Media : Senjata Perang Ideologi dan Opini


Oleh : Silvia Mi’raj, S.Farm
(Relawan Opini dan Media)

Beberapa waktu lalu, warganet kembali digegerkan dengan akun media sosial yang memuat konten berbau kaum pelangi. Kali ini datang dari platform Instagram. Tidak hanya postingannya yang menjijikan, bahkan yang membuat miris didalamnya menggambarkan sang tokoh utama adalah seorang muslim. Akun tersebut mengatasnamakan diri sebagai muslim gay comics. Berita tentang perilaku kaum nabi Luth ini semakin hari semakin menjadi. Mereka bertambah subur di tengah masyarakat Indonesia yang notabene mayoritas muslim. Sungguh krisis moral yang sudah berada dititik darurat.

Dilansir dari nasional.republika.co.id, terkait akun Alpantuni tadi pemerintah melalui Kemenkominfo mengatakan penyedia platform media sosial Instagram memenuhi permintaan untuk melakukan penutupan akses (blokir) terhadap akun tersebut. Namun faktanya sampai hari ini (4 maret 2019) akun tersebut masih bisa diakses.
Tentu masih ingat dipikiran kita selama tahun 2018 kemarin banyak sekali akun, grup-grup komunitas L68T di media sosial yang terkuak ke permukaan. Namun sangat disayangkan laporan sebatas laporan, tindak lanjut dari pemerintah nyaris nihil. Begitulah ketika hidup di alam sekuler liberal hari ini, yang mengebiri peran Sang Pencipta dalam mengatur kehidupan. Akibatnya masalah kian merajalela bukannya terselesaikan.

Permasalahan kaum pelangi ini seolah tiada henti, kekhawatiran semakin menggelayuti pikiran masyarakat khususnya kaum ibu. Berharap pada pemangku kekuasaan untuk menyelesaikan gurita masalah ini bagaikan pungguk merindukan bulan. Mereka bahkan tidak mampu melabeli para pelaku laknat itu dengan cap ‘kriminal’. Seolah tidak serius menangani, hanya cukup menerima aduan tanpa menawarkan solusi yang efektif. Padahal mereka punya kuasa untuk memberantas dengan kekuatan hukum yang diberlakukan.

Sistem demokrasi liberallah yang menumbuh suburkan perilaku menyimpang ini sekaligus menjadi biang masalah. Dengan pilar-pilar kebebasan yang dijamin dan dielu-elukan membuat legitimasi untuk para pelaku melakukan kemaksiatan. Mereka semakin eksis dan menginginkan pengakuan ditengah masyarakat. Didukung oleh para pejabat penting bahkan sekelas menteri agama. Bertambah percaya dirilah pelaku nista tersebut.

Media berperan sebagai sarana yang efektif untuk mengkampanyekan L68T. Sehingga dimanfaatkan oleh individu, komunitas untuk melaksanakan pergerakan masif. Lagi-lagi negara seolah tidak mampu memfiltrasi dengan mengendalikan/menekan media agar mereka tegas menutup akses berbagai konten pornoaksi pornografi. Media hari ini menjadi salah satu senjata andalan perang ideologi dan opini dengan dukungan kekuatan negara.

Padahal dalam Islam, jelas sekali perilaku liwath dan macam-macamnya itu adalah bentuk kemaksiatan yang dilarang. Bahkan Allah melaknat pelakunya dan mengancam dengan azab yang keras. Tidakkah cukup kisah kaum Nabi Luth yang dimusnahkan dengan mengerikan dijadikan cerminan? Agar tidak terjerat dalam hal yang sama.

Aturan Islam begitu sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan dengan sangat apik. Termasuk sosial pergaulan, dalam hal ini sanksi tegas terhadap pelaku maksiat seperti kaum gay dan semacamnya. Negara Islam yakni Khilafah akan memberi hukuman seperti pelaku liwath dengan dibunuh, misal dijatuhkan dari tempat yang tinggi. Sehingga memberi efek jera bagi pelaku dan orang disekitarnya.

Negara pun akan mengendalikan media melalui departemen penerangan, memfiltrasi segala bentuk yang menghantarkan pada kemaksiatan. Akan melarang penyebarluasan berbagai opini L68T yang menyesatkan generasi. Media akan dijadikan sebagai sarana mendapatkan informasi kebaikan semata. Karena media merupakan corong informasi yang efektif, berbagai kampanye yang disampaikan akan berupa ajakan pada ketaatan. Atas dasar keimanan kepada Allah Sang Pencipta.

Media massa dalam Islam pun memiliki fungsi yang strategis yakni melayani Ideologi Islam saja. Ia sebagai sarana perjuangan politik dan pergolakan pemikiran. Menghalau pemikiran-pemikiran menyimpang dan membongkar makar jahat musuh Islam dengan bersumber pada data yang jelas dan valid. Serta fungsi-fungsi lain yang strategis untuk mengembangkan dakwah Islam ke seluruh dunia.
Maka, satu-satunya jalan agar generasi kita dan seluruh masyarakat umumnya selamat dari ancaman perilaku menyimpang adalah dengan mengembalikan kehidupan Islam. Menerapkan Islam dalam seluruh lini kehidupan dengan menegakkan institusi pelaksana syariah pemersatu umat, Khilafah Islamiyah sesuai manhaj kenabian.

Wallahu a’lam..

                                                                                                       

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget