Unicorn, Produk yang Pro Kapitalis Bukan untuk Rakyat


- Nisa Agustina, M.Pd -


Akhir-akhir ini istilah unicorn naik daun selepas debat kedua pemilihan presiden 2019. Unicorn sendiri adalah sebutan bagi perusahaan rintisan (Start up) berbasis digital yang memiliki valuasi nilai 1 miliar dolar AS atau setara dengan 14 Triliun rupiah. Indonesia termasuk salah satu negara tersubur di Asia Tenggara dengan pertumbuhan unicorn terbanyak dikarenakan Indonesia tidak memiliki aturan dalam hal penanaman modal asing terhadap perusahaan-perusahaan unicorn.

Dimilikinya startup bervaluasi di atas US$1 miliar (unicorn) di Indonesia dianggap sebagai sebuah reputasi yang hebat. Apalagi Indonesia sudah punya empat startup unicorn yang telah berhasil menggaet investor kelas kakap luar negeri. Tokopedia menjadi unicorn yang paling banyak melakukan putaran penggalangan dana. Sedangkan Gojek menjadi unicorn bervaluasi tertinggi. Techcrunch melaporkan, Gojek telah tujuh kali melakukan putaran penggalangan dana dan mendapat suntikan di atas US$3 miliar. Saat ini Gojek diisukan tengah melakukan putaran penggalangan dana dan valuasinya mendekati US$10 miliar. Saat ini investor Gojek adalah Tencent Holdings, JD.com, New World Strategic Invesment dari China, Google dari AS, Temasek Holdings dan Hera Capital dari Singapura dan Astra International dan GDP ventures dari Indonesia. (CnnIndonesia.com/18-02-2019). Aksi pengumpulan dana ini masih akan terus berlangsung guna memunculkan unicorn baru atau menaikkannya menjadi decacorn. Hal ini diungkapkan Presiden Joko Widodo di Kompas CEO Forum, Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Unicorn merupakan salah satu jenis usaha yang dilirik dalam investasi karena menjanjikan keuntungan bagi kapitalis. Indonesia  merupakan surga bagi perusahaan teknologi rintisan, dengan jumlah penduduk  kurang lebih 240 juta jiwa  dan masyarakat yang dinilai cukup konsumtif, ditunjang  media yang pertumbuhannya melesat.  Sehingga produk yang ditawarkan mudah terjangkau dari pelosok sampai perkotaan. Tidak tanggung-tanggung para investor asing berani mengalirkan dana cukup besar, bisnis startup diperkirakan mampu tumbuh 4 kali lipat pada tahun 2025. Startup ini juga sebagai ekosistem digital yang sudah terbentuk, sehingga sudah mempunyai pengguna yang loyal kepada layanan yang diberikan startup. Selain mendatangkan keuntungan,  investor bisa mendapatkan data yang dapat digunakan untuk mengembangkan bisnisnya.

Bagaimanapun, Indonesia adalah sebuah negeri besar yang seringkali dilirik bahkan menarik bagi investor asing. Para pemilik modal asing tersebut paham benar tentang keuntungan yang akan mereka dapatkan dengan investasi yang mereka lakukan. Sementara di pihak lain, Indonesia beranggapan bahwa investasi asing akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negeri ini dan melahirkan kesejahteraan bagi rakyat.

Benarkah demikian?  Ada bahaya yang mengintai kedaulatan negeri ini di balik penananam modal asing. Dengan derasnya laju investor asing ini, porsi pertambahan nilai terbesar lari kepada pihak asing melalui mekanisme perpindahan kepemilikan harta dengan model laba. Semakin banyak investor asing yang bermain di negeri ini, ketergantungan rakyat dan pemerintah kepada mereka akan semakin besar. Para pemilik bisnis ini dapat melakukan lobi atau bahkan tekanan baik secara ekonomi atau politik kepada pemerintah atau masyarakat untuk kepentingan mereka. Dengan dominasi modal  maka mereka berhak mengatur urusan  negara sesuai kepentingan. Keterlibatan investasi asing dalam memajukan pertumbuhan ekonomi sejatinya adalah pertumbuhan yang semu. Sebab, realiti kesejahteraan hanya dirasakan pada para pemodal.

Karenanya selama masih bergantung pada investor asing, selama itu pula kedaulatan negara menjadi lemah. Sebab tidak memiliki kekuatan hukum yang tegas bagi para investor asing. Berharap unicorn dapat memperbaiki perekonomian negeri bagaikan mimpi di siang bolong. Karena sumber masalahnya adalah bukan dari besar atau kecilnya rintisan usaha swasta yang diperoleh. Akan tetapi karena diberlakukannya sistem kapitalis liberalis dalam sistem ekonomi.

Untuk itu, wajiblah mencari solusi yang jernih atas masalah kekhawatiran penguasaan ekonomi bangsa oleh asing lewat saham-saham yang ditanamnya. Dan solusi jernih itu hanya ada dalam sistem ekonomi Islam. Yang memiliki pandangan yang sangat khas terkait permasalahan ekonomi, dalam bentuk apapun. Cara pandang sistem ekonomi Islam ini dilandaskan pada pandangan halal dan haram, bukan untung rugi seperti dalam perspektif kapitalis liberalis.

Seharusnya bila ingin jadi negara mandiri tanpa intervensi, jangan biarkan investor asing menguasai unicorn maupun aset negara lainnya. Indonesia harus bersikap tegas terhadap investasi yang dapat melemahkan kedaulatannya baik di dalam dan luar negeri. Ambil alih dan kelola sendiri perusahaan dan sumber daya alam milik umat. Maka akan menambah pemasukan negara, dan negara pun lepas dan bebas dari jeratan intervensi.

Dan kemandirian itu hanya akan terwujud jika negara menerapkan sistem Islam. Karena dalam Islam, kerjasama ekonomi tidak boleh dilakukan dengan kaum kafir harbi fi'lan seperti Amerika yang jelas memusuhi Islam. Namun hanya boleh dengan kaum kafir yang mau tunduk pada aturan Islam. Kerjasama itu juga tidak boleh menjadikan perusahan semacam Unicorn dimiliki individu. Tidak ada privatisasi maupun swastanisasi kekayaan umat  dalam Islam. Inilah aturan yang jelas dalam Islam mengenai perusahaan yang dikuasai asing. Jika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, maka kesejahteraan yang hakiki akan dapat terwujud

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget