm al-Arna’uth, Juz 4 No. 18.430 dan dinilai shahih oleh al-Hafizh al-‘Iraqi dalam Mahajjah al-Qurab fi Mahabbah al-‘Arab (2/17). Terlebih lagi, masih banyak hadits-hadits lain yang secara makna menegaskan hal yang sama. []


Bandung, 14 Nopember 2018

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget