Perlindungan Khilafah Pada Warga Non Islam


Oleh: Gus Uwik

Mercusuarumat.com. Banyak yang gagal paham dengan Khilafah. Khususnya kaum liberal dan yang membenci Islam. Mereka membuat narasi kebencian, ketika nanti Khilafah tegak berdiri maka akan menjadi monster menakutkan bagi warga non Islam. Tidak ada toleransi sama sekali. Mereka akan menjadi warga yang di paksa pindah agama, di paksa melaksanakan peribadatan Islam, Non Islam tidak bebas menjalankan ibadahnya, syariat Islam menimbulkan perpecahan, rasa tidak aman bahkan sampai hal menggelikan yakni di paksa untuk sunnat serta pernyataan sumir lainnya. Dengan narasi ini, wajar jika umat non Islam menjadi takut ketika mendengar syariat Islam apalagi sistem Khilafah. Bukan hanya umat non Islam, umat Islam sendiripun pasti akan ketakutan. Namun, sekali lagi itu semua adalah narasi kebencian yang dibangun dan disebarkan oleh orang liberal pembenci Islam. Jadi, bagaimana sebenarnya Khilafah memberikan perlindungan kepada warga non Islam?

Sungguh, narasi kebencian di atas sangat jauh berbeda dengan realitas dan fakta yang ada. Bagaimana mungkin, syariat Islam yang berasal dari Sang Pencipta alam semesta ini berlaku tidak adil dan diskriminatif. Hingga sampai kemasalah keyakinan setiap individu masyarakat. Jika demikian adanya maka akan bertentangan dengan sifat Allah yang Maha Adil dan Maha Kasih Sayang kepada semua makhluknya. Oleh karenanya, yang ada adalah ketidakpahaman dan ketidaktahuan sebagian orang tentang keadilan syariat Islam. Mereka, dengan keterbatasan yang ada belum bisa menjangkau atau tidak mau mendalami realitas yang terjadi ketika kekhilafan tegak.

Realitas dan fakta bagaimana Khilafah memberikan jaminan perlindungan kepada warna non Islam nampak jelas tergambar dalam seluruh riwayat dan cerita yang bisa dipertanggungjawabkan keontetikannya. Dalam buku Syakhsiyatu Umar wa Aruhu (dalam edisi Indonesia berjudul The Great Leader of Umar bin Al Khathab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua), Dr Ali Muhammad Ash Shalabi menulis bahwa dulu Khalifah Umar pernah memiliki seorang budak laki-laki yang beragama Nasrani. Namanya Asyiq. Asyiq bercerita, Saya adalah orang seorang budak beragama Nasrani milik Umar. Umar mengatakan kepada saya; “Masuk Islam lah kamu agar kami dapat menugaskan kamu untuk menangani beberapa urusan kaum muslimin. Sebab kami tidak pantas menugaskan untuk mengurusi urusan kami dengan orang yang bukan dari golongan kami.” Akan tetapi saya menolak tawaran Umar. Lalu Umar membacakan firman Allah, “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam.” Tatkala Umar akan meninggal, Dia memerdekakan saya dan berkata; “Pergilah kamu ke mana saja kamu inginkan!”

Para penganut ahli kitab juga bebas menjalankan syiar-syiar agama dan upacara-upacara keagamaan mereka di tempat-tempat ibadah dan rumah-rumah mereka. Tidak ada seorangpun yang berani melarang mereka untuk melakukan aktivitas tersebut. Sebab syariat Islam menjamin kebebasan keyakinan mereka.

Ath Thabari merawikan bahwa Umar pernah menulis sebuah perjanjian dengan penduduk Alia (Qudus). Dalam surat perjanjian tersebut Umar menjelaskan tentang pemberian jaminan keamanan bagi penduduk Alia baik terhadap diri, harta, salib dan gereja-gereja mereka.

Gubernur Umar di Mesir, Amr Bin al-Ash, pernah menulis surat perjanjian yang ditujukan kepada penduduk Mesir. Surat perjanjian itu berbunyi; “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Inilah apa yang diberikan oleh Amr Bin Al-Ash kepada penduduk Mesir berupa jaminan keamanan atas diri, agama, harta benda, gereja-gereja, salib, darat dan laut mereka.”

Para ulama Fiqih telah sepakat bahwa Ahlu Dzimmah berhak menjalankan syiar-syiar agama mereka. Mereka tidak dilarang untuk menjalankan aktivitas tersebut selama mereka tidak menampakkan secara terang-terangan. Bila Mereka ingin menjalankan syiar-syiar agama mereka secara terang-terangan seperti mengeluarkan tanda salib mereka, maka para ulama Fiqih melarang mereka melakukan hal tersebut di daerah-daerah Islam dan tidak melarang mereka untuk melakukannya di daerah dan perkampungan mereka.

Tentang jaminan Islam terhadap kebebasan menganut suatu agama Syeikh Imam Al Ghozali mengatakan: “Kebebasan beragama yang di jamin Islam bagi manusia belum diketahui ada tandingannya di lima benua yang ada di muka bumi ini. Belum pernah ada sebuah agama yang mendominasi sebuah kekuasaan lalu pemerintahannya memberikan kepada penganut agama yang berbeda dengan agama resmi negara segala faktor yang membuat agama itu tetap eksis dan berkembang seperti apa yang telah dilakukan oleh Islam [Daulah Khilafah – red].”

Khalifah Umar telah berupaya sungguh-sungguh untuk melaksanakan prinsip kebebasan beragama di tengah-tengah masyarakat. Ia telah mengedarkan kebijakan politik dalam pemerintahannya dalam hal menghadapi penganut agama Nasrani dan Yahudi. Khalifah Umar mengatakan; “Kami telah memberi mereka sebuah kontrak perjanjian di mana Kami akan membebaskan mereka beribadah di gereja-gereja mereka. Di sana mereka bebas melakukan apa saja dan Kami tidak akan membebani mereka dengan apa yang tidak sanggup mereka lakukan. Bila musuh mereka hendak menyerang mereka maka kami akan berperang menghadapi musuh mereka itu. Kami juga akan membebaskan mereka untuk memperlakukan hukum-hukum agama mereka kecuali bila mereka rela berhukum dengan hukum hukum kami. Maka kami akan memutuskan perkara di antara mereka dengan hukum-hukum kami. Bila mereka tidak berada di hadapan kami maka kami tidak akan membicarakan aib-aib mereka.”

Dalam data sejarah disebutkan bahwa Umar adalah khalifah yang sangat perhatian terhadap Ahlu Dzimmah. Khalifah Umar membebaskan mereka dari kewajiban bayar pajak ketika mereka tidak mampu untuk membayarnya. Dalam kitab Al Amwal, Abu Ubaid mengatakan; “Suatu hari, Khalifah Umar melintas di sebuah pintu gerbang rumah suatu kaum. Di situ terdapat seorang laki-laki tua yang buta sedang mengemis. Umar menepuk pundak laki-laki tua itu dan bertanya; “Dari golongan Ahli Kitab mana anda berasal?” Laki-laki tua itu menjawab; “Aku adalah seorang Yahudi. Mengapa Anda mengemis?” tanya Umar. “Aku mencari uang untuk bayar pajak dan untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari,” jawab laki-laki tua itu. Setelah itu Khalifah Umar menggandeng tangan dan membawa laki-laki tua itu kerumahnya. Umar memberikan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan si laki-laki tua tersebut kemudian Umar menyuruh si laki-laki tua itu untuk menemui petugas Baitul Mal.

Kepada petugas Baitul Mal, Khalifah Umar mengatakan; “Perhatikanlah kebutuhan orang ini dan orang-orang yang seperti dia! Demi Allah, kita tidak pantas memakan hartanya (dari hasil pembayaran pajak) ketika dia masih muda, lalu kita menelantarkan dia ketika dia ya sudah lanjut usia.” Setelah itu Khalifah Umar membebaskan si laki-laki tua itu dan orang-orang yang seperti dia dari kewajiban membayar pajak. Umar juga menulis surat yang ditujukan kepada para pembantunya dalam rangka untuk memperlakukan ketentuan ini secara umum.

Kebijakan-kebijakan Khalifah Umar ini mencerminkan tentang keadilan Islam dan kesungguhan Khalifah Umar membangun Khilafah di atas prinsip keadilan dan prinsip kasih sayang terhadap rakyatnya. Kendati mereka non muslim, pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin kebebasan beragama dan toleransi benar-benar menjadi soko guru, mendapat jaminan dari negara dan terpelihara dengan hukum-hukum perundang-perundangan Islami. Wallahua’lam bi al-Showab.

Referensi:
Nidzam Al Hukm fi Asy Syari’ah as wa At-Tarikh al-Islami, 1/58,
Tarikh Ath Thobari, 4/158,
Al Bidayah wa An-Nihayah, 7/98,
As-Sulthah At-Tanfidziyah, 2/725,
Huquq al-Insan Baina Ta'alim Al Islam wa I’lan Al Umam Al Muttahidah, halaman 111,
Nizam Al hukum fi ‘Ahd al-Khulafa Ar-Rasyidin, halaman 117,
Abu ubaid, Al Amwal, halaman 157 dan Ibnu Al Qayyim, Al Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, 1/38
Az-Zaila’I, Nashb Ar Rayah, 7/453

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget