PROBLEMA GURU HONORER, POTRET BURUKNYA PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

Foto: detikcom

Mercusuarumat.com - PROBLEMA GURU HONORER, POTRET BURUKNYA
 PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

oleh : Listiyani, S, Si. (Komunitas Muslimah Rindu Surga Bandung)

Pahlawan tanpa tanda jasa. Itulah gelar yang disematkan kepada guru pada sistem saat ini. Guru disebut pahlawan, karena mereka memiliki peran yang sangat penting yaitu mendidik generasi penerus bangsa. Di tangan merekalah kualitas dan masa depan generasi ini dipertaruhkan. Ungkapan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini menjadi begitu nyata terutama pada guru honorer. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa dalam sistem saat ini, untuk profesi guru terdapat “kelas”, ada istilah guru PNS dan juga ada guru honorer, yang identik dengan minimnya jasa yang mereka peroleh.  Padahal aktivitas guru honorer dalam mengajarkan ilmu kepada anak didik tidak berbeda dengan guru lain yang berstatus PNS (pegawai negeri sipil).

Polemik terkait kesejahteraan guru honorer, sejatinya bukanlah bahasan yang dirasakan baru “kemarin”. Kesenjangan kesejahteraan yang dialami oleh guru honorer ini telah berlangsung begitu lama. Untuk menghadapi persoalan ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan pengangkatan guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Namun apakah ini benar-benar kebijkan yang solutif?

Untuk dapat menjadi PPPK tersebut, guru honorer harus mengikuti seleksi, namun dengan mekanisme yang dianggap memudahkan, karena pada seleksi tersebut tidak ada batasan usia dan tidak juga dibatasi oleh lamanya pengabdian. Namun ternyata banyak guru honorer yang menangis dan merasa kecewa karena terbebani dengan soal yang sulit dan tingginya passing grade yang ditetapkan. Kemudahan pun ternyata menjadi hal yang dipertanyakan, terutama bagi guru honorer senior yang sudah puluhan tahun mengabdi, dengan kompetensi pas-pasan, mereka dihadapkan dengan persaingan yang tidak seimbang. Para guru senior harus bersaing dengan guru yang fresh graduate atau memiliki kompetensi lebih. Seleksi PPPK yang dianggap sebagai solusi dari polemik yang berkepanjangan ini dianggap tidak solutif, bahkan menuai problem baru hingga beredar surat terbuka untuk Mendikbudristek agar meringankan dan memberi kemudahan bagi guru honorer. Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Demokrat Irwan Fecho berpendapat "Seharusnya dilakukan pengangkatan secara langsung, bukan melalui proses seleksi tapi dilihat masa pengabdiannya para guru itu."(sindonews.com).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, terdapat 3.357.935 guru yang mengajar di 434.483 sekolah. Sementara jumlah siswa mencapai 52.539.935. Dengan demikian, rasio rata-rata perbandingan guru dan siswa adalah 1:16. Rasio tersebut ideal dalam pemenuhan layanan belajar. Namun bila ditinjau dari status kepegawaian, terang-benderanglah peran signifikan guru honorer. Mayoritas guru berstatus honorer, yaitu sebanyak 62,2 persen, sedangkan guru yang berstatus PNS sebanyak 47,8 persen yaitu baru 1.607.480  guru.

Pengangkatan guru honorer melalui program PPPK sejatinya menegaskan buruknya sistem hari ini dalam menyediakan layanan pendidikan bagi rakyat. Padahal sejatinya, pendidikan adalah hak dasar dari setiap warga negara. Keberadaan seorang guru begitu penting, sehingga sudah seharusnya hak-haknya dijamin oleh negara, salah satunya adalah dengan mendapatkan kesejahteraan berupa gaji yang layak. Namun, apakah masih ada harapan bagi para guru honorer untuk mendapatkan jaminan atas hak-haknya? Jika mengingat bahwa polemik ini telah terjadi pada masa yang begitu lama,  nampaknya sulit untuk bisa berharap. Mekanisme yang dibuat saat ini ternyata hanyalah berbuah kekecewaan. 

Lantas apakah ada dalam sejarah, profesi seorang guru begitu dihargai sehingga guru mendapatkan jaminan atas hak-haknya secara layak? Imam Jalaluddin as-Suyuthi menuliskan dalam Lubab al-hadits, bahwa pahala memuliakan guru tak lain adalah surga. Disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda. “Barangsiapa memuliakan orang berilmu (guru), maka sesungguhnya ia telah memuliakan aku. Barang siapa memuliakan aku, maka sungguh ia telah memuliakan Allah. Barang siapa memuliakan Allah, maka tempatnya di surga”.  

Dalam sejarah,  saat  Islam dijadikan sebagai landasan dalam sebuah negara sehingga seluruh aspek kehidupan diatur oleh hukum Islam, akan didapati bahwa profesi guru sangatlah mulia. Khalifah Umar bin Khathab memuliakan profesi guru, sehingga guru-guru yang mengajar anak-anak di Madinah digaji sebanyak 15 dinar, jika dikonversikan dengan harga emas bisa setara dengan Rp. 51 juta. Gaji ini beliau ambil dari Baitul Mal. Tidak hanya itu, sistem Islam pun telah terbukti melahirkan para cendekiawan, para ilmuwan luar biasa yang nama dan karyanya dikenal hingga saat ini. Sebut saja, Imam Syafi’i. Siapa yang tidak mengenal beliau? Kecerdasannya begitu luar biasa, bukan hanya dalam hal fiqih saja tapi beliau pun menguasai berbagai bahasa, dan keilmuan lainnya. 
Terselenggaranya sistem pendidikan ditentukan oleh kebijakan politik ekonomi. Ketika kacamata kapitalisme yang digunakan maka pasti akan mengarah kepada paradigma yang terjadi saat ini, guru yang sangat diperlukan untuk mendidik generasi penerus bangsa kurang dihargai kesejahteraannya, serta mekanisme untuk meningkatkan status mereka menjadi guru PPPK yang diharapkan akan terjadi peningkatan kesejahteraanya dibuat dengan mekanisme yang menyulitkan mereka. Walhasil harapan untuk meraih kesejahteraan bagi banyak guru honorer hanyalah tinggal impian.  Hal ini sangat berbeda dalam sistem Islam, visi pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk generasi ber-syakhshiyah Islam serta memberi kemaslahatan bagi umat manusia, dengan demikian profesi guru yang merupakan profesi sangat mulia akan sangat dihargai dan tentu saja akan diperhatikan kesejahteraannya. Sudah saatnya sistem Islam yang baik ini diterapkan kembali. Berharap kepada sistem kapitalis hanyalah akan memperpanjang peradaban kapitalisme dan sekulerisme yang rusak dan merusak ini, serta tidak akan dapat mensejahterakan rakyatnya.

Wallahua'lam bisshawwab

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget