January 2019



DEMOKRASI : BIANG KEROK PELACURAN
Dari Menjual Diri, Menjual Negara Hingga Menjual Agama

Oleh : Ahmad Sastra

Mercusuarumat.com. Beberapa hari ini, masyarakat dihebohkan dengan adanya kasus pelacuran yang dilakukan oleh oknum artis. Beberapa artis telah dimintai keterangan oleh pihak berwajib. Seperti biasa, bukan Indonesia kalo bukan pro kontra.

Banyak kecaman mengalir dari masyarakat akan peristiwa itu, apalagi saat dikabarkan tarif jual diri yang selangit. Namun tidak sedikit juga yang justru mendukungnya sebagai hak asasi manusia. Anehnya, yang pro pelacuran juga sering meneriakkan hingga berbusa mulutnya jargon : saya pancasila. Ironi Indonesia.

Sontak peristiwa ini membuat banyak yang kaget, dikarenakan tidak tahu sebelumnya tentang peristiwa itu. Wajar jika masyarakat kaget, karena praktek pelacuran memang biasa tersembunyi. Yang aneh adalah jika jika ada seorang pemimpin negara kaget melihat kondisi rakyatnya, berarti selama ini bukan kerja untuk rakyat, tapi mengabaikan rakyat.

Kata pelacur menurut wikipedia artinya pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan. Dalam bahasa yang sederhana pelacuran adalah menjual diri dengan materi. Pelacuran jelas merupakan tindakan asusila dan tidak beradab.

Demokrasi yang bersifat antroposentrisme memiliki prinsip utama kebebasan dan HAM. Kedua prinsip demokrasi ini meniscayakan berbagai tindakan pelacuran. Bahkan dalam prinsip demokrasi seorang pelacur disebut sebagai pekerja seks komersial [psk] yang hak-haknya dilindungi. Itulah mengapa dalam sistem demokrasi, seorang pelacur tidak dijerat hukum.

Melacurkan diri adalah memperdagangkan tubuhnya dengan harga yang sedikit. Sebab fisik yang diberikan Allah harganya tak ternilai, jangankan 80 juta, jika tangan kita dipotong dan dibeli satu milyarpun tidak akan kita kasihnya. Namun mental pelacur sebaliknya, dia rela menjajakan dirinya hanya dengan harga yang sangat murah, yakni 80 juta, sungguh nista.

Tapi tidak hanya sampai disitu, pelacuran dalam demokrasi justru lebih bukan hanya menjual tubuh dengan harga sedikit, namun orang rela menjual harga diri negaranya dengan harga sedikit pula. Semisal orang yang sering teriak NKRI harga mati, tapi perilakunya justru sering menjual negara ini kepada asing.

Pelacur negara adalah mereka yang membiarkan SDA negara ini dikuasai asing melalui legeslasi yang berupa UU privatisasi. Mereka mendapatkan secuil materi, namun rela menjual negara ini dengan harga murah. Akibatnya rakyat tidak pernah merasakan kesejahteraan, meskipun negeri ini kaya raya akan SDA. Mereka yang mengkhianati rakyat adalah pelacur negara ini.

Lebih ironis lagi adalah mereka yang melacurkan diri dengan cara menjilat kekuasaan dan menjual agamanya. Islam mengenal istilah ulama su’ adalah mereka yang rela membuat fatwa atau mendukung rezim zolim demi mendapatkan materi yang sedikit. Demi harta dan tahta, dia rela menjilat penguasa dan menjual agamanya. Mereka lebih hina dibandingkan pelacur yang menjual badannya.

Allah telah mengancam dengan tegas atas manusia-manusia pelacur yang rela menjilat penguasa untuk mendapatkan harta dan kedudukan duniawi. Mereka begitu memuja penguasa sambil menfitnah muslim yang lain demi mencari muka di depan penguasa. Mereka mendatangi penguasa sambil membawa proposal fitnah kepada sesama saudaranya muslim. Betapa hinanya mereka, lebih hina dari pelacuran yang menjual badannya.

Perhatikan firman Allah berikut :

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. [QS Al Baqarah : 41]

……….karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [QS Al Maidah : 44]

Dengan demikian, demokrasi dengan kebebasan dan HAM telah melahirkan bukan hanya pelacur badan namun juga pelacur negara dan bahkan pelacur agama. Ketiganya sangat dibenci oleh Islam dan mendapatkan siksa pedih jika tidak bertobat.

Konsep kebebasan berekspresi sebagai bagian dari HAM ala demokrasi sesungguhnya adalah perkara yang menyelisihi sistem Islam. Secara akal pun, bila kebebasan ini menjadi acuan maka yang akan terjadi adalah disharmonisasi sosial dan kerusakan peradaban manusia. Sebab, konsep kebebasan yang dikehendaki demokrasi sangat absurd sehingga memastikan terjadinya benturan di antara kebebasan yang berkembang di masyarakat. Terlebih jika standar/tolak ukur untuk menilai baik dan buruk tidak sama antar anggota masyarakat.

Maka, bisa jadi melarang pelacuran oleh satu kelompok dianggap menghalangi kebebasan perempuan atau dianggap sebagai salah satu bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Padahal pendapat tersebut muncul karena tuntunan Islam. Oleh karena itu, mengukur keberhasilan demokrasi dengan indikator kebebasan sipil cenderung akan melahirkan konflik bahkan penentangan terhadap pelaksanaan ajaran Islam.

Sesungguhnya Islam memerintahkan agar setiap umatnya berpegang teguh dengan ajaran Islam. Seluruh perbuatan manusia bahkan seluruh benda-benda yang digunakannya dan atau berhubungan dengan perbuatan manusia, hukum asalnya adalah terikat dengan hukum-hukum Islam. Keumuman ayat-ayat hukum menunjukkan bahwa dalam masalah-masalah tersebut wajib hukumnya merujuk kepada Syariah, baik berkaitan dengan urusan individu, negara maupun agama.

Allah SWT berfirman : "Apa-apa yang diberikan/diperintahkan Rasul kepada-mu maka terimalah/laksankanlah, dan apa yang dila-rangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr [59] : 7). "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muham-mad) sebagai hakim/pemutus terhadap perkara yang mereka perselisihkan,..." (QS. An-Nisaa' [4] : 65)

"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah." (QS. Asy-Syuura [42] : 10). "Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul(Nya) (Sunnahnya)." (QS. An-Nisaa' [4] : 59). "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka." (QS. Al-Ahzab [33] : 36).

Oleh karena itu segeralah umat Islam meninggalkan ideologi transnasional demokrasi yang pondasi utamanya adalah sekulerisme, dimana agama diabaikan dalam kehidupan. Sebaliknya, umat Islam harus segera kembali kepada sistem Islam yang berdasarkan Al Qur’an dan Al hadist yang akan mampu menjaga individu, kehidupan dan alam semesta ini.

Islam dengan kekuatan syariahnya, akan menjadikan manusia yang mulia perilakunya, kehidupan yang penuh keadaban dan kemajuan serta akan menjadi penjaga bagi alam semesta agar tetap harmonis dalam kesejahteraan, kebahagiaan, keselamatan dan keberkahan di dunia maupun di akherat.

Ayo tunggu apa lagi, buang demokrasi yang melahirkan pelacuran dan tegaknya Islam yang melahirkan peradaban mulia.

[Ahmad Sastra, Kota Hujan,15/01/19 : 17.30 WIB]



Oleh: Muhammad Kun Syuhada, M.Pd.


PEMERINTAH CINA DAN BALATENTARANYA SUDAH MENANGKAP SEKITAR 3 JUTA UMAT ISLAM DI CINA

Sampai Sekarang Penangkapan Masih Terus Berlanjut. Umat Islam Ditangkap, Disiksa, dan Dipaksa Murtad. Jika Tidak Mau Murtad, Mereka Dibunuh

Rasulullah SAW bersabda:

و من لم يهتم للمسلمين فليس منهم

"Dan barangsiapa yang tidak peduli dengan kondisi Umat Islam maka dia bukan bagian dari mereka."
(HR. Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7902)

Allah SWT Berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS. Al Hujurat [49]: 10).

Turkistan Timur adalah Negeri Muslim dengan hampir semua penduduknya beragama Islam dan bersuku bangsa Uyghur.

Setelah Kekhalifahan Islam Runtuh, Turkistan Timur dijajah oleh Cina dan dipaksa masuk menjadi bagian Negara Cina dan dijadikan salah satu Provinsi Cina.

Nama Turkistan Timur diganti menjadi Xinjiang (Kota Baru).

Sekarang umat Islam di sana sedang dalam proses pemurtadan.

Diantara Kebengisan Pemerintah Cina Terhadap Umat Islam di Cina (dari berbagai sumber).

1. Pemerintah Cina memaksa Umat Islam untuk menjadi komunis dan atheis.

2. Anak-anak Umat Islam dipaksa untuk berbicara bahasa Cina, berpakaian pakaian tradisional Cina, mengkonsumsi makanan haram, sujud ke patung Confucius, dan menghafal arti bendera Komunis.

3. Al-Qur’an dijadikan sebagai buku jahat dan sedang dibakar dalam jumlah berton-ton.

4. Umat Islam yang ditangkap dipaksa untuk mengutuk agama Islam dan identitas Muslim mereka, mereka dipaksa untuk berjanji bahwa mereka adalah orang Cina, dan bahwa mereka komunis. Mereka juga dipaksa makan daging babi dan minum alkohol.

5. Bahasa Muslim Uyghur telah dilarang dari penggunaan resmi dan pendidikan, sedangkan semua buku dalam bahasa Uyghur juga dibakar.

6. Lebih dari 20.000 Masjid dihancurkan, diubah menjadi kantor-kantor pemerintah, diberikan kepada pebisnis Cina, dan berubah menjadi pusat propaganda.

7. Lebih dari 60.000 guru agama, dan ulama telah dibuang ke penjara.

8. Membunuh ribuan bayi yang masih berada di rahim ibu mereka, bahkan pada usia 9 bulan.

9. Membawa ratusan ribu pria Cina, kemudian semua muslimah dipaksa menikahi laki-laki Cina.

10. Puluhan ribu mayat pemuda muslim yang menghilang telah ditemukan, dan organ mereka telah diambil untuk digunakan oleh orang Cina.

11. Lingkungan muslim telah ditutup dengan pos pemeriksaan keamanan di mana-mana sehingga tidak ada kebebasan bergerak bagi umat Islam.

12. Semua paspor Muslim telah dicabut. Internet dan telekomunikasi dengan dunia luar telah dihambat. Setiap orang muslim yang telah mengunjungi Arab Saudi, Mesir, Turki, dan Pakistan atau memiliki anggota keluarga yang tinggal di negara-negara ini, semuanya dijatuhi hukuman lebih dari 10 tahun penjara.

13. Pemerintah Cina menyuruh Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Pakistan untuk memulangkan ribuan mahasiswa muslim Uyghur yang sedang kuliah di sana, mereka dihukum ketika tiba di Cina.

14. Semua tanah milik orang-orang Islam, rumah, bisnis, dan properti pribadi telah disita dan diberikan kepada pemukim Cina, memaksa orang-orang Islam jatuh miskin.

15. Media dan jurnalis tidak dapat menyelidiki dan melaporkan ketika Cina melakukan penindasan, pembantaian dan pembantaian di seluruh permukiman, desa, dan kota-kota.

16. Umat Islam tidak diizinkan untuk menjalankan sholat. Mereka harus menyanyikan lagu-lagu pro-Cina untuk mendapatkan makanan.

17. Pemerintah Cina menyiksa mereka dengan berbagai cara yang tidak manusiawi. Para korban diikat ke kursi “harimau” di dekat mata kaki mereka; tangan mereka dikunci di belakang kursi. Para penyiksa itu tidak memolehkan mereka untuk tidur, menggantung mereka selama berjam-jam dan memukuli mereka. Alat-alat seperti tongkat kayu dan karet tebal, cambuk yang terbuat dari kawat bengkok, jarum untuk menusuk kulit, tang untuk mencabut kuku, dll. Semua alat itu digunakan untuk menyiksa orang-orang muslim dan mengeluarkan Islam dari mereka. Mereka diperintahkan untuk berdiri di atas lempengan semen di bawah terik matahari, tanpa pakaian apa pun kecuali pakaian tipis. Mereka menempatkan orang-orang di penjara air yang penuh dengan air kotor dan bau, hingga ke leher, selama lima hari. Selama penyiksaan itu, para korban muslim hanya diberi sepotong kecil roti, dan para sipir penjara itu mengatakan, “supaya [mereka] bertahan hidup”.

18. Para muslimah muda diperkosa setiap hari oleh para pejabat dan tentara Cina di kamp-kamp dan dibunuh jika mereka menolak. Para wanita itu diambil dari sel-sel mereka dan diperkosa sepanjang malam. Jika mereka terus melawan, maka mereka disuntik dengan sesuatu zat untuk dibunuh. Para wanita muslim itu juga diberi pil anti hamil. Biasanya terdapat 40 hingga 50 wanita di dalam satu ruangan kecil, tetapi 5 sampai 10 wanita secara teratur dikeluarkan dan mereka menghilang begitu saja, mereka tidak pernah kembali. Orang-orang dibunuh setiap hari.


WAHAI UMAT ISLAM DI SELURUH DUNIA
WAHAI TENTARA-TENTARA ISLAM YANG GAGAH PERKASA

Yakinkah Anda akan bisa lolos Hisab di Padang Mahsyar, ketika Anda tidak peduli dengam keadaan Umat Rasulullah yang ada di Cina?


Solusi Sementara Untuk Menyelamatkan Umat Islam di Cina

- Memperbanyak do'a "Semoga Allah menyelamatkan Umat Islam di Cina dan segera mengadzab dan menghancurkan Pemerintahan Cina beserta bala tentaranya".

- Terus menyebarkan berita tentang kondisi Umat Islam di Cina.

- Memboikot semua produk Cina.

- Mengepung semua Kedubes Cina di dunia dan mengusir mereka dari Negeri-negeri Muslim sebagai bentuk tekanan kepada Cina.

- Turun ke jalan melakukan Aksi-Aksi Damai untuk menuntut semua pemerintahan negeri muslim agar melakukan penekanan kepada Cina.

- Menggugah kesadaran tentara-tentara Islam untuk berangkat ke Cina membebaskan Umat Islam di sana dari Penjajahan Cina.


Solusi Tuntas Untuk Menyelamatkan Umat Islam di Cina

Melaksanakan perintah Allah dan RasulNya untuk menyatukan Seluruh Umat Islam di dunia yang sekarang berjumlah sekitar 2 milyar orang dalam Naungan Kekhalifahan yang akan menghimpun semua potensi dan kekuatan Umat Islam,
yang dengannya Khalifah bisa mengomando Tentara-tentara Islam yang gagah perkasa untuk membebaskan Umat Islam di Cina dan menjaga Kemuliaan Islam dan Umat Islam.
#Tegakkan khilafah
#TerapkanSyariatIslam

Wallahu A'lam



Oleh : Nazril Firaz Al-Farizi

Mercusuarumat.com. Saat ini kurang lebih sekitar 98 hari lagi Pilpres dan Pileg secara bersamaan akan dilaksanakan pada 17 April 2019, tentunya saat ini adalah fase kampanye dari para kandidat yang akan bertarung di ring tinju pada kuartal kedua nanti.

Mungkin ada yang bertanya-tanya apa itu patronase. Ternyata istilah patronase ini tidak ada di dalam KBBI, melainkan diluar itu. Arti dari Patronase sendiri ialah sebuah pembagian keuntungan di antara politisi untuk mendistribusikan sesuatu secara individual kepada pemilih, para pekerja atau pegiat kampanye, dalam rangka mendapatkan dukungan politik dari mereka. Kemudian kata "mereka" disini bisa diartikan sebagai Klientalisme yang berarti mendengarkan atau mematuhi, dimana orang yang mempunyai posisi lebih rendah (klien) memberikan dukungan kepada orang yang mempunyai posisi lebih tinggi (patron) yang menggunakan pengaruhnya serta sumber daya yang dimilikinya untuk memberikan sesuatu pada orang yang lebih rendah. [1]

Bagi rezim yang sedang berkuasa saat ini, dimana rezim ini pun akan melaju kembali untuk memperpanjang usia kekuasaannya, maka sudah banyak patronase yang rezim lakukan untuk mendapat dan mempertahankan dukungan dari masyarakat (klien) yang dulu telah loyal, atau bahkan membuat dukungan tambahan dari masyarakat yang kontra agar menjadi pro dengan berbagai cara.

Seperti yang kita ketahui, banyak janji-janji yang tidak ditepati oleh rezim berkuasa saat ini yang jumlahnya begitu banyak, bahkan dalam kampanye ini pun kembali memunculkan visi dan misi sebagai sesuatu yang akan didistribusikan di waktu yang akan datang oleh rezim (patron) sebagai bentuk imbalan untuk masyarakat (klien) yang ingin mendukungnya agar terpilih kembali.

Kita lihat visinya berbunyi "Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian, berlandaskan gotong-royong." Dimana visi itu akan dicapai oleh 9 misi diantaranya :
1. Peningkatan kualitas manusia Indonesia.
2. Struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing.
3. Pembangunan yang merata dan berkeadilan.
4. Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan.
5. Kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa.
6. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
7. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga.
8. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya.
9. Sinergi pemerintah daerah dalam kerangka Negara Kesatuan.

Dilihat dari visi dan misi ini saja hanya sebagai dagangan untuk kembali membangun relasi berulang (iterative) sebagai bentuk klientelisme terhadap orang-orang yang berada di dalam lingkaran kekuasaannya (ormas Islam pro rezim, tokoh pro rezim, ulama pro rezim, lembaga lainnya, dsbnya) agar para pendukung (klien) ini tetap memilih kembali rezim, meski dalam hal lain pun rezim membangun relasi tunggal (one-off) kepada masyarakat akar rumput dengan blusukan-blusukan sebagai bentuk membangun citra diri dan membangun loyalitas masyarakat awam/mengambang (floating mass).

Jumlah pemilih yang ditetapkan KPU untuk pemilu 2019 adalah sebesar 192.828.520 pemilih yang terdiri dari 96.271.476 pemilih laki-laki dan 96.557.044 pemilih perempuan. Dari 192 juta tersebut sekitar 2.058.191 pemilih berada di luar negeri. Menurut lembaga riset dan kosultan, Saiful Mujani untuk Pemilu 2019 nanti diperkirakan terdapat sekitar 38,4% pemilih mengambang (swing voters) atau jika jumlah pemilih sebesar 192.828.520 maka ada sekitar 74.064.151 pemilih mengambang di Pemilu 2019 nanti.

Masyarakat awam sebanyak 74 juta tersebut tentunya akan menjadi santapan empuk dalam patronase politik rezim yang akan memamerkan visi-misinya yang penuh dengan bualan dan mimpi di siang bolong.

Kami katakan visi dan misinya itu sebagai bualan dan mimpi karena saat ini saja sudah terbukti negara sudah jelas bukan sekedar sebagai patron murni dan tunggal, tetapi rezim pun sekaligus berperan sebagai klien yang tunduk terhadap patron bertingkat, dialah para Kapitalis Asing terutama China yang menjadi sandaran rezim untuk melakukan proses bunuh diri secara perlahan dengan hutang dan penyerahan aset strategis negara serta serbuan tenaga kerja asing China dengan dalih untuk melakukan pembangunan meningkatkan pertumbuhan ekonomi agregat dengan membuka jalur investasi sebesar-besarnya.

Lihat saja pada awal tahun ini Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Kordinator Bidang Kemaritiman Ridwan Djamaluddin, mengatakan bahwa Jakarta telah melakukan komunikasi struktural dengan Beijing untuk membuka serangkaian proyek baru senilai US$60 miliar untuk investasi China pada proyek-proyek yang akan mencakup pembangkit listrik dan taman industri, pelabuhan, dan infrastruktur lainnya di Provinsi Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, Sulawesi Utara dan Bali.

Rezim yang berperan sebagai klien terhadap China telah melancarkan program Belt And Road Initiative (BRI) China dimana program ini menetapkan jalur sutra perdagangan yang terbagi ke dalam 2 jalur perdagangan. Jalur utara diawali dari Kota Beijing, Kota Xi'an, Kota Urumql yang berada di Provinsi Xinjiang. Itulah mengapa muslim Uyghur ditindas oleh rezim komunis China, karena salah satu wilayah Xinjiang, yaitu Kota Urumql adalah check point dari Belt and Road Initiative China ini. Kemudian berlanjut ke Kazakhtan, Kirgyzstan, Uzbekistan, Tajikistan, Iran, Turki, Russia, Jerman, Belanda dan Italia.

Kemudian jalur selatan pada Belt and Road ini dimulai dari Kota Quanzhou, Kota Guangzhou, Laut China Selatan, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia (Jakarta, Bangka Belitung, Aceh), Selat Malaka, Bangladesh, Srilanka, India, Oman, Kenya dan Yunani.

Apa arti dari semua itu? Apa arti dari program/proyek Belt and Road Initiative China? Semua itu adalah cara untuk menawarkan berbagai paket kredit ekonomi dari China kepada negara-negara yang berada pada lintasan Belt and Road Initiative China, termasuk Indonesia, sehingga akan terjebak hutang China karena membuka jalan untuk berinvestasi di dalam negeri dalam membangun proyek-proyek infrastruktur strategis.

Apa hubungannya dengan Patronase-Klientalisme lalu hubungannya dengan Visi-Misi Rezim?

Hubungannya jelas, bahwa visi dan misi rezim adalah bullshit dengan menyatakan struktur ekonomi yang produktif, mandiri dan berdaya saing. Bullshit menyatakan akan membangun manusia yang berkualitas, karena yang ada rezim hanyalah patron berkamuflase sebagai klien dari China (patron sesungguhnya) karena rezim begitu akrab dan terus mengemis kepada China.

Menurut layanan data investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan bahwa rezim telah menawarkan proyek infrastruktur pada bulan September 2018 sebesar US$13,2 miliar, lalu pada enam bulan pertama 2018 rezim tawarkan proyek sebesar US$1,3 miliar yang mencakup 1.202 proyek, lalu pada 2017 sebesar US$3,4 miliar dan pada 2016 sebesar US$2,7 miliar.

Bullshit juga dalam misinya menyatakan penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya, karena kenyataannya saat ini pun sangat jelas sudah banyak oposisi yang diperlakukan tidak adil oleh instrumen rezim yaitu aparat dan pengadilan untuk melakukan persekusi sedemikian rupa. Bullshit pula untuk terbebas dari korupsi karena mau seperti apapun sistem Demokrasi ini tidak akan bisa lepas dengan korupsi, dan itu sudah dimulai sejak pendaftaran dan kampanye menjadi caleg, capres dan lainnya.

Begitulah tabi'at pemimpin di dalam sistem Kapitalisme Demokrasi, berkamuflase sebagai patron untuk berjanji mendistribusikan kebutuhan yang dijanjikan kepada klien agar mendapatkan dukungan untuk terpilih kembali pada periode berikutnya. Visi dan misi yang begitu indah mempesona hanyalah sebagai bualan dan mimpi di siang bolong belaka.

Oleh karena itu sudah jelas kita tidak boleh berpangku tangan terhadap pemimpin dzalim seperti itu, meski masih ada sebagian umat Islam yang salah memahami dalil-dalil tentang harusnya taat terhadap pemimpin. Padahal banyak ulama yang menafsirkan dalil-dalil itu tentang apa yang dimaksud taat terhadap pemimpin.

Syaikh ‘Abdul Qadim Zallum di dalam Nidzam al-Hukmi fi al-Islaam menyatakan bahwa maksud dari salah satu sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, “selama mereka masih mengerjakan sholat“, adalah selama mereka masih memerintah dengan Islam; yakni menerapkan hukum-hukum Islam, bukan hanya mengerjakan sholat belaka Ungkapan semacam ini termasuk dalam majaz ithlaaq al-juz`iy wa iradaat al-kulli (disebutkan sebagian namun yang dimaksud adalah keseluruhan). [2]

Imam al-Khathabiy menyatakan; yang dimaksud dengan “kufran bawahan“ (kekufuran yang nyata) adalah “kufran dzaahiran baadiyan” (kekufuran yang nyata dan terang benderang). [3]

“Ulil amriy adalah para imam, sultan, qadliy, dan setiap orang yang memiliki kekuasaan syar’iyyah bukan kekuasaan thaghutiyyah.” [4]

Maka oleh karena itu sudah jelas solusi utama atas segala kerusakan sistem dan rezim ini bukanlah kembali hanya sekedar mengganti rezim, tetapi mengganti sistem secara radikal (mendasar) dengan menegakkan Syariah dan Khilafah yang 180° berbeda jauh dengan politik ala Kapitalisme Demokrasi yang begitu busuk, rusak, merusak dan menyengsarakan umat Islam karena Syariah dan Khilafah berasal dari Sang Maha Tahu akan segala kebutuhan manusia, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala.

Wallahu alam bishowab.
Nazril Firaz Al-Farizi

Catatan kaki :
[1] Scott, J.C. 1972a. Patron-klien Politics and Politics Change in Southeast Asia. The American Political Science Review 66 (1): 91-113.
[2] ‘Abdul Qadim Zallum, Nidzam al-Hukmi fi al-Islam, hal. 257-258.
[3] Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Baariy, juz 13/8-9.
[4] Imam al-Syaukaniy, Fath al-Qadiir, juz 2, hal. 166.



Oleh : Ahmad Sastra

Mercusuarumat.com. KATA ulama adalah bentuk jama’ dari ‘alim yang artinya ahli ilmu atau ilmuwan. Sementara kata su’ adalah masdar dari sa’a-yasu’u-saw’an yang artinya jelek, buruk dan jahat. Secara bahasa arti ulama su’ adalah ahli ilmu atau ilmuwan yang buruk dan jahat.

Rasulullah ﷺ bersabda,”Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama”. [HR Ad Darimi].

Ulama hakekatnya berhubungan dengan ilmu dan kebaikannya. Harta dan tahta adalah godaan bagi ulama yang bisa menjerumuskan ke dalam kehinaan. Sayyidina Anas ra meriwayatkan :

“Ulama adalah kepercayaan Rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik terhadap dunia, maka mereka telah mengkhianati para Rasul, karena itu jauhilah mereka.” [HR al Hakim]

Dari Abu Dzar berkata, ”Dahulu saya pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, “Sungguh bukan dajjal yang aku takutkan atas umatku.”. Beliau mengatakan tiga kali, maka saya bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah selain dajjal yang paling Engkau takutkan atas umatmu ?”. Beliau menjawab, para tokoh yang menyesatkan”. [Musnad Ahmad (35/222)]

Dalam sebuah Hadits Rasulullah mengatakan: “ Apabila seseorang di antara kamu bertasyahud, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari 4 hal seraya mengucapkan. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa Neraka Jahannam, Siksa Kubur, Cobaan Hidup dan Mati, dari perlindungan dari Fitnah Dajjal” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dari berbagai sumber, ada beberapa karakteristik ulama su’ sebagai bagian dari fitnah akhir zaman. Semoga karekter ini tidak ada dalam diri kita dan kita bisa terhindar dari bahaya yang mereka timbulkan. Beberapa karakter itu adalah :

MENJUAL ILMU KEPADA PENGUASA. Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’, mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa, masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu [HR al Hakim].

MENUKAR KEBODOHAN SEBAGAI ILMU. Ibnu Rajab al Hambali mengatakan bahwa Asy Sya’bi berkata “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi suatu bentuk kejahilan dan kejahilan itu sebagai bentuk ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran [kenyataan] di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan”.

MEMBURU HARTA DAN TAHTA.
Mereka adalah ulama agama untuk membedakan antara mereka dan ulama dunia, mereka adalah ulama jahat yang dengan ilmunya bertujuan untuk kesenangan dunia, mendapatkan pangkat dan kedudukan pada penduduk [Lihat Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad Dimyathi, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Asyfiya, hal. 70 dan Sayyid Muhammad Al Husaini Az Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqien bi Syarhi Ihya’i Ulumudin, hal 348].

SOMBONG DENGAN BANYAKNYA PENGIKUT.
Penutut ilmu ketiga adalah orang yang kesetanan. Ia menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dengan kedudukan, dan membanggakan diri dengan banyaknya pengikut. Ia masuk terperosok ke banyak lubang tipu daya karena karena ilmunya itu dengan harapan hajat duniawinya terpenuhi. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

BERGAYA DENGAN PAKAIAN ULAMA.
Ia di tengah kehinaan itu merasa dalam batinnya memiliki tempat mulia di sisi Allah karena ia bergaya dengan gaya ulama dan berpenampilan soal pakaian dan ucapan sebagaimana penampilan ulama di saat ia secara lahir dan batin menerkam dunia semata. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

TIDAK MAU BERTOBAT.
Orang ini termasuk mereka yang celaka dan dungu lagi terpedaya duniawi. Tidak ada harapan pertobatan, karena dirinya merasa sebagai orang baik [muhsinin]. [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

SOMBONG DIPERMAINKAN NAFSUNYA.
Sementara nafsunya saat demikian mempermainkan dirinya, menghadirkan impian, memberi harapan, mendorongnya untuk mengungkit-ungkit atas ilmunya di sisi Allah, dan memberinya ilusi bahwa ia lebih baik dari pada sekian banyaknya hamba Allah yang lain [lihat Imam Al Ghazaly, Bidayatul Hidayah, hal. 7-8]

DISORIENTASI INTELEKTUAL.
Tidak memiliki integritas pribadi dan tidak memiliki tanggungjawab intelektual. Sebab orientasinya hanya duniawi, sehingga menyalahgunakan ilmunya demi tujuan materialistik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,”Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi jika ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka ia tidak akan mendapati wangi surga di akherat nanti [HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2 : 338].

MENYALAHGUNAKAN ILMU.
Siapa yang makan dengan memperalat ilmu, Allah membutakan kedua matanya [atau wajahnya di dalam riwayat Ad Dailami], dan neraka lebih layak untuknya [HR Abu Nu’aim dan Ad Dailami]

DIPERBUDAK SETAN DAN HAWA NAFSU. Bencana bagi umatku (datang) dari ulama su’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan untuk mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai kesengsaraannya. Siapa saja yangb kondisinya semikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat : mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. [lihat Al Allamah Al Minawi dalam Faydh al Qadir VI/369]

MEMBELA PENGUASA ZOLIM.
Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui. [lihat Al Allamah Al Minawi dalam Faydh al Qadir Syarah Jami’ Shogir Imam Syuyuthi, VI/369]

MEMBUAT TIPU DAYA.
Hati-hatilah terhadap tipu daya ulama su’. Sungguh, keburukan mereka bagi agama lebih buruk dari pada setan. Sebab, melalui merekalah setan mampu menanggalkan agama dari hati kaum mukmin. Atas dasar itu, ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang sejahat-jahat makhluk . Beliau menjawab, Ya Allah berilah ampunan”. Beliau menyebut sebanyak tiga kali, lalu bersabda,”mereka adalah ulama su’”. [Hujjatul Islam Imam al Ghazali]

MENJILAT PENGUASA.
Ulama su’ orang bergelar ulama atau intelektual yang menjilat penguasa dan menjadikan kaum kafir sebagai teman karib serta menafsirkan al Qur’an sekehendak nafsunya. Dengan bahasa Umar Bin Khathab, ulama su’ adalah mereka yang munafik tapi berilmu.

Penulis aktif di Forum Doktor Indonesia




Oleh: Nasrudin Joha

Mercusuarumat.com. Subhanallah, tak kuasa mata ini menahan buliran air yang mengkonfirmasi 'kasih sayang' dibalut rasa pilu dan kesedihan. Betapa kami, mengasihi dan menyayangi beliau, betapa kami pilu dan sedih dengan kondisi beliau.

Namun, air dari kedua bola mata ini juga mengabarkan rasa haru, gembira dan kobaran semangat, bahagia serta segenap rasa yang meliputinya. Rasa itu terbendung, manakala Guru kami, Ulama kami, meminta kami melalui sebuah video untuk Istiqomah menapaki jalan, sampai puncak kemenangan umat diraih : tegaknya syariah Islam di negeri ini, dan tegaknya khilafah Islamiyah.

Pilu dan hati terasa terhiris, menyaksikan video yang lain ketika Guru Kami, Ulama Kami, hendak terbang menuju Penang. Ikhtiar berobat, yang semoga Allah SWT karuniakan kesembuhan, kebaikan, dan segera kembali kepada kami, murid dan jamahnya.

Selain rasa itu, kami juga memendam jutaan rasa geram dan kemarahan. Bagaimana rezim zalim masih saja tega mengumbar tayangan dusta dibungkus rasa prihatin dan kedekatan, padahal saat itu, saat guru kami, saat ulama kami, mendatangi bibir istana untuk menyuarakan tuntutan keadilan, menagih agar negara bertindak penista agama, ternyata Guru Kami, Ulama Kami, disambut letupan dan tembakan Gas Air mata.

Tak punya malu, rezim durjana mengolah kesedihan dan ironi, untuk mengunggah empati dan keberpihakan. Berhala-berhala elektabilitas, menjadikan penguasa zalim tak ragu dan tak malu membawa muka bopeng dan penuh tambalan menjenguk Ulama Kami, Guru Kami.

Kami tidak ridlo, tidak ridlo Guru kami, Ulama kami dijadikan lelucon dan obrolan permainan politik. Kami akan perhatikan, apa yang menjadi petunjuk pilihan hidup dan perjuangan. Dan dengan itu, kami akan Istiqomah menapaki jalan kebenaran.

Tentu saja Guru Kami, Ulama Kami, tak bisa memilih dan menolak siapa yang menjenguknya. Tetapi Guru Kami, Ulama Kami memberi petunjuk pilihan saat memilih dengan siapa dan oleh siapa ia berangkat berobat menuju Penang. Beliau, jelas menolak diantar barisan penguasa zalim, karena berobat dengan iringan fasilitas dan doa dari penguasa zalim, tidak memberikan faedah dan manfaat sedikitpun.

Wahai Guru Kami, Wahai Ulama Kami, kami telah membaca petunjuk itu begitu tegas. Pilihan eksplisit untuk berjuang menuju puncak kemenangan umat Islam, yakni tegaknya syariat Islam di negeri ini, dan tegaknya khilafah Islamiyah.

Wahai Guru Kami, Wahai Ulama Kami, kami telah membaca petunjuk itu begitu jelas. Pilihan implisit untuk tetap berada bersama umat, dan menolak berhimpun dengan penguasa zalim. Sesungguhnya, petunjuk itu menambah keyakinan kami, untuk mengambil jarak dan mengambil pilihan penentangan kepada rezim zalim, yang represif dan anti Islam.

Tentu saja Guru Kami, Ulama Kami, Ust Arifin Ilham: doa kami seluruh umat dan murid-murid akan selalu menyertaimu.


على هذه النية ولكل نية صالحة الفاتحة

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ * الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

اللهم أنت الشافي، اشف أخينا الكريم عافين إلهام شفاء من كل داء، وشفاء عاجلا، وشفاء لا يغادر سقما، برحمتك يا أرحم الراحمين
الفاتحة

[].



Mercusuarumat.com. Islam menetapkan kebutuhan atas pangan, papan dan sandang sebagai kebutuhan pokok tiap inidividu rakyat. Islam juga menetapkan keamanan, pendidikan dan kesehatan sebagai hak dasar seluruh masyarakat. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ketersediaan kebutuhan-kebutuhan ini seperti memperoleh dunia secara keseluruhan. Ini sebagai kiasan dari betapa pentingnya kebutuhan-kebutuhan tersebut bagi setiap individu. Rasulullah saw. bersabda:

«مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا»
Siapa saja di antara kalian yang bangun pagi dalam keadaan diri dan keluarganya aman, fisiknya sehat dan ia mempunyai makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia mendapatkan dunia (HR at-Tirmidzi).

Untuk itu, dalam ketentuan Islam, negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok berupa pangan, papan dan sandang untuk tiap-tiap individu rakyat. Negara juga wajib menyediakan pelayanan keamanan, pendidikan dan pelayanan kesehatan untuk seluruh rakyat. Hal itu merupakan bagian dari kewajiban mendasar negara (penguasa) atas rakyatnya. Penguasa tidak boleh berlepas tangan dari penunaian kewajiban itu. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban ini di akhirat.

Sayang, penguasa saat ini tampak berlepas tangan dari kewajiban untuk menjamin berbagai kebutuhan dasar yang menjadi hak rakyatnya. Salah satunya adalah jaminan kesehatan. Saat ini jaminan kesehatan masyarakat malah menggunakan sistem asuransi sosial dalam kerangka Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan).


Pengalihan Tanggung Jawab

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bertolak belakang dengan ketentuan Islam. Pasalnya, yang terjadi dalam JKN, pelayanan kesehatan rakyat yang sesungguhnya kewajiban negara justru diubah menjadi kewajiban rakyat.

Menurut Asih dan Miroslaw, dari German Technical Cooperation (GTZ), LSM yang berperan aktif membidani kelahiran JKN: “Ide dasar jaminan kesehatan sosial adalah pengalihan tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan kesehatan dari Pemerintah kepada institusi yang memiliki kemampuan tinggi untuk membiayai pelayanan kesehatan atas nama peserta jaminan sosial.” (Asih Eka Putri dan Miroslow Manicki. “Pembangunan Sistem Jaminan Kesehatan Sosial: Bagaimana Jaminan Kesehatan Sosial Dapat Membuat Perubahan?” German Technical Cooporation, Social Health Insurance Project Indonesia). Jakarta. (Makalah). www.sjsn.menkokesra.go.id.).

Jadi sejak awal ruh dari sistem JKN oleh BPJS adalah pengalihan tanggung jawab dari pundak negara ke pundak seluruh rakyat. Dengan pengalihan itu, jaminan kesehatan yang merupakan tanggung jawab dan kewajiban negara justru diubah menjadi kewajiban rakyat. Rakyat diwajibkan untuk saling membiayai pelayanan kesehatan di antara mereka melalui sistem JKN dengan prinsip asuransi sosial.


Asuransi Sosial Kesehatan

JKN sejatinya bukanlah jaminan kesehatan. JKN sebenarnya adalah asuransi sosial. Asuransi sosial itu adalah suatu mekanisme pengumpulan dana yang bersifat wajib yang berasal dari iuran guna memberikan perlindungan atas risiko sosial ekonomi yang menimpa peserta dan/atau anggota keluarganya (Pasal 1 ayat 3 UU SJSN).

Akibatnya, pelayanan kesehatan untuk rakyat disandarkan pada premi yang dibayar oleh rakyat. Jika rakyat tidak membayar, mereka tidak berhak atas pelayanan kesehatan. Karena diwajibkan, jika telat atau tidak bayar, rakyat (peserta asuransi sosial kesehatan) dikenai sanksi, baik denda atau sanksi administratif. Pelayanan kesehatan rakyat bergantung pada jumlah premi yang dibayar rakyat. Itulah ide dasar operasional BPJS.

Pemasukan dari iuran dikelola oleh BPJS untuk memberikan jaminan kesehatan kepada peserta JKN-KIS. Namun, tidak semuanya digunakan untuk itu. Menurut UU, sebagian dari dana yang dikelola BPJS Kesehatan harus diinvestasikan dalam instrumen investasi dalam negeri baik instrumen deposito, saham, SBN (Surat Berharga Negara atau surat utang negara), reksadana dan instrumen lainnya. CNN Indonesia melansir bahwa pada akhir tahun lalu (2017) aset dana kelolaan BPJS Kesehatan menyentuh angka sekitar Rp7,2-Rp7,3 triliun (www.cnnindonesia.com, 28/8/2018).

Dalam perjalanan mengelola JKN-KIS, BPJS terus mengalami defisit sejak 2014. Defisit itu makin besar dari tahun ke tahun. Tahun 2014 defisitnya Rp 3,3 triliun, lalu naik menjdi Rp5,7 triliun pada 2015. Berikutnya naik lagi menjadi Rp 9,7 triliun pada 2016 dan Rp 9,75 triliun pada 2017. Untuk tahun ini, berdasarkan audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) setidaknya hingga akhir 2018, defisit BPJS Kesehatan mencapai Rp 10,98 triliun. Akibat defisit itu, BPJS Kesehatan menunggak pembayaran kepada ratusan rumah sakit yang menjadi partner BPJS Kesehatan.

Dalam rapat di DPR, Selasa (18/9), Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris menyebut besaran klaim yang dibayarkan perusahaan selalu lebih besar ketimbang iuran yang diterima dari pesertanya. CNBC Indonesia (29/9/2018) menyebutkan, BPJS Kesehatan memang memiliki potensi menderita defisit setiap tahun. Pasalnya, besaran iuran tidak bisa menutupi rata-rata biaya peserta. Pada 2017, rata-rata premi perorang perbulan mencapai Rp 34.119, sementara rata-rata biaya perorang Rp 39.744 perbulan. Artinya, tekor Rp 5.625 perorang perbulan. Dengan jumlah peserta mencapai 204,4 juta hingga pertengahan September 2018 maka defisit BPJS Kesehatan perbulannya sekitar Rp 1,1 triliun. Selama kondisinya seperti itu, meski kepesertaan 100% lebih sekalipun, BPJS akan terus defisit.

Dalam kerangka berpikir asuransi sosial, tentu solusi defisit BPJS adalah dengan menaikkan iuran premi. Namun, dalam situasi tahun Pemilu, solusi menaikkan iuran BPJS jelas “tidak menguntungkan” bagi Jokowi. Karena itu untuk menutup defisit itu dipilih kebijakan menyuntikkan dana dari APBN ke BPJS Kesehatan. Dalam hal ini Pemerintah telah menyuntikkan dana yang jika ditotal sudah mencapai Rp 10,1 triliun (finance.detik.com, 12/12/2018).


Jaminan Kesehatan dalam Islam

Dalam Islam, kebutuhan atas pelayanan kesehatan termasuk kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi kewajiban negara. Rumah sakit, klinik dan fasilitas kesehatan lainnya merupakan fasilitas publik yang diperlukan oleh kaum Muslim dalam terapi pengobatan dan berobat. Jadilah pengobatan itu sendiri merupakan kemaslahatan dan fasilitas publik. Kemaslahatan dan fasilitas publik (al-mashâlih wa al-marâfiq) itu wajib disediakan oleh negara secara cuma-cuma sebagai bagian dari pengurusan negara atas rakyatnya. Ini sesuai dengan sabda Rasul saw.:

«الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari).

Salah satu tanggung jawab pemimpin adalah menyediakan layanan kesehatan dan pengobatan bagi rakyatnya secara cuma-cuma.

Sebagai kepala negara, Nabi Muhammad saw. pun menyediakan dokter gratis untuk mengobati Ubay. Ketika Nabi saw. mendapatkan hadiah seorang dokter dari Muqauqis, Raja Mesir, beliau menjadikan dokter itu sebagai dokter umum bagi masyarakat (HR Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa serombongan orang dari Kabilah ‘Urainah masuk Islam. Mereka lalu jatuh sakit di Madinah. Rasulullah saw. selaku kepala negara kemudian meminta mereka untuk tinggal di penggembalaan unta zakat yang dikelola Baitul Mal di dekat Quba’. Mereka diperbolehkan minum air susunya secara gratis sampai sembuh (HR al-Bukhari dan Muslim).

Saat menjadi khalifah, Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. juga menyediakan dokter gratis untuk mengobati Aslam (HR al-Hakim).

Masih ada nas-nas lainnya yang menunjukkan bahwa negara menyediakan pelayanan kesehatan secara penuh dan cuma-cuma untuk rakyatnya.

Semua itu merupakan dalil bahwa pelayanan kesehatan dan pengobatan adalah termasuk kebutuhan dasar yang wajib disediakan oleh negara secara gratis untuk seluruh rakyat tanpa memperhatikan tingkat ekonominya.

Jaminan kesehatan dalam Islam itu memiliki empat sifat. Pertama, universal, dalam arti tidak ada pengkelasan dan pembedaan dalam pemberian layanan kepada rakyat. Kedua, bebas biaya alias gratis. Rakyat tidak boleh dikenai pungutan biaya untuk mendapat pelayanan kesehatan. Ketiga, seluruh rakyat bisa mengaksesnya dengan mudah. Keempat, pelayanan mengikuti kebutuhan medis, bukan dibatasi oleh plafon.

Pemberian jaminan kesehatan seperti itu tentu membutuhkan dana tidak kecil. Pembiayaannya bisa dipenuhi dari sumber-sumber pemasukan negara yang telah ditentukan oleh syariah. Di antaranya dari hasil pengelolaan harta kekayaan umum termasuk hutan, berbagai macam tambang, minyak dan gas, dan sebagainya. Juga dari sumber-sumber kharaj, jizyah, ghanîmah, fa’i, ‘usyur, pengelolaan harta milik negara dan sebagainya. Semua itu akan lebih dari cukup untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan secara memadai dan gratis untuk seluruh rakyat, secara berkualitas.

Kuncinya adalah dengan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh. Hal itu hanya bisa diwujudkan di bawah sistem yang dicontohkan dan ditinggalkan oleh Nabi saw., lalu dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan generasi selanjutnya. Itulah sistem Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Inilah yang harus diperjuangkan oleh—sekaligus menjadi tanggung jawab—seluruh umat Islam.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []



Mercusuarumat.com. Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah dulunya termasuk dari Tabi'in (270 H) yang HAFAL AL QURAN. Namanya adalah sebaik-baik nama, 'Abdah bin 'Abdurrahiim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya di dunia ini seorang MUJAHID NAN HAFAL AL QURAN, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya...???

Namun tak disangka, akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang semua ISI AL QURAN dalam hafalannya melainkan 2 AYAT SAJA YANG TERSISA. Ayat apakah itu?? Apakah penyebabnya..?? Inilah kisahnya :

Pedangnya masih berkilat-kilat memantul cahaya mentari yang panas di tengah padang pasir yang gersang. Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi. Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya.

Tak disangka pula, nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang WANITA ROMAWI, tidak dengan pedang melainkan dengan ASMARA.

Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba-tiba mata 'Abdah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su’ul khotimah.

Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:

“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”

Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jadi milikmu.”

Syahwat telah memenuhi relung hati 'Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta Al Quran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.

Khotamallaahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah… Astaghfirullah, ma’adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad.

Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorg hafidz yang hatinya dipenuhi Al Qur’an meninggalkan Allah dan menjadi hamba salib?

Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Ketika ditanyakan kepadanya, "Dimana Al Quran mu yang dulu???"

Ia menjawab, "Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali 2 ayat saja yaitu :

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
"Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim."

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ.
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).
(QS. Al Hijr: 2-3)

Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yg terakhir namun tak digubrisnya. Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai mati. Mati dalam keadaan MURTAD.

Ya Allah, seorang hafidz nan mujahid saja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lagi hamba yang banyak cacat ini. Tak punya amal andalan.

Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agar Allah lindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk diakhir hayat.

Ma taraktu ba’di fitnatan adhorro ‘ala ar rijaal min nisaa…

"Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yg maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita." (muttafaq ‘alaih).

**Disarikan dari tulisan DR. Hamid Ath Thahir dari buku "Di bawah Kilatan Pedang" (101 Kisah Heroik Mujahidin)



Oleh: Ahmad Sastra

Mercusuarumat.com Dua kepastian dalam kehidupan dunia adalah kemungkinan dan perubahan. Banyak hal yang secara rasional tidak mungkin terjadi, justru bisa terjadi. Sementara perubahan adalah kepastian yang terus berjalan, tidak ada kehidupan dunia yang tidak mengalami perubahan.

Keruntuhan rezim fir’aun dan namrud yang secara rasional sangat kuat ternyata bubar di tengah jalan dengan kehadiran para Rasul Allah. kebangkitan Rasulullah dengan tegaknya negara Madinah dianggap ilusi oleh dua negara adikuasa saat itu, Romawi dan Persia.

Keruntuhan Uni Soviet adalah mimpi buruk bubarnya ideologi komunisme. Kapitalisme Amerika bahkan kini sedang mengalami sekarat, meski belum genap satu abad, namun berbagai krisis terus menderanya. Ada faktor internal yang tak disadari bahwa kapitalisme dan komunisme menyimpan gen busuk atau self destructive.

Runtuhnya ideologi, negara ataupun peradaban serta bangkitnya didasarkan oleh faktor internal dan eksternal. Kedua faktor inilah yang kemudian memperkuat argumen bahwa narasi adanya kemungkinan dan perubahan kehidupan dunia menjadi sebuah keniscayaan.

Kali ini saya akan menuliskan sepuluh faktor yang bisa menyababkan negara bubar. Makna bubar bisa bersifat filosofis dan empiris. Ini hanya pendapat yang mungkin benar mungkin salah, didasarkan oleh analisa historis, filosofis dan empiris. Jika tak sependapat silahkan, silahkan berikan argumennya.

PENJAJAHAN. Kolonialisme dan imperialisme adalah sejarah sepanjang manusia ada. Ideologi kapitalisme dan komunisme menjadikan kolonialisme sebagai satu-satunya cara untuk eksistensi dan hegemoni. Dahulu banyak negara yang dijajah oleh negara-negara besar dengan cara perang hingga negara itu direbut sang penjajah dan negara itu akhirnya bubar. Namun kini neokolonialisme menjajah melalui penguasaan faktor ekonomi, politik, budaya, pendidikan dan hukum yang secara filosofis menjadikan negara bubar.

KEDAULATAN. Neokolonialisme menjadikan suatu negara tak mampu banyak berbuat, sebab seluruh aspek ketatanegaraan dan kebangsaan telah dikuasai oleh asing. Seluruh kebijakan negara harus tunduk kepada bangsa asing yang bercokol. Kepala negara yang mengalami neokolonialisme tak ubahnya hanya seonggok boneka yang diperbudak asing. Negara dibawah neokolonialisme secara filosofis bisa dikatakan bubar.

DEMORALITAS. Salah satu sendi penting dalam negara adalah sumber daya manusia. Bahkan jika memiliki sumber daya alam yang melimpah namun tak diiringi oleh sumber daya manusia yang berkualitas, maka tak banyak artinya. Selain kualitas keahlian mengelola sumber daya alam dan kehidupan dengan pola fikir yang cemerlang, maka moralitas atau pola sikap adalah faktor yang tidak kalah penting. Jika penyelenggara negara tak lagi jujur dan amanah maka runtuhlah negara itu. Sebab apa yang bisa diharapkan dari penyelenggara negara yang amoral, apa ?.

DISINTEGRASI. Disintegrasi yang dialami oleh Uni Soviet adalah masa yang menandakan bubarnya negara adi daya itu. Secara empiris pecahnya suatu negara menjadi berbagai wilayah independen adalah indikasi bubarnya negara tersebut. Negara yang bagus jika mengalami integrasi bukan disintegrasi. Ibarat rumah tangga, maka dikatakan bubar jika suami istri itu bercerai.

KEMISKINAN. Tugas negara yang paling penting adalah mengurus rakyatnya agar hidup bahagia, sejahtera dan tenteram. Jika ketiganya tak dirasakan rakyat, maka negara itu tidak hadir, entah kemana. Dengan kemampuan pemimpin dan adanya faktor sumber daya manusia dan alam, maka negara dengan sistem yang baik akan mampu mengurus rakyatnya. Namun jika rakyat justru mengalami kemiskinan dan kemelaratan, maka negara bisa dikatakan tidak hadir alias tidak ada. Ketidakhadiran negara dalam kehidupan rakyat secara filosofis bisa disebut bubar.

KORUPSI. Negara yang baik adalah yang dicintai rakyat dan rakyat mencintai negara. Pemimpin yang baik adalah yang mencintai rakyat dan rakyat mencintai pemimpinnya. Pemimpin yang baik adalah yang memikirkan dan mengabdi kepada rakyat dan rakyat juga membantunya. Jika pemimpin abai kepada rakyat, maka rakyat akan abai kepada pemimpinnya. Jika pemimpin korupsi, maka rakyat akan berbuat lebih dari itu. Kesenjangan sosial karena korupsi akan mengakibatkan negara tidak stabil. Jika rakyat dan pemimpin tak lagi saling mencintai dan memikirkan maka sama dengan bubar. Bahasa anak zaman now : loe gua, end !

HUTANG. Psikologi orang berhutang akan menjadikan orang yang memberi hutang sebagai orang yang lebih tinggi dari dirinya. Rasa malu dan takut akan selalu menghantui orang yang memiliki hutang. Apalagi jika hutang itu menggunung dan tak mampu dibayar. Jika si pemberi hutang menagih, maka secara psikologis orang yang hutang akan stress. Saat seperti inilah yang mengakibatkan apapun bisa dilakukan, termasuk menjual rumah dan mobilnya yang dimiliki. Apa jadinya jika keluarga tinggal di rumahnya yang telah terjual dan tiap bulan harus membayar sewa. Dalam Islam ada doa agar kita dihindarkan dari jeratan hutang dan kekuasaan orang lain. Artinya jika negara banyak hutang, berarti telah terjerat dalam kekuasaan negara lain. Jika hutang menggunung, maka kedaulatan tergulung.

PRIVATISASI. Jika sebuah keluarga menjual sumur yang ada dalam rumahnya padahal menjadi hak seluruh anggota keluarga, apa jadinya ?. Saat mengambil air dari sumur itu harus membayar kepada pemiliki sumur, padahal sumur ada dalam rumahnya. Privatisasi dalam Islam hukumnya haram, karena menjual milik rakyat. Secara empirik, privatisasi adalah buah dari neokolonialisme. Artinya jika semua sumber daya alam milik rakyat diprivatisasi, maka negara itu otomatis bubar.

PENGKHIANATAN. Ada pertanyaan menarik yang perlu direnungkan : mengapa Indonesia begitu lama bisa dijajah oleh bangsa lain. jawabnya adalah karena di Indonesia saat itu ada anjing yang rela memakan tulang saudaranya sendiri. Anjing itu istilah untuk para pengkhianat negara yang selalu akan ada sepanjang zaman. Sebab ada pejuang ada juga pengkhianat yang memancing di air yang keruh. Pengkhianatan akan menjadikan sebuah negara bubar, cepat atau lambat.

KEBODOHAN. Hanya orang bodoh yang bisa ditipu berkali-kali. Kebodohan adalah soal pola fikir yang tidak dilandaskan oleh pijakan yang kuat, bukan semata-mata soal IQ. Kejahiliahan zaman Rasul disebabkan pemikiran kufur yang melanda bangsa Arab. Setelah dicerahkan oleh pemikiran Islam, maka bangsa Arab menjadi bangsa paling cemerlang peradabannya hingga menyebar ke seluruh dunia. Ideologi salah akan menjadikan pemimpin dan masyarakat bodoh politik, bodoh perilaku, bodoh keterampilan dan bodoh kepemimpinan. Kebodohan adalah faktor internal penyebab kehancuran. Jika pemimpin dan rakyat suatu negara bodoh politik, maka akan mengundang datangnya penjajah dan negara terancam bubar. Negara bubar, iya bubar.

Indonesia baru berusia 73 tahun sejak dinyatakan merdeka, mestinya bisa berguru kepada daulah Islam yang mampu bertahan 1400 tahun, bahkan sesaat lagi akan kembali bangkit memimpin dunia.

Ini hanya sebuah interpretasi historis, filosofis dan empiris, jika tak sependapat, tidak ada-apa. Atau jangan-jangan pikiran kita bersepakat dengan tulisan ini ?.

[Ahmad Sastra, Salatiga, 31/12/18 : 09.12 WIB].[].



Oleh Yudha Pedyanto

Dalam dunia militer modern, spotter (atau flanker) adalah orang yang mendampingi shooter (penembak jitu) dalam melaksanakan tugasnya. Tugas utamanya adalah mengamati medan pandang yang luput dari pengamatan shooter, khususnya di medan perang urban. Karena energi shooter biasanya sudah terkuras untuk fokus membidik target, serta menjaga nafas dan degup jantungnya setenang mungkin ketika mengeksekusi targetnya.

Tools yang mereka gunakan pun berbeda. Shooter lazimnya menggunakan senjata laras panjang (long range sniper rifle) seperti Barrett M82, yang bisa menembak target sejauh 1,830 m. Coba Anda tengok sebentar keluar jendela di sembarang titik kira-kira sejauh 2 km. Nah kira-kira sejauh itu seorang sniper bisa menghabisi nyawa Anda. Oh ya Barrett M82 juga dilengkapi dengan monocular scope dengan pembesaran 10 kali.

Sedangkan spotter biasanya menggunan senapan serbu (assault rifle) seperti AK-47, atau favorit saya Steyr AUG (ohh she is sooo sexy!). Jika shooter dilengkapi dengan monocular (teropong tunggal), spotter membawa binoculars (teropong ganda). Monocular sangat efektif bagi shooter untuk meneropong target dalam lingkup pandang yang sempit dengan pembesaran maksimal. Sedangkan binoculars sangat efektif bagi spotter untuk mengamati lingkup pandang yang luas dengan pembesaran sedang.

Kerja sama antara spotter dan shooter sangat efektif dan sinergis. Ketika shooter sedang fokus memburu target dengan sniper rifle dan teropong tunggalnya, spotter dengan teropong gandanya mampu mengamati medan yang lebih luas, serta mengidentifikasi kondisi target dan ancaman potensial yang luput dari pengamatan shooter. Spotter lah yang menentukan kapan, di mana, dan siapa target shooter yang harus dieksekusi lebih dulu.

Seringkali kita menjalani hidup dengan mindset shooter. Dengan lensa tunggal dan pembesaran maksimal kita sibuk mengeksekusi target-target di hadapan kita. Tuntutan pekerjaan, deadline, mengurusi keluarga, serta hal-hal mendesak lainnya. Padahal kita punya potensi besar untuk mengeksekusi target-target yang jauh lebih besar dan spektakular. Sayang semuanya tadi terlewatkan karena kita hanya membawa mental tools seorang shooter.

Jika Anda merasa seperti seorang shooter, Anda tidak salah. Anda hanya membutuhkan seorang spotter. Ia bisa jadi orang tua, guru, kerabat atau sahabat Anda. Tugas utamanya adalah men-spot talenta tersembunyi Anda, serta mengarahkan kapan, di mana dan target apa yang harus Anda shoot menggunakan talenta unik yang Anda miliki tadi.

Tapi tugas paling penting seorang spotter adalah INI; dia benar-benar meyakini potensi tersembunyi seorang shooter, bahkan ketika sang shooter tidak meyakininya sama sekali. Inilah bedanya spotter dan supporter. Spotter tidak akan pernah kehilangan kepercayaan akan kemampuan shooter, sekalipun ia sama sekali belum pernah jadi pemenang, atau berkali-kali kalah dan berada di titik terendah. Sedangkan supporter hanya akan mendukung shooter ketika terbukti sudah pernah jadi pemenang, serta membersamainya di masa-masa kejayaannya saja.

Dengan kata lain, seorang spotter pada hakikatnya adalah seorang leader. Menurut Stephen Covey, leadership is communicating to people their worth and potential so clearly that they come to see it in themselves. Kepemimpinan adalah seni mengkomunikasikan nilai dan potensi yang dimiliki oleh seseorang sedemikian jelasnya, sampai-sampai mereka yakin dan mewujudkannya sendiri. Itulah berharganya seorang spotter, keyakinannya mendahului keyakinan shooter.

Jika Anda menikmati tulisan saya yang Anda baca sekarang (dan sebelum-sebelumnya), itu tak terlepas dari peran spotter. Entah berapa kali saya berniat berhenti menulis karena merasa kurang berbakat. Para spotter lah yang terus meyakinkan saya kalau saya punya potensi untuk menghasilkan karya yang berbeda. Ketika berkali-kali saya hampir kehilangan keyakinan, para spotter tetap menaruh keyakinan yang tak tergoyahkan kepada saya, dan meminta saya untuk terus mencoba dan berkarya. Jika Anda membaca tulisan ini di Facebook, Anda bisa menjumpai para spotter saya melalui nama-nama yang selalu saya tag.

Spotter is everywhere. Kadang mereka memiliki nama-nama formal yang berbeda, tapi secara substansial dan fungsional sama. Hubungan shooter dan spotter di dunia bisnis dikenal dengan istilah founder dan co-founder. Google didirikan oleh Larry Page bersama co-founder-nya Sergery Brin. Apple didirikan oleh Steve Jobs bersama co-founder-nya Steve Wozniak. Gojek didirikan oleh Nadiem Makarim bersama co-founder-nya Michaelangelo Moran. Hubungan shooter dan spotter di dunia tulis menulis dikenal dengan istilah author dan editor. Sedangkan di dunia harokah Islam dikenal dengan istilah musyrif (murobbi) dan mad’u.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal para panglima penakluk yang berhasil mengalahkan para adi daya. Ternyata sejak kecil sampai dewasa, mereka tumbuh jadi pemimpin dan penakluk tak lepas dari relasi shooter dan spotter yang intens. Saifudin Qutuz yang berhasil menaklukkan pasukan Tartar di Ain Jalut dibina oleh Haji Ali Al-Farrasy. Salahuddin Al-Ayyubi yang berhasil menaklukkan pasukan Salib di Yerusalem dibina oleh Ibnu Asakir. Dan Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Romawi Timur di Istambul dibina oleh Syaikh Aaq Syamsuddin.

Terkadang spotter tidak membawa pesan kepada individu, tapi kepada kelompok masyarakat secara keseluruhan. Sebagaimana yang pernah dituturkan oleh Ustadz Salim Fillah: Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah Ulama Palestina pernah berkata: Allah pernah memilih Bangsa ‘Arab, Kurdi, Mamalik, dan Turki untuk mempimpin penzhahiran agama ini, tapi semuanya tadi telah Allah cabut. Dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain untuk memimpin penjayaan Islam.

Beliau kemudian menghela nafas panjang, kemudian tersenyum lalu berkata: “Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini. Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka?“ Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah SAW itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam.”

Pesan saya ini; jika Anda mendapat ilham atau firasat yang sangat kuat terhadap potensi seseorang, yang Anda sendiri tak kuasa menjelaskannya dengan kata-kata, selamat Anda telah menjadi seorang spotter. Tugas Anda selanjutnya adalah menyampaikan dan membina shooter Anda sebaik-baiknya. Sebaliknya jika Anda dihampiri seorang spotter, apalagi jika dia seorang alim dan ulama akhirat, perhatikan dan dengarkan baik-baik, karena ilham seorang spotter biasanya tak pernah salah. Dan Anda mungkin kelak akan mengubah arah sejarah.

Jogjakarta, 31 Desember 2018

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget