Solusi Islam Mencegah Pencemaran Sungai Akibat Salah Kelola Sampah


Penulis: Indria Sari, S.T.P. (Pemerhati Masalah Sosial dan Lingkungan)

 

Persoalan pencemaran sungai di negeri ini sudah sangat mengkhawatirkan. Mulai dari sungai-sungai besar hingga anak sungai, nampaknya tak luput dari ancaman polusi air ini. Seperti halnya yang terjadi di aliran sungai Cipicung yang merupakan anak sungai Citarum. Sungai Cipicung yang berlokasi di Desa Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) diduga terkena limbah cairan TPA Sarimukti.

Dilansir dari berita Jabar Ekspres (4/8), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB, Apung Hadiat Purwoko mengklaim bahwa pencemaran aliran Sungai Cipicung oleh air lindi baru terjadi kali ini saja. ”Baru pertama kali sebelumnya tidak masalah, karena volume sampah meningkat dan IPAL-nya juga kurang maksimal,” tegasnya.

”TPA Sarimukti itu kan dikelola oleh provinsi, yaitu Balai Pengelolaan Sampah Regional (BPSR) Provinsi Jawa Barat. Jadi pencemarannya itu merupakan tanggung jawab Provinsi Jawa Barat,” kata Apung saat dihubungi, Senin (3/8).

Tak hanya limbah cairan lindi, didapati pula sampah plastik ikut mengotori Sungai Cipicung yang berasal dari TPA Sarimukti. "Selain tercemar limbah lindi, sungainya dipenuhi sampah plastik yang limpas dari lokasi TPA. Sampah plastik banyak ditemukan mengendap di badan sungai dan juga sempadannya," ujar Meiky W Paedong, Direktur Eksekutif Walhi Jabar (Tribun Jabar, 23/7).

Pencemaran sungai memang tak melulu berasal dari limbah industri. Sampah pun sudah berpuluh-puluh tahun menjadi problem yang tak kalah memprihatinkan. Persoalan sampah sudah masuk ke tahap kritis dan krusial. Berdasarkan perhitungan Walhi Jabar di tahun 2016, produksi sampah rumah tangga mencapai 27.000 ton/hari, ini bisa meningkat seiring dengan penambahan populasi penduduk dan produksi barang rumah tangga dan non rumah tangga (Jabarprov.go.id, 22/2/16).

Sekarang sudah empat tahun berjalan, diakui volume sampah terus meningkat dan semakin memperparah masalah. Pencemaran sungai akan terus terjadi sehingga bisa mematikan biota sungai. Sementara bahayanya bagi manusia, air yang tercemari tidak bisa dikonsumsi, juga menyebabkan gata-gatal dan iritasi pada kulit.

Salah kelola sampah yang terjadi pada akhirnya menimbulkan persoalan baru. Namun, lagi-lagi kita melihat bagaimana upaya pemerintah dalam menyelesaikan kedua persoalan ini, nampak masih setengah hati. Pertambahan populasi manusia dan IPAL yang kurang maksimal tak bisa menjadi alasan untuk memaklumi persoalan yang terjadi. Ketika sadar akan hal itu, semestinya pemerintah sudah bisa mengantisipasi sejak awal dengan menerapkan sistem pengolahan sampah yang efektif.

Ketika sampah sudah sampai menimbulkan pencemaran sungai, maka harus dilakukan upaya penanggulangan secara simultan bagi keduanya. Namun, semua itu dikembalikan kepada bagaimana pemerintah mendudukkan persoalan sampah dan pencemaran sungai. Semestinya pemerintah menganggap persoalan tersebut sama pentingnya dengan persoalan-persoalan lainnya dan secara serius mencari solusi yang jitu. Namun, sangat disayangkan paradigma kapitalisme yang menjadi landasan tegaknya pemerintahan nampaknya tidak menjadikan penguasa kita memiliki cara pandang yang mengutamakan kemaslahatan rakyat (umat).

Sebenarnya, sampah tak akan menjadi masalah jika ditangani secara benar. Islam telah mendudukkan penanggulangan sampah ke dalam kebutuhan yang secara langsung berkaitan dengan perlindungan jiwa (hifzh al-nafs). Jika jiwa tidak terjaga akibat bencana sampah, orang tidak akan dapat menjalankan ubudiyah sesuai perintah Allah. Juga secara otomatis tidak akan dapat menjaga akal, keturunan dan harta benda. Bahkan, bahaya sampah dapat pula berdampak secara langsung terhadap perlindungan akal, yang diakibatkan dari hal-hal seperti pencemaran air, racun, polusi udara dan radiasi. Jadi, secara langsung bahaya sampah bukan saja berdampak terhadap perlindungan jiwa, melainkan juga terhadap perlindungan akal.

Dilihat dari aspek kemaslahatan, penanggulangan sampah mencakup beberapa kategori. Pertama, sampah dapat mendatangkan bahaya, seperti polusi udara, pencemaran air, racun, radiasi, wabah penyakit dan sebagainya. Berarti penanganan masalah sampah menempati posisi sebagai mashlahah dlaruriyyah yang dapat mengancam perlindungan jiwa dan sekaligus perlindungan harta, serta aspek-aspek lainnya.

Kedua, pengelolaan sampah dalam upaya penanggulangan masalah sampah tersebut dapat dilakukan dengan memilih model-model tertentu atau teknologi yang sesuai dengan kemampuan dan kesiapan wilayah. Namun, perlu diingat bahwa teknologi yang digunakan haruslah tepat guna dan yang terbaik, tidak boleh teknologi rendah yang akan menimbulkan masalah baru.

Ketiga, setiap model pengelolaan sampah memiliki kelebihan dan manfaat tersendiri. Artinya, selain tujuannya solusi sampah secara tuntas, dengan cara memilih model yang sesuai dengan kemampuan dan kesiapan wilayah tadi, dari pengelolaan sampah itu dimungkinkan ada nilai manfaat yang dapat diambil.

Sampai di sini, dapat dikatakan penanggulangan sampah termasuk kemaslahatan yang bersifat kulli (menyeluruh) karena penganggulangan sampah berlaku untuk kebutuhan umum atau kolektif, tidak bersifat individual.

Di atas itu semua, maka penanggulangan sampah merupakan kewajiban, wajib yang tidak bisa digugurkan apabila ada salah satu pihak telah menunaikannya (wajib kifayah). Penanggulangan sampah berhukum kewajiban yang setiap insan di muka bumi ini harus menunaikannya (wajib ‘ain).

Keberhasilan dalam penanggulangan sampah, maka akan memberikan kebaikan bagi lingkungan dan alam sehingga pencemaran sungai dapat dihindari. Ini merupakan bagian dari pemeliharaan lingkungan (riayah al bi’ah) yang harus didukung oleh semua pihak dengan kepemimpinan institusi Khilafah sebagai kekuasaan tertinggi -yang menegakkan sistem Islam- untuk memulai dengan seruan untuk pemeliharaan alam ini dari kepunahan dan kerusakan. Wallahu a’lam bish showab

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget