Bendera Tauhid Telah Kembali Menjadi Milik Umat



Oleh : Nazril Firaz Al-Farizi

Sebelum akhir 2016, umat masih menganggap bendera tauhid Al-Liwa dan Ar-Rayah itu adalah bendera Hizbut Tahrir karena yang selalu rajin membawa 2 bendera tersebut adalah Hizbut Tahrir baik ketika seminar, konferensi, muktamar, tabligh akbar, tarhib Ramadhan, training maupun mashirah/aksi damai.

Bahkan terkait dalil-dalil tentang bendera Al-Liwa dan Ar-Rayah pun umat belum pernah mengetahui dan mendengarnya. Alhasil sebagian umat mengira bahwa bendera itu adalah bendera Hizbut Tahrir, karena baru mengenalnya, dan seolah yang memperkenalkannya adalah Hizbut Tahrir. Padahal sesungguhnya kedua bendera itu adalah hukum syara' yang sudah ada sejak masa Rasulullah. Bendera yang mempunyai dalil sebagai dasar hukum yang Rasul nyatakan bahwa kedua bendera itu adalah bendera Islam. Atau bisa disebut saja kedua bendera itu adalah bendera Sunnah, dan tentunya perkara ushul, bukan furu'.

Ketika aksi 411 dan 212 pada tahun 2016 lalu, umat mulai diperkenalkan Al-Liwa dan Ar-Rayah, baik dengan bendera yang berukuran kecil, standar, hingga raksasa. Mulailah umat mengetahui bahwa kedua bendera itu adalah bendera Islam, bendera Rasulullah, bahkan namanya saja baru terdengar di telinga umat, yaitu Al-Liwa yang berwarna kain putih tulisan hitam, dan Ar-Rayah yang berwarna kain hitam tulisan putih.

Di sisi lain memang memprihatinkan pula, karena umat Islam sendiri baru mengenal terhadap benderanya sendiri seperti apa baik warnanya, namanya, dalilnya, bahkan lafadznya. Hal ini memang dikarenakan semenjak runtuhnya Khilafah pada 3 Maret 1924 silam, umat sudah tidak bersatu lagi hidup dibawah naungan 1 bendera, yaitu Al-Liwa, bendera Khilafah. Dan sejak itu pun umat telah hidup tersekat di bawah naungan nasionalisme kufur ciptaan dengan republik atau federalnya. Maka yang dikenal umat pun hanyalah bendera-bendera nasionalisme ciptaan akal manusia dengan menciptakan asumsi makna pada warna dan lambang di bendera negaranya masing-masing.

Nasionalisme sendiri mulai didegungkan dalam rangka meruntuhkan sistem kerajaan di eropa yang dianggap sudah tidak diinginkan oleh masyarakat yang hidup dibawah naungannya, maka munculah Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), Immanuel Kant (1724-1804), Jeremy Bentham (1748-1832), Francisque Bouvet (1779-1871), Richard Cobden (1804-1845), John Bright (1811-1889) yang merupakan tokoh-tokoh ide nasionalisme.

Terlebih lagi ketika meletusnya revolusi Prancis pada tahun 1789 membuat paham nasionalisme ini akhirnya diterapkan dalam tataran entitas negara dan menjadi ikatan seluruh penduduk yang ada pada wilayah itu yang sebetulnya bukan hanya sekedar kesamaan budaya, cita-cita atau wilayah, ras, tetapi juga atas dasar kesamaan kesengsaraan dan keterpurukan atas penjajahan dari eksternal atau tekanan dari penguasa internal yang masih menggunakan sistem kerajaan yang akhirnya berujung revolusi, meski nasionalisme ini bukan sistem, tapi sekedar ikatan sentimen kebangsaan. Dan kemudian paham nasionalisme ini meluas ke berbagai penjuru eropa, lalu merembet ke asia dan afrika pada kurun waktu 1900an.

Bagi Khilafah sendiri paham ini telah masuk mulai pertengahan abad ke-19 oleh para misionaris yang mulai tidak hanya berfokus kepada kegiatan sekolah-sekolah, pusat penerbitan dan klinik pengobatan. Lebih tepatnya pada tahun 1842 sebuah komite dibawah perlindungan Amerika dibentuk dengan nama "Association of Arts and Science". Diantara anggotanya yang terkenal adalah Nasif Al-Yaziji dan Boutros Al-Bustani yang merupakan orang Kristen Libanon. Ada pula Eli Smith dan Cornelius van Dick dari Amerika dan Colonel Churchill, seorang Inggris.

Boutros Al-Bustani sendiri adalah seorang pendiri sekolah di Suriah yang bernama Al-Madrasah al-Wathaniyah (Sekolah Kebangsaan), dimana sekolah ini didirikan untuk membangkitkan nasionalisme Arab. Dan tujuan ini tercermin dari sebuah dokumen yang disebut Hubb al-Wathan (Cinta Tanah Air). Bahkan dia menulis tulisan-tulisan tentang politik, pengetahuan dan sastra dalam waktu dua minggu dengan judul Al-Jinan (taman), dimana di dalamnya ia menuliskan motto "Patriotisme adalah artikel keimanan.". Hal ini menjadi asal-usul pembenaran oleh ulama dan cendikiawan muslim pendukung ide-ide kufur Barat perihal bahwa cinta tanah air merupakan sebuah keimanan, bahkan dianggap hadist, padahal hadist palsu (maudho).

Sekitar kurang lebih 80 tahun usaha misionaris menanamkan paham nasionalisme ke dalam pemikiran umat Islam, maka akhirnya berbagai provinsi dalam Khilafah pun mulai tidak stabil, terjadi pemberontakan (bughat). Salah satunya pada tahun 1908, Turki Muda alias Komite Persatuan dan Kemajuan (Union and Progress Committee) melakukan kudeta dan menculik Khalifah Abdul Hamid II. Pemberontakan lainnya seperti Revolusi Arab pada tahun 1916 ketika Khilafah sedang menjadi sekutu Jerman dalam Perang Dunia 1. Revolusi Arab ini pun ditunggangi oleh Inggris dan intelijennya yang telah berhasil membonekakan Syarif Hussain.

Akhirnya setelah berbagai benturan terjadi, terlebih lagi kemunculan Musthafa Kemal membuat ide nasionalisme semakin kuat, maka Khilafah pun runtuh pada 3 Maret 1924.

Kemudian Lord Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris yang membelakangi perencanaan penghapusan Khilafah itu berkata, "Yang penting Turki telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritual mereka, yaitu Khilafah dan Islam." [Abdul Qadim Zallum, Kaifa Hudimatil Khilafah (terjemah), hal. 210-211]

Sejak itulah umat terpecah-belah dan hanya mengenal bendera-bendera nasionalisme yang dibanggakannya serta sudah tidak lagi mengenal bendera Islam, yaitu Al-Liwa dan Ar-Rayah sebagai bendera kesatuan. Bahkan yang anehnya umat hanya tau dan tergambar bahwa bendera Islam itu adalah lambang Bulan Sabit dan Bintang. Entah asal-usulnya darimana lambang/gambar/bentuk Bulan Sabit dan Bintang akhirnya menjadi label atau "brand"-nya Islam ketika ditanya bendera atau lambang/simbol Islam seperti apa.

Tetapi dalam 2 tahun terakhir ini para hamilud dakwah khususnya di Indonesia berhasil -atas rahmat Allah- memperkenalkan khususnya bendera Al-Liwa dan Ar-Rayah setelah melakukan benturan pemikiran (shira' fikri) sebagai bentuk perjuangan politik (kifah siyasi) dengan mengadopsi kemaslahatan umat (tabanni mashalih ummah).

Kejadian yang sangat terlihat bahwa bendera Al-Liwa dan Ar-Rayah semakin berhasil dikenal oleh umat adalah kejadian pembakaran bendera tauhid berjenis Ar-Rayah yang dilakukan oleh Banser pada Senin (22/10) lalu. Dari kejadian ini, umat tidak hanya semakin mengenal bendera tauhid, tetapi lebih dari itu, yaitu telah munculnya perasaan Islam umat dengan murka ketika bendera itu dibakar, dan hal itu membuat umat melakukan aksi di lebih dari 30 kota di Indonesia, bahkan beberapa negara pun memprotes pembakaran bendera milik kesatuan itu, bendera Islam, bendera Rasul, bendera Sunnah, bendera hukum syara'.

Maka dari kejadian itu, akhirnya dapat diketahui bahwa bendera Al-Liwa dan Ar-Rayah saat ini sudah kembali kepada umat dan sudah menjadi milik umat, setelah sebelumnya umat belum merasa memiliki bendera itu, merasa asing terhadap bendera itu, bahkan menganggap bendera itu adalah bendera Hizbut Tahrir, padahal itu bendera Islam, bendera milik umat Islam seluruhnya.

Oleh karena itu, saat ini perasaan umat telah bangkit tersulut merasa memiliki bendera tauhid dan membelanya, tinggal 1 hal lagi yang harus umat rasakan untuk memiliki dan turut memperjuangkannya serta membelanya, yaitu Khilafah sebagai ajaran Islam yang wajib ditegakkan untuk melanjutkan kehidupan Islam agar akhirnya umat menjadi 1 perasaan, 1 pemikiran dan 1 peraturan yaitu ideologi Islam (aqidah aqliyah Islam yang memancarkan peraturan Islam).

Wallahu alam bishowab.
Nazril Firaz Al-Farizi

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget