Pahlawan Bangsa Inginkan Merdeka Bukan Mesra dengan Penjajah



Dulu sebelum Indonesia merdeka,

Pahlawan Bangsa inginkan bersatu, bukan berpecah belah karena nafsu.
Pahlawan Bangsa berjuang Lillah tak kenal lelah.
Pahlawan Bangsa teriakan takbir, tahlil demi mengusir para penjajah.
Pahlawan Bangsa berbondong-bondong bela yang benar dan usir yang salah.
Tujuannya satu karena mereka ingin Merdeka.

Pahlawan Bangsa tahu betul penjajah jahat tiada tara.
Merampas rempah-rempah keruk habis Sumber Daya Alam Nusantara.
Penjajah sebar fitnah agar pribumi mudah diadu domba.
Masyarakat dikotak-kotakan agar mudah dipecah belah.
Pahlawan Bangsa tak sudi bermanis muka, mesra dengan mereka.

Pun demikian hari ini,

Pahlawan Bangsa inginkan umat bersatu bukan berpecah bela agungkan kelompoknya.
Pahlawan Bangsa pekikan takbir, tahlil ajak umat bersatu padu.
Pahlawan Bangsa ajak masyarakat tegakkan keadilan tumpas kezaliman.
Pahlawan Bangsa tak rela penjajah bebas masuk negeri Indonesia.
Mereka tolak keras segala bentuk penjajah asing yang kan goncang Indonesia.

Sekarang ini,

Penjajahan tak sekedar fisik semata.
Segala bidang kehidupan jadi objek jajahan.
Barat tahu betul Indonesia negeri kaya raya.
Segala jenis Sumber Daya Alam terhampar luas di jambrut katulistiwa.
Kepemilikan SDA Migas Indonesia dikuasai swasta asing khusunya Amerika dam China.
BUMN pun demikian. Walaupun namanya Badan Usaha Milik Negera, namun kepemilikannya sebagian besar bukan milik negara.
Produk hukum hingga saat ini masih didikte asing Amerika.
Pemikiran barat nyata-nyata menyerang setiap sendi pemikiran insan Indonesia.
Ekonomi dicekoki paham kapitalis.
Sosial dicekoki paham liberal.
Hukum dicekoki paham demokrasi.
Ikatan Laa Illaha IllAllahu terganti dengan ikatan lemah, nasionalisme.
Intinya, Indonesia terang-terang belum mereka!

Belajar dari sejarah,

Ulama, santri, kiayi dulu merapatkan barisan dengungkan perlawan.
Tak berharap pemberian kemerdekaan oleh si penjajah.
Merindu nusantara bersatu.
Menyerukan kata merdeka.
Menyongsong hidup damai sentosa.

Penghianat selalu saja ada,

Perjuangan pahlawan kan selalu dihiasi penghianat, karena ini jalan penjajah tetap mencengkram tanah Indonesia.
Penghianat bermanis muka pada penjajah dan garang pada sesama.
Penghianat bela kepentingan penguasa walaupun terang-terangan bela yang salah
Pun sebaliknya, penguasa bela pendukungnya meskipun jelas salahnya.

Pahlawan milenial,

Jiwa pahlawan milik tiap manusia.
Dulu, kini dan nanti. Fitrahnya inginkan merdeka.
Lepas dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.
Masa kini butuh perlawanan pasti.
Buang jauh perjuangan semu.

Lawan penjajahan dengan Islam saja! [IW]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget