Dua Tuntutan Aksi Bela Tauhid 211



Mercusuarumat. Anggapan Aksi Bela Tauhid 211 ditunggangi aksi kampanye Prabowo-Sandi adalah hoaks. Pun mengatakan Aksi Bela Tauhid 211 ingin membubarkan Banser.

Aksi Bela Tauhid 211 yang berlangsung siang ini (2/11) adalah aksi pembelaan umat Islam dalam memuliakan panji tauhid. Sebagaimana penjelasan Jubir FPI (Front Pembela Islam), Slamet Ma'arif, Aksi ini dengan tegas menuntut dua hal. Pertama, meminta pemerintah mengakui bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid sebagai bendera tauhid dan kedua, meminta aparat melakukan penegakan hukum seadil-adilnya terhadap pembakar bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid.

Slamet menilai, bendera bertulisan lafadz tauhid yang di bakar adalah bendera umat islam bukan bendera HTI. Secara fakta dan hukum tidak ada yang menunjukkan bahwa itu adalah bendera ormas tertentu.

Pemerintahan dan PBNU hingga detik ini dinilai hanya beralibi mengatakan bendera yang dibakar adalah bendera HTI.

Terkait penegakan hukum, Slamet menjelaskan pihaknya meminta kepolisian mengungkap aktor intelektual di balik pembakaran bendera tauhid di Garut, Jawa Barat, saat Hari Santri Nasional (HSN) 2018.

"Kita juga mendesak pemerintah, khususnya aparat penegak hukum, untuk menegakkan hukum seadil-adilnya. Baik pembakar bendera tauhid yang merupakan bagian penoda agama ataupun aktor intelektual yang selama ini menyerukan, mendoktrin dan mengarahkan untuk memusuhi bendera tauhid, memusuhi panji-panji Rasulullah," jelas Slamet.

"Kita mengindikasikan bahwa ada aktor intelektual yang selama ini berupaya mengajak umat memusuhi bendera tauhid sehingga pembakaran itu efek dari doktrin-doktrin mereka yang selama ini diarahkan, kemudian tersistematis untuk memusuhi bendera panji Rasulullah," lanjut Slamet.

Slamet pun mempertanyakan sikap aparat yang menjadikan Uus sebagai tersangka. Slamet berpendapat Uus harus dibebaskan dari proses hukum yang kini sedang berjalan di Polda Jawa Barat.

"Sejak kapan negara yang mayoritas muslim melarang warganya membawa panji Rasulullah, membawa kalimat tauhid? Nggak ada larangan sama sekali. Bahkan tamu kita ketika itu, Raja Saudi kan benderanya kalimat tauhid, kok nggak ditangkap yang mengibarkan?" ucap Slamet.

"Artinya nggak berdasar, nggak ada aturan dan nggak ada hukumnya warga negara Indonesia mengibarkan bendera kalimat tauhid terus dilarang. Harusnya dibebaskan. Kalau dikatakan itu bendera ormas tertentu, dasar hukumnya apa?" tutur Slamet.

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget