Solusi untuk Muslim Uighur dari Nyala Perjuangan Aksi 212



Mercusuarumat.com. Pemerintah China kembali melakukan tindakan tidak manusiawi terhadap umat muslim Uighur. Sebuah panel hak asasi manusia PBB pada Jumat, (10/8/2018) yang lalu mengaku telah menerima banyak laporan terpercaya bahwa sekitar satu juta warga Uighur di China telah ditahan di satu tempat pengasingan rahasia yang sangat besar.

Anggota Komite Penghapusan Diskriminasi Rasional PBB Gary McDougall, mengutip laporan yang diterima, mengatakan sekitar dua juta warga Uighur dan kelompok minoritas Muslim dipaksa menjalani indoktrinasi di sejumlah penampungan politik di wilayah otonomi Xinjiang.

Gulnaz Uighur dalam tulisannya yang dimuat oleh Tabloid Media Umat edisi 232 (7-20 Desember 2018), mengungkap beberapa fakta mengerikan yang terjadi terhadap muslim di kamp-kamp rahasia Cina ini, diantaranya :

1. Dicuci Otaknya untuk melupakan Islam: Orang-orang yang tinggal di kamp tidak diizinkan untuk menjalankan sholat. Mereka secara khusus diperintahkan bahwa ibadah ritual dalam Islam adalah berbahaya, dan diperintahkan untuk tidak mengikuti hal-hal yang telah disebutkan dalam Quran. Mereka harus menyanyikan lagu-lagu pro-Cina untuk mendapatkan makanan.

2. Dipaksa makan daging babi dan minum alkohol: Para pemimpin Partai di Urumqi telah memulai gerakan anti-halal di mana mereka memerintahkan pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk bersumpah untuk “berperang melawan pan-halalisasi”. Kaum Uighur sekarang ditekan untuk tidak hanya mengecam agamanya sendiri tetapi juga dipaksa untuk makan daging babi dan minum alkohol. Label-label halal telah dihilangkan dari dewan pengurus restoran. Pemerintah China mengatakan bahwa kampanye anti-halal ini akan membantu mereka menghentikan Islam dalam menembus kehidupan sekuler dan memicu “ekstremisme”.

3. Berbagai Bentuk Penyiksaan: Agar orang-orang Uighur mematuhi perintah mereka, pihak berwenang menyiksa mereka dengan berbagai cara yang tidak manusiawi. Para korban diikat ke kursi “harimau” di dekat mata kaki mereka; tangan mereka dikunci di belakang kursi. Para penyiksa Partai Komunis China itu tidak membolehkan mereka untuk tidur, menggantung mereka selama berjam-jam dan memukuli mereka. Alat-alat seperti tongkat kayu dan karet tebal, cambuk yang terbuat dari kawat bengkok, jarum untuk menusuk kulit, tang untuk mencabut kuku, dll. Semua alat itu digunakan untuk menyiksa orang-orang Uighur dan mengeluarkan Islam dari mereka. Mereka diperintahkan untuk berdiri di atas lempengan semen di bawah terik matahari, tanpa pakaian apa pun kecuali pakaian tipis. Mereka menempatkan orang-orang di penjara air yang penuh dengan air kotor dan bau, hingga ke leher, selama lima hari. Selama penyiksaan itu, para korban Uighur hanya diberi sepotong kecil roti, dan para sipir penjara itu mengatakan, “supaya (mereka) bertahan hidup”.

4. Para Wanita Muslim Diperkosa: Selama wawancara, beberapa mantan tahanan telah mengungkapkan bahwa para wanita muda Uighur diperkosa setiap hari oleh para pejabat PKC di kamp-kamp dan dibunuh jika mereka menolak. Para wanita itu diambil dari sel-sel mereka dan diperkosa sepanjang malam. Jika mereka terus melawan, maka mereka disuntik dengan sesuatu zat untuk dibunuh. Para wanita muslim itu juga diberi pil anti hamil. Biasanya terdapat 40 hingga 50 wanita di dalam satu ruangan kecil, tetapi 5 sampai 10 wanita secara teratur dikeluarkan dan mereka menghilang begitu saja, mereka tidak pernah kembali.

Omir Bekali, seorang Muslim Kazakh, dan mantan tahanan lainnya mengatakan kepada Associated Press bagaimana mereka harus mengingkari keyakinan agama mereka, mengkritik diri sendiri dan orang yang mereka cintai dan bersyukur kepada Partai Komunis yang berkuasa.
Ketika Bekali menolak mengikuti perintah itu setiap hari, dia dipaksa berdiri di dinding selama lima jam. Seminggu kemudian, dia dikirim ke sel isolasi, di mana dia tidak diberi makanan selama 24 jam. Setelah 20 hari di kamp yang dijaga ketat, dia ingin bunuh diri.

Pemerintah China yang kini dipimpin Presiden China saat ini, Xi Jinping walau menyebut sebagai kamp ‘pendidikan ulang’, namun hakikatnya itu adalah istilah yang terinspirasi oleh Mao Zedong yang mengubah nama genosida sebagai ‘revolusi budaya’.

Negeri-Negeri Muslim hanya diam dan “Mencari Aman”

Namun melihat fakta ini, Negeri-negeri Muslim seperti Arab Saudi, UEA, Pakistan, Bangladesh, negara-negara Islam di Afrika, Maladewa, hingga Indonesia justru memilih diam dan melanjutkan ‘persahabatan’ mereka dengan China. Dari semua negara itu, hanya Malaysia dan Turki yang memiliki cukup keberanian mendukung kaum Uighur.
Negeri-negeri muslim nampaknya merasa segan jika harus mengkritik negara sebesar China, sebagaimana prilaku negeri-negeri muslim di hadapan Amerika Serikat. Indonesia misalnya, yang sudah terikat dengan China diberbagai bidang bisa jadi khawatir jika harus mengkritik China atas kasus Uighur ini.

Sejarah Muslim Uighur dan Negara Islam Turkistan

Sebelum masuknya Islam, Uighur menganut Shamanian, Budha dan Manicheism. Saat ini, bisa dilacak candi yang dikenal sebagai Ming Oy (Seribu Budha) di Ughuristan. Reruntuhannya ditemui di kota Kucha, Turfan dan Dunhuang. Orang Uighur memeluk Islam sejak tahun 934, saat pemerintahan Satuk Bughra Khan.

Muslim Uighur sendiri tak bisa lepas dari Turkistan. Wilayah Xinjiang yang menjadi tempat tinggal muslim Uighur, sebelumnya adalah wilayah Turkistan. Dalam sejarahnya, Turkistan adalah salah satu negeri Islam yang pernah berdiri, Di masa jayanya saat berada dalam naungan Islam, Turkistan memiliki peradaban yang tak kalah mengkilap dari Andalusia. Dari negeri ini telah lahir ulama dan para ilmuwan muslim yang mendunia seperti Al-Bukhari, Al-Biruni, Al-Farabi, hingga Ibnu Sina.

Turkistan terletak di Asia Tengah dengan penduduk mayoritas keturunan Turki, merupakan salah satu benteng kebudayaan dan peradaban Islam. Pada abad ke-16 sampai abad ke-18, bangsa China dan Rusia mulai menyalurkan nafsu angkaranya ke Turkistan dan mulai berfikir tentang kemungkinan untuk melakukan ekspansi teritorial.

Untuk menjaga eksistensinya, muslim di wilayah Turkistan mendeklarasikan Negara Turkistan pada tahun 1918. Namun Turkistan tidak bisa dipertahankan seutuhnya terutama dari incaran Sovyet dan China. Akhirnya wilayah Turkistan barat lepas dan tersisa wilyah Timur. Negara Turkistan Timur pun dideklarasikan pada tahun 1933.

Wilayah Turkistan Timur dalam beberapa tahun kemudian semakin tergerus karena diduduki China. Puncaknya pada tahun 1949, China yang sudah menjadi Republik Rakyat China melakukan invansi ke Turkistan Timur. Segera setelahnya, dunia pun menyaksikan ‘revolusi budaya’ di bawah Mao Zedong, yang merupakan salah satu fase paling mengerikan dalam sejarah dunia. Sejak itu China pun mengusai sepenuhnya wilayah yang ditinggali kaum muslim Uighur hingga saat ini. Turkistan Timur kemudian diubah namanya menjadi Xinjiang.

Sementara itu Turkistan Barat telah lebih dahulu dicaplok Sovyet. Dengan berbagai alasan politik, Soviet menghapuskan nama Turkistan dari peta dunia dan memancangkan nama Republik Soviet Uzbekistan, Republik Soviet Turkmenistan, Republik Soviet Tadzhikistan, Republik Soviet Kazakastan, dan Republik Soviet Kirgistan.

Alasan China Bertindak Refresif di Xinjiang

Ada beberapa alasan mengapa China melakukan tindakan represif terhadap muslim Uighur :
1. Muslim Uighur dalam sejarahnya tak lepas dari perjuangan, dari jihad hingga eksistensi Negara Islam. Tak aneh jika salah satu alasan China bertindak kejam terhadap muslim Uighur untuk pencegahan terhadap penyebaran ideologi radikal.

2. Xinjiang adalah wilayah yang sangat kaya akan sumber daya alam. Xinjiang menguasai 20 persen cadangan potensial minyak di China, dan pemerintah China telah mengeluarkan laporan bahwa Xinjiang akan menjadi pusat industri minyak China dalam beberapa tahun kedepan. Selain itu pemerintah China memperoleh pendapatan dari pariwisata rata-rata Rp. 15 trilliun/tahun. Sehingga pemerintah China akan terus berusaha menguasai Xinjiang sepenuhnya dengan berbagai cara. ( disarikan dari artikel Islam in China, Felix Siauw).

Campur Tangan Amerika Serikat

Amerika Serikat mengecam perlakuan China terhadap muslim Uighur dan mengancam akan memberikan sanksi kepada petinggi China yang terlibat. Namun langkah Amerika Serikat ini tentu memiliki tujuan penting dibaliknya.

Amerika Serikat berkepentingan untuk menjaga stabilitas di Asia dengan cara mengurung China (containing China) dan menjaga agar jangan sampai negara-negara yang mengelilingi Cina (Pakistan, Afghanistan, Kyrgistan, Uzbekistan, termasuk Tibet dan Xinjiang) berada dalam pengaruh Cina.

Oleh karena itu, AS pasti akan selalu menyulut api pertikaian di Xinjiang seperti yang jelas-jelas dilakukannya kepada Kashmir, Tibet, Pakistan dan Afghanistan saat ini. Semua ini didasarkan pada ketakutan AS atas prediksi banyak tokoh Barat, bahwa tantangan paling serius bagi hegemoni Amerika pada masa mendatang adalah Khilafah Islam dan peradaban China.
Akan masuk akal pula jika negara barat menginginkan wilayah Xinjiang dengan segala potensi yang dimiliknya, baik dari sumber daya alam maupun posisi geografisnya di jantung Asia.

Nyala Perjuangan 212 dan Solusi Untuk Muslim Uighur

Negeri-negeri muslim saat ini yang tak memiliki keberanian melihat fakta penindasan rezim China terhadap muslim Uighur tidak akan bisa memberi solusi hakiki. Umat Islam memerlukan institusi Khilafah yang bisa mampu menghentikan banyak ketidakadilan, termasuk kekejaman rezim China terhadap musim Uighur.

Dan perjuangan penegakkan Khilafah kini memiliki progres yang sangat baik. Aksi bela tauhid 212 menjadi salah satu indikasinya. Kini benderanya, Al-Liwa dan Ar-Rayah sudah kembali ketengah-tengah umat Islam, menjadi wasilah persatuan umat. Berkibarnya sebuah bendera disebuah wilayah menjadi tanda sang pemilik bendera akan segera datang.

Opini bendera tauhid yang terus membesar dan melebur dengan umat, Insya Allah akan segera diikuti oleh opini Khilafah. Khilafah merupakan ajaran Islam yang tentu saja akan mudah diterima oleh orang yang beriman dan berpikir jernih. Gaungnya sudah terdengar dan semakin nyaring.

Selanjutnya, ketika opini Khilafah ini semakin meluas dan menjadi opini umum, ketika umat sudah mencintai Khilafah sebagaimana mencintai bendera tauhid seperti saat ini, ketika umat mulai mendalami tentang Khilafah dan menemukan bahwa Khilafah memang solusi, maka umat akan menginginkan Khilafah untuk diterapkan sebagai sistem yang menjalankan Syariat Islam.

Tak ada kekuatan yang mampu menghentikan, ketika umat sudah menginginkan Khilafah. Insya Allah Khilafah akan tegak dipimpin oleh seorang Kholifah pilihan umat. Dengan segala potensinya, Khilafah akan menyelesaikan segala problematika kehidupan, termasuk melakukan pembebasan-pembebasan terhadap umat Islam yang selama ini mengalami menindasan, diantara menolong muslim Uighur.

Maka dari itu, nyala perjuangan aksi bela bendera tauhid 212 tidak boleh berhenti, nyalanya harus terus dijaga, hingga umat benar-benar dipersatukan oleh ideologi Illahi, ideologi Islam yang diemban oleh Khilafah yang akan membawa nyala perjuangan, diantaranya untuk membebaskan muslim Uighur. Insya Allah.

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget