Soal Jawab Bendera Tauhid (Catatan untuk Diri Sendiri)



Oleh: Yuana Ryan Tresna

Mercusuarumat.com
Pada saat ada tanggapan masuk pada kolom komentar sebuah diskusi yang awalnya berjalan sangat hangat, saya belum bisa menjawabnya.

Alasannya tiada lain karena tidak mau membuat makin runyam suasana ketika ada yang memancing di air keruh. Karena saya tahu orang seperti apa yang memberi tanggapan tersebut.

In sya Allah saya akan membuat risalah soal jawab terkait hadits panji yang bertuliskan lafazh:

لا ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ

Itu permintaan dari guru-guru kami. Saya hanya menjalankan permintaan guru kami dan semoga manfaatnya untuk semua.

Dengan berusaha menghilangkan semua tendensi yang tidak sepatutnya, untuk pendahuluan saya berikan dulu beberapa jawaban singkat ini sbb:

Bagaimana sebenarnya penjelasan kajian terkait hadits al-rayah dan al-liwa?

Saya sudah tulis dalam kajian sebelumnya. Saya hanya akan menjawab hal-hal yang belum saya jelaskan, agar persoalannya tidak berulang. Silahkan disimak di:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=189538348595256&id=189526771929747

Adapun kesimpulannya:

1- Eksistensi/keberadaan al-liwa dan al-rayah di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak bisa terbantahkan, termaktub dalam hadits-hadits shahih.
2- Riwayat yang menerangkan bahwa al-liwa berwarna putih dan al-rayah berwarna hitam ada dalam banyak hadits yang statusnya hasan lighairihi (bi al-syawahid). Artinya sah dijadikan sebagai hujjah.
2- Perbedaan warna tidak menafikan satu sama lain. Hanya saja warna hitam untuk al-rayah dan putih untuk al-liwa lebih kuat dari pada yang menyebutkan warna merah dan kuning.
3- Lafazh kalimah tauhid pada al-liwa' dan al-rayah juga diperselisihkan. Banyak ulama yang menilai dha'if, tetapi ada ulama hadits yang menerima hadits tersebut. Kalimah tauhid adalah simbol keagungan dan persatuan, simbol penyebaran Islam melalui jihad. Maka perkara yang tidak menyelisihi syariat jika ia menjadi tulisan pada al-liwa' dan al-rayah.

Apa sebenarnya makna bendera tauhid yang sekarang ramai diperbincangkan itu?

Bendera tauhid adalah bendera atau panji yang tertulis pada kainnya kalimah tauhid:

لا ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ

Apakah pada zaman Nabi juga menggunakan bendera atau panji sebagai simbol atau identitas?

Ya, pada zaman Nabi namanya al-rayah dan al-liwa. Imam al-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim mengatakan bahwa al-rayah itu bendera yang berukuran kecil, sedangkan al-liwa itu bendera yang berukuran besar. Dengan kalimat lain, al-rayah dan al-liwa itu adalah sebuah bendera yang dipakai oleh pemimpin perang dan mempunyai ukuran, fungsi serta peletakan yang berbeda.

Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan maqbulnya sebuah hadits dan mengapa tidak menggunakan istilah shahih dan hasan untuk hadits tentang tulisan kalimah tauhid pada al-rayah dan al-liwa?

Semua harusnya sudah paham bahwa hadits yang maqbul adalah hadits yang layak dijadikan sebagai hujjah. Bahasa sederhananya adalah shahih atau hasan. Lantas mengapa saya menghindari dari mengatakan shahih atau hasan pada hadits "maktubun alaihi"? Karena ketika merujuk kitab dari al-Muhaddits Abdul Hayy al-Kattani, beliau tidak menyebutkan secara spesifik status haditsnya. Tetapi beliau menerimanya. Adapun kalau dhaif beliau memberikan penjelasan. Karena tidak spesifik dikatakan shahih atau hasan maka saya juga menghindari istilah itu. Semata-mata taqlid. Karena penetapan shahih, hasan, dan dha'if adalah otoritas ulama hadits.

Itulah yang kami diakusikan dengan guru-guru kami. Salah seorang guru kami bahkan mengatakan hasan lighairihi. Beliau memiliki lebih dari 250 sanad dalam berbagai bidang ilmu khususnya hadits, dan sudah melakukan rihlah ilmiah ke berbagai negara.

Apa yang dimaksud dengan "hadits ini shahih" dan "sanad hadits ini shahih?"

Jelas berbeda. Perkataan hadits ini shahih adalah terkait derajat hadits atau al-hukm 'ala al-hadits. Setelah meneliti semua jalur dan membandingkan sanad dan matannya. Adapun perkataan sanad hadits ini shahih maksudnya adalah bahwa pada aspek sanadnya saja yang shahih (sanadnya bersambung dan rawinya adil juga dhabith).

Ketika mengurai beberapa jalur periwayatan, lantas apa maksud ungkapan "saya memilih ulama yang menshahihkan", dan apakah istilah tersebut tepat?

Lihat saja konteksnya sedang bahas apa. Saya sudah akui ada ketidaktepatan atau keliru memilih kata. Meski kalau dibaca utuh akan paham sesungguhnya apa yang saya maksud. Tidak perlu ada ungkapan ngeles, berbohong, dll. Seperti yang terjadi di salah satu kolom diskusi, sehingga percakapan menjadi kumuh.

Jadi itu terkait penilaian sanad, karena konteksnya sedang penelurusan sanad. Bukan sedang bicara al-hukm 'ala al-hadits/derajat hadits. Pada jalur yang diperselisihkan itu ada perbedaan penilaian ulama terhadap rawi Hayyan bin Ubaidillah.

Kalau dibaca utuh, sebenarnya jelas maksudnya, akan ditemukan penjelasan berikutnya (ketika menjelaskan riwayat Abu Syaikh al-Asbahani) sbb:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ زَنْجُوَيْهِ الْمُخَرِّمِيُّ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي السَّرِيِّ الْعَسْقَلانِيُّ، نَا عَبَّاسُ بْنُ طَالِبٍ، عَنْ حَيَّانَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي مَجَازٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Ada rawi yang diperselisihkan kedha'ifan (kelemahan) dan "keshahihannya" (maksudnya ketsiqahannya) yakni Hayyan bin Ubaidillah. Kalau Abbas bin Thalib relatif tidak terlalu tajam perbedaan penilaian al-jarh dan al-ta'dilnya.

Bahwa saya juga termasuk yang tidak mengingkari penilaian al-Hafizh Ibnu Hajar sebagai penilaian ilmiah terhadap hadits, tapi tentu saja tidak sedang bicara pengamalannya. Saya sudah jelaskan pada tulisan sebelumnya itu.

Pada tulisan sebelumnya bahkan dijelaskan tentang rawi Hayyan bin Ubaidillah:

Dari semua rawi tersebut yang diperdebatkan diantaranya adalah Hayyan bin Ubaidillah. Sebagian mengatakan dha’if karena tafarrud (seperti pendapat Ibnu Adi), tetapi Ibnu Hibban menempatkan dalam "al-Tsiqqat", Abu Hatim mengatakan shaduq, sedangkan al-Bazar mengatakan laisa bihi ba'sun. Tafarrudnya Hayyan bin Ubaidillah tidak memadharatkan hadits karena keadaannya tsiqah atau shaduq (menurut satu penilaian).

Bagaimana sebenarnya jalur-jalur periwayatannya?

Baik mari kita uraikan secara lebih jelas jalur-jalurnya:

1- Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

ﻛﺎﻧﺖ ﺭاﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺳﻮﺩاء ﻭﻟﻮاﺅﻩ ﺃﺑﻴﺾ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻓﻴﻪ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ.

Al-rayah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwarna hitam dan al-liwa berwarna putih, tertulis padanya:

لا ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ

Hadits ini dikeluarkan Ibnu Adi (2/658), Abu Syaikh dalam Akhlaq al-Nabi no. 425, dengan sanadnya dari jalan Muhammad bin Abi Humaid dari al-Zuhri dari Sa’id bin Al-Musayyib dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini sangat lemah, dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Abi Humaid yang dinilai dhaif jiddan (sangat lemah) bahkan munkar. (Lihat Tahdzib al-Kamal, 25/112)

2- Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:

ﻛﺎﻧﺖ ﺭاﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩاء ﻭﻟﻮاﺅﻩ ﺃﺑﻴﺾ، ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻋﻠﻴﻪ: ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ

Al-rayah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwarna hitam dan liwa berwarna putih, tertulis padanya:

لا ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ

Hadits ini dikeluarkan oleh al-Thabarani dalam al-Ausath (1/77) dari jalan Abdul Ghafar bin Dawud dari Hayyan ibn Ubaidillah dari Abu Mijlaz dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Juga dikeluarkan juga Ibnu Adi dalam al-Kamil (2/658) Abu Syaikh dalam Akhlaq al-Nabi no.424 dari jalan Abbas bin Thalib dari Hayyan bin Ubaidillah dari Abu Mijlaz dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Sebenarnya hadits dari jalur Hayyan ini memiliki 3 jalan periwayatan:

1- Jalan pertama, dikeluarkan oleh al-Thabarani dalam al-Ausath (1/77) dari Ahmad bin Risydin dari Abdul Ghafar bin Dawud dari Hayyan bin Ubaidillah dari Abu Mijlaz dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Jalan pertama sangat lemah, karena dalam sanadnya terdapat Ahmad bin Risydin yaitu Ahamd bin Muhammad bin al-Hajjaj bin Risydin. al-Thabarani menilai dha'if, bahkan sebagian ulama mengatakan tertuduh berdusta. (Lihat al-Lisan, 1/594)

2- Jalan kedua, dikeluarkan Ibnu Adi dalam al-Kamil (2/658), Abu Syaikh dalam Akhlaq al-Nabi no.424 dari Ahmad bin Zanjawaih dari Muhammad bin Abi al-Sari dari Abbas bin Thalib dari Hayyan bin Ubaidillah dari Abu Mijlaz dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Jalan kedua ini diperselisihkan antara ulama yang menilai rawi-rawinya al-jarh dengan al-ta'dil. Diantara rawi yang menjadi sorotan adalah:

- Abbas bin Thalib. Abu Hatim, Yahya bin Ma'in, dan Abu Zur'ah menilainya lemah. Namun Ibnu Hibban menilai tsiqah, Ibnu Hajar dan Ibnu Adi menilai shaduq. Ibnu Adi berkata,

اﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻃﺎﻟﺐ ﺻﺪﻭﻕ ﺑﺼﺮﻱ ﺳﻜﻦ ﻣﺼﺮ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ.

Abbas bin Thalib seorang yang shaduq, orang Basrah tinggal di Mesir, tidak mengapa dengannya.

- Muhammad bin Abi al-Sari yaitu Muhammad bin Al-Mutawakkil al-Asqalani. Ibnu Ma’in dan al-Dzahabi menilai tsiqah. Abu Hatim menilai layyin al-hadits (lemah haditsnya). Ibnu Adi menilai katsir al-ghalath (banyak keliruhnya). Ibnu Hajar menyimpulkan keadaannya shaduq arif, memiliki kekeliruan. (Lihat Tahdzib al-Kamal, 26/355, Tahdzib al-Tahdzib, 9/424).

Itulah mengapa al-Hafizh Ibnu Hajar menilai hadits Ibnu Abbas ini sanadnya wahin (sangat lemah. (Fath al-Bari, 6/127)

3- Jalan ketiga, dikeluarkan oleh Abu Ya’la no. 2370, Abu Syaikh dalam Akhlaq al-Nabi no. 418, dan al-Thabarani dalam al-Kabir (2/22), Ibnu Adi dalam al-Kamil (2/831), Abu Nuaim dalam al-Hilya (3/114), al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah no. 2664.

Semuanya dari jalan Ibrahim bin al-Hajjaj al-Sami dari Hayyan ibn Ubaidillah dari Abu Mijlaz dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
meski tanpa lafazh: tertulis padanya:
لا ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ

Rawi yang meriwayatkan dari Hayyan bin Abdillah yaitu Ibrahim bin al-Hajjaj al-Sami adalah tsiqah. Ibnu Hajar dalam al-Taqrib menilai tsiqah dan kadang keliru.

Sanad hadits ini pun tak lepas dari kritik kelemahan karena rawi Hayyan bin Ubaidillah. Sebagian mengatakan periwayatannya tidak bisa diterima jika sendirian (Lihat al-Lisan, 3/309; al-Dhu’afa li al-Uqaili, 1/319). Hanya saja, penilaian atas kelemahan Hayyan bin Ubaidillah tidaklah bulat. Sebagaimana ulasan saya sebelumnya, ada yang menilai tsiqah (Ibnu Hibban), shaduq (Abu Hatim), dan laisa bihi ba'sun (al-Bazar).

Dengan berpijak pada penilaian tsiqah dan shaduq, sebenarnya tafarrudnya Hayyan bin Ubaidillah tidak memadharatkan hadits karena keadaannya tsiqah atau shaduq (lihat Muqaddimah Ibn Shalah). Demikian juga ikhtilath nama antara Hayyan bin Ubaidillah (حيان) dan Hibban bin Yassar (حبان) sudah dijelaskan oleh para ulama, semisal dalam Tarikh al-Kabir, Tahdzib al-kamal, al-Kamil fi al-Dhu’afa, Mizan al-I’tidal, dll. Penjelasan terkait dengan tafarrud dan ikhtilath Hayyan bin Ubaidillah bisa dijelaskan dalam tulisan khusus.

Terlebih lagi, Hayyan bin Ubaidillah tidak kesendirian dalam meriwayatkan hadits jalur ketiga ini, dia telah diikuti oleh Yazid bin Hayyan, sebagaimana dikeluarkan oleh al-Tirmidzi no.1681, Ibnu Majah no. 2818, dan al-Hakim (2/105), dari jalan Yahya bin Ishaq dari Yazid bin Hayyan dari Abu Mijlaz dari Ibnu Abbas.

Memang benar, ada yang menilai Yazid bin Hayyan seorang rawi yang shaduq namun banyak kekeliruannya. (Lihat Tahdzib al-Kamal, 32/113). Imam al-Bukhari juga mengatakan: padanya terdapat kesalahan yang amat banyak (Tarikh al-Kabir, 8/325).

Kedua jalan ini bisa saling menguatkan, dan juga memiliki beberapa syawahid (penguat) dari hadits lainnya sehingga menjadi maqbul. Meski pada jalan ketiga tersebut menampilkan redaksi hadits yang sedikit berbeda, yakni tidak menyebutkan tulisan kalimah tauhid. Hal itu tidak mesti langsung dipahami sebagai pertentangan.

Jadi kelemahan pada sanad Hadits tentang bendera Nabi shallallahu alaihi wa sallam tertulis padanya:

لا ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ

dengan merujuk kepada penerimaan al-Muhaddits Abdul Hayy al-Kattani masih bisa diterima, artinya maqbul dan ma'mul bihi.

Apalagi terkait dengan keberadaan al-rayah dan al-liwa dan karakteristik warnanya hitam dan putih telah dikuatkan oleh jalur lain.

Apakah ada contoh hadits yang memiliki aspek kritik sanad yang sangat pelik namun tetap diakui sebagai hadits maqbul?

Ada banyak. Diantaranya adalah hadits "ajtahjdu ra'yi" Mu'adz bin Jabal ketika diutus ke Yaman. Jumhur ulama hadits menghukumi sebagai hadits dha'if.

Hadits “ajtahidu ra’yi” Mu’adz bin Jabal adalah hadits makbul meski dari sisi sanadnya menyisakan berdebatan. Selain itu, juga karena adanya syawahid (meski sama-sama dha'if) dan adanya hadits lain yang shahih dengan makna yang sama dari aspek pokoknya. Sehingga, aspek kemajhulan dan kemubhaman rawi yang ada dalam sanad hadits tersebut masih bisa “diselamatkan”. Jika ditinjau dari segi matan, ijtihad bi ar-ra’y dengan bersandarkan pada al-Qur’an dan as-Sunnah –ketika pada keduanya hukum suatu perkara tidak dinyatakan secara manshush– adalah perkara yang masyru’. Bahkan hadits Mu’adz dipandang sudah terkategori talaqathul ummah bil qabul, sebagaimana yang disampaikan al-Ghazali,

وَهَذَا حَدِيثٌ تَلَقَّتْهُ الْأُمَّةُ بِالْقَبُولِ ، وَلَمْ يُظْهِرْ أَحَدٌ فِيهِ طَعْنًا ، وَإِنْكَارًا ، وَمَا كَانَ كَذَلِكَ فَلَا يَقْدَحُ فِيهِ كَوْنُهُ مُرْسَلًا بَلْ لَا يَجِبُ الْبَحْثُ عَنْ إسْنَادِهِ.

Menariknya, Al-Baghdadi memiliki catatan lain tentang hadits ini. Beliau menegaskan bahwa hadits Mu’adz ini makbul. Beliau juga menjawab beberapa syubhah terkait sanadnya yang dinilai lemah.

Selengkapnya bisa baca coretan saya lawas di: https://yuanaryant.wordpress.com/2013/11/04/menjawab-syubhah-hadits-ajtahidu-rayi/

Apakah ada contoh lain?

Banyak. Tidak mungkin saya sebutkan satu demi satu di sini.

Misalnya hadits,

إنكم أصبحتم في زمان كثير فقهاؤه قليل خطباؤه قليل سائلوه كثير معطوه، العمل فيه خير من العلم، وسيأتي على الناس زمان قليل فقهاؤه كثير خطباؤه قليل معطوه كثير سائلوه، العلم فيه خير من العمل

Dalam bab keutamaan belajar atau menuntut ilmu.

Dalam tinjauan tradisi para fuqaha, pencantuman hadits-hadits yang masih menyisakan masalah kritik sanad atau matan sebenarnya ini hal yang ma'ruf dalam fiqih, di mana hadits seperti itu tidak berfungsi sebagai dalil, namun sebatas sebagai musta'nas saja, min bab al-taukid. Hal ini mirip seperti yang dilakukan oleh Imam Muslim, di mana beberapa pihak mengkritik hadits-hadits beliau pada bagian mutaba'at.

Apakah berbeda antara maqbul pada rawi dan maqbul pada hadits?

Jelas berbeda. Tidak perlu bersusah-payah menjelaskan. Maqbul rawi adalah martabat ta'dil yang rendah. Tidak dapat dijadikan hujjah haditsnya kecuali sudah melakukan i'tibar. Adapun maqbulnya suatu hadits adalah hadits tersebut diterima. Lantas mana yang saya maksud dengan mengatakan jalur ini maqbul? Bisa maqbul sanad hadits atau maqbul hadits secara keseluruhan (matannya). Dalam penelusuran sanad di atas, maka yang dimaksud adalah sanadnya maqbul. Kalau menisbatkan pada al-'Allamah Abdul Hayy al-Kattani, maksudnya haditsnya yang maqbul. Shahih atau hasan? Beliau tidak menjelaskan secara spesifik. Mengapa mengutip al-Muhaddits Abdul Hayy al-Kattani? Karena kata guru-guru kami yang memiliki sanad ke beliau, itu termasuk penerimaannya. Baginya maqbul.

Apakah hadits tentang lafazh tauhid itu fadha'il al-a'mal?

Saya tidak mengatakan seperti itu. Baca yang cermat dari semua postingan saya. Saya hanya mengatakan bahwa hadits al-rayah dan al-liwa kedudukan bisa disamakan dengan hadits fadha'il al-'amal. Karena kata guru kami, al-rayah ini masuk masa'il bukan fadha'il. Saya hendak katakan bahwa masalah lafazh ini hal teknis yang tidak termasuk perkara halal dan haram. Selanjutnya saya mengutip perkataan Imam Ahmad berikut ini:

أحمد بن حنبل يقول: إذا روينا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في الحلال والحرام والسنن والأحكام تشددنا في الأسانيد، وإذا روينا عن النبي صلى الله عليه وسلم في فضائل الأعمال ، وما لا يضع حكما ولا يرفعه : تساهلنا في الأسانيد.

(Lihat Ibnu Atsir, Jami' al-Ushul fi Ahadits al-Rasul, juz 1 hlm. 109. Juga dalam al-Kifayah fi 'iImi ar-Riwayah dan Mustadrak al-Hakim)

Mari perhatikan maqalah tersebut, bahwa kalau terkait hukum halal dan haram kami ketat dalam sanad, dan

وإذا روينا عن النبي صلى الله عليه وسلم في فضائل الأعمال ، وما لا يضع حكما ولا يرفعه : تساهلنا في الأسانيد.

Jika terkait fadha'il al-a'mal dan perkara yang berkaitan dengan sesuatu yang tidak berkaitan dengan muncul atau hilangnya suatu hukum, maka kami melonggarkan kriteria dalam sanad.

Lafazh tauhid para al-rayah dan al-liwa adalah masa'il dalam hukum syara yang berkaitan dengan sesuatu yang tidak berkaitan dengan muncul atau hilangnya suatu hukum. Bahkan dalam pandangan syaikh Abu Malik itu bukan perkara yang wajib.

Benarkan definisi al-rayah dan al-liwa dalam Kitab Ajhizah berpijak pada hadits tersebut yang disangkakan dha'if yang dengannya definisi tersebut harus direvisi?

Jelas itu salah dan berlebihan. Silahkan baca lagi kitabnya dengan baik. Kitab Ajhizah karya syaikh 'Atha' bin Khalil bahkan tidak menukil hadits tersebut. Definisi itu merupakan hasil ijtihad yang salah satu pertimbangannya adalah hadits tersebut. Karena jangankan dengan hadits yang diperselisihkan atau bahkan dha'if, dengan atsar shahabat saja boleh kalau menjadi pertimbangan. Ini terkait membuat ta'rif atau definisi.

Kalau kita telaah kembali bab tentang al-liwa dan al-rayah di kitab al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah juz II, disana penulis kitab menggunakan shighat tamridh يقال , sedangkan di Kitab Ajhizah Daulah al-Khilafah bahkan tidak me-marfu'-kan terkait tulisan, hanya menyebutkan riwayat kepada siapa diakadkan.

Kita bisa pahami, bahwa hadits tulisan kalimah tauhid pada al-rayah dan al-liwa, bukan jadi pijakan pokok. Pijakan pokok adalah adanya al-liwa dan al-rayah, dan ini secara kehujjahan sudah jelas. Pada masalah tulisan, ini yang secara dalil tidak tsubut atau tsubutnya masih lemah atau masih diperselisihkan. Maka, dalam hal ini teori isti'nas dipakai dan ini sudah biasa di kalangan fuqaha'. Jadi, apa yang dilakukan oleh syaikh al-Nabhani ini ma'ruf 'indal fuqaha'.

Sebenarnya mana persoalan pokok yang wajib dan mana yang merupakan cabang?

Syaikh Abu Malik salah seorang ulama di Hizbut Tahrir dalam makalahnya menyebutkan,

إننا إذا بحثنا عن منطوق أحاديث في الراية نجد حديث الراية العمية، وأحاديث من قبيل: «لأعطين الراية غدا رجلاً يحبه الله ورسوله»، وكونه ﷺ لم يرسل سرية إلا وعقد لواء لقائدها وأمر بطاعته، بدءا من أول سرية وهي سرية عبيدة بن الحارث، "قال ابن إسحاق‏:‏ فكانت راية عبيدة بن الحارث - فيما بلغني - أول راية عقدها رسول الله ﷺ في الإسلام، لأحد من المسلمين" فإنه بذا يجعل طريقة تنصيب القائد وإيجاب طاعته بإعطائه اللواء أو الراية، فهذا أبو بكر رضي الله عنه يقول حين روجع في إمارة أسامة: والله لا أحُلَّنَّ رايةً عقدها رسول الله ﷺ، فجعل الراية عقدا، وجعل نزعها من القائد حلا لعقد عقده رسول الله ﷺ، بل فوق ذلك يثبت قوله هذا أن عقد الراية هو الطريقة الشرعية والوحيدة لتأمير أمير الجيش، فحين روجع في إمارة أسامة، لم يقل لا نستبدل به غيره، ولم يخطر له إلا أن يقول بأن هذا لواء عقده الرسول ﷺ، وكيف لي أن أحله، فقد كان متركزا في الدولة الإسلامية أن تأمير الأمير لا يتم إلا بطريقة واحدة وهي عقد لواء له، ومن ثم هو يستأذن أسامة - وقد عقد له رسول الله ﷺ اللواء قبيل وفاته - في عمر، فالجند أمرهم لمن عقدت له راية الحرب، وطاعته عليهم واجبة. وبما أنها الطريقة الشرعية لعقد الإمارة، فحكم وجودها واجب، إذ لا يتم الواجب إلا بها.

Jadi, mengakadkan rayah dan liwa kepada pemimpin pasukan adalah perkara yang wajib dilakukan. Dengannya semua pasukan wajib ta'at. Penyerahan rayah dan liwa tersebut merupakan bukti pengangkatan pemimpin pasukan. Adanya pemimpin pasukan yang ditaati adalah wajib. Maka penyempurna kewajiban tersebut juga merupakan wajib, yakni penyerahan dan keberadaan rayah dan liwa.

Adapun terkait bentuk dan warna, syaikh Abu Malik melanjutkan,

وأما المسألة الثانية، وهي أشكال الرايات وألوانها فاعلم أن الراية واللواء يمثلان شعارا لدولة تجاهد لجعل كلمة الله هي العليا، فنهي الرسول ﷺ عن القتال تحت رايات الجاهلية أمر بالقتال تحت راية الحق، واتخاذه لهذه الراية وعقدها للقادة دليل على أنهم يقاتلون تحتها، فهي تأخذ حكم ما جعلت له، فالحكم العام هو وجوب الجهاد، ووجوب تأمير أمير للجيش وعقد الإمارة بإعطائه اللواء، وهذا الأصل العام قام عليه الدليل، وتفاصيل كون الراية سوداء أو أن يكون مكتوبا عليها كلمة التوحيد لا يحتاج إلى دليل خاص به، ويكفي الدليل العام الذي يدل على أصله، ولا يقال إن هذه الأساليب أفعال للعبد فلا يصح أن تجري إلا حسب الأحكام الشرعية؛ لا يقال ذلك لأن هذه الأفعال جاء الدليل الشرعي على أصلها عاماً، فيشمل كل ما يتفرع عنها من الأفعال، إلا أن يأتي دليل شرعي على فعل متفرع عن الأصل فحينئذٍ يتبع حسب الدليل...

فأما وجوب وجود راية، فهذا مما لا شك فيه، فهي أمر قام به الرسول ﷺ على وجه مخصوص في كل الغزوات والسرايا، وجعل عقدا يوجب طاعة الجند بموجبه للقائد، فوجود راية هو أمر واجب، والمسألة الثانية: تفاصيل هذه الراية، وهذه إما أن يتبع فيها التفاصيل التي ارتضاها الرسول ﷺ وإن لم ينص على وجوب اتباعها ولم يستوجب عقوبة على ترك اتباعها، من باب التأسي بالرسول عليه الصلاة والسلام، فحكم شكلها ولونها يتراوح بين الإباحة والندب، أو أن يقال بأنها من الأساليب الإدارية للدولة، وهذه لا تحتاج لدليل خاص بها، بل يشملها الدليل العام وهو دليل وجوب الجهاد، ودليل وجوب تأمير الأمير وعقد الراية له، وحينذاك يترك أمر تفاصيل شكلها للخليفة على أن لا تكون هذه الأشكال والألوان مما اقترن بالرايات العمية وأضحى علما عليها، كأعلام مصر والجزائر والسعودية والأردن وما شابه، فلا يجوز اتخاذها لأنها تمثل الراية العمية مضمونا، وحين نجد الرسول والصحابة من بعده اختاروا اللون الأسود، والشكل المربع، وكتابة كلمة التوحيد أحيانا، وأحيانا أن تكون الرقعة السوداء مخططة كجلد النمر، فإن الأولى هو التأسي بهم في هذه الأشكال والألوان، قال رسول الله ﷺ:‎ «من أطاعني فقد أطاع الله، ومن عصاني فقد عصى الله، ومن أطاع أميري فقد أطاعني، ومن عصى أميري فقد عصاني» رواه مسلم والبخاري والنسائي، وأقل ما يقال هنا هو أن من يتأسى بالرسول ﷺ لا يقال عنه بأنه مخبول، أو أنه يدخل في الإسلام ما ليس منه!.

Dalil umum yang tidak ada keraguan di dalamnnya adalah tentang kewajiban jihad, kewajiban mengangkat pemimpin pasukan, kewajiban penyerahan al-rayah dan al-liwa kepada pemimpin pasukan yang wajib ditaati, dan termasuk kewajiban adanya al-rayah dan al-liwa. Adapun terkait bentuk, warna dan tulisan tauhid adalah perkara cabang yang sebenarnya tidak memerlukan dalil khusus/tersendiri. Cukup dengan adanya dalil umum tersebut. Hal ini seperti kewajiban menunaikan zakat sebagaimana beliau terangkan, ada dalil umum yang menyangkut perkara pokok ("dan tunaikanlah zakat") dan ada perkara cabang.

Hal cabang lainnya masuk dalam aspek administrasi negara. Terkait bentuk, dimana dalam satu riwayat bentuknya segi empat, terbuat dari kain wol, dst. Terkait warna, dalam riwayat yang lebih kuat, al-rayah dan al-liwa Nabi berwarna hitam dan putih. Meski ada riwayat yang menyatakan warna lain. Demikian juga terkait lafazh tauhid yang tertulis di atasnya, kadang disebutkan termaktub ada, dan kadang dalam riwayat lain berbeda.

Ini semua (bentuk, warna, kalimah tauhid) masuk dalam bab al-ta'asi bi af'al al-rasul, yakni menyerupai apa yang dikakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Implikasi hukumnya bisa masuk kategori mubah atau sunnah.

Khusus untuk kalimah tauhid, tidak ada kalimat yang menunjukkan ketinggian, menyatukan dan merupakan puncak kesucian, kecuali kalimah tauhid itu.

Jika demikian apakah masih dianggap tepat dengan menisbatkan kepada Rasulullah dengan mengatakan ini bendera dan panji Rasulullah?

Itu semua harus kita pahami dalam bangunan ijtihad. Bahwa ijtihad kami al-rayah Nabi itu berwarna hitam dan al-liwanya berwarna putih termaktub di atasnya tulisan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ, dengan bentuk segi empat dan penggunaan yang berbeda untuk keduanya. Jadi itu merupakan ijtihad sebagian ulama. Ijtihad itu ada dalam wilayah zhanni.

Dengan demikian tidak salah mengatakan bahwa al-rayah dan al-liwa yang saya jelaskan di atas, berdasarkan ijtihad ulama kami merupakan panji dan bendera Rasulullah. Perlu dipahami bahwa hasil ijtihad itu adalah fiqih, dan fiqih adalah bagian dari hukum syara'.

Apakah saya tidak jujur dengan ilmu?

Nasihat tersebut juga kembali kepada siapa saja yang berbicara mengatasnamakan ilmu.

Apa sebenarnya pelajaran berharga dari semua ini?

1- Perdebatan tentang ini, harus dibangun pada keyakinan tentang hukum syara', bukan penolakan terhadap hukum syara'. Itu dulu.
2- Mengenai status hadits, memang sudah biasa, ada perbedaan di kalangan ulama', kadang di kalangan ahli hadits sendiri bisa berbeda. Begitu juga antara ahli hadits dengan ahli fiqih, dan ahli fiqih dengan ahli fiqih. Tetapi, selama status hadits tersebut memenuhi syarat "maqbul", maka tidak ada masalah. Itu sudah biasa terjadi di kalangan ulama'.
3- Nah, soal hadits "maktub 'alaihi", itu kita bisa merujuk hasil kajian al-'Allamah al-Muhaddits Abdul Hayy al-Kattani, dalam Nizham al-Hukumah.

Hadanallahu wa iyyakum.

Di atas Kereta Api "Malabar" Jurusan Yogyakarta-Bandung

Tasikmalaya, 11 Nopember 2018

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget