Kemah Rohis Nasional: Masalah Utama Remaja Bukan Radikalisme Tapi Seks Bebas Pak Menag!



Mercusuarumat.com. Hari ini tepat pelaksamaan Kemah Rohis Nasional ke 3 yang diikuti oleh 1.153 perwakilan anggota rohis (Kerohanian Islam) SMA/SMK. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama ini mengusung misi menangkal radikalime di kalangan remaja, terkhusus anggota rohis. Rohmat Mulyana Sapdi, Direktur Pendidikan Agama Kementerian Agama mengatakan bahwa perkemahan ini bukan perkemahan biasa namun mengandung misi strategis demi menyelurkan ide-ide moderasi islam ke kalangan pegiat rohis di sekolah-sekolah.

“Selama ini kegiatan rohis di sekolah dicurigai sebagai tempat interaksi para penyebar ide radikal dengan para simpatisan kegiatan islam,” ujar Rohmat di Kemenag, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis, 1 November 2018.

Pak Menteri, Anda Gagal Mengindera Fakta!

Bahagia campur nestapa mendengar kabar diadakannya Kemah Rohis Nasional. Bagahia melihat Rohis se-nusantara dapat bersatu dan bersilahukhuwah sesama pegiat dakwah sekolah. Namun, nestapa bukan main, saat mendengar misi yang diusung oleh Kemenag. “Deradikalisasi di kalangan pegiat Rohis”. Secara, penulis pribadi adalah anggota rohis saat SMA dan sekarang membina Rohis di sekolah tempat penulis mengajar.

Sayang seribu sayang, agenda akbar yang dihadiri oleh ribuan perwakilan anggota rohis se-nusantara yang berlangsung selama lima hari ini dinilai tidak efektiv. Bukan radikalisme musuh utama remaja, tapi seks bebas yang terus menggerus moral generasi bangsa ini. Sebagai pendidik penulis merasakam betul musuh nyata ini. Banyak diantara siswa tempat penulis mengajar yang tak sungkan berpegangan tangan dan berpelukan mesra di atas motor, padahal jelas-jelas di area sekolah. Pacaran jadi hal biasa. Bahkan mereka tahu pacaran tidak sesuai norma agama, namun malah asyik lakukan ini seakan tak kenal malu.

Banyak laporan hasil penelitian yang menjelaskan maraknya seks bebas di kalangan remaja, diantara:

1. Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah, sudah pernah melakukan hubungan seksual. Di Denpasar, dari 633 pelajar Sekolah Menengah Tingkat Atas (SLTA) yang baru duduk di kelas II, 155 orang atau 23,4% mempunyai pengalaman hubungan seksual (putra 27% siswa dan 18% siswa).

2. Perusahaan riset Internasional Synovate atas nama DKT Indonesia melakukan penelitian perilaku seksual remaja berusia 14-24 tahun kepada 450 orang remaja dari Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya. Hasilnya, 64% remaja mengakui secara sadar melakukan hubungan seks pranikah, karena tidak memiliki pengetahuan khusus dan komprehensif atau menyeluruh mengenai seks. Informasi perihal seks justru diperoleh dari teman 65%, film porno 35%, sekolah 19%, dan orang tua 5%. (WorldPress.com)

3. Data akurat yang bisa tercatat dari 285 pemudi hamil yang memeriksakan diri kepada seorang dokter ahli kandungan kenamaan di Jakarta, 80% responden melakukan free sex di rumah, 11,2% di hotel dan 5% di tempat wisata. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar dan mahasiswa. Hal ini menunjukkan betapa minimnya kontrol orang tua sehingga remaja menggunakan rumah sebagai tempat bebas bergaul.(Fitriah, 2008: 28)

4. Hasil penelitian Jane Brown, dkk (Ilmuwan dari Universitas North Carolina, AS), menunnukkan bahwa semakin banyak remaja disuguhi dengan eksploitasi seks di media, maka memberi pengaruh signifikan banyak remaja menjadi berani mencoba seks pada usia muda. Sebanyak 1,017 remaja berusia 12-14 tahun, disuguhi 264 tema seks dari film, televisi, pertunjukan, musik dan majalah selama 2 tahun berturut-turut. Hasilnya menunjukkan bahwa remaja yang paling banyak mendapat dorongan seksual dari media cenderung melakukan seks pada usia 14-16 tahun, jumlahnya 2,2 kali lebih tinggi. Dari data ini menjadi tidak mengherankan kalau tingkat kehamilan di luar nikah remaja Amerika Serikat (AS) sepuluh kali lipat lebih tinggi dibanding negara-negara industri maju lainnya. Karena itu, penyakit menular seksual (PMS) kini menjadi ancaman kesehatan publik di AS.(KapanLagi.com)

5. Ind Police Watch (IPW) mencatat, di sepanjang 2017 ada 178 bayi yang baru dilahirkan dibuang di jalan. Jumlah ini naik 90 kasus dibanding tahun 2016, yang ada 88 bayi yang dibuang. Dari 178 bayi itu, sebanyak 79 bayi di antaranya ditemukan tewas dan 10 bayi (janin) yang belum masanya lahir dipaksakan untuk dikeluarkan atau digugurkan dan dibuang di jalanan. Sementara bayi yang hidup karena diselamatkan warga, aparat desa, puskesmas dan pihak kepolisian ada sebanyak 89 bayi.

6. Penelitian yang dilakukan oleh lembaga non pemerintah Synovate Research di empat kota besar di Indonesia dengan survei yang diikuti oleh 450 orang yang mencapai kisaran umur dari U15 – U24 dan kebanyakan dari mereka berasar dari ekonomi menengah kebawah. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2004 silam ini menghasilkan bukti Real jika sebagian besar remaja di Indonesia mendapatkan infomasi berbagai hal tentang seks dari teman mereka (65%), 35% dari Film porno dan sisa 5% mereka mendapatkannya infomasinya dari orang tua. Tidak sedikit dari mereka yang mengenal dan memahami bahaya dari penyakit menular seksual (PMS). Tapi dari mereka semua hanya 27% saja yang menggunakan kondom ketika melakukan seks bebas dan sayang nya hanya 24% dari mereka yang menyadari dan waspada terhadar penularan penyakit HIV/AIDS

Dari beberapa laporan hasil penelitian ini telah jelas bahwa seks bebas adalah ancaman utama bagi generasi muda. Tak muluk jika penulis mengatakan bahwa musuh utama remaja adalah seks bebas bukan radikalisme yang selama ini digembor-gemborkan oleh pemerintah dan pihak yang pro dengannya.

Justru isu radikalisme dikalangan remaja hemat penulis sengaja dimunculkan oleh mereka yang mau umat islam bersatu. Radikalisme anggap mereka suatu ancaman, radikalisme anggap mereka adalah pemberontakan. Padahal merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Redikalisme bermakna paham atau aliran yang radikal dalam politi. Jelas makna ini bersifat netral. Jika ada sebagian umat islam yang menginginkan perubahan secara mendasar terhadap indonesia, menginginkan syariat islam diterapkan di indonesia. Hal ini dilindungi oleh undang-undang. Tak ada larangan menuntut hukum islam ditegakkan secara sempurna. Toh islam bukan faham yang dilarang. Lalu kenapa pemerintah sendiri bersikeras mengatakan radikalisme musuh utama generasi muda?

Menjual Radikalisme Demi Sesuap Nasi

Isu radikalisme di kalangan remaja bukan hanya booming saat ini. Sejak dulu, rohis diidentikan dengan teroris. Bahkan, media televisi swasta nasional dengan terang-terangan memaparkan bahwa Rohis sarang teroris. Tentu naif menjual isu radikalisme demi sesuap nasi. Tak ingin kekuasaannya hancur, pemerintah saat ini lempar isu radikalisme. Upaya deradikalisasi makin menggurita, kalangan mahasiswa, dosen, guru, hingga pelajar jadi sasarannya. Berapa banyak anggaran dikeluarkan? Lebih berfaedah atasi seks bebas bersama.

Rohmat Mulyana Sapdi, mengutip hasil survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation yang digelar pada 2017 menjelaskan 37 persen aktivis Rohis mengaku sangat setuju dan 41 persen sisanya setuju pada wacana Indonesia menjadi negara Islam. Inilah salah satu faktor pendorong diadakannya Kemah Rohis Nasional.

Lantas apa yang salah? Sebagai umat islam wajar bahkan perlu jika syariat islam diterapkan dalam institusi negara. Sekali lagi dalih pemerintah atasi radikalisme sekedar upaya pertahankan kekuasaan agar tak jatuh pada umat islam. Pemerintah seakan tak inginkan umat islam terapkan syariat islam. Maka muncullah upaya penghadangan yang dilakukan pemerintah dan pihak-pihak yang pro dengannya. Salah satunya dengan isu radikalime!

Selesaikan Masalah Seks Bebas dengan Islam

Ada baiknya, perbaiki kembali visi misi diadakannya Kemah Rohis Nasional. Seleraskan dengan fakta generasi islam milenia masa kini. Serangan seks bebas telah nyata-nyata di pelupuk mata pemuda indonesia. Pegang erat rohis se nusantara. Sampaikan pada mereka, musuh utama kita adalah seks bebas! Bekali mereka dengan islam yang kaffah. Bukan islam nusantara atau jenis modersasi islam lainnya. Islam telah sempurna. Islam sebagai rahmah bagi semesta alam. Islam solusi bagi generasi muda. Bentengi pemuda dari seks bebas dengan islam.

Atasi seks bebas dengan Islam! [IW]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget