Reuni 212: Momentum Persatuan Umat dan Penyatuan Visi Politik Islam




Aksi 212 kemarin menunjukkan satu hal yang menggembirakan, yakni persatuan umat Islam.

Allah SWT dalam al-Quran:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا…
 Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah dan jangan bercerai berai… ( TQS Ali Imran [3]: 103).

Imam as-Samarqandi berkata, “Wa’tashimû bi hablillâh (Berpegang teguhlah kalian pada tali Allah)” bermakna, “ Tamassakû bi dînillâhi wa bi al-Qur’ân " (Berpegang teguhlah kalian semuanya dengan agama Allah dan al-Quran)”. (As Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, 1/234). Artinya, persatuan umat yang hakiki adalah yang diikat oleh al-Quran. Karena itu persatuan umat Islam sejatinya bukan sekadar “kerumunan massa”. Persatuan umat Islam harus benar-benar didasarkan pada al-Quran.

212 awalnya simbol pembelaan atas Al Qur'an, tahun ini menjadi simbol pembelaan kalimat tauhid, dan mungkin kelak akan menjadi momen pembelaan islam sebagai jalan hidup (ideologi).

Islam sebagai ideologi justru harus terus diperjuangkan agar membumi. Sebab, Islam ideologi tidak lain adalah Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan (ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dll) dengan syariah yang terpancar dari akidah Islam. Hanya Islam seperti inilah—bukan Islam yang hanya berkutat dengan aspek ritual, spiritual dan moral belaka—yang bisa menjadi  rahmatan lil ‘alamin.

Alhasil, Gerakan 212 bukan saja menjadi momentum persatuan umat tapi bagaimana agar umat berkonsolidasi menyatukan visi politik Islam agar menjadi kekuatan politik di negeri ini. Targetnya tentu bukan sekadar agar kaum Muslim bisa meraih kekuasaan. Yang lebih penting adalah agar Islam benar-benar berkuasa hingga negeri ini benar-benar bisa diatur dengan syariah Islam secara kaffah. Sebab, tentu tak ada artinya kaum Muslim duduk di tampuk kekuasaan,  sementara Islam dicampakkan,  lalu yang diterapkan dan yang tetap berkuasa adalah sistem sekular seperti sekarang ini.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?.” (QS. Al Maidah: 50).

[tdk]
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget