Mendudukkan Makna Ideologi


Penulis: Ummu Mutawazin (Mubalighah, Pemerhati Masalah Umat)

Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) mengeluarkan beberapa pesan terkait HIP sampai Pendidikan di era Covid-19 dalam rapat pleno ke-66. Dalam rapat tersebut, Ketua DP MUI Profesor Din Syamsuddin menegaskan, Wantim MUI memantapkan keyakinan dan menyatakan bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah final (mui.or.id, 16/07/20)

Senada dengan pernyataan Profesor Din Syamsuddin,  Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Adji Samekto, bahwa poin penting saat ini adalah meyakinkan kembali generasi muda bahwa Pancasila memang merupakan ideologi sekaligus filosofi terbaik yang sesuai dengan asas hidup bangsa. (Media Indonesia, 20/07/20

Sementara itu, Rocky Gerung justru berpandangan bahwa Pancasila itu bukan ideologi. “ Saya enggak anggap Pancasila itu ideologi negara,” ujarnya. “Sebab konsekuensinya, kalau negara berideologi dia musti atur cara orang hidup, itu yang namanya ideologi itu.” (Tribun Manado, 06/12/19)

Diskursus tentang apakah Pancasila itu sebuah ideologi atau bukan, kerap terjadi. Label stigma ideologi kerap dilekatkan kepada pemikiran yang dianggap bertentangan dengan ideologi yang diyakini di tengah masyarakat, seperti ideologi radikalisme dan khilafahisme. Hal ini, tentu saja semakin membingungkan masyarakat. Sehingga sejatinya, keadaan ini menghantarkan kita (terutama umat Islamuntuk mengetahui tentang makna ideologi, unsur-unsur yang membentuknya dan ideologi-ideologi apa saja yang pernah eksis di dunia. Tulisan ini mencoba memberikan gambaran tentang apa yang selayaknya diketahui umat Islam tentang ideologi.

 

Makna Ideologi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ideologi memiliki beberapa makna. Pertama, bahwa ideologi merupakan kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup; Kedua, merupakan cara berpikir seseorang atau suatu golongan; Ketiga, merupakan paham, teori dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik. (https://kbbi.kemdikbud.go.id)

Dilansir dari Encyclopedia Britanica (2015), ideologi adalah suatu bentuk filsafat sosial atau politik di mana unsur-unsur praktis sama menonjolnya dengan teoritis. (Kompas, 11/03/20)

Merujuk kepada Muhammad Muhammad Ismail di dalam kitab al-Fikru al-Islam, ideologi setara dengan kata mabda (di dalam Bahasa Arab). Ia merupakan masdar mim dari kata ba-da-a—yabdau--bad’an—wa mabda-an yang artinya memulai. Secara Istilah, mabda berarti  pemikiran yang mendasar yang di atasnya dibangun pemikiran-pemikiran yang lain. Suatu pemikiran tidak dianggap sebagai sebuah mabda kecuali jika pemikiran tersebut adalah pemikiran yang mendasar, yang memancarkan pemikiran-pemikiran yang lain.

Pemikiran yang mendasar adalah pemikiran yang sama sekali tidak didahului oleh pemikiran yang lain, sehingga kejujuran, menepati janji, tolong menolong, gotong royong, dan lain sebagainya merupakan pemikiran cabang, bukan pemikiran dasar dan bukan merupakan asas, karena ia lahir dari yang lainnya. Kejujuran adalah cabang dari asas. Kejujuran di dalam Islam adalah salah satu hukum yang diambil dari al-Qur’an. Di luar Islam, kejujuran merupakan sifat yang baik yang dapat memberi manfaat, yang diambil dari pemikiran kapitalisme.

Selanjutnya, Muhammad Ismail menjelaskan bahwa pemikiran yang mendasar itu hanya terbatas pada pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan. Dan tidak ada pemikiran yang mendasar selain itu. Dan inilah yang disebut dengan aqidah. Hanya saja, sebuah aqidah tidak akan dapat memunculkan pemikiran yang lain kecuali jika ia diperoleh dengan cara berpikir (akal), bukan dengan cara dogmatis. Dengan cara inilah, maka aqidah ini bersifat aqliyah (dibangun berdasarkan akal).

Maka dari sinilah akan terpancar berbagai pemikiran berupa pemecah problematik kehidupan manusia berupa seperangkat hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan kata lain, mabda atau ideologi adalah aqidah aqliyah yang terpancar darinya aturan (nizham). (Muhammad Muhammad Ismail, kitab al-Fikrul Islam)

Senada dengan apa yang dipaparkan oleh Muhammad Ismail dalam kitab Fikru al-Islam, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di dalam kitab Nizham al-Islam menjelaskan bahwa ideologi atau mabda adalah aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan.

Makna aqidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan, serta tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan, dikaitkan hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Sedangkan peraturan yang lahir dari aqidah, tidak lain memiliki fungsi sebagai berikut: untuk memecahkan dan mengatasi problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana pelaksanaan pemecahannya, pemeliharaannya serta pengembangan mabda tersebut.

Aqidah dan seperangkat tata cara pemecahan problematik kehidupan merupakan fikrah (pemikiran). Sementara, tata cara pelaksanaannya, pemeliharaannya serta pengembanannya, dinamakan dengan thariqah (metode). Maka demikianlah, mabda mencakup dua komponen/unsur, yaitu fikrah dan thariqah.

Oleh karenanya, dengan menggabungkan dua pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa sebuah pemikiran yang tidak mendasar (hanya berupa pemikiran cabang) dan tidak memancarkan pemikiran lain, berupa aturan yang terperinci yang sudah dipaparkan sebelumnya), tidak bisa disebut mabda atau ideologi. Ia hanyalah sebatas kaidah-kaidah atau pemikiran-pemikiran saja.

 

Tiga Mabda (ideologi) di Dunia

Jika kita menelusuri dunia, maka kita akan jumpai tiga mabda (ideologi), yaitu kapitalisme, sosialisme dan Islam. Kapitalisme, sosialisme dan Islam memenuhi kriteria sebagai sebuah mabda (ideologi). Ideologi kapitalisme didasarkan pada akidah yang dianut oleh Barat, yaitu sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), yang ia menjadi landasan bagi setiap pemikiran. Berdasarkan hal ini, mereka berpendapat bahwa manusia berhak membuat peraturan hidupnya sendiri, yang menjamin kebebasan manusia, baik kebebasan untuk beragama, berpendapat, memiliki hak milik dan kebebasan bertingkah laku.

Sementara itu, ideologi sosialisme (termasuk komunisme) didasarkan pada akidah materialisme. Mereka memandang bahwa asal dari segala sesuatu (manusia, alam semesta dan kehidupan) adalah materi. Melalui perkembangan dan evolusi materi, benda-benda lainnya menjadi ada. Penganut ideologi ini mengingkari penciptaan alam semesta ini oleh Zat Yang Maha Pencipta. Agama pun dianggap sebagai candu yang akan meracuni masyrakat dan menghambat pekerjaan.

Meskipun kedua mabda ini (kapitalisme dan sosialisme) berbeda pendapat dalam ide dasar tentang manusia, alam semesta dan kehidupan, akan tetapi keduanya sepakat bahwa nilai-nilai yang paling tinggi adalah nilai-nilai yang ditetapkan oleh manusia. Keduanya juga berpendapat untuk memberikan kebebasan bagi manusia, bebas berbuat selama di dalamnya ada kebahagiaan. Sehingga kebebasan merupan sesuatu yang diagungkan oleh kedua ideologi ini.

Berbeda dengan ideologi IslamIslam dibangun oleh sebuah keyakinan bahwa di balik alam semesta, manusia dan kehidupan, terdapat al-Khaliq yang menciptakan segala sesuatu, yaitu Allah SWT.  Dengan demikian, asas ideologi Islam adalah keyakinan akan adanya Allah SWT. Keyakinan kepada Allah SWT meniscayakan keyakinan kepada Kenabian Muhammad saw., berikut risalahnya. Juga meyakini bahwa al-Qur’an itu adalah kalamullaah (perkataan Allah) yang wajib bagi para pemeluk Islam untuk beriman terhadap segala hal yang ada di dalam Al-Qur’an (seperti keberadaan Allah), serta alam sesudah kehidupan dunia, yakni hari kiamat.

Setiap Muslim wajib terikat dengan aturan Allah SWT baik berupa perintah atau larangan, karena di samping manusia memiliki hubungan dengan Allah dalam hal penciptaan, manusia juga memiliki hubungan dengan Allah dalam hal penghisaban, yang akan menentukan tempat yang layak setelah kehidupan dunia ini, surga ataukah neraka. Dengan  demikian, seorang Muslim ketika ia menjalani kehidupan di dunia, akan senantiasa berhati-hati karena seluruh perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT di akhirat kelak.

 

Khatimah

Sebagai sebuah ideologi, Islam telah terbukti pernah eksis selama hampir 14 abad lamanya. Dimulai  saat diemban oleh Rasulullah SAW, khulafaurrasyidin, dan para khalifah sesudahnya hingga dihapuskannya institusi Khilafah lewat tangan Kemal At-Taturk pada 3 Maret 1924. Meski saat ini Islam hanya diemban oleh individu-individu, bukan oleh sebuah institusi negara, namun ideologi ini tetap ada di seluruh penjuru dunia dan sedang berproses menuju kebangkitannya. Setelah ideologi sosialisme hancur dengan runtuhnya Uni Sovyet dan kehancuran ideologi kapitalisme yang sudah di depan mata, maka kebangkitan Islam akan segera terwujud pada waktu yang tidak lama lagi. Pergiliran kekuasaan merupakan sunnatullah yang tidak bisa dielakkan lagi. Allah SWT berfirman,

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakan (Wahai Muhammad), Ya Allah Pemilik Kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau Kehendaki. Dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Dan Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Ali Imran [3]: 26)

Wallahu a’lam bishawab.
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget