Jangan Melulu Ngobrol Politik?



Mercusuarumat.com. Pagi tadi baca grup Whatsapp. Isinya ada salah satu anggota berkata, "Ulah ngobrol politik wae" (jangan selalu bicara politik saja, red). Bagi saya pernyataan ini, menggelitik sekali.
Bisa banyak kemungkinan orang tersebut berkomentar demikian. Pertama, bisa jadi yang bersangkutan belum faham makna politik dalam Islam. Kedua, bisa jadi sudah faham makna politik tapi terkontaminasi makna sempit politik ala demokrasi. Ketiga, bisa jadi tak ingin tahu sama sekali.

Oke, kita sharing tentang apa itu politik.
Banyak versi mengenai definisi dari politik. Harold D Laswell dan A Kaplan mengartikan politik adalah sebuah ilmu yang mempelajari pembentukan dan pembagian kekuasaan. Demikian juga WA Robson mengungkapkan mengenai politik dengan pengertian sebaga berikut:
“Ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat, yaitu sifat hakiki, dasar, proses-proses, ruang lingkup dan hasil-hasil. Fokus perhatian seorang sarjana politik tertuju pada
perjuangan untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan, melaksanakan kekuasaan atau pengaruh atas orang lain, atau menentang pelaksanaan kekuasaan itu.”

Sedangkan Islam sebagai agama yang sempurna jelas mengatur segala aspek kehidupan, termasuk politik. politik (siyasiyah) dalam Islam adalah ri’ayah syu’uun al
ummah (mengurusi urusan umat). bukan seperti politik dalam demokrasi yang berorientasi
pada kekuasaan dengan mengabaikan aturan-aturan Al Khaliq. Aktifitas politik dalam
demokrasi yang menghalalkan segala cara, menerapkan dan membuat hukum-hukum buatan manusia serta mengeliminasi hukum-hukum Allah, merupakan kemaksiatan. Sedangkan aktifitas politik dalam Islam yang bertujuan untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin merupakan kewajiban.

Saat ini banyak umat Islam yang anti politik karena memandang politik dalam cakupan sempit demokrasi. Hanya sebatas bagaimana meraih kekuasaan.

Dampaknya, umat islam alergi dengan politik. "Jangan bawa politik ke masjid", "sedikit-sedikit bicara politik" dlsb. Sekali lagi, jika salah faham mengenai suatu perkara, dampaknya akan salah dalam mengambil sikap. Maka kembalilah ke Islam, karena Allah Maha Mengetahui. Tak akan pernah salah.

Oke, saya ingin tanya, ada tidak urusan kehidupan di dunia ini yang tak ada hubungannya dengan politik?
Hmm......


Jawabannya, TIDAK!
Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, urusan umat manusia tidak lepas dari politik.
Mari lihat kembali definisi politik dalam islam. politik (siyasiyah) dalam Islam adalah ri’ayah syu’uun al
ummah (mengurusi urusan umat).
Sekarang, lihat juga hadits nabi Muhammad Saw, “Siapa saja bangun di pagi hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka ia tidak berurusan dengan Allah. Dan barangsiapa yang bangun dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).” (HR Hakim dan Al Khatib dari Hudzaifah ra.).

Fenomena saat ini. Bangun tidur, baca doa, langsung ke kamar mandi. Di kamar mandi, air bersih harus beli. Ambil wudhu, pergi sholat, setelahnya sarapan pagi. Sarapan pagi, bahan kebutuhan pokok harus beli. Pergi ke tempat kerja, jalanan macet, bahan bakar untuk kendaraan mahal. Di tempat kerja, pergaulan antar laki-laki dan perempuan tak terkendali, Campur baur. Dapat gaji, gaji kecil tak sesuai ekspektasi. Pulang kerja, nonton TV, tayangan tak mendidik bahkan menjurus kemaksiatan. Jalan-jalan dengan istri ke tempat umum, di tempat umum aurat perempuan terbuka lebar. Transaksi jual beli banyak yang haram. Pulang jalan-jalan, ke rumah mandi. Menghidupkan listrik. Biaya listrik mahal. Malam pun tiba.

Perhatikan, air bersih harus beli dengan biaya yang tak murah, bayar listrik harganya selangit, bahan kebutuhan pokok mahal. Semua terkait politik, tepatnya politik ekonomi. Bagaimana seorang penguasa bisa mengurus perekonomian agar harga kebutuhan pokok murah. Islam sedari dulu sudah bahas, bahwa sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikelola oleh negara dan untuk sebanyak-banyak kebermanfaat rakyat, sebagaimana hadits nabi Muhammad Saw, "Kaum Muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api" (Hr. Abu Daud, Sunan Abu Daud, 2/596 - 952). Luar biasa bukan politik dalam islam?

Selanjutnya, bagaimana islam mengatur urusan pergaulan antar manusia?
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika salam dari shalat, para jama’ah wanita kala itu berdiri. Beliau tetap duduk di tempat beliau barang sebentar sebelum beranjak. Kami melihat –wallahu a’lam– hal itu dilakukan supaya wanita bubar lebih dahulu sebelum berpapasan dengan para pria.” (HR. Bukhari, no. 870).

Dalam hadits tersebut, Rasulullah meminta kaum perempuan untuk meninggalkan masjid lebih awal dengan tujuan agar tak terjadi campur baur antara jamaah perempuan dan jamaah laki-laki. Inilah politik sosial dalam Islam.

Luar biasa bukan? Islam begitu spesifik mengatur segala hal dengan detail dan jelas.
Sebenarnya masih banyak contoh penjelasan bagaimana kesempurnaan Islam dalam masalah politik.

Maka politik dalam Islam adalah keniscayaan. Tidak mungkin umat manusia lepas dari politik.

Maka, yuk jangan alergi dengan politik. Sekali lagi umat Islam harus percaya diri bicara politik. Tentu yang disampaikan adalah politik Islam bukan politik demokrasi yang hanya bicara bagaiamana meraih kuasa tanpa melihat halal dan haramnya! Wallahu'alam [IW]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget