December 2018



Oleh : El-Fata Abdurrahman

Tidak ada satu pun kejahatan yang pernah dilakukan oleh HTI. Tapi, musuh-musuh muslimin senantiasa memfitnah dan memonsterisasi HTI. Para anggota HTI tidak pernah terlibat korupsi, menjual aset negara bahkan tidak pernah melakukan aksi separatis seperti OPM dan GAM.

Dibubarkannya HTI tanpa ada alasan yang jelas. TIDAK ADA putusan pengadilan yang menyatakan bahwa HTI merupakan organisasi terlarang. Dicabutnya BHP HTI merupakan tindakan sewenang-wenang rezim tanpa ada satu aturan perundang-undangan yang dilanggar oleh HTI.

Tuduhan Anti-Pancasila, Anti-NKRI, hanyalah fitnahan yang tidak terbukti. Adapun mendakwahkan Khilafah, seharusnya dilindungi oleh negara karena Khilafah adalah ajaran Islam. Dimana Islam adalah agama yang diakui di negeri ini.

Disaat Indonesia dicekik oleh utang luar negeri yang menggunung, SDA banyak yang dikangkangi asing, perekonomian yang memburuk, korupsi yang semakin menjadi-jadi, degradasi moal yang semakin parah. HTI hadir untuk menawarkan solusi yang paling mendasar, yakni penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan untuk selamatkan negeri.

Jalan perjuangan HTI hanyalah dengan dakwah, HTI hanya menawarkan solusi tanpa memaksa, HTI hanya berkata-kata dan takkan mengangkat senjata. Lalu dimana bukti yang nyata HTI akan merusak keutuhan bangsa?

Yang jelas merusak keutuhan bangsa adalah OPM, yang jelas menyengsarakan rakyat adalah koruptor dan penguasa yang menjadi pelayan asing, yang jelas memecah belah bangsa adalah mereka yang menistakan agama dan menghinakan ajaran islam.

Para perusak negeri ini malah meneriaki HTI sebagai ancaman keutuhan negeri. Padahal, mereka sendiri yang merusak dan memperkeruh suasana damai di negara ini. Justu, HTI ingin menyelamatkan negara ini dan HTI takkan pernah rela sejengkal tanah indonesia lepas dan memisahkan diri.[]




DIDUGA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI) MELAKUKAN STIGMATISASI DAN DOKTRINASI TERHADAP MAHASISWA TERKAIT ORGANISASI DAKWAH ISLAM, HTI.

Oleh : Chandra Purna Irawan,SH.,MH.
(Ketua eksekutif nasional BHP KSHUMI & Sekjen LBH PELITA UMAT)

Berdasarkan surat No.137/SUD/B2/PAN.SEMINAR/Eks/BPO.SENAT FPIPS/XII/2018 dan poster yang beredar di Media sosial diduga diterbitkan oleh BPO SENAT MAHASISWA FPIPS dan diduga surat No. 12094/UN40.R4/TU/2018 yang ditandatangani a.n wakil rektor bidang riset, kemitraan dan usaha Universitas Indonesia ( UPI ) menyelenggarakan seminar dengan tajuk " Bahaya HTI Terhadap Keutuhan NKRI ", diselenggarakan hari Kamis ( 13 Desember 2018) jam 08.00 di Auditorium FPMIPA UPI.



Kampus adalah lembaga sivitas akademika, tempat mendiskusikan berbagai disiplin ilmu dan sudut pandang. Agar memiliki keseimbangan dan keadilan maka penyelenggara seharusnya menghadirkan pihak HTI sebagai pihak yang dituduh, agar terciptanya keadilan sehingga tidak menimbulkan fitnah dan pencemaran nama baik organisasi dakwah Islam seperti HTI. Sebagaimana diatur didalam pasal 310 KUHP Jo. 311 KUHP tentang pencemaran dan fitnah.

Sebaiknya kampus mengedepankan dialog dan argumentasi intelektual, adil dan berimbang, memberikan wawasan mahasiswa dengan berbagai literasi termasuk dari pihak yang sedang dijadikan atau difitnah. Tidak elok menghadirkan pihak yang sudah dikeluarkan dari HTI, lalu diundang untuk menyampaikan HTI.

Seperti suami istri yang sedang bercerai, lalu salah satu diantaranya diundang untuk menceritakan dan menjelaskan mantan pasangan nya, besar kemungkinan ia akan menjelekkan jelekan mantan pasangan nya.

Jika hal itu dilakukan sama saja sedang membangun narasi jahat, dan seolah-olah memaksa pendengar untuk mempercayai atau dengan kata lain melakukan stigmatisasi dan doktrinisasi. Semestinya hal itu tabu dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi.

Membangun narasi atau melakukan fitnah terhadap HTI berbahaya bagi NKRI, itu perbuatan yang tidak layak disebut sebagai kaum intelektual. Semestinya civitas akademika merujuk pada sumber primer nya yaitu kitab atau buku yang diterbitkan resmi. Sebagai wujud kaum intelektual yang memiliki literasi tinggi, kecuali sebaliknya.

Di dalam riset saja yang menjadi rujukan utama adalah sumber primer, jika tidak ada sumber primer bagaimana mungkin penelitian tersebut dapat dipertanggung jawabkan.

Terkait HTI, HTI adalah organisasi dakwah yang mengajak anak bangsa agar menjadi manusia bertaqwa dan berakhlak.

HTI hanya mendakwahkan ajaran Islam yaitu Khilafah, khilafah adalah ajaran Islam yang ada penjelasan didalam Al Qur'an, As-sunah dan dipraktekkan oleh para sahabat Rasulullah SAW yang dikenal Khilafah Rasyidah. Khilafah adalah pemersatu umat Islam, khilafah selamatkan negeri yaitu menyelamatkan Indonesia agar menjadi negeri yang berkah dan bermartabat atau 'baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur'. Lantas kenapa dituduh berbahaya bagi NKRI?!.

HTI tidak pernah mencuri kekayaan negara, tidak pernah korupsi, tidak pernah melakukan kekerasan, tidak pernah memberontak.HTI tidak pernah melakukan kudeta dan pemberontakan.

HTI murni berdakwah dengan pendekatan pemikiran, tanpa kekerasan dan tanpa fisik. Methode dakwah HTI adalah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi SAW. Semua materi dakwah yang disampaikan murni ajaran Islam dan tidak ada satupun yang menyimpang darinya.

Tidak ada satupun jiwa yang meninggal karena menjadi korban dakwah HTI atau fasilitas publik yang rusak akibat dakwah HTI. Berbeda dengan PKI yang terbukti membunuh para pahlawan revolusi dan terbukti melakukan kudeta.

HTI BUKAN ORMAS TERLARANG. Bahwa Putusan PTUN Jakarta hanya menguatkan status pencabutan BHP HTI, tidak ada amar putusan PTUN Jakarta yang menyatakan HTI sebagai organisasi terlarang, termasuk tidak ada amar putusan yang menetapkan ajaran Islam yaitu Khilafah sebagai ajaran atau paham yang dilarang.

Berbeda kasus dengan HTI, contoh faktual organisasi yang dibubarkan, dinyatakan terlarang dan paham yang diemban juga dinyatakan sebagai paham terlarang, yakni kasus pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terbukti telah memberontak kepada negara.

Melalui TAP MPRS NO. XXV/1966, didalamnya tegas menyebutkan tiga hal. Pertama, pernyataan pembubaran PKI. Kedua, pernyataan PKI sebagai organisasi terlarang. Ketiga, pernyataan pelarangan paham atau ideologi yang diemban PKI yakni marxisme/leninisme, atheisme, komunisme.

Wallahu alam bishawab

Jakarta, 13 Desember 2018.



Mercusuarumat.com. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia, FPIPS UPI, hari ini akan menyelenggarakan seminar dengan tema "Bahaya HTI Terhadap Keutuhan NKRI". Banyak pihak yang mempertanyakan objektivitas penyelenggara, karena tidak mendatangkan pembicara dari pihak tertuduh, Hizbut Tahrir Indonesia.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum Pelita Umat (LBH Pelita Umat), Ketua Korwil LBH PELITA UMAT Jawa Barat, Agus Gandara,SH.,MH. Atas nama lembaga, Ia berharap pihak penyelenggara mengedepankan dialog dan argumentasi intelektual, adil dan berimbang. Jika tidak, menurut Ia dikhawatirkan diduga berpotensi akan memunculkan perlawanan dari kaum intelektual yang didukung organisasi massa, sehingga khawatir terjadinya kemarahan masif yang diduga berpotensi terjadinya kekacauan ditengah-tengah masyarakat.

Ia juga dalam press releasenya, Rabu (12/12), Ia menekankan bahwa kampus adalah lembaga sivitas akademika, tempat mendiskusikan berbagai disiplin ilmu dan sudut pandang. "Agar memiliki keseimbangan dan keadilan maka penyelenggara wajib menghadirkan pihak HTI sebagai pihak yang dituduh, agar terciptanya keadilan sehingga tidak menimbulkan fitnah dan pencemaran nama baik organisasi dakwah Islam seperti HTI", terangnya. [IW]



Mercusuarumat.com. Senat Mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (FPIPS UPI), hari ini, Kamis, 13 Desember 2018 hendak melangsungkan seminar bertajuk "Bahaya HTI Terhadap Keutuhan NKRI". Ada Beberapa catatan kritis yang hendak penulis sampaikan:



Pertama, sebagai lembaga pendidikan tinggi, universitas adalah tempat bertukar pikiran secara ilmiah. Di kampus pemikiran dari berbagai sudut pandang dapat didiskusikan secara bertanggung jawab, adil dan bijaksana. Penyelenggara dinilai lalai dalam menjunjung prinsip ini, justru penyelenggara terindikasi dengan sengaja mengatur arah seminar untuk mendiskreditkan Hizbut Tahrir Indonesia. Hal ini didasarkan dari tokoh pembicara yang didatangkan oleh penyelenggara. Penyelenggara tidak mendatangkan pembicara dari pihak HTI, padahal dengan jelas konten yang diseminarkan adalah Hizbut Tahrir Indonesia. Dikhawatirkan arah seminar menjerumus pada fitnah, caci dan hoaks, yang bertentangan dengan prinsip tanggung jawab, adil dan bijaksana.

Lewat judul seminar yang persuasi dan provokasi, penyelenggara terindikasi menggiring opini mencitra burukan HTI. HTI sebagaimana pengamatan penulis hingga detik ini tidak pernah terindikasi membahayakan Indonesia. Tidak ada berita yang menjelaskan HTI melakukan bom bunuh diri, tidak pernah ada pemberontakan HTI untuk melepaskan diri dari NKRI, juga tidak ada fakta yang menggambarkan HTI punya rencana mengkudeta negeri ini. HTI pun bukan organisasi terlarang yang terang-terang dibubarkan pemerintah. Tidak seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), yang dengan jelas telah dibubarkan pemerintah dan dilarang untuk menyebarkan fahammnya, karena mereka dengan terang-terangan membunuh para pahlawan dan memberontak pemerintah yang sah, Indonesia.

Selanjutnya, sebagai fakultas yang fokus pada bidang sosial, seharusnya konten seminar berkaiatan dengan fakta sosial yang sedang terjadi di Indonesia yang kemudian bisa dikaitkan dengan pembelajaran mahasiswa atau sering dikenal dengan model pembelajaran kontekstual. Penyelenggara dinilai tidak utuh mencerna fakta. Detik ini yang nyata-nyata menbahayakan NKRI adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM) bukan HTI!

OPM, dengan segala syarat telah jelas masuk kategori organisasi yang membahayakan NKRI. OPM secara fakta telah membunuh puluhan warga Indonesia, OPM terbukti ingin memisahkan diri dengan Indonesia dan OPM telah jelas mempunyai senjata dan pasukan militer untuk menjalankan visinya. Sedangkan HTI, hanya organisasi dakwah yang menjalankan visinya tanpa kekerasan. HTI berdakwah sesuai ajaran Islam. Salah satu ajaran Islam yang mereka dakwahkan adalah khilafah.

Terakhir, wahai penyelenggara, Apakah khilafah, yang anda maksud membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia? [IW]



Mercusuarumat.com. Namanya Jaenudin, "Nabi baru" yang heboh di dunia milenia. Setiap sabdanya apik direalisasikan ribuan bahkan jutaan pengikutnya. Entah bagaimana, sudah diingatkan oleh umat lainnya bahwa Jaenudin bukan Nabi tetap saja banyak umat terhipnosis doktrin sesatnya.

Pernah suatu saat ia bersabda akan menindak habis pelaku persekusi, "Negeri ini akan jadi peradaban barbar jika main hakim sendiri" sabdanya. Betul saja, pengikutnya dengan santun mengerjakan titah mulianya.
Ia babat habis mereka yang hendak "main hakim sendiri". Dengan berpakaian ala tentara mereka melahap habis hak berbicara umat lain untuk ingatkan kesesatan sabdanya.

Jaenudin, bukan Nabi namamya jika Ia tak punya mukjizat bak nabi lainnya. Hebat benar mukjizatnya, ia pandai beretorika sampai-sampai media di negerinya tunduk pada titahnya. Pernah suatu saat, jaenudin berkeliling mengontrol para pengikutnya, setiap sisi kehidupannya tak luput dari penilaian positif awak media. Dengan mukjizatnya media bertekuk lutut dihadapannya.

Bukan hanya ini, mukjizat selanjutnya, Ia punya perlindungan ekstra spektakuler luar biasa. Hukum di negerinya tak mempan hadapi Ia dan para pengikutnya. Pernah suatu waktu pengikutnya terlihat asyik menghina umat lainnya. Bahkan hujatan, fitnah dan sebar berita bohong juga sering dilakukan pengikutnya. Tapi penegak hukum negerinya tak berani hukum mereka, karena apa? Karena mereka punya perlindungan ekstra spektakuler luar biasa.

Fenomena Nabi palsu sudah ada saat Nabi Muhammad Saw masih hidup, bodohnya sampai detik ini ada saja pengikut Nabi palsu yang jelas-jelas salahnya. Padahal telah jelas, Nabi Muhammad Saw adalah Nabi terakhir yang diutus Allah Swt. Lewat firman-Nya Allah Swt beberkan cara hidup mulia agar selamat dunia dan akhirat sana.

Jenudin. Anda akan sirna dengan sendirinya. Hakikatnya Rasulullah Muhammad Saw adalah Nabi akhir zaman sesungguhnya.

Wallahu'alam
[IW]



Mekkah, 14 April 2018 / 28 Rajab 1439 H
Oleh: Ustadz Roni Abdul Fattah, Asatidz Daarut Tauhid Bandung

Mercusuarumat.com. Setelah sholat shubuh di Masjidil Haram, saya membaca kiriman WA dari sahabat dan guru, ustadz Muhammad Ihsan Tandjung - hafizhahullah - (beliau adalah da'i senior & pakar kajian akhir zaman) tentang bahayanya berkawan dengan penguasa zhalim.

Saya heran, mengapa hadits Nabi yang mulia ini jarang dibahas bahkan hampir tak terdengar, atau jangan-jangan kitanya yang lalai dan tidak mau tahu?

Rasulullah ﷺ bersabda;

«اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ،َ»

Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin?. Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan mendukung kezhaliman mereka, maka dia bukan bagian dari golonganku, dan aku juga bukan bagian dari golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga.
(HR. At-Tirmidzi, An-Nasai dan Al-Hakim)

Saudaraku! Tahukah anda apa itu telaga Nabi ﷺ?

Setiap Nabi memiliki telaga, dan mereka berbangga dengan banyak pengikutnya yang akan singgah padanya di akherat nanti.

Telaga Rasul kita Muhammad ﷺ adalah yang paling luas dan paling ramai. Padanya ada gelas yang jumlahnya seperti bintang di langit. Siapa yang meminum air darinya maka tidak akan pernah haus selama-lamanya.

Telaga ini terletak di padang Mahsyar sebelum para hamba melewati titian shirath. Airnya mengalir dari sungai / telaga Kautsar yang ada di surga.

Namun sayang, ternyata ada umat Nabi ﷺ yang akan diharamkan meminum air dan diusir dari telaganya.

Tahukah anda wahai saudaraku, siapakah mereka itu?

Akan ada pemimpin-pemimpin yang pandai berdusta dan menzhalimi rakyatnya. Maka siapa saja yang;

1. Berkawan dengan mereka;

2. Selalu membenarkan keputusan pemerintah zhalim, meskipun dengan modal dusta;

3. Mendukung mereka menzhalimi rakyat;

4. Tidak mau tahu walau faktanya demikian tapi tetap ngotot membenarkan pemimpin yang zhalim.

Maka Rasulullah ﷺ mengancam mereka;

1. Mereka tidak akan diakui sebagai pengikut Rasulullah ﷺ. Meskipun mereka merasa diri sebagai pengikut Sunnah / Salaf.

2. Rasulullah ﷺ tidak sudi dianggap oleh mereka. Wa Lastu Minhu

3. Mereka akan diusir dari telaga Nabi ﷺ.

Wahai para Ulama ...
Wahai para Ustadz ...
Wahai para Muslim ...
Ittaqullah, takutlah kepada Allah!!!
Ta'atilah Rasulullah SAW

Kalian semua merasa di atas Sunah Rasulullah ﷺ, padahal beliau tidak mengakui. Karena kalian selalu membela penguasa yang zhalim dengan dalih ulul Amri, padahal sudah jelas berkali-kali mendzholimi umat Islam malah mendukung penista ayat suci, dan mengkriminalisasi ulama.

Allah SWT berfirman:

ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظّٰلِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh, orang-orang zalim itu akan mendapat azab yang sangat pedih
(QS. Asy-Syura: Ayat 21)

Bukankah Nabi yang mulia pernah mengingatkan kita dari semenjak empat belas abad setengah yang lalu - kurang lebihnya -;

غير الدجال أخوف على أمتي من الدجال؟

"Selain Dajjal ada yang lebih aku takuti atas umatku?"
Karena khawatir beliau masuk ke dalam rumahnya, maka aku (Abu Dzar Al-Ghiffari, rawi hadits ini) bertanya;

يا رسول الله أي شيء أخوف على أمتك من الدجال؟

"Wahai Rasulullah sesuatu yang lebih engkau takuti menimpa umatmu selain Dajjal itu apa?"

Beliau menjawab;

الأئمة المضلين
Para pemimpin yang menyesatkan.

Allah Ta’ala berfirman,

يُخٰدِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 9)

Saudaraku hati-hati dalam memilih pemimpin, karena semuanya akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah kelak di akherat.

Allah Ta’ala berfirman:

Barang siapa diantara kamu berteman baik, menjadi penolong, teman setia, menjadikan mereka orang-orang munafik atau Kafir yang memusuhi agamamu menjadi pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?

Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah?

Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan kepadaNya.

(Lihat QS. An-Nisa : 88-89, 138-139; Ali-'Imran :118; At-Taubah :16; Al-Mujaadilah :14-15, 22; Al-Mumtahanah :1&13)

(Ustadz Roni Abdul Fattah Daarut Tauhid Bandung)




Aksi 212 kemarin menunjukkan satu hal yang menggembirakan, yakni persatuan umat Islam.

Allah SWT dalam al-Quran:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا…
 Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah dan jangan bercerai berai… ( TQS Ali Imran [3]: 103).

Imam as-Samarqandi berkata, “Wa’tashimû bi hablillâh (Berpegang teguhlah kalian pada tali Allah)” bermakna, “ Tamassakû bi dînillâhi wa bi al-Qur’ân " (Berpegang teguhlah kalian semuanya dengan agama Allah dan al-Quran)”. (As Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, 1/234). Artinya, persatuan umat yang hakiki adalah yang diikat oleh al-Quran. Karena itu persatuan umat Islam sejatinya bukan sekadar “kerumunan massa”. Persatuan umat Islam harus benar-benar didasarkan pada al-Quran.

212 awalnya simbol pembelaan atas Al Qur'an, tahun ini menjadi simbol pembelaan kalimat tauhid, dan mungkin kelak akan menjadi momen pembelaan islam sebagai jalan hidup (ideologi).

Islam sebagai ideologi justru harus terus diperjuangkan agar membumi. Sebab, Islam ideologi tidak lain adalah Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan (ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dll) dengan syariah yang terpancar dari akidah Islam. Hanya Islam seperti inilah—bukan Islam yang hanya berkutat dengan aspek ritual, spiritual dan moral belaka—yang bisa menjadi  rahmatan lil ‘alamin.

Alhasil, Gerakan 212 bukan saja menjadi momentum persatuan umat tapi bagaimana agar umat berkonsolidasi menyatukan visi politik Islam agar menjadi kekuatan politik di negeri ini. Targetnya tentu bukan sekadar agar kaum Muslim bisa meraih kekuasaan. Yang lebih penting adalah agar Islam benar-benar berkuasa hingga negeri ini benar-benar bisa diatur dengan syariah Islam secara kaffah. Sebab, tentu tak ada artinya kaum Muslim duduk di tampuk kekuasaan,  sementara Islam dicampakkan,  lalu yang diterapkan dan yang tetap berkuasa adalah sistem sekular seperti sekarang ini.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?.” (QS. Al Maidah: 50).

[tdk]



Oleh : KH. Hafidz Abdurrahman, MA.

Mercusuarumat.com. Nasehat adalah hak setiap orang, mulai dari rakyat jelata hingga para penguasa. Artinya, mereka mempunyai hak untuk dinasehati, dan sebaliknya menjadi kewajiban bagi setiap orang Mukallaf, tatkala menyaksikan kemungkaran atau kezaliman yang dilakukan oleh orang lain; baik pelakunya penguasa maupun rakyat jelata. Inilah yang dinyatakan dalam hadits Nabi:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasehat, untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim, dan orang-orang awam.” (H.r. al-Bukhari dan Muslim)

Karena itu, nasehat sebagai upaya mengubah perilaku munkar atau zalim orang lain —baik penguasa maupun rakyat jelata— sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari konteks dakwah bi al-lisan (melalui lisan maupun tulisan), sebagaimana sabda Nabi:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ

“Siapa saja yang menyaksikan kemunkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya.” (H.r. Muslim)

Inilah yang dilakukan oleh para ulama Salaf as-Shalih terdahulu, seperti Abdullah bin Yahya an-Nawawi kepada Sultan Badruddin. Dalam Tahdzib al-Asma’, karya Abu Yahya Muhyiddin bin Hazzam disebutkan, tatkala Abdullah bin Yahya an-Nawawi mengirim surat kepada Sultan Badruddin, dan baginda menjawab suratnya dengan marah dan nada ancaman, ulama’ ini pun menulis surat kembali kepada baginda, “Bagiku, ancaman itu tidak akan mengancam diriku sedikitpun. Akupun tidak akan mempedulikan-nya, dan upaya tersebut tidak akan menghalangiku untuk mena-sehati Sultan. Karena saya berkeyakinan, bahwa ini adalah ke-wajibanku dan orang lain, selain aku. Adapun apa yang menjadi konsekuensi dari kewajiban ini merupakan kebaikan dan tambahan kebajikan.”

Adapun jenis kemunkaran yang hendak diubah, dilihat dari aspek bagaimana pelakunya melakukan kemunkaran tersebut dapat diklasifi-kasikan menjadi dua:

Pertama, kemunkaran yang dilakukan secara diam-diam, rahasia dan pelakunya berusaha merahasiakannya;

Kedua, kemunkaran yang dilakukan secara terbuka, demonstratif dan pelakunya tidak berusaha untuk merahasiakannya, justru sebaliknya.

Jenis kemunkaran yang pertama, dan bagaimana cara mengubah kemunkaran tersebut dari pelakunya, tentu berbeda dengan kemunkaran yang kedua. Orang yang tahu perkara tersebut hendaknya menasehatinya secara diam-diam, dan kemunkaran yang dilakukannya pun tidak boleh dibongkar di depan umum. Sebaliknya, justru wajib ditutupi oleh orang yang mengetahuinya. Nabi bersabda:

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةً فَكَأَنَّمَا اِسْتَحْيَا مَوْءُوْدَةً مِنْ قَبْرِهَا

“Siapa saja yang menutupi satu aib, maka (pahalanya) seolah-olah sama dengan menghidupkan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya.” (H.r. Ibn Hibban)

Berbeda dengan jenis kemunkaran yang kedua, yaitu kemunkaran yang dilakukan secara terbuka, dan terang-terangan. Dalam kasus seperti ini, pelaku kemunkaran tersebut sama saja dengan menelanjangi dirinya sendiri dengan kemunkaran yang dilakukannya. Untuk menyikapi jenis kemunkaran yang kedua ini, sikap orang Muslim terhadapnya dapat dipilah menjadi dua:

1- Jika kemaksiatan atau kemunkaran tersebut pengaruhnya terbatas pada individu pelakunya, dan tidak mempengaruhi publik, maka kemaksiatan atau kemunkaran seperti ini tidak boleh dibahas atau dijadikan perbincangan. Tujuannya agar kemunkaran tersebut tidak merusak pikiran dan perasaan kaum Muslim, dan untuk menjaga lisan mereka dari perkara yang sia-sia. Kecuali, jika kemaksiatan atau kemunkaran tersebut diungkapkan untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya orang fasik yang melakukan kemaksiatan tersebut. Maka, pengungkapan seperti ini boleh.

2- Jika kemaksiatan atau kemunkaran tersebut pengaruhnya tidak terbatas pada individu pelakunya, sebaliknya telah mempengaruhi publik, misalnya seperti kemunkaran yang dilakukan oleh sebuah institusi, baik negara, organisasi, kelompok atau komunitas tertentu, maka kemaksiatan atau kemunkaran seperti ini justru wajib dibongkar dan diungkapkan kepada publik agar mereka mengetahui bahayanya untuk dijauhi dan ditinggalkan supaya mereka terhindar dari bahaya tersebut. Inilah yang biasanya disebut kasyf al-khuthath wa al-mu’amarah (membongkar rancangan dan konspirasi jahat) atau kasyf al-munkarat (membongkar kemunka-ran).

Ini didasarkan pada sebuah hadits Zaid bin al-Arqam yang mengatakan, “Ketika aku dalam suatu peperangan, aku mendengar Abdullah bin ‘Ubay bin Salul berkata: ‘Janganlah kalian membelanjakan (harta kalian) kepada orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah, agar mereka meninggal-kannya. Kalau kita nanti sudah kembali ke Madinah, pasti orang yang lebih mulia di antara kita akan mengusir yang lebih hina. Aku pun menceritakannya kepada pamanku atau ‘Umar, lalu beliau menceritakan-nya kepada Nabi saw. Beliau saw. pun memanggilku, dan aku pun menceritakannya kepada beliau.”

Apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay, dan diketahui oleh Zaid bin al-Arqam, kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw. adalah kemunkaran (kemaksiatan) yang membahayakan kemaslahatan Islam dan kaum Muslim, bukan hanya diri pelakunya. Abdullah bin Ubay sendiri ketika ditanya, dia mengelak tindakannya, yang berarti masuk kategori perbuatan yang ingin dirahasiakan oleh pelakunya, tetapi tindakan Zaid bin al-Arqam yang membongkar ihwal dan rahasia Abdullah bin Ubay tersebut ternyata dibenarkan oleh Nabi. Padahal, seharusnya tindakan memata-matai dan membongkar rahasia orang lain hukum asalnya tidak boleh. Perubahan status dari larangan menjadi boleh ini menjadi indikasi, bahwa hukum membeberkan dan membongkar rahasia seperti ini wajib, karena dampak bahayanya bersifat umum.

Karena itu, tindakan mengkritik kebijakan zalim atau munkar yang dilakukan oleh penguasa, baik secara langsung ketika berada di hadapan-nya maupun tidak langsung, misalnya melalui tulisan, demonstrasi atau masirah, bukan saja boleh secara syar’i tetapi wajib.4 Kewajiban ini bahkan pahalanya dinyatakan sebanding dengan pahala penghulu syuhada’, yaitu Hamzah bin Abdul Muthallib, seperti dalam hadits Nabi:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ المُطَلِّبِ وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

“Penghulu syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkannya (pada kemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemunkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (H.r. al-Hakim)

Apa yang dilakukan oleh para sahabat terhadap ‘Umar dalam kasus pembatasan mahar, pembagian tanah Kharaj, hingga kain secara terbuka di depan publik adalah bukti kebolehan tindakan ini. Adapun pernyataan ‘Irbadh bin Ghanam yang menyatakan, “Siapa saja yang hendak menasehati seorang penguasa, maka dia tidak boleh mengemuka-kannya secara terbuka, tetapi hendaknya menarik tangannya dan menyendiri. Jika dia menerimanya, maka itu kebaikan baginya, dan jika tidak, pada dasarnya dia telah menunaikannya.” 5 pada dasarnya tidak menunjukkan adanya larangan mengkritik atau menasehati penguasa di depan publik, tetapi hanya menjelaskan salah satu cara (uslub) saja.

Dengan demikian, bisa disimpulkan, bahwa menasehati penguasa atau mengkritik kebijakan penguasa yang zalim, termasuk membongkar kemunkaran atau konspirasi jahat terhadap Islam dan kaum Muslim hukumnya wajib, hanya saja cara (uslub)-nya bisa beragam; bisa dilakukan langsung, dengan bertemu face to face, atau secara tidak langsung, dengan melalui tulisan, surat, demonstrasi atau masirah. Melakukan upaya dengan lisan, termasuk melalui tulisan, seperti surat terbuka, buletin, majalah, atau yang lain, baik langsung maupun tidak jelas lebih baik, ketimbang upaya bi al-qalb (dengan memendam ketidaksukaan), apalagi jika tidak melakukan apa-apa, sementara terus mengkritik orang lain yang telah melakukannya. Faliyadzu billah.



Oleh : Chandra Purna Irawan,SH.,MH.
(Ketua eksekutif nasional BHP KSHUMI & Sekjen LBH PELITA UMAT)

Mercusuarumat.com. Terkait kejadian pembunuhan terhadap 31 orang di Papua, saya ingin menyampaikan pendapat hukum. Namun sebelumnya Saya turut berduka atas meninggalnya saudara kita yang diduga ditembak oleh KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) di Papua sebanyak 31 orang.

Saya menilai tidak tepat jika disebut KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata), penyebutan ini bentuk ketidak beranian negara menindak dengan tindakan yang lebih seperti pernah dilakukan terhadap GAM (Gerakan Acheh Merdeka). Saya menduga bahwa hal ini karena banyak negara asing yang turut serta memantau situasi di Irianjaya atau Papua.

Penyebutan KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) tidak lah tepat, karena yang nama kelompok kriminal tujuannya tak jauh dari motif ekonomi, pengakuan eksistensi diri dan sosial. Tindakan nya murni berupa perbuatan kriminal atau kejahatan. Sementara yang terjadi di Papua lebih tepat disebut OPM (Operasi Papua Merdeka) atau Gerakan separatis atau gerakan yang ingin memisahkan diri dari Indonesia atau dipandang sudut hukum pidana adalah Makar.

Dalam konteks gerakan separatis, makar di atur dalam pasal 106 KUHP yang menyatakan bahwa:

“Makar (aanslag) yang dilakukan dengan niat hendak menaklukkan daerah negara sama sekali atau sebahagiannya kebawah pemerintah asing atau dengan maksud hendak memisahkan sebahagian dari daerah itu, dihukum pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun. (KUHP 41, 35, 87, 1 10, 128, 130 dst., 140, 164 dst.)”

Pasal 106 KUHP di atas, yang menjadi objek penyerangan adalah kedaualatan atas daerah negara. Dimana kedaualatan suatu negara dapat dirusak dengan 2 cara yaitu, (1) Pertama, menaklukkan kemudian menyerahkan seluruh daerah negara atau sebahagiannya kepada negara asing. (2) Kedua, memisahkan sebahagian daerah dari negara itu kemudian membuat bagian dari daerah itu menjadi suatu negara yang berdaulat sendiri.

Dalam hal ini gerakan separatis sebagaimana di sebut dalam poin (2) di atas merupakan gerakan yang memiliki tujuan untuk memisahkan sebagian dari daerah negara untuk mendirikan negara sendiri yang berdaulat. Mengacu pada pasal 106 KUHP, jelas gerakan separatis dapat dapat dikategorikan perbuatan makar karena unsur-unsur tindak pidana makar terpenuhi sebagaimana maksud dan tujuan dari gerakan separatis tersebut.

Ketidak beranian Pemerintah memberikan label Pemberontak atau pelaku makar kepada OPM (Operasi Papua Merdeka) dinilai tidak konsisten. Sementara kepada Ormas Dakwah Islam seperti HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) Pemerintah sangat terkesan ambisius dan emosional. HTI dituduh Makar, dituduh ingin mengganti Pancasila dan dituduh tidak setuju UUD 1945.

OPM sudah jelas berusaha untuk memisahkan Papua dari wilayah Indonesia, itu sama saja tidak setuju Pancasila dan UUD 1945. Jika OPM setuju Pancasila dan UUD 1945 mana mungkin mereka mau memisahkan diri dari NKRI?!.

OPM jika ditinjau dari aktivitas dan hukum, sudah memenuhi disebut pelaku Makar atau pemberontak atau separatis atau teroris. Tindakannya menebar teror, membunuh, menggalang kekuatan internasional agar negara luar mendukung mereka.

Sementara HTI hanya mendakwahkan ajaran Islam yaitu Khilafah, khilafah adalah ajaran Islam yang ada penjelasan didalam Al Qur'an, As-sunah dan dipraktekkan oleh para sahabat Rasulullah SAW yang dikenal Khilafah Rasyidah. Khilafah adalah pemersatu umat Islam, khilafah selamatkan negeri yaitu menyelamatkan Indonesia agar menjadi negeri yang berkah dan bermartabat atau 'baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur'. Lantas kenapa dituduh Makar?!.

Wallahu alam bishawab.

Jakarta, 5 Desember 2018.



Oleh Prof. Fahmi Amhar

PERTAMA

4 September 2016 - Aksi Damai "Haram Pemimpin Kafir" di Patung Kuda Monas. Dalilnya antara lain QS Al-Maidah: 51. Aksi ini dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang tidak terkait dalam kelompok pendukung cagub manapun. Aksi ini diteruskan dengan unggahan video oleh aktivis Gema Pembebasan UI (Gerakan Mahasiswa Pembebasan Universitas Indonesia), sehingga Ahok marah dan meminta ke Rektor UI agar memecat mahasiswa itu.

27 September 2016 - Ahok marah-marah di forum dinas di Kep. Seribu, mengatakan "Jangan mau dibohongin pakai ayat al-Maidah 51". MUI merespon kata-kata Ahok itu dengan mengeluarkan pernyataan sikap (lebih kuat dari fatwa) bahwa itu suatu bentuk penistaan agama.

14 Oktober 2016 - Demo sehabis sholat Jum'at dari Istiqlal ke Balai Kota menentang penistaan agama. Demo ini sekalipun sempat memacetkan jalan, tapi tidak dimuat di media mainstream.

4 November 2016 (aksi 411) - Aksi Damai besar-besaran sehabis sholat Jum'at dari Istiqlal hingga istana. Tertib, tapi di akhir ada kericuhan karena ulah provokator. Setelah aksi ini, Ahok dijadikan tersangka oleh Polisi.

2 Desember 2016 (aksi 212) - Aksi super damai dengan jumlah massa ditaksir 4 kali aksi 411, karena tergerak oleh militansi peserta aksi dari Ciamis, yang nekad berjalan kaki seteah para penyedia jasa bus mengaku ditekan agar tidak menyewakan busnya untuk peserta aksi. Bentuk aksi adalah duduk bareng dari pukul 8 hingga selesai sholat Jum'at di Monas, tapi meluber hingga Kwitang dan Bunderan HI.

KEDUA

Gerakan 212 kali ini (Reuni ke 2 atau 212 edisi 2018) jumlah peserta dikatakan oleh banyak pihak jauh lebih besar dari 212 edisi 2016 maupun 2017. Mengapa?

Tidak dapat dipungkiri salah satunya faktor pembakaran bendera hitam (rayah) bertuliskan kalimah tauhid, satu dari dua bendera yang disosialisasikan oleh HTI sebagai bendera Rasulullah saw dan bendera Khilafah mendatang. Yang demi bendera ini HTI mengalami persekusi oleh Banser di berbagai tempat; Semarang, Surabaya, dll.

Jadi, siapa pemantiknya? Lagi-lagi HTI, karena pihak pembakar berasumsi itu simbol HTI.

Hal ini terbukti dengan banyaknya Royah yang dibawa oleh peserta aksi dari berbagai golongan. Dan umat Islam tidak mempedulikan lagi ucapan orang-orang yang mengatakannya sebagai bendera HTI.

KETIGA

Aksi 212 merupakan miniatur persatuan umat Islam dari berbagai mazhab dan golongan. Dan wujud nyata persatuan yang haqiqi hanya akan terwujud dengan KHILAFAH yang bersifat tunggal.

KEEMPAT

Spirit 212 adalah tauhid, tauhid selain sebagai lawan dari syirik, juga bermakna persatuan. Dan bersatu dibawah kalimah tauhid artinya bersatu dibawah Syariah Allah. Tak dapat dipungkiri bahwa tidak ada satupun model atau sistem negara yang bisa menerapkan Islam secara baik dan kaffah kecuali Khilafah dalam beberapa fasenya. Selain, khilafah adalah bagian ajaran Islam itu sendiri, yang lahir dari kalimah tauhid (al-Quran & Sunnah). Tidak ada istilah Khilafah kalau tidak ada dua kalimah syahadat.

Wallah a'lam.

#AKSI212HTI
#AKSI212HARITAUHIDINDONESIA2016
#AKSI212HARITAUHIDINTERNASIONAL2018



Oleh: Dr. Ibnu C Ma'ruf

Mercusuarumat.com. Melihat aksi bela tauhid 212, saat ini, kita melihat dengan nyata eksistensi HTI yang sebenarnya. Jutaan manusia berseragam hitam putih dengan mengibarkan bendera rasul liwa dan roya.

Mucul pertanyaan: apakah jutaan manusia itu adalah anggota HTI yang telah bermultiplikasi secara mengagumkan dalam 1 tahun terakhir setelah BHPnya dicabut atau masyarakat awam yang tercerahkan dan terinspirasi oleh HTI yang dengan kesabaran tiada duanya telah mendakwahkan Islam secara pemikiran dan penuh kedamaian

Mana yang benar dari dua jawaban di atas tampaknya tidak penting lagi. Dalam pertarungan merebutkan hati umat menunjukkan: pemerintah kalah telak dan HTI menang dengan mengesankan. Strategi HTI yang selalu mengalah dan rezim yang terlalu arogan merupakan kunci dari kesuksesan HTI.

Jika kemarin orang tidak mengenal liwa roya, lalu HTI mengakampanyekannya dengan program Masirah Panji Rasulullah (MPR). Memang, saat itu HTI dihadang, dipersekusi, dan diintimidasi. HTI legowo dengan perlakuan tsb. Tapi lihatlah sekarang, siapa yang tidak kenal liwa roya? Bahkan, liwa roya dikibarkan dengan gagah oleh umat yang bahkan belum pernah bersentuhan dengan HTI. Lihatlah di sepanjang jalan di dekat monas, liwa dan roya dijual oleh pedagang asongan seperti kacang goreng. Saya yakin, aktivis HTI melihatnya dengan rasa syukur yang tiada duanya.

Lalu, apa arti HTI dicabut BHPnya oleh pemerintah? Hanya ada satu makna, yakni pemerintahlah yang telah melambungkan nama HTI dan meleburkan HTI dengan umat.

Pemerintah yang hanya didorong nafsu ingin cepat-cepat mematikan HTI, padahal pemerintah tidak paham sedikitpun sifat dan karakteristik HTI. HTI bukanlah ormas yang didirikan hanya karena ketokohan para pendirinya. HTI bukanlah ormas yang bergerak karena uang. HTI sama sekali berbeda dengan ormas lain. HTI adalah ormas yang dibangun di atas kesadaran yang utuh atas kondisi umat. HTI dibangun di atas akidah unk merekonstruksi peradaban Islam agar kembali seperti masa lalunya.

Dengan demikian, HTI itu seperti air yang mengalir dari gunung menuju ke lautan lepas. Apapun yang dilalui, air tersebut akan terus mengalir hingga tujuannya tercapai. Air tersebut pada awalnya memang kecil, lalu mengalir dan bersama dengan sumber-sumber lainnya, ia akan membesar dan terus membesar secara alami. Ia awalnya mengalir melalui bagian bumi paling rendah di daerah tersebut yang sering dinamakan sungai.

Maka, kesalahan fatal pemerintah adalah membendung sungai dengan arus yang besar. Akibatnya, air sungai tersebut mengalir melalui pemukiman masyarakat dan mengahunyutkan apapun yang dilaluinya.

Pemerintah sayangnya tidak mau belajar ke pemerintah Inggris, Australia, dll. Mereka juga ketakutan dengan perkembangan HT di sana, tetapi setelah mengkaji dengan seksama, mereka memutuskan untuk membiarkan air sungai mengalir di sungai. Itu lebih mudah untuk mengontrol dan mengendalikan, daripada membubarkan HT yang menjadikannya tidak terkontrol.

Namun sayang, nasi sudah terlanjur jadi bubur. Saat ini, rezim yang disetir ilmuan amatir dan data tak valid, hanya bisa plonga-plongo melihat liwa dan roya berkibar memenuhi angkasa. Sungguh, air bah tersebut telah menghanyutkan hati dan pikiran umat untuk dibawa ke lautan ridlo Allah yang tidak bertepi.

Wallahu a'lam.



Mercusuarumat.com. Alhamdulillah saya menjadi saksi jutaan manusia berkumpul di Monas dan sekitarnya pada 2 Desember 2018. Memadati hingga Jalan Sudirman, Tamrin, Gunung Sahari, Cempaka Putih, dll.

Melakukan perjalanan jauh dan datang dengan moda transportasi yang apa adanya, serta tidur di area monas beralaskan sajadah. Kurang bukti pengorbanan apa lagi?

Shalat tahajjud secara bersama, shalat shubuh berjamaah dengan qunut shubuh dan qunut nazilah. Kurang bukti Syafi'i apa lagi?

Sepanjang acara bershalawat, tahlil, bahkan pembacaan marhaban barzanji sejarah Rasulullah. Kurang bukti Aswaja apa lagi?

Bendera Merah Putih dikibarkan di setiap sisi, ada lagu Indonesia Raya, dan isi taushiyyah para 'alim selalu berpesan kecintaan pada Indonesia. Kurang NKRI dan Pancasila apa lagi?

Bendera Palestina juga berkibar di beberapa sudut, simbol kepedulian atas nasib Muslim di Palestina yang masih dalam penjajahan Israel. Kurang bukti solidaritas apa lagi?

Panji tauhid warna hitam, putih dan sebagian kecilnya berwarna merah, hijau, kuning, ungu, dan biru berkibar tinggi dimana-mana dengan rasa pengagungan para pengibarnya. Bendera yang tempo hari dibakar. Kurang bukti apa lagi kalau umat percaya itu bendera umat Islam? Bukan bendera ormas!

Sungguh bendera tauhid telah kembali ke pemilik aslinya, yakni umat Islam.

Aksesoris tauhid dipakai dengan bangga, mulai dari baju, topi, ikat kepala, hingga bros. Kurang bukti apa lagi kalau umat makin cinta akan identitas keislaman?

Makanan dan minuman melimpah di setiap posko yang ada. Gratis untuk mengambilnya. Kurang bukti persaudaraan apa lagi?

Saling mengingatkan saat ada yang menginjak taman, membuang sampah sembarangan, dll. Kurang bukti apa lagi kalau mereka cinta nasihat?

Mereka menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan. Saling sapa, salam, dan senyum. Kurang bukti apa lagi kalau mereka itu ramah dan santun? Bukan kelompok radikal!

Wanita muslimah yang datang juga jangan anggap semua bergamis lebar dengan cadar. Banyak yang masih baru belajar berbusana muslimah, bahkan sebagiannya belum sempurna menutup aurat. Kurang bukti apa lagi kalau umat bisa bergerak dengan ragam pemahaman keislamannya?

Ada yang datang dengan charter pesawat, pakai bus, mobil kecil, kereta api, motor, sepeda, bahkan jalan kaki. Tak ketinggalan kaum difabel dengan keterbatasan fisiknya. Kurang bukti ketulusan apa lagi? Bukan masa bayaran!

Secara ekonomi, ada gairah ekonomi di bidang transportasi (termasuk rest area), komunikasi, ritel, home industry (pembuatan aksesoris tauhid, dll) dan PKL. Kurang bukti kemaslahatan apa lagi?

Reuni 212 #BelaTauhid adalah momen konsolidasi kekuatan umat Islam. Adapun adanya pemanfaatan kepentingan politik praktis dari satu kalangan, itu hal lumrah sebagai sebuah hajatan bersama. Itu bukan isu utama. Isu utama kita adalah kita sedang menabung modal kekuatan politik umat. Kita sedang membangun kekuatan dengan modal aqidah, ukhuwah dan semangat jihad.

Tapi adalah manusia, kalau sudah benci, kebaikan yang banyakpun tak terlihat, karena yang ada hanyalah keburukan. Demikian juga sebaliknya. Mari belajar melihat sisi baik dari setiap hal.

Yuana Ryan Tresna
Monas, 02122018



Mercusuarumat.com. bagi Anda yang dengan berat hati tidak ikut Aksi Bela Tauhid 212 karena alasan syar'i, misal ibu hamil, pekerja week end, atau siapaun Anda yang berniat hadir tapi tidak bisa ikut, ikuti tips ini!

Bela Tauhid 212 Momen Spesial Umat Islam.

Dari organisasi Islam manapun Anda, dari suku manapun Anda atau dari manapun asal daerah Anda, jangan sampai lewatkan momen langka 212. Momen dimana umat Islam bersatu perjuangkan kalimat tauhid, momen dimana umat Islam Indonesia menunjukkan kesolidannya, inilah momen Bela Tauhid 212. Tak bisa dipungkiri, ada sebagian umat Islam yang dengan berat hati tidak bisa ikut karena alasan syar'i. Maka jangan sampai kehilangan momen bersejarah ini. Jangan diam apalagi tak mau tahu soal 212.
Setidaknya beberapa tips ini bisa Anda lakukan sekarang juga,
Pertama, buat Anda yang mahir menulis opini atau reportase. Mulailah menulis! Angkat sisi humanis para mujahid berdatangan penuh semangat ke Jakarta. Lihat bagaiamana mereka rela keluarkan uang banyak, meluangkan waktu libur berharganya dan meninggalkan sanak famili di kampung halamannya. Demi satu tujuan, perjuangkan persatuan di bawah kalimat tauhid.
Anda juga bisa menulis dari sisi akhlak agung peserta aksi, bagaimana mereka tertib, rapi dan bersih. Atau Anda juga bisa membuat resume dari tokoh orator. Tampilkan sisi persatuan umat, kemukakan dakwah islam, perjuangan untuk menegakkannya islam kaffah.
Intinya jangan sampai ketinggalan momen bersejarah ini.

Kedua, bagi Anda yang punya akun medsos kece. Anda bisa bantu share foto atau video hasil jepretan peserta Aksi. Anda bisa edit, percantik videonya dan buat seunik mungkin sehingga orang lain terdorong untuk share.

Ketiga, donasi belum telat! Kalaupun Anda tidak bisa dua tips di atas. Donasi sekarang saja. Via rekening terpercaya untuk dukung perjuangan mereka. Karena bisa jadi mereka tidak bawa bekal makanan atau donasi untuk penyebaran topi tauhid dan bendera tauhud.

Keempat, tentu do'a Anda yang diharapkan oleh mereka. Berdoalah di waktu dhuha. Perbanyaklah rakaat dhuha. Bisa jadi do'a Anda mampu menggetarkan arsynya Allah.

Oke kawan-kawan, selamat mencoba tips di atas. Ayo meriahkan momen umat Islam Indonesia ini! Wallahu'alam [IW]



Mercusuarumat.com. Berbicara mengenai hukum Allah, sebetulnya berbicara mengenai pertanyaan filosofis ‘siapa yg berwenang mengeluarkan hukum bagi perbuatan manusia dan status benda?’ Istilah ushul fikihnya siapa sejatinya al-Hakim?

Dalam bahasa lain, yakni penentuan sikap manusia terhadap perbuatan: apakah dilakukan atau ditinggalkan? Atau pilihan antara melakukan dan ditinggalkan?

Demikian juga penentuan sikap manusia terhadap status benda yg berkaitan dengan perbuatan: apakah digunakan atau ditinggalkan? Atau pilihan antara digunakan dan ditinggalkan?

Semua itu tentu tergantung cara pandang manusia terhadap sesuatu, apakah sesuatu itu dinilai baik atau buruk? Ataukah dianggap bukan baik dan bukan pula buruk?

Jadi, topik mengenai ‘status hukum bagi perbuatan dan benda’ adalah mengenai penilaian baik (al-Hasan) dan buruk (al-Qabih) terhadap perbuatan dan benda. Berdasarkan pertimbangan tersebut, ada tiga aspek:

Pertama, dari aspek fakta, apa adanya; Kedua, dari aspek kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan karakter manusia; Ketiga, dari aspek berpahala atau mengandung siksa, yakni terpuji atau tercela.

Mengenai aspek pertama dan kedua –aspek fakta dan kesesuaian atau tidak dengan karakter manusia–, penilaian dan keputusan hukum diserahkan pada manusia sendiri, yakni diserahkan pada akalnya, misal akal bisa menilai ilmu itu baik dan kebodohan itu buruk, sebab fakta memperlihatkan adanya kesempurnaan dan kekurangan disitu. Demikian, menolong yang tenggelam itu baik dan membiarkan yg tenggelam hingga celaka itu buruk, karena karakter manusia cenderung senang menyelamatkan dari kecelakaan.

Sedangkan, berkaitan aspek ketiga, yakni pahala dan siksa, maka penilaian dan keputusan hukum diserahkan pada Allah (Syariat) semata. Sebab, menilai keimaan itu baik, kekufuran itu buruk, ketaatan (pada Allah) itu baik dan bermaksiat itu buruk, maka akal tidak akan mampu menghukumi beragam kondisi tersebut.

Karena akal itu sendiri adalah transfer pengindraan fakta ke otak bersama informasi sebelumnya yg akan menilai fakta, kemudian mengkaitkan antara fakta dan informasi secara bersamaan.

Jadi akal mustahil menilai sesuatu yg tidak terindra seperti hidayah, kesesatan, halal, haram, ketaatan, kemaksiatan dll. Akal tidak mampu menilai apakah sebuah perbuatan diridhai Allah sehingga manusia diberi pahala, apakah sebuah perbuatan dimurkai Allah sehingga manusia diberi siksa, kecuali terdapat informasi yang datang dari Allah swt.

Ini dari aspek dalil aqli atas penilaian baik dan buruk.

Dari aspek dalil syar’i, menilai sesuatu itu baik dan buruk bergantung perintah syariah: Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Hal ini dijelaskan banyak nash al-Quran dan as-Sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisȃ’: 65)

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Katakanlah: "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ȃli Imrȃn: 31)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya),” (QS. An-Nisȃ’: 59)

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

"Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).” (QS. An-Nisȃ’: 83)

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nûr: 63)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

"Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak". (HR. Al-Bukhari dll)

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ وَأَهْلِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

"Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada hartanya, keluarganya dan seluruh umat manusia." (HR. An-Nasa’i, 4928 dll)

Sebagaimana telah dijelaskan, yg berwenang mengeluarkan hukum perbuatan dan benda adalah Syariat bukan akal, ini dari aspek pahala dan siksa, dan hal ini tidak termasuk penilaian pada dua aspek yg sudah disebut sebelumnya (aspek fakta dan kesesuaian dengan karakter manusia) karena akal mampu menilai baik dan buruknya berdasar fakta, berdasar kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan karakter.

Tapi jika dari aspek pahala dan siksa, akal tidak mampu menilainya, sebab termasuk aspek yg ketiga. Anda bisa menilai dengan akal ilmu itu baik, tetapi menilai bahwa ilmu itu berpahala atau tidak, akal tidak sanggup, namun syariat yg sanggup menilainya. Anda bisa menilai dengan akal menolong orang tenggelam itu baik, tetapi menilai menolong yg tenggelam itu berpahala atau tidak akal tidak sanggup, namun syariat yg sanggup menilainya, sebagaimana disebut dalam aspek ke tiga. Demikianlah, yg memiliki kewenangan mengeluarkan keputusan hukum perbuatan dan benda dari aspek pahala dan siksa adalah syariat bukan akal. (Syaikh 'Atha' Ibn Khalil Hafizhahullah, Taisir al-Wushul ila al-Ushul, h. 10-12)

Yan S. Prasetiadi
Kajian Ushul Fikih, Ma’had Darul Ulum Purwakarta, 30/11/2018



Oleh : Ahmad Sastra

Mercusuarumat.com. Fenomena aksi bela Islam 212 (reuni akbar) telah terpahat sebagai sejarah dunia abad ini. Berjuta umat Islam dengan hati ikhlas rela berkorban harta dan jiwa membela agamanya yang dinista oleh kaum kafir dan munafik.

Bela agama Allah adalah syarat mutlak untuk mendatangkan pertolongan Allah atas kemenangan Islam. “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad : 7).

Telah menjadi sunnatullah bahwa setiap ada perjuangan Islam, maka akan hadir pula musuh-musuh Islam dari kaum munafik dan kafir yang akan terus menghalangi dan menghadangnya. Mereka menolak saat diajak untuk tunduk kepada hukum Allah.

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS An Nisaa : 61).

Dalam sejarah perjuangan Islam, kaum kafir dan munafik bergabung untuk melakukan makar kepada agama Allah. Sekuat tenaga, harta dan jiwa akan mereka korbankan untuk menghalangi tegaknya Islam di muka bumi.

Momentum aksi bela Islam 212 adalah murni perjuangan kaum muslimin yang merindukan kehidupan Islam di bumi Allah. Aksi bela Islam adalah aksi super damai penuh dengan keteladanan. Meski tak mungkin dipungkiri akan selalu ada penyusup yang ingin merusak acara ini.

Berbagai bentuk persekusi akan terus dilancarkan oleh para pembenci Islam. Dimulai dari penghadangan aksi, dipersulit alat transportasi hingga berbagai provokasi di tengah aksi. Ketika ada peserta aksi berperilaku buruk dan tak beradab, merekalah provokator itu, awasi dia.

Rasulullah telah mengajarkan kepada umatnya bahwa saat panji telah berkibar, maka pantang mundur ke belakang. Perjuangan harus terus dilanjutkan hingga kemenangan Islam terwujud atau nyawa tercerabut dari raga.

Abaikan segala gangguan orang-orang kafir dan munafik yang selalu memusuhi agama Allah. Jangan pernah takut dengan segala ancaman mereka, sebab makar mereka akan dibalas oleh Allah. Cepat atau lambat mereka akan terjungkal dan tersungkur hina. Yang terpenting adalah kita berdiri tegak sebagai perjuang agamaNya.

Aksi bela Islam 212 akan terus berlangsung hingga kiamat. Hadiri meski hanya sekali seumur hidup, sebab akan menjadi sejarah bagi anak cucu dan menjadi hujjah dihadapan Allah, bahwa kita turut membela agamaNya.

Bismillah, niatkan karena Allah semata. Berdoa dan bertawaqal lah, semoga Allah selalu melindungi hamba-hambaNya yang membela agamaNya. Jangan pernah takut kibarkan panji tauhid, simbol persatuan umat sedunia. Sebab dengan tauhid kita hidup dan dengannya pula kita mati.

Sampai ketemu di monas kawan !!.
Selamat Berjuang !!
Allahu Akbar !!

[Ahmad Sastra, Kota Hujan,30/11/18 : 22.00 WIB]



Mercusuarumat.com. Pelarangan Hizbut Tahrir di beberapa negara kerap dijadikan alasan membubarkan HT Indonesia. Ini yang diungkapkan misalnya oleh Menkopolhukam Wiranto sebelum status BHP HTI ini dicabut. "Ideologi Khilafah ini telah dilarang di banyak negara. 20 negara telah melarang kegiatan HTI," kata Wiranto dalam jumpa pers saat itu.

Pertanyaannya, apa yang mendasari pelarangan itu? Juru bicara HTI M Ismail Yusanto mengatakan, pelarangan di negara lain tidak bisa dijadikan dasar. "Apakah ketika Perancis dan beberapa negara lain di Eropa melarang memakai cadar, kita juga ikut-ikutan melarang?" tanyanya.

Pengamat politik internasional Umar Syarifuddin memberikan catatan khusus negara-negara yang melarang Hizbut Tahrir. Larangan itu menurutnya tidak lepas dari kegigihan Hizbut Tahrir menyerukan Khilafah Islam. Nah, seruan itulah yang dianggap mengancam kepentingan negara-negara imperialis.

Untuk membungkam seruan itu negara-negara imperialis menggunakan penguasa-penguasa boneka mereka di negeri-negeri Islam. HTI selama ini dikenal sangat aktif membongkar dan menentang kebijakan pemerintah yang pro negara imperialis, mendukung kehadiran militer asing yang dipimpin AS dan masalah eksploitasi asing terhadap kekayaan alam negeri-negeri muslim serta berbagai, masalah keumatan," paparnya.

Tidak heran, lanjutnya, hampir sebagian besar negara-negara yang melarang itu bersikap represif.

Aktivitas Hizbut Tahrir dianggap mengancam kepentingan penguasa-penguasa negeri Islam yang bekerjasama dengan barat.

"Mengingat kebangrutan rezim-rezim despotik yang anti Islam dan anti kritik maka di beberapa negara rezim itu melarang HT beraktivitas, bahkan telah memperlakukan para syabab Hizbut Tahrir yang mukhlis hingga sekarang dengan cara-cara brutal, zalim serta melancarkan berbagai tuduhan palsu dan fitnah yang di rekayasa dengan sangat keji," tegasnya.

Pengamat politik luar negeri ini mengambil contoh negara Mesir. Menurutnya negara ini dikenal menjadi mitra penting Amerika Serikat di Timur Tengah yang sangat bernafsu memerangi bukan hanya Hizbut Tahrir tapi juga gerakan-gerakan Islam lainnya.

Beberapa negara yang melarang Hizbut Tahrir memang memiliki catatan kejahatan yang keji terhadap umat Islam. Di Asia Tengah, sudah masyhur bahwa rezim-rezim diktator kawasan Asia Tengah masih mengadopsi cara-cara komunistik dalam menghadapi kebangkitan umat Islam.

Adapun Rusia, bekas negara komunis ini masih menunjukkan sikap anti Islam dan represif terhadap pengembannya. Negara Rusia berusaha dengan keras mengaitkan tuduhan terorisme dengan Hizbut Tahrir untuk menakut-nakuti kaum muslim Rusia agar tidak berhubungan dengan Hizbut Tahrir. Hal yang sama dilakukan rezim Cina.

Kejahatan penguasa-penguasa itu juga dibongkar dalam laporan Open Society Foundation (OSF) yang terbit Selasa 5 Februari 2013 dalam laporan yang berjudul "Globalizing Torture: Extraordinary Rendetion and Secret Detention" menunjukkan secara nyata keterlibatan penguasa negeri-negeri muslim seperti Afghanistan, Aljazair, Azerbaijan, Bosnia-Herzegovina, Mesir, Libya, Malaysia, Maroko, Pakistan, Arab Saudi, Somalia, Suriah, Turki, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, Yaman, dan Indonesia dalam kejahatan Global yang dilakukan oleh CIA. Studi ini menyoroti program rendition (pemindahan seseorang ke negara lain tanpa melalui proses hukum) dan penahanan rahasia yang dilakukan dinas rahasia Amerika Serikat (CIA) pasca serangan teroris 11 September 2001 ke negara itu.

Sumber: Tabloid Media Umat



Mercusuarumat.com. Pagi tadi baca grup Whatsapp. Isinya ada salah satu anggota berkata, "Ulah ngobrol politik wae" (jangan selalu bicara politik saja, red). Bagi saya pernyataan ini, menggelitik sekali.
Bisa banyak kemungkinan orang tersebut berkomentar demikian. Pertama, bisa jadi yang bersangkutan belum faham makna politik dalam Islam. Kedua, bisa jadi sudah faham makna politik tapi terkontaminasi makna sempit politik ala demokrasi. Ketiga, bisa jadi tak ingin tahu sama sekali.

Oke, kita sharing tentang apa itu politik.
Banyak versi mengenai definisi dari politik. Harold D Laswell dan A Kaplan mengartikan politik adalah sebuah ilmu yang mempelajari pembentukan dan pembagian kekuasaan. Demikian juga WA Robson mengungkapkan mengenai politik dengan pengertian sebaga berikut:
“Ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat, yaitu sifat hakiki, dasar, proses-proses, ruang lingkup dan hasil-hasil. Fokus perhatian seorang sarjana politik tertuju pada
perjuangan untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan, melaksanakan kekuasaan atau pengaruh atas orang lain, atau menentang pelaksanaan kekuasaan itu.”

Sedangkan Islam sebagai agama yang sempurna jelas mengatur segala aspek kehidupan, termasuk politik. politik (siyasiyah) dalam Islam adalah ri’ayah syu’uun al
ummah (mengurusi urusan umat). bukan seperti politik dalam demokrasi yang berorientasi
pada kekuasaan dengan mengabaikan aturan-aturan Al Khaliq. Aktifitas politik dalam
demokrasi yang menghalalkan segala cara, menerapkan dan membuat hukum-hukum buatan manusia serta mengeliminasi hukum-hukum Allah, merupakan kemaksiatan. Sedangkan aktifitas politik dalam Islam yang bertujuan untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin merupakan kewajiban.

Saat ini banyak umat Islam yang anti politik karena memandang politik dalam cakupan sempit demokrasi. Hanya sebatas bagaimana meraih kekuasaan.

Dampaknya, umat islam alergi dengan politik. "Jangan bawa politik ke masjid", "sedikit-sedikit bicara politik" dlsb. Sekali lagi, jika salah faham mengenai suatu perkara, dampaknya akan salah dalam mengambil sikap. Maka kembalilah ke Islam, karena Allah Maha Mengetahui. Tak akan pernah salah.

Oke, saya ingin tanya, ada tidak urusan kehidupan di dunia ini yang tak ada hubungannya dengan politik?
Hmm......


Jawabannya, TIDAK!
Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, urusan umat manusia tidak lepas dari politik.
Mari lihat kembali definisi politik dalam islam. politik (siyasiyah) dalam Islam adalah ri’ayah syu’uun al
ummah (mengurusi urusan umat).
Sekarang, lihat juga hadits nabi Muhammad Saw, “Siapa saja bangun di pagi hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka ia tidak berurusan dengan Allah. Dan barangsiapa yang bangun dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).” (HR Hakim dan Al Khatib dari Hudzaifah ra.).

Fenomena saat ini. Bangun tidur, baca doa, langsung ke kamar mandi. Di kamar mandi, air bersih harus beli. Ambil wudhu, pergi sholat, setelahnya sarapan pagi. Sarapan pagi, bahan kebutuhan pokok harus beli. Pergi ke tempat kerja, jalanan macet, bahan bakar untuk kendaraan mahal. Di tempat kerja, pergaulan antar laki-laki dan perempuan tak terkendali, Campur baur. Dapat gaji, gaji kecil tak sesuai ekspektasi. Pulang kerja, nonton TV, tayangan tak mendidik bahkan menjurus kemaksiatan. Jalan-jalan dengan istri ke tempat umum, di tempat umum aurat perempuan terbuka lebar. Transaksi jual beli banyak yang haram. Pulang jalan-jalan, ke rumah mandi. Menghidupkan listrik. Biaya listrik mahal. Malam pun tiba.

Perhatikan, air bersih harus beli dengan biaya yang tak murah, bayar listrik harganya selangit, bahan kebutuhan pokok mahal. Semua terkait politik, tepatnya politik ekonomi. Bagaimana seorang penguasa bisa mengurus perekonomian agar harga kebutuhan pokok murah. Islam sedari dulu sudah bahas, bahwa sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikelola oleh negara dan untuk sebanyak-banyak kebermanfaat rakyat, sebagaimana hadits nabi Muhammad Saw, "Kaum Muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api" (Hr. Abu Daud, Sunan Abu Daud, 2/596 - 952). Luar biasa bukan politik dalam islam?

Selanjutnya, bagaimana islam mengatur urusan pergaulan antar manusia?
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika salam dari shalat, para jama’ah wanita kala itu berdiri. Beliau tetap duduk di tempat beliau barang sebentar sebelum beranjak. Kami melihat –wallahu a’lam– hal itu dilakukan supaya wanita bubar lebih dahulu sebelum berpapasan dengan para pria.” (HR. Bukhari, no. 870).

Dalam hadits tersebut, Rasulullah meminta kaum perempuan untuk meninggalkan masjid lebih awal dengan tujuan agar tak terjadi campur baur antara jamaah perempuan dan jamaah laki-laki. Inilah politik sosial dalam Islam.

Luar biasa bukan? Islam begitu spesifik mengatur segala hal dengan detail dan jelas.
Sebenarnya masih banyak contoh penjelasan bagaimana kesempurnaan Islam dalam masalah politik.

Maka politik dalam Islam adalah keniscayaan. Tidak mungkin umat manusia lepas dari politik.

Maka, yuk jangan alergi dengan politik. Sekali lagi umat Islam harus percaya diri bicara politik. Tentu yang disampaikan adalah politik Islam bukan politik demokrasi yang hanya bicara bagaiamana meraih kuasa tanpa melihat halal dan haramnya! Wallahu'alam [IW]




Mercusuarumat.com. Jakarta - Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab memberi seruan menjelang reuni 212, yang akan digelar pada 2 Desember 2018. Bagi Habib Rizieq, reuni 212 bukan sekadar nostalgia, tapi juga konsolidasi melawan kezaliman. 

Seruan ini disampaikan Rizieq lewat video yang diunggah akun Front TV di YouTube pada Kamis (29/11/2018). Habib Rizieq mengajak umat Islam hadir dalam reuni 212. 

"Kepada segenap umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia yang saya cintai, saya serukan untuk hadir ke acara reuni akbar mujahid dan mujahidah 212 di Monas Jakarta yang juga merupakan reuni akbar pejuang 212 dari seluruh elemen bangsa Indonesia," kata Habib Rizieq. 

Dia menyebut reuni 212 sebagai momentum kebangkitan umat Islam dan rakyat Indonesia. Acara tersebut juga menjadi ajang konsolidasi melawan kezaliman. 

"Reuni akbar 212 bukan sekadar reuni untuk bernostalgia para pejuang 212, tapi juga merupakan media konsolidasi umat Islam dan rakyat Indonesia untuk melawan kezaliman dan menegakkan keadilan. Reuni akbar 212 adalah momentum kebangkitan umat Islam dan rakyat Indonesia untuk menuju perubahan ke arah yang lebih baik, insyaallah," ujar Habib Rizieq, yang hingga saat ini berada di Arab Saudi. 

Habib Rizieq mengajak seluruh elemen masyarakat hadir dalam reuni 212. Dari ulama hingga pimpinan masjid dan pesantren, tokoh ormas hingga akademisi, dokter hingga pengusaha, dan petani hingga artis juga diajak. 

"Termasuk para pejabat yang prorakyat dan PNS beserta TNI dan Polri serta elemen lainnya dari seluruh bangsa Indonesia. Kami serukan, kami ajak untuk hadir dalam acara reuni akbar pejuang 212," ungkapnya. 

Dia meminta para peserta reuni akbar 212 hadir dengan niat tulus dan tertib sehingga reuni 212 menjadi acara yang super-damai. Habib Rizieq mengingatkan tidak boleh ada yang merusak acara ini. 

"Saya ingatkan kepada semua pihak agar jangan ada yang menggembosi, apalagi merusak, acara reuni 212. Dan kepada segenap laskar dan pendekar, serta jawara dan sakera, wajib waspada dan siaga untuk menjaga keamanan dan ketertiban," kata Habib Rizieq.

Sumber: detiknews.com

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget