Bantahan Peter Carey Terkait Jejak Khilafah di Nusantara Tidak Bernilai


BANTAHAN PETER CAREY TERKAIT JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA TIDAK BERNILAI

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Pasca diblokirnya film Jejak Khilafah Di Nusantara (JKDN), rupanya upaya untuk menjauhkan sejarah Umat Islam di Nusantara dengan Islam dan Khilafah terus berlanjut. Tak cukup dengan klarifikasi pendahuluan yang menyebut dirinya tak meridloi isi film JKDN, Peter Carey, Jawanis asal Inggris tersebut secara khusus mengutus Asisten penelitinya, Christopher Reinhart, melakukan upaya delegitimasi terhadap konten (materi) film JKDN.
 
Dalam keterangan pers Christopher menjelaskan, atas permintaan Prof Carey, informasi lanjutan mengenai klaim adanya hubungan antara Kekhalifahan Utsmaniyah dan Kesultanan-kesultanan Islam di Jawa.  
 
Poin Pokok delegitimasi itu adalah sebagai berikut. 
 
Pertama, tidak ada bukti pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani yang menunjukkan bahwa ‘negara’ Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak (1475–1558), utamanya raja pertamanya, Raden Patah (bertakhta, 1475–1518), memiliki kontak dengan Turki Utsmani.
 
Kedua, kesultanan yang ada di Pulau Jawa tidak dianggap sebagai vassal atau naungan Turki Utsmani, termasuk juga bukan wakil sultan-sultan Utsmani di Jawa. 
 
Ketiga, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Turki Utsmani dan Kesultanan Yogyakarta (didirikan 1749) dalam hal hierarkhi sebagaimana dimaksud di dalam poin nomor 2, termasuk tidak ada bukti dokumen sejarah yang menunjukkan bahwa panji ‘Tunggul Wulung’ merupakan ‘bukti’ bahwa Yogyakarta adalah wakil dari Turki Utsmani di Jawa, berdasarkan penelitian kearsipan Dr Kadi yang telah lama meneliti dokumen-dokumen Turki Utsmani di Arsip Utsmani di Istanbul.  
 
Perlu dipahami, bahwa sejarah yang rajih adalah sejarah yang ditransmisikan kepada generasi selanjutnya melalui metode periwayatan. Dengan syarat, diriwayatkan oleh orang yang adil dan hafal terhadap kisah yang diriwayatkan.

Karena itu, methode yang paling sahih untuk melegalisasi sejarah adalah melalui methode riwayat, persis seperti methode hadits. Hadits dipastikan diriwayatkan oleh orang yang adil, hafal (dlabit), dan jalur periwayatannya bersambung kepada Rasulullah SAW.

Adapun metode sejarah, tidak ada yang mengadopsi methode hadits dalam melakukan penelusurannya. Sejarah, banyak digali dari bukti peninggalan baik berupa bukti fisik berbentuk tulisan, artefak, alat bantu kehidupan dimasa lalu, dan beberapa penuturan (bisa dibilang dongeng) yang sejalan dengan bukti fisik yang diketemukan.

Karena itu, penulisan sejarah sangat terkait dengan paradigma, persepsi dan tafsiran si penulis. Jaman orba, semua sejarah Soekarno dan PKI kelabu. Jaman reformasi, sejarah orba kelabu, dan jaman now sejarah PKI mulai disemprot parfum agar bau amisnya hilang atau minimal berkurang.

Terkait hal ini, pandangan Peter Carey yang poin pokoknya membantah adanya jejak (baca: hubungan) antara Nusantara dan Khilafah bisa dipahami dalam konteks "persepsi", "paradigma" dan "Tafsir" seorang Peter Carey yang non muslim, bukan orang Nusantara, dan berasal dari Inggris yakni Bangsa yang pernah menjajah Indonesia.

Dalam methode Mustolahul Hadits, orang seperti ini tidak lolos derajat adil, apalagi terkait penuturannya bukan dia dengar dari pelaku sejarah namun berdasarkan tafsiran pikirannya. Tafsiran itu dianggap otoritatif, karena berdalih pada dogma "tidak ditemukan bukti otentik adanya hubungan antara Nusantara dan Khilafah". 

Redaksi ini bersayap, sebab tidak ada bisa ditafsirkan belum ditemukan atau tidak ditemukan oleh Peter Carey. Sementara, peneliti sejarah yang lain boleh jadi telah menemukan dan mengkaji benang merah hubungan antara Nusantara dan Khilafah.

Dasar yang dijadikan sandaran Peter Carey untuk mendelegitimasi adanya Jejak (baca : hubungan) antara Nusantara dan Khilafah adalah tafsirannya, bukan penegasan yang diperoleh dari bukti otentik, yang konon dia jadikan juga dalih untuk menolak konten film JKDN.

Peter Carey lupa, bahwa yang dikaji film JKDN bukan hanya Jawa, tetapi juga Nusantara. Nusantara yang dikaji juga bukan wilayah yang hari ini disebut Indonesia, tetapi juga meliputi Malaysia, Singapura, Thailand dan Philipina.

Lagipula jika gelar Sultan di kerajaan Jawa disebut tak ada kaitannya dengan Islam dan Khilafah, lantas apakah kerajaan Jawa memiliki hubungan dengan Inggris ? Ada, hubungan penjajahan.

Film JKDN sejak adanya komplain dari Peter Carey telah mengeluarkan seluruh argumentasi yang berdasar pada pikiran Peter Carey. Bahkan, tak ada lagi secuil pun wajah Peter Carey muncul di film JKDN. Lantas, apa relevansinya bantahan Peter Carey ?

Di penelitian Peter Carey tidak ada hubungan kerajaan Jawa dan Khilafah ? Ya terserah, wong sandaran argumen film JKDN tidak bersandar pada buku atau pikiran Peter Carey. Kenapa jadi ikut seperti rezim ?

Lagipula, Peter Carey hanyalah seorang sejarawan dari ribuan bahkan ratusan ribu sejarawan. Tak semua pendapat ahli sejarah seragam. Karena itu, dalam urusan ini, yakni klaim Peter Carey terkait tidak ada hubungannya antara Nusantara dan Khilafah cukuplah untuk dikesampingkan. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget