Bela Nabi, Masyarakat Cinta Rasulullah SAW Jabar Kecam Prancis dan Tawarkan Solusi Khilafah



Mercusuar.com. Sebagaimana yang sedang viral diberitakan, Prancis kembali berulah dengan melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Menanggapi hal itu, ribuan umat muslim dari berbagai komunitas dan golongan yang tergabung dalam Masyarakat Cinta Rasulullah SAW Jawa Barat melakukan aksi damai pada Jum’at, 30 Oktober 2020.

Aksi yang diawali Longmarch dari Masjid Pusdai Jabar menuju Depan Gedung Sate ini diisi dengan orasi dari tokoh dan ulama Jawa Barat. Orasi pertama disampaikan oleh Ustadz Asep Soedrajat, S. Sos,  dalam orasinya Ustadz Asep menjelaskan akan pentingnya meneladani Baginda Rasul SAW. “Kita sebagai umat muslim berkewajiban mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, Laqad kaana lakum fii rasuulil-laahi Uswatun Hasana..” ungkapnya.

Lebih lanjut Ia mengungkapkan Ketika Rasulullah diutus menjadi Rasul di tengah-tengah  masyarakat jahiliyah, yang penuh dengan kegelapan, diturunkanlah Al Qur’an yang didakwahkan selama 13 tahun selama di Mekah demi tegaknya hukum-hukum Al Qur’an. Rasulullah SAW telah mengubah dunia dari kegelapan menuju terang menderang. Telah mengubah manusia dari kebodohan menuju cahaya Islam. “Dan kita tahu bersama, sehingga cahaya itu sampai kepada kita hari ini, masyarakat Indonesia warga kota Bandung, ini semata-mata dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, berdarah-darahnya beliau berjuang di tengah-tengah masyarakat jahiliah menyampaikan Islam mengajak manusia menuju kemuliaan.”, ungkapnya.

Pengasuh Majelis Cinta Rasulullah ini pun mengungkapkan, Rasulullah Lebih dari 13 Tahun berjuang menyampaikan risalah Islam hingga tegakknya Daulah Islam di Madinah. Kemudian, dari Madinah cahaya Islam menyebar luas dari mulai Granada hingga Delhi dan ini bertahan lebih dari 13 abad dibawa oleh Rasulullah SAW yang dilanjutkan oleh para pewarisnya.

Rasulullah SAW Diutus oleh Allah SWT untuk Menyampaikan Cahaya Islam.

Ustadz Asep mengajak seluruh kaum muslim untuk meneladani dakwah yang dilakukan oleh Nabi. “Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan cahaya Islam, setelah beliau wafat, kemudian cahaya Islam yang dibawa oleh Rasulullah yang itu menjadi mukjizatnya hingga hari ini tetap eksis”, jelasnya. Lebih lanjut Ia menjelaskan  mukjizat Al Qur’an akan tetap kita rasakan, syaratnya kita mengikuti sebagaimana apa yang dilakukan oleh Baginda Rasulullah SAW. Kita sebagai umatnya berkewajiban mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah diutus menjadi Rasulullah di tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang penuh dengan kegelapan, diturunkanlah Al Qur’an yang didakwahkan selama 13 tahun selama di Mekah demi tegaknya hukum-hukum Al Qur’an.

Ia mengatakan, ketika itu Al Qur’an telah sempurna bahkan Al Qur’an pernah diimplementasikan selama 13 abad sehingga memuliakan manusia. Namun hari ini jelaslah, Al-Quran masih tetap eksis tetapi kemukjizatannya tidak terasa, karena Al Qur’an sebagai petunjuk tidak lagi digunakan oleh umat manusia sebagai petunjuk. Akibatnya Umat Islam yang awalnya memiliki negera digdaya yang ditakuti dan disegani, bahkan negeri-negeri lain berlindung pada Negara Islam yang menegakkan hukum Al Qur’an, kini umat Islam masuk ke dalam kubangan jahiliyah. 

Diakhir orasinya ulama karismatika Jawa Barat ini mengingatkan, bahwasannya hari ini dengan hati penuh pilu umat Islam kembali kepada kubangan jahiliyah. Dimana Al Qur’an tidak lagi menjadi petunjuk sehingga yang tadinya musuh-musuh umat Islam takut, hari ini sebaliknya umat Islam tidak mempunyai kewibawaan, sehingga hari ini orang yang kita cintai, Rasulullah SAW dilecehkan. 

Ia menjelaskan, bahwasannya Al Qur’an sebagai warisan Nabi mesti diimplementasikan dan perlu ada institusi yang melaksanakannya. “Rasulullah mewariskan Al Qur’an dan As Sunnah. Secara rasional warisan ini harus dilaksanakan, harus diimplementasikan dan sebagai sebuah aturan, aturan ini mesti ada pelaksanaanya, ialah Khalifah yang diangkat untuk menjalankan Al Qur’an dan as Sunnah” pungkasnya.

Kebodohan yang Luar Biasa
Orator kedua, adalah Ustadz Eri Taufiq, setelah menyampaikan salam, pujian pada Allah SWT dan Shalawat pada Rasulullah SAW, Ustadz Eri melontarkan pernyataan, bahwasannya sangat aneh jika ada orang yang beragama, apapun agamanya, tapi tidak mengenal Rasulullah bahkan membenci Rasulullah SAW, bahkan hingga menghina Rasulullah SAW. “Bisa jadi ada dua alasan, karena kebencian yang sangat sehingga mereka ingkar dan kebodohan yang luar biasa, dan ini yang ditampakkan oleh Presiden Prancis hari ini”, ucapnya.

Ia mengisahkan, para sahabat nabi betapa rindu akan kedatangan Rasulullah SAW, ia mengisahkan kisah Sahabat Salman Al Farisi dan kisah Nabi Isa AS yang telah mengabarkan akan lahirnya Muhammad SAW. Sungguh aneh manakala ada yang membenci ajaran Islam, padahal lanjut ia, ajaran Islam selalu mengajak pada yang ma'ruf dan mencegah pada yang mungkar. Tidak ada satupun perintah Allah SWT yang berakibat pada kedzoliman. “Ajaran Islam menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang buruk-buruk, sehingga, jika ada yang mengatakan ajaran Islam radikal teroris, maka bisa dua kemungkinan, kalau bukan karena kebencian bisa jadi karena kebodohan yang luar biasa.”, jelasnya.
Ia mengingatkan kaum muslim untuk mencampakan paham demokrasi dan mengambil jalan Islam, karena menurut Ustadz Eri mengambil jalan demokrasi adalah kebodohan yang nyata. ”Jika ada seorang muslim yang masih menginginkan adanya demokrasi, kangen dengan demokrasi dan rindu demokrasi. kemungkinan dua kemungkinan, orang itu bodoh atau kebencian yang luar biasa”, pungkasnya.

Lebih lanjut Pimpinan Majelis Inspiring Qur’an ini mengungkapkan, pengabdian kaum muslimin pada demokrasi, tak memberikan apapun, kecuali memberikan kehinaan terhadap kaum muslimin bahkan sebaliknya menjadikan belenggu bagi umat Islam. “Lantas apa yang mestinya diperjuangkan oleh kaum muslimin?”, Tanya ia pada peserta aksi. Jelas Syariat Islam yang akan hadir menghilangkan belenggu-belenggu itu. Siapapun kita, ada kewajiban bagi kita membela kehormatan Rasulullah SAW. Apapun posisi kita saat ini, jadilah bagian dari penolong agama Allah, karena hanya itulah yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat.
“Masih berharapkah kita pada demokrasi? Tidak... tidak! Lewat demokrasi, kehinaan kaum muslimin terjadi dan kita meminta kejayaan umat Islam tegak kembali”, pungkasnya.

Tidaklah Cukup Kita Mengklaim Cinta Kepada Rasulullah SAW, Tapi Aturan Syariatnya Kita Campakan.

Orator terakhir adalah KH. Ali Bainullah Al Hafidz, dengan penuh semangat, Ia bertanya pada peserta aksi,  “Hadirin kaum muslimin. Kenapa kita ada disini? Jawabannya karena kita cinta kepada nabi. Lagi-lagi dan lagi junjungan kita Rasulullah SAW dihina dan dihina, dihina dan dihina...., Ini merupakan kemungkaran besar. Wajib kita mengingkarinya dan wajib bagi kita menghentikannya sesuai kapasitasnya”.
Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Bayan, Sumedang ini mengingatkan bahwasannya jika kecintaan pada nabi hanya sebatas bibir itu sama saja bohong, hoaks. Kami tidak rela Rasulullah SAW dinista, maka kami berdiri disini untuk menunjukkan kecintaan kami pada nabi dan mengatakan bahwa hukum bagi penghina nabi adalah mati, mau setuju atau tidak itu hukum. Maka jika kita mampu melakukannya, lakukanlah itu. Tapi apa daya, tangan tak sampai, maka yang harus melakukan itu adalah penguasa. Karena penguasa mempunyai kewenangan. Tapi Sayang seribu sayang, penguasa kita tidak mampu!
“Maka sekali lagi kami akan memberi rekomendasi kepada penguasa, meskipun kami pesimis kepada penguasa, Bapak Joko Widodo supaya mau, paling tidak menyurati Presiden Prancis agar memenggal kepala orang yang membuat karikatur wajah nabi”, tegasnya.

Saat kita cinta pada nabi, tentu kecintaan bukan sebatas kata, tapi perlu langka nyata. KH. Ali mengingatkan agar senantiasa menyampaikan kebenaran. “Sampai kalah lewat lisan-lisan kita”, ujarnya. Lebih lanjut Ia memberikan pesan pada para TNI, tolong jaga hukum-hukum agama Allah, karena Indonesia mayoritas muslim. Maka yang dijaga adalah hukum-hukum Allah!. “Para polisi, jika bapak cinta kepada nabi, jika ada atasan bapak meminta melakukan penangkapan pada ulama yang kritis, menyampaikan amar ma'ruf nahi mungkar pada penguasa, jangan mau pak, meskipun itu atasan bapak, karena ada yang lebih tinggi daripada atasan bapak, yaitu Allah SWT.
Sesungguhnya Khilafah Islamiyyah, adalah Warisan Tertinggi dari Rasulullah SAW.

Tidaklah cukup kita mengklaim cinta kepada Rasulullah SAW, tapi aturan syariatnya kita campakan. Hari ini kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dituntut pembuktiannya. Selama 13 tahun Rasulullah berjuang ditengah-tengah umat demi tegakknya hukum Al Qur’an. “Namun hari ini hampir satu abad umat Islam tanpa Khilafah, maka umat Islam mendapatkan ketidakadilan dan kezaliman. Ini membuktikan, bahwa kita membutuhkan pelaksana Al-Qur'an, kita membutuhkan Khilafah”, ucap Ustadz Asep. Ia mengajak seluruh hadirin untuk berjuang menegakkan hukum Al Qu’an, umat musilm membutuhkan pelaksana Al-Qur'an, kita membutuhkan tegaknya keadilan, maka Berjanjilah kepada Allah SWT, bahwa kita akan menjadi bagian dari perjuangan tegaknya Al Qur’an, berjuang demi tegaknya khilafah Islamiyyah. “Aturan Allah tidak akan pernah tegak sempurna kecuali dengan tegaknya khilafah Islamiyyah”, pungkasnya.
Senada dengan Ustadz Asep, Ustadz Eri menjelaskan jangan pernah berharap pada demokrasi! "Masih berharap pada demokrasi? Tidak, Demokrasi hanya menciptakan kehancuran bagi kaum muslimin. Hari ini kita meminta Syariat Islam dan Khilafah ditegakan kembali, karena ini yang akan melindungi kehormatan kaum muslimin" pungkasnya. [AY]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget