The Great Muslim Generation (Road To 212)



Oleh : Nazril Firaz Al-Farizi

Mercusuarumat.com. Judul di atas sama sekali tidak bersangkutan dengan nama sebuah komunitas dakwah, karena kami menghindari prilaku ujub (bangga diri) terhadap sebuah wadah atau amalan yang diperbuat. Cukup hanya mencari ridho Allah ta'ala.

Kami maksudkan judul di atas kepada seluruh kaum muslim yang hidup di zaman now, hidup di era ke-4, hidup di fase Mulkan Jabriyan, hidup di bawah kepemimpinan diktator, hidup di bawah peraturan sistem kufur yang sudah berdiri sejak lebih dari 90 tahun. Dimana judul diatas "The Great Muslim Generation" sudah Allah sebutkan di dalam firman-Nya :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [QS. Ali Imron: 110]

Dan diperkuat oleh sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam :

إِنَّكُمْ تُتِمُّونَ سَبْعِينَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ

"Kalian menyempurnakan 70 umat. Kalian umat terbaik dan yang paling mulia di hadapan Allah." [HR. Ahmad no. 11587, Tirmidzi no. 3271 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth]

Kalian atau kamu disana hanya tertuju kepada kita kaum muslim sebagai umat yang terbaik meski kita lihat kondisi saat ini menunjukan kebalikan dari apa yang Allah dan Rasul katakan, dikarenakan perbuatan kaum muslim sendiri, yaitu tidak kaffah dalam melaksanakan amar makruf dan nahi munkar, tetapi hanya di dalam perkara-perkara yang bersifat ritual semata, ibadah mahdah semata dalam beramar makruf nahi munkar. Selebihnya kembali kepada konsep-konsep kafir Barat yang dijadikan standar benar-salah.

Tetapi perkara amar makruf nahi munkar ini sudah berkembang tidak hanya dilakukan oleh masing-masing individu atau masing-masing kelompok dalam aksi-aksinya yang tunggal, tetapi alhamdulillah dengan rahmat Allah ta'ala sejak akhir 2016 terjadi sebuah peristiwa dimana melakukan amar makruf nahi munkar ini mulai dilakukan kaum muslim secara serentak, kompak, bersatu dari berbagai kalangan dan organisasi Islam menjadi satu kekuatan besar dan dahsyat yang menggetarkan rezim dzalim durjana di Aksi 411 dengan jumlah massa sekitar lebih dari 2 juta orang dan aksi yang lebih fenomenal adalah Aksi 212 dengan jumlah massa sekitar lebih dari 7 juta orang.

Kedua aksi besar itu merupakan aksi yang tidak pernah terjadi sebelumnya di Indonesia, bahkan dunia. Dari jumlah massa pun tidak pernah ada aksi yang mencapai 7 juta orang berkumpul melakukan amar makruf nahi munkar berbarengan. Bahkan jika berbicara jumlah, Media Center Haji (MCH) menerima rilis dari Pemerintah Saudi melalui Pusat Komunikasi Internasional soal data penyelenggaraan Haji 2018. Isinya, total jemaah haji dari seluruh dunia yang datang ke Tanah Suci tercatat 2.371.675 orang. Angka itu terdiri dari 612.953 jemaah Saudi dan 1.758.711 jemaah non-Saudi. Untuk kategori jenis kelamin, terdiri dari 1.327.127 jemaah laki-laki dan 1.044.548 jemaah perempuan.

Jumlah jemaah haji saja yang datang menyelenggarakan ibadah haji tiap tahun pun hanya kisaran di angka 2,3 juta orang dari seluruh dunia, tetapi di Indonesia pernah ada aksi yang diisi oleh persatuan kaum muslim dari berbagai kalangan dan organisasi hingga mencapai lebih dari 7 juta orang.

Jika kita berbicara soal masyarakat, maka tidak hanya saja sekedar kumpulan individu semata, tetapi di masyarakat terdapat perasaan, pemikiran dan peraturan. Maka ketika kita melihat kaum muslim hingga bisa menyatu dan melakukan aksi 411 dan 212 dengan jumlah massa yang begitu besar, ditambah masih hangat dalam ingatan kita, di sepanjang akhir Oktober hingga awal November pun kaum muslim telah menyatu dan bangkit melakukan aksi bela kalimat tauhid. Semua itu adalah dorongan perasaannya yang memang masih Islam, meski dari segi pemikirannya masih belum semua sama.

Kaum muslim masih memiliki perasaan Islam dan itu akan muncul ketika Allah, Rasul dan Islam itu sendiri dihinakan, diinjak-injak, dilecehkan, dsbnya oleh kaum munafik, fasik, dzalim dan kafir. Bahkan seorang preman terminal, pengamen jalanan, seorang jawara yang anggaplah jauh kepada Allah, mereka pun akan bereaksi dengan perasaannya ketika Allah, Rasul dan Islam dilecehkan.

Hingga saat ini alhamdulillah dengan rahmat Allah, kaum muslim khususnya di Indonesia tetap masih menjaga dan mempertahankan kesatuan ini, termasuk selalu kompak bersama dalam menggelar aksi-aksi besar baik di ibukota maupun di berbagai kota-kabupaten lainnya di seluruh Indonesia.

Dan momen yang masih dipertahankan adalah momen 212 yang tidak hanya diselenggarakan di 2016 saja, tetapi di 2017 dengan reuni akbar, dan rencana akan digelar kembali pada 2 Desember 2018 nanti sebagai reuni akbar jilid 2.

Saat ini kaum muslim sedang bergerak mengarah menuju kepada The Great Muslim Generation dengan tidak hanya satu perasaan dalam melakukan aksi-aksi kolosal, tetapi akan terus berkembang menjadi satu pemikiran dimana hal itu akan terbentuk ketika kaum muslim yang tergabung dalam aksi ini menyadari segala kerusakan yang terjadi seperti apa dan menyadari solusi tuntas yang hakiki pun seperti apa.

Kesatuan pemikiran yang ada di kesatuan kaum muslim yang konsisten melakukan aksi-aksi besar sebagai bentuk amar makruf nahi munkar untuk menuju menjadi umat yang terbaik (khairu ummah) akan tertuju menginginkan perubahan, karena pada fitrahnya manusia akan selalu menginginkan perubahan kepada yang lebih baik.

Perubahan yang sudah menjadi satu pemikiran ini adalah perubahan mendasar yang merupakan kebalikan dari peristiwa 3 Maret 1924, yaitu perubahan total menuntut pergantian sistem Kapitalisme Demokrasi kepada Syariah dan Khilafah. Perubahan ini akan terjadi secara alami atas kesadaran utuh dan penuh dari kaum muslim itu sendiri setelah tertidur panjang hampir 1 abad lamanya.

Oleh karena itu momen 212 adalah momen kolosal dimana umat Islam membentuk sejarah baru untuk bersatu menjadi kekuatan yang besar dan dahsyat yang menjadi pertanda bahwa perubahan besar akan terjadi dan ketika itulah fase ke-5 akan masuk menggantikan fase ke-4.

Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw., Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin?” Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khutbah Nabi saw.” Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapuskanya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masaitu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menhapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian datanglah masa Khilafah ‘ala minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam.” [HR. Ahmad no.17680; juga musnad al-Bazzar no. 2796]

Mari satukan perasaan, kemudian berusaha untuk satukan pemikiran umat agar akhirnya umat menginginkan satu peraturan sebagai bentuk perwujudan secara kaffah atas kalimat tauhid yang tertanam dalam diri umat yang selalu dikibarkan pada bendera Al-Liwa dan Ar-Rayah. Momen 212 adalah momen umat menuju The Great Muslim Generation, menjadi Umat Terbaik. Allahu Akbar !!!

Wallahu alam bishowab.
Nazril Firaz Al-Farizi

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget