Agar Perempuan Lebih Baik (Refleksi hari Perempuan internasional)


Oleh : Imas Nuraini, S.P
(Pengasuh Majelis Taklim Nurul Ilmi)

8 maret diperingati sebagai hari perempuan internasional (International Woman`s Day). Dalam 5 tahun terakhir orasi yang disampaikan masih terkait isu #pressforprogress. Gerakan ini diusung untuk memotivasi kaum wanita untuk makin mendorong kemajuan terkait perkembangan kesetaraan gender di dunia. Perayaan tahun ini pun masih berjuang untuk menyuarakan isu yang sama #Balancedforbetter, mengingat berbagai problem yang berada di sekitar perempuan sebut saja problem kekerasan seksual yang dianggap sudah memprihatinkan, ternyata semakin tidak terkendali.

Berbicara perempuan, memang sesuatu yang renyah untuk dibicarakan. Banyak sisi yang bisa dijadikan inspirasi untuk membahasnya. Saat ini, upaya untuk menjadikan perempuan lebih baik ditempuh dengan beragam cara. Mulai dari dorongan untuk menjadikan perempuan terlibat di ranah publik, tidak melulu di ranah domestik yang dianggap kurang produktif dalam mendongkrak angka pendapatan per kapita. Sampai melibatkan perempuan dalam bidang politik, sehingga mereka bisa memperjuangkan hak-haknya melalui jalur konstitusi. Muara dari semua perjuangan tersebut adalah membebaskan perempuan dari hal-hal yang dianggap mengekang hak dan keinginannya. Pertanyaannya adalah, sudahkah tujuan perjuangan ini menyelesaikan problem-problem perempuan?

Feminisme memberikan sudut pandang pada permasalahan perempuan dengan konsep marginalitas perempuan sebagai sebuah ide yang dibangun pada sebuah masyarakat. Menurut feminisme, munculnya masalah-masalah seperti kekerasan seksual, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan dalam rumah tangga, perbudakan dan lain-lainnya adalah karena adanya ide yang masih dipegang pada sebuah masyarakat, yang menomorsatukan laki-laki dan mengabaikan perempuan. Islam seringkali dijadikan pihak tertuduh yang tidak memberikan ruang untuk perempuan bisa lebih baik, bisa mandiri, bahkan bisa lebih maju.

Tuduhan ini misalnya dengan menjadikan hukum kewajiban istri secara fitrah adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, sedangkan kewajiban mencari nafkah ada di tangan suami. Ketentuan ini, dalam pandangan feminisme mengekang perempuan untuk bisa berkiprah di ranah publik yang memungkinkan perempuan bisa mandiri dalam hal pendapatan, sehingga tidak bergantung pada suami. Karena ketergantungan nafkah ini, salah satu sebab banyaknya perilaku kekerasan dalam rumah tangga. Belum lagi aturan-aturan lain yang dirasa membatasi kebebasan perempuan seperti aturan berpakaian, kewajiban taat pada suami, poligami, pembagian waris dll. Padahal, benarkah sumber masalah perempuan itu karena penerapan aturan Islam yang dianggap mengekang kemajuan perempuan?

Kalau kita melihat fakta lebih objektif, misalnya kekerasan seksual yang dialami sebagian besar perempuan tidak bisa dianggap sumber masalahnya karena sudut pandang superioritas laki-laki atas perempuan. Mengapa demikian? Karena fakta yang terjadi angka kekerasan seksual meningkat faktor pemicunya adalah semakin tumbuh suburnya aktifitas pornoaksi dan pornografi serta pergaulan bebas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Para pebisnis pornografi tidak ingin kehilangan pendapatan yang demikian besar untuk menutup industri pornografinya.

Demikian pula, diantara pelaku pergaulan bebas, mereka terjun dalam hal ini dengan beragam alasan, bisa jadi karena faktor ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, atau karena gaya hidup liberalnya. Selain itu, karena lemahnya sisi keimanan dan ketakwaan pada individu. Mereka tidak menghiraukan sanksi berat bagi para pelaku kekerasan seksual, apalagi mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hari kiamat kelak. Inilah sebab utama, angka kekerasan seksual tidak terkendali.
Karena penerapan kapitalisme yang menomorsatukan kebahagiaan materi atau keinginan hawa nafsu tanpa melihat bahaya yang ditimbulkan pada masyarakat. Selain itu, penerapan sekularisme di tengah-tengah kehidupan berhasil mengikis sisi keimanan dan ketakwaan seseorang untuk melakukan apapun yang mereka inginkan. Sehingga, upaya menghapus kekerasan seksual tidak cukup dengan mendorong undang-undang yang masih mengadopsi ide kapitalisme, ataupun sekulerisme. Dengan alasan, undang-undangnya mendorong keseimbangan antara hak laki-laki dan perempuan semisal RUU PKS yang sedang didorong untuk disahkan oleh DPR. Alih-alih menghapus kekerasan seksual, yang terjadi malah kekerasan seksual semakin meningkat.

Perempuan akan lebih baik hanya jika diperlakukan sesuai aturan yang adil menurut Sang Maha Adil. Aturan Syariat Islam sangatlah adil, tidak memihak pada laki-laki ataupun perempuan. Allah SWT yang membuat syariat untuk manusia baik laki-laki maupun perempuan demi mendapatkan kebahagiaan kehidupan di dunia dan di akhirat. Syariat Islam tidak hanya dirasakan kebaikannya untuk kaum muslim saja, melainkan seluruh alam baik manusia, termasuk alam semesta akan merasakan kebaikannya. Masihkan kita meragukan kemampuan Syariat Islam dalam menyelesaikan masalah kehidupan, termasuk masalah perempuan? Masalah perempuan di atas, sebenarnya dialami juga oleh kaum laki-laki.

Kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, ketidakadilan, perbudakan, dan lain-lain. Jawaban atas permasalahan ini hanya bisa diselesaikan dengan penerapan syariat Islam secara sempurna, penerapan sistem ekonomi Islam akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, penerapan syariat tentang sosial pergaulan akan menutup celah pergaulan bebas dan mendorong terwujudnya masyarakat yang sehat dan berperadaban. Selain itu, masyarakat akan disuasanakan untuk tidak memisahkan agama dari kehidupan, sehingga atmosfer keimanan dan ketakwaaan akan senantiasa terpelihara agar tidak mudah terjadinya tindak kriminalitas, karena selain ketegasan sanksi di dunia dia akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak dalam pengadilan yang Maha Adil.   

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget