Atasi Corona, Jabar Butuh Uluran Tangan dari Pusat


Oleh: Ni'mah Sakinah (Ibu Rumah Tangga & Praktisi Pendidikan)


Fix, sampai waktu yang tak bisa ditentukan hampir seluruh kegiatan yang memungkinkan dialihkan secara online kini dilakukan online. Himbauan untuk tetap tinggal di rumah sudah dijalankan. Suasana di sekitar rumah pun menjadi sepi. Malah suara "turaes" sekarang yang terdengar mendominasi setiap siang. Tak ada lagi suara gelak tawa anak yang bermain sepeda bolak-bolik di halaman. Suasana menjadi kian sepi dan mencekam setelah ada warga kompleks yang dikabarkan positif corona.

Stay at home, mengisolasi diri dan keluarga menjadi pilihan yang masuk akal. Siapa yang harus keluar dipastikan harus yang sehat, bermasker dan hanya untuk kepentingan yang mendesak. Demikian pula siapa yang masuk, harus dipastikan berjarak dan memakai masker. Selama melakukan stay at home, saya baru sekali mengizinkan orang luar masuk rumah. Itu pun terpaksa karena keadaan mesin cuci di rumah tidak menyala. Teknisi pun terpaksa dimintai bantuan. Masalahnya ternyata sepele, kabel listrik yang kurang kuat. Tak sampai seperempat jam mesin cuci pun kembali berfungsi. Wajah sumringah sang teknisi terlihat dari sorot matanya. Tak seberapa sebenarnya,  Rp 50.000 yang ia terima. Tapi, ternyata uang itu adalah uang pertama yang ia terima sejak dua bulan lalu. Pasalnya, ia tak bisa kemana-mana dan tak ada pekerjaan, karena banyak toko juga yang sudah tutup.

Tak hanya banyak toko yang tutup, sekolah-sekolah pun sepi penghuni karena Kegiatan Belajar Mengajar pun kini dilakukan secara online. Kita tahu di balik wajah-wajah polos tak berdosa yang belajar di balik gawai terdapat kerinduan mendalam untuk bisa lagi menikmati suasana sekolah. Mereka merindukan bertemu Ustadz dan Ustadzah (Ibu dan Bapak Guru), dan mereka pun merindukan bisa bermain kembali bersama teman-teman mereka.

Lalu, sampai kapan suasana mencekam ini harus kita hadapi? Di beberapa tempat yang terkategori zona merah sudah ada kepala daerah yang berinisiatif mengarantina wilayahnya, sementara di beberapa tempat lain, orang-orang masih bebas hilir mudik walaupun sudah dihimbau untuk melakukan physical distancing ataupun stay at home. Kondisi rakyat kini sangat mengharapkan  hadirnya penguasa yang bertanggung jawab. Desakan karantina (lockdown) dari berbagai pihak harusnya lebih didengar. Bila masih berhitung untung rugi dalam mengurus rakyat, lantas bagaimana rakyat bisa selamat?

Sebagai warga Jawa Barat, saya tentu berharap banyak kepada pihak Pemprov Jabar agar segera mengambil tindakan yang tepat. Saat ini Pemprov Jabar sudah mengajukan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk beberapa kota dan kabupaten, kepada pemerintah pusat. Gubernur tetap menyerahkan keputusan lockdown atau karantina sejumlah wilayah di Jabar kepada pemerintah pusat. Ia mengaku, terus berkoordinasi dengan Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo.

"Tapi apa pun itu saya selalu koordinasi dengan Pak Doni Monardo untuk meminta izin. Jadi, tidak boleh ada daerah yang melalukan lockdown tanpa izin pemerintah pusat," katanya.

"Jika dalam keselamatan warga itu para Lurah, RW, RT melakukan karantina kewilayahan saya kira argumentasi itu bisa diterima. Yang level kota, kabupaten dan provinsi itulah yang harus mendapatkan izin dari pemerintah pusat," katanya, menambahkan. 
  
Inilah realitas dalam sistem kapitalisme. Tak terlihat kesigapan dari penguasa. Tak peduli wabah Covid-19 kini tengah melanda rakyat, mengancam banyak nyawa, merenggut banyak kebahagiaan dan ketenangan. Banyak di antara kaum Ibu yang sudah mulai merasakan kepanikan dan stres tingkat tinggi. Namun, tak ada upaya penguasa yang mampu membuat rakyat tenang dalam menghadapi wabah ini, bahkan ada pula yang bersikap santai dan acuh. Tentu hal ini tak boleh dibiarkan.

Islam telah menegaskan melalui sabda Rasulullah Muhammad saw. bahwa negara merupakan junnah (perisai), tempat rakyat berlindung dari bahaya apapun termasuk wabah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR. Al- Bukhari).

Pada masa Rasulullah saw. pun dulu pernah terjadi wabah, kemudian beliau segera memerintahkan untuk melakukan isolasi dan sterilisasi lokasi yang terjangkit wabah. Penyebaran virus ke tempat yang lebih luas jadi bisa diminimalisir. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf Radiyallahu 'Anhu, Rasulullah saw. bersabda, “Bila kalian mendengar wabah tengah mendera suatu daerah, maka janganlah kalian memasukinya, dan jika menyerang wilayah kalian, maka janganlah engkau melari kan diri.” (HR. Bukhari).

Atas hal itu, maka keharusan bagi negara memberikan arahan-arahan yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat agar terhindar dari virus corona. Pelayanan kesehatan terbaik bahkan gratis wajib diberikan. Masyarakat pun akan dipermudah mendapatkan masker gratis, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga obat-obatan gratis. Kebutuhan pokok penduduk di lokasi yang terjangkit wabah pun tak boleh luput dari perhatian. Selain itu, dipastikan pula tidak akan diizinkan siapapun untuk masuk ke wilayah terkena wabah, maupun sebaliknya.

Nah, Jawa Barat kini sudah darurat siaga satu corona. Jadi, jelas untuk mengatasi corona yang sudah mulai merebak ini bila mau terselesaikan dengan tuntas maka pemerintah pusat harus berada di garda terdepan untuk memberikan uluran tangannya kepada daerah-daerah yang diberlakukan PSBB. Pemberlakuan PSBB harus benar-benar bisa efektif untuk mencegah potensi penyebaran corona yang lebih luas. Namun, selama negeri ini belum bisa melepaskan diri dari cengkaraman imperalisme, selama berbagai kebijakan dan kerja sama di bidang ekonomi  berpihak kepada asing, maka negara tidak memiliki independensi dalam memutuskan yang terbaik bagi rakyat. Tak heran, pemerintah pusat terlihat enggan untuk mengucurkan dana penanggulangan Covid-19.

Walhasil, saat ini kita tak bisa berharap kepada pemimpin yang menerapkan sistem kapitalisme demokrasi. Hanya kepada pemimipin yang menerapkan Islam kaffah kita bisa berharap masalah wabah bisa teratasi. Tak hanya masalah wabah, berbagai dampak wabah pun bisa diselesaikan tanpa ada ganjalan dan tak berhitung untung rugi.

Wallahu a'lam bishshowab.

Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget