LARANGAN MUDIK MASA PANDEMI: PELAJARAN BERHARGA TSUNAMI COVID INDIA


Foto: Pikiran Rakyat

Mercusuarumat.com - Oleh: Ummu Hanan, Pemerhati Sosial

Memasuki akhir Ramadhan, tentu selain meningkatkan intensitas ibadah kita, persiapan menjelang Idul Fitri termasuk aktivitas pulang kampung atau mudik mulai diagendakan. Hanya saja, di tengah badai pandemi Covid-19 dunia yang belum mereda, ada serangkaian aturan negara yang wajib dipatuhi guna mencegah makin tersebarnya wabah mematikan dari virus N-Cov 19.

Kebijakan larangan untuk mudik akan diterapkan pada 6-17 Mei 2021 guna mencegah penyebaran penyakit Corona. Akan tetapi tidak adanya larangan bagi masyarakat berwisata saat libur Lebaran yang juga disahkan Pemerintah tentu menuai kontroversi. (republika.co.id, 21/04)

Pasalnya, mobilitas warga saat berwisata lokal atau di daerah masing-masing bisa menjadi ancaman lonjakan kasus Covid-19 jika tidak diantisipasi.

Ledakan kasus Corona akibat adanya aktivitas publik di masa pandemi memang akan benar-benar terjadi jika tidak diantisipasi dengan pelaksanaan protokol kesehatan dan pelarangan kegiatan yang memungkinkan adanya kerumunan.

Data Worldmeters per Rabu pagi, 21 April 2021, pasien positif covid-19 di India telah menyentuh 15,6 juta kasus dengan lebih dari 182 ribu orang meninggal. Kondisi itu membuat India berada di urutan kedua negara dengan jumlah kasus covid-19 tertinggi setelah Amerika Serikat (AS). (medcom.id, 21/04)

Sehingga wajar saja jika banyak pihak menuntut pemerintah untuk mampu mencegah meledaknya kasus Covid-19. Salah satunya Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie) menilai Indonesia perlu belajar dari ledakan kasus covid-19 di India. (medcom.id, 21/04) Pemerintah diminta lebih serius untuk menanamkan dan meningkatkan disiplin protokol kesehatan (prokes). 

Sehingga sudah barang tentu, kebijakan pembolehan di sisi pelarangan mudik menjadi hal yang kontradiktif karena meskipun warga tidak pulang kampung dan dinilai tidak "membawa pulang" virus Corona, namun kegiatan berkerumun di area wisata menjadi hal yang sulit terbantahkan untuk tersebarnya virus tersebut.

Menyikapi hal tersebut, tentu masyarakat membutuhkan sebuah kebijakan yang tidak bertolak belakang satu sama lain. Maka butuh sebuah basis aturan yang bisa memecahkan permasalahan sesuai dengan kondisi dan situasi yang terjadi.

Sudah terbukti dalam sejarah, bahwasanya Rasulullah saw dan Khalifah Umar bin Al Khathab mampu menuntaskan wabah pada zamannya dengan tetap berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunnah. Mereka mencontohkan untuk memecahkan masalah satu persatu dari sesuai dengan urgensitasnya.

Adapun pemulihan ekonomi juga bisa dimaksimalkan dengan pengembangan sumber daya alam dan manusia yang tidak melulu harus bersumber dari kegiatan pariwisata.

Oleh karena itu, menurut hemat saya, menyikapi pembelanjaran dari lonjakan kasus Covid-19 di India. Ada baiknya sebagai negara dengan mayoritas muslim, kita kembali kepada langkah-langkah dan aturan Islam yang pernah diterapkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga tidak ada lagi kebijakan kontroversial yang berpotensi menciptakan lonjakan kasus Covid-19.

Wallahua'lam bish shawab

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget