MISS QUEEN: KAMPANYE LGBT, NEGARA MISKIN PROTEKSI


Mercusuarumat.com - MISS QUEEN: KAMPANYE LGBT, NEGARA MISKIN PROTEKSI

Oleh : Seli Septiani (Aktivis Dakwah Remaja, Komunitas Muslimah Rindu Surga Bandung)

Kampanye LGBT saat ini terus digulirkan, upaya penyebaran ide dan kampanye tersebut salah satunya disebarkan melalui sebuah kontes kecantikan yang diperuntukkan bagi para transgender, yaitu pada acara Miss Queen Indonesia 2021 yang diselenggarakan pada tanggal 30 September 2021 di Bali. Salah satu trasngender yang bernama Millen Cyrus berhasil terpilih menjadi pemenang di ajang kontes Miss Queen tersebut, atas kemenangannya itu dirinya pun berhak mengikuti kontes Miss International Queen 2021 di Thailand.

Millen Cyrus, trasngender yang berusia 22 tahun itu nyatanya mendapatkan banyak komentar negatif terkait keterpilihannya di ajang Miss Queen Indonesia tersebut. Banyak yang menilai bahwa dirinya tak layak menang, lantaran jawaban yang ia berikan saat mendapat pertanyaan di ajang Miss Queen dianggap tak berbobot. Namun, di sisi lain, nyatanya tak sedikit pula warganet yang justru memberi dukungan positif, bahkan mendukung penuh pemenang ajang tersebut untuk tampil di ajang sejenis tingkat global. Hal ini terjadi karena masifnya penyebaran ide LGBT di tengah-tengah masyarakat membuat masyarakat akhirnya mulai 'toleran' terhadap perilaku rusak tersebut."Tinggal matengin catwalk and cas cis cus English,  sering-sering nonton qna pageant yaaaa Millen. I know kamu akan berjuang buat kita semua Indonesia bangga ofcourse with hard work and determination," tulis warganet. "Kawal Millen sampe Miss international Queen ke Thailand," ujar warganet lainnya.  (Viva/1/10/2021).

Perlu kita pahami,bawa penyebaran ide dan kampanye LGBT yang semakin bebas dan tersebar luas ini terjadi akibat adanya liberalisme yang menguasai dunia, serta diabaikannya aturan agama dalam kehidupan bernegara. Hal ini akhirnya membuat manusia hanya menggunakan akal dan perasaannya semata dalam membuat aturan kehidupan.

NEGARA MISKIN PROTEKSI
Terselenggaranya acara ini membuktikan bagaimana abainya negara dalam menyikapi kerusakan yang terjadi di masyarakat saat ini. Negara telah melakukan pembiaran dengan tidak menutup pintu penyebaran ide dan perilaku LGBT, sebabnya karena negara mengadopsi kebebasan dan HAM Liberal.
Sebagai kaum muslimin, kita harus sadar bahwa hal tersebut tentunya akan sangat merusak kaum muslimin serta mengakibatkan umat akhirnya jauh dari hukum dan aturan Allah SWT. Kerusakan inipun tentu saja akan membuat manusia akhirnya terjatuh pada martabat terendah bahkan lebih rendah dari binatang.

ISLAM SOLUSI TUNTAS MASALAH LGBT
Dalam Islam perbuatan LGBT adalah perbuatan haram yang amat dibenci Allah SWT. Pelakunya akan dilaknat dan mendapat sanksi sesuai syariat Islam. Rasul SAW bersabda, “Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (homoseksual).” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).
Masalah LGBT adalah masalah sistemis, dan tentunya dibutuhkan pula solusi yang sistemis. 

Disinilah, peran negara menjadi sangat penting. Negara harus mengganti sistem ideologi kapitalisme yang diadopsinya saat ini. Sebab, LGBT adalah buah liberalisme yang dihasilkan oleh ideologi kapitalisme. Sebagai gantinya, Negara seharusnya mengadopsi sistem ideologi Islam yang akan menerapkan syariat Islam secara sempurna, syariat yang berasal dari Allah SWT, Sang Pencipta manusia. Selanjutnya Negara akan melakukan beberapa langkah sebagai berikut : 

Pertama, Negara menanamkan iman dan takwa kepada seluruh anggota masyarakat agar menjauhi semua perilaku menyimpang dan maksiat. Negara juga menanamkan dan memahamkan nilai-nilai norma, moral, budaya, pemikiran dan sistem Islam dengan melalui semua sistem, terutama sistem pendidikan baik formal maupun non formal dengan beragam institusi, saluran dan sarana. Dengan begitu, rakyat akan memiliki kendali internal yang menghalanginya dari perilaku LGBT. Rakyat bisa menyaring informasi, pemikiran dan budaya yang merusak. Rakyat tidak didominasi oleh sikap hedonis serta mengutamakan kepuasan hawa nafsu. 

Kedua, Negara akan menyetop penyebaran segala bentuk pornografi dan pornoaksi baik yang dilakukan sesama jenis maupun berbeda jenis. Negara akan menyensor semua media yang mengajarkan dan menyebarkan pemikiran dan budaya rusak semisal LGBT. Masyarakat akan diajarkan bagaimana menyalurkan gharizah nau’ dengan benar, yaitu dengan pernikahan syar’i. Negara pun akan memudahkan dan memfasilitasi siapapun yang ingin menikah dengan pernikahan syar’i. 

Ketiga, Negara akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin keadilan dan kesejahteraan ekonomi rakyat, sehingga tidak akan ada pelaku LGBT yang menjadikan alasan ekonomi (karena miskin, lapar, kekurangan dll) untuk melegalkan perilaku menyimpangnya. 

Keempat, Jika masih ada yang melakukan perilaku LGBT ini, maka sistem ‘uqubat (sanksi) Islam akan menjadi benteng yang bisa melindungi masyarakat dari semua itu. Hal itu untuk memberikan efek jera bagi pelaku kriminal dan mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa. Di dalam Kitabnya Fiqh Sunnah jilid 9, Sayyid Sabiq menyatakan bahwa para ulama fiqh telah sepakat atas keharaman homoseksual dan penghukuman terhadap pelakunya dengan hukuman berat. 

Hanya para ulama berbeda pendapat dalam menentukan ukuran hukuman yang ditetapkan. Dalam hal ini dijumpai tiga pendapat. 

Pendapat pertama menyatakan bahwa pelakunya harus dibunuh secara mutlak. Pendapat ini berdasarkan pada pendapat para shahabat Rasulullah Saw, Nashir, Qashim bin Ibrahim dan Imam Syafi’i (dalam satu pendapat). Pelaku harus dibunuh berdasarkan hadist yang diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, Rasulullah Saw bersabda “Barang siapa yang mengetahui ada yang melakukan perbuatan liwath (sebagaimana yang dilakukan kaum Luth), maka bunuhlah ke dua pasangan liwath tersebut” (HR Al Khamsah kecual Nasa’i). Liwath atau sodomi, yaitu senggama melalui dubur atau anus. Para shahabat Rasulullah Saw berbeda pendapat tentang cara membunuh pelakunya. Menurut Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, pelakunya harus dibunuh dengan pedang. Setelah itu dibakar dengan api, mengingat besarnya dosa yang dilakukan.  
Sedangkan Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhuma berpendapat bahwa pelakunya dijatuhi benda benda keras sampai mati. Ibnu Abbas berpendapat bahwa pelakunya dijatuhkan dari atas bangunan paling tinggi. Al Baghawi menceritakan dari Zuhri, Malik, Ahmad dan Ishak, mengatakan pelakunya harus dirajam. Hukum serupa juga diceritakan oleh Tirmidzi dari Malik, Syafi’i, Ahmad dan Ishak (Sayyid Sabiq, Fqih Sunnah jilid 9). 

Pendapat kedua menyatakan bahwa pelaku dikenai had zina. Menurut Sa’id bin Musayyab, Atha’ bin Abi Rabah, Hasan, Qatadah, Nakha’i, Tsauri, Auza’i, Abu Thalib, Imam Yahya dan Imam Syafi’i (dalam satu pendapat) mengatakan bahwa pelakunya dikenai had sebagaimana had zina. Jika pelakunya masih perjaka maka dikenai had dera dan dibuang. Sedangkan jika pelakunya sudah menikah maka dijatuhi hukum rajam.

Dan terakhir, pendapat ketiga, pelakunya mendapat sanksi berat, tapi tidak seperti zina karena perbuatan tersebut bukanlah hakekat zina. Disampaikan oleh Abu Hanifah, Muayyad, Billah, Murtadha dan Imam Syafi’i (dalam satu pendapat) (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah jilid 9) adanya hukuman (sanksi) yang demikian berat kepada para pelaku liwath, maka akan membuat siapapun berpikir berkali-kali untuk melakukan hal tersebut. 

Disamping Negara yang berperan besar dalam pemberantasan LGBT, Islam juga menetapkan tugas kepada kaum muslimin secara umum untuk menjalankan syariat Islam di keluarganya masing-masing. Para orang tua harus terus berusaha membentengi anak anak mereka dari perilaku LGBT dengan penanaman akidah dan pembelajaran syariat Islam di keluarga. Islam juga memerintahkan kepada masyarakat untuk berkontribusi dalam pemberantasan LGBT ini dengan cara ikut terlibat secara aktif dalam dakwah, melakukan amar makruf nahi mungkar ke masyarakat yang ada di sekitarnya agar taat kepada perintah juga larangan Allah dan Rasul-Nya. 

Ketika terjadi kemungkaran (pelanggaran hukum syariat) oleh para pelaku LGBT ini, maka semua anggota masyarakat harus berusaha mencegah, mengingatkan, menegurnya bahkan ikut memberi sanksi sosial, tidak mendiamkannya. Negara yang sanggup melakukan semua tugas dan tanggung jawab tersebut tak lain adalah Negara Khilafah, yang menyandarkan halal dan haram seluruh perbuatan kepada hukum syara, bukan kepada akal atau hawa nafsu manusia. Perilaku LGBT akan bisa dicegah dan dihentikan hanya oleh Khilafah. Di dalam naungan Khilafah, umat akan dibangun ketakwaannya, diawasi perilakunya oleh masyarakat agar tetap terjaga, dan dijatuhi sanksi oleh negara bagi mereka yang melanggarnya sesuai syariah Islam. Maka, Islam akan mewujud sebagaimana yang telah Allah tetapkan yaitu sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wallahua'lam bishawwab

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget