December 2019

Mercusuarumat.com. Setiap kita mengetahui, penindasan Muslim Uighur oleh Rezim komunis Cina, penjajahan bangsa Yahudi Israel terhadap Muslim Palestina, pelarangan agama Islam di India, konflik politik di Suriah dan nestapa di negeri-negeri umat muslim lainnya. Namun banyak diantara kita belum mengetahui tiga wasiat penting Baginda Rasulullah berkaitan hal ini.
Ust. Yuana Ryan Tresna dalam orasinya di  depan Gedung Sate, Bandung menjelaskan, setidaknya ada tiga hadits penting untuk kita renungkan (Wasiat penting Baginda Rasulullah SAW):
Pertama, Hadits tentang darah. Hal ini disabdakan oleh Rasulullah ketika haji wada. 
"Sungguh darah dan harta kalian haram, seperti sucinya saat ini, bulan ini dan negeri ini". Ia mengatakan, hadits ini merupakan pesan politik yang sangat penting bagi kaum muslimin. Bahwasanya, haram hukumnya menumpahkan darah dan merampas harta kaum muslimin tanpa Haq! Namun kini kita saksikan darah kaum muslimin sangatlah murah di hadapan kafir penjajah. Menyambung ke hadits kedua, bahwasannya segala penindasan di negeri-negeri muslim tak lain karena faham sekularisme yang ditanamkan barat, termasuk  ide nasionalisme. 

Berkaitan dengan nasionalisme, hadits yang kedua menjelaskan, “Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (maksudnya Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?” mereka menjawab: Iya, benar Rasulullah SAW telah menyampaikan.”
Hadits ini, menurut Yuana menegaskan haramnya ide nasionalisme. Akibat nasionalisme umat muslim terpecah belah. Penindasan di satu negeri Muslim menjadi bukan urusan negeri Muslim lainnya. Negri Muslim lainnya hanya sebatas mengutuk dan retorika kecaman belaka. Dengan dalih itu urusan luar negeri bukan dalam negeri, jelasnya.

Lalu kemana lagi kita memohon pertolongan? Berkaitan dengan hadits ketiga, Yuana menegaskan, keterpurukan umat muslim saat ini tidak lain karena hilangnya pelindung ummat, yakni Khalifah atau imam. Sebagian hadist nabi SAW, “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Ketidakadaan khalifah artinya ketidak adaan institusi yang menaunginya, yakni Khilafah. Dengan Khilafah kehormatan umat muslim tinggi kembali.
Maka agenda utama kita saat ini adalah mengembalikan junnah pelindung umat dengan bersama berjuang menegakkan syariah dan khilafah, pungkasnya [IW]

Mercusuarumat.com. Genosida terhadap Muslim Uighur nyata adanya. Patrick Poon dari Amnesty Internasional menyatakan, lebih dari satu juta orang ditahan di kamp-kamp yang serupa kamp konsentrasi masa perang. Mereka dipaksa untuk menghadiri pelajaran re-edukasi politik dan menyanyikan lagu-lagu politik komunis. Tak hanya itu mereka pun di paksa untuk mengutuk Islam dan bersumpah setia kepada partai komunis China, bahkan mereka dipaksa untuk makan daging babi dan minum alkohol.

Belum habis disana, pemisahan orang tua dari anak-anak mereka yang dimasukkan dalam institusi khusus, pengawasan dengan teknologi canggih serta kerja paksa terhadap penghuni kamp re-edukasi. Bagi para muslimah, mereka dipaksa memakan obat untuk menghentikan menstruasi lalu dipaksa menikah dengan kafir Cina.

Telah cukupkah kabar tragis ini tersampaikan kepada Anda? 
Bayangkan jika Muslim Uighur adalah saudara kandung kita? Adik kita, kakak kita, anak bahkan orang tua kita? 

Marah! Satu sikap yang wajib diekspresikan, sebagaimana yang disampaikan oleh Ust Abu Umar. "Marah karena iman", tegasnya. Lanjut ia berorasi, Ingatkah kalian kisah muslimah yang dilecehkan kehormatannya oleh tentara Romawi?  
Ketika seorang muslimah kala itu dilecehkan, Sontak ia berteriak, "Wahai al-Mu’tashim Billah", tak lama kabar ini terdengar olehnya, lantas ia marah, da mengirim ribuan pasukan untuk menyelamatkan seorang muslimah tersebut.

Maka, hadirnya kita ditempat ini, tak lain adalah bentuk solidaritas terhadap Muslim Uighur, jelas Ust Yuana Ryan Tresna. Muslim satu dengan muslim lainnya adalah saudara, haram baginya merampas harta dan menumpahkan darah sesama muslim tanpa Haq, ucapnya lebih lanjut. Dalam orasinya, ia menjelaskan, hadist Rasulullah yang disabdakan olehnya ketika haji wada, "Sungguh darah dan harta kalian haram, seperti sucinya saat ini, bulan ini dan negeri ini".

Namun, apa yang terjadi saat ini! Saksikanlah penindasan saudara kita Muslim Uighur, penjajahan bangsa Yahudi Israel terhadap Palestina, saudara kita di India diperlakukan dengan zalim, umat muslim Rohingya, Irak, Afghanistan dan negeri Muslim lainnya. Seakan-akan darah dan harta mereka murah dihadapan kafir penjajah!

Benarlah apa yang disampaikan oleh Ust. Asep Sudrajat, ia mengutip sabda Rasulullah yang menjelaskan bahwa suatu saat nanti umat muslim bagaikan hidangan. Saat ini terbukti dirasakan. Umat muslim dicabik-cabik tak bisa melawan, dikunyah bak makanan, dilahap habis oleh kafir penjajah. Lantas, "Ketika saudara kita dizalimi tak boleh kita abai, karena ini bentuk keimanan kita", ucap ia lebih lanjut. Hadir kita saat ini setidak-tidaknya level terendah bentuk keimanan kita, pungkasnya.

Aksi bela  Muslim Uighur, Jum'at, 20 Desember 2019 bertempat di depan Gedung Sate, Bandung ini setidaknya adalah bentuk keimanan kita dalam membela kaum muslimin Uighur.  [IW]

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget